
Karena tidak boleh menemui Ayahnya di kamar ruang ICU, sebab, area sekitar ruang ICU dijaga ketat oleh Polisi Polisi, Maya pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Dengan wajah kecewa, karena dia masih penasaran dengan sosok pejabat paling tertinggi yang dirawat di rumah sakit dan mendapatkan penjagaan ketat oleh pihak kepolisian, Maya berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Dia melangkahkan kakinya dengan gontai , masuk keruang keluarga, Gavlin yang sedang berbaring di sofa panjang ruang keluarga, terbangun melihat kedatangan Maya.
"May, kok udah pulang?" tanya Gavlin, sambil duduk di sofa panjang.
Maya menghempaskan tubuhnya di sofa panjang, duduk di samping Gavlin. Gavlin heran, melihat Maya, pulang pulang dengan wajah yang cemberut.
"Kamu kenapa cemberut, May? Ada apa?" tanya Gavlin heran.
"Aku sebal, Vlin." ujar Maya, jengkel.
"Kenapa?" Tanya Gavlin, heran.
"Masa aku gak boleh liat Ayah diruang ICU, kan kesal jadinya." ujar Maya, dengan wajahnya yang jengkel.
"Loh, memangnya kenapa gak dibolehin? Jam bezuknya habis?" tanya Gavlin.
"Nggak, justru jam bezuk masih ada! Tapi, tetap aja aku gak boleh, seluruh area koridor disekitar ruang ICU di jaga ketat Polisi!" tegas Maya, menjelaskan.
"Polisi? Maksud kamu, Ayahmu dijaga Polisi?" tanya Gavlin, dengan wajah serius.
"Bukan Ayahku yang dijagain Polisi, Vlin, tapi orang lain!" Tegas Maya, kesal.
"Orang lain?" Ujar Gavlin, heran.
"Iya, karena itu, Aku gak bisa nemui Ayahku!" Jelas Maya, dengan kesalnya.
"Pasti tokoh penting dan berpengaruh, atau orang terkenal yang di rawat, May. Makanya, sampe di jagain Polisi." tegas Gavlin.
"Tau deh, katanya sih, Yang lagi di rawat itu, Pejabat paling tertinggi di kepolisian, tokoh paling sentral di tubuh kepolisian kayaknya, Vlin, makanya mendapat penjagaan ketat." jelas Maya, dengan wajah serius.
Gavlin, terdiam, dia tampak berfikir sesaat.
"Apalagi aku liat, sampe ada empat pejabat tinggi kepolisian yang juga datang, menemui pejabat yang dirawat itu, mereka juga datang dengan dikawal polisi!" tegas Maya, dengan wajahnya yang serius.
"Kalo gitu, sekelas mentri atau anggota dewan mungkin yang dirawat, May." ujar Gavlin, mencoba mengambil kesimpulan.
"Gak tau juga deh, Vlin. Aku sih masih penasaran, beneran, aku pengen tau, siapa sih pejabat itu sebenarnya, sampe semua pasien di pindahkan dari ruang ICU, cuma hanya boleh pejabat itu aja di dalam ruang ICU!" Ujar Maya kesal.
"Gara gara Pejabat sakit itu, aku gak bisa nungguin dan liat Ayahku, kan kesal jadinya! Kayak rumah sakit itu milik nenek moyangnya aja! Sampe orang lain gak boleh ada di area itu!" Tegas Maya, dengan kesal dan marah.
Gavlin pun hanya terdiam, dia tahu, Maya kesal, marah dan kecewa, karena dia khawatir pada Ayahnya, dan tidak bisa melihat Ayahnya yang sedang di rawat dirumah sakit.
"Tapi Ayahmu udah mendapatkan penanganan dari Dokter, May?" tanya Gavlin.
"Udah, Dokter udah datang memeriksa Ayahku di ruang ICU." Jelas Maya.
"Cuma ya aku belum tau, gimana hasilnya, soalnya kan aku gak bisa liat dan nemui dokter yang menangani Ayahku, Vlin!" tegas Maya jengkel.
"Ya, sudah, sabar aja. Mungkin besok, kamu udah bisa liat Ayahmu." ujar Gavlin.
Gavlin berusaha menenangkan diri Maya yang terlihat kesal dan marah itu, karena dihalangi untuk bertemu dengan Ayahnya didalam kamar ruang ICU.
"Gak yakin aku, Vlin, selama Pejabat itu masih di rawat, pasti polisi polisi tetap berjaga jaga disana." jelas Maya kesal.
"Apa kamu mau, aku mencari taunya, May?" ujar Gavlin.
"Jangan ! Ngaco aja kamu, kalo kamu kerumah sakit, sama aja kamu nyerahin dirimu, Vlin!" ujar Maya dengan wajah serius.
"Aku kan bisa menyamar, May. Kalo aku nyamar, gak bakal polisi polisi itu tau aku!" tegas Gavlin.
"Nggak! Pokoknya kamu gak boleh kerumah sakit, gak ada alasan apapun!" Ujar Maya tegas pada Gavlin.
"Kamu tau gak sih, Vlin? Dari luar rumah sakit, di halaman, di depan pintu masuk, di lobby rumah sakit, di koridor rumah sakit, semua di jaga ketat polisi polisi!" jelas Maya.
"Setiap ada yang datang dan masuk kerumah sakit, harus melalui pemeriksaan dulu!" tegas Maya, memberi penjelasan.
"Bagusnya aku datang sebelum polisi polisi itu datang kerumah sakit, kalo nggak, aku pasti juga di periksa!" Jelas Maya.
"Ya, terus gimana? Kamu kan mau liat Ayahmu, juga kamu penasaran, mau tau, siapa pejabat yang dirawat itu, kalo aku gak nyamar nyari tau, kita gak bakalan tau, siapa pejabat itu, May !" tegas Gavlin, dengan wajah seriusnya.
"Biar aja, Vlin. Nanti aku yang cari tau sendiri dengan caraku, aku kan wartawan dan jurnalis, aku pasti bisa mendapatkan informasi, tentang pejabat itu!" Jelas Maya.
__ADS_1
"Maksudmu, kamu datang sebagai wartawati yang mau wawancarai pejabat itu?" tanya Gavlin serius.
"Gak tau, aku gak kepikiran ke situ sih. Tapi, gimana nanti aja deh." jelas Maya.
"Oh, ya. Kamu udah makan belum, Vlin?" tanya Maya.
"Belum." jawab Gavlin.
"Aku juga belum, kalo gitu, aku beli makanan dulu ya." ujar Maya.
"Aku ikut, kita makan sama sama aja diluar." ujar Gavlin.
"Ngaco kamu! Kamu gak boleh keliaran sembarangan dimana mana, Vlin ! Kamu lupa ya, kalo kamu buronan utama polisi!" tegas Maya.
"Kalo kamu keliaran dan makan ditempat umum, pasti ada orang yang mengenali wajahmu, dan melapor kepolisi setempat, kamu pasti ditangkap!" Ujar Maya, dengan wajah serius.
"Iya, sih." ujar Gavlin.
"Kamu tunggu di rumah aja, biar aku yang beli makanannya!" tegas Maya.
"Iya." Angguk Gavlin menuruti Maya.
"Aku pergi dulu." ujar Maya.
Gavlin mengangguk, mengiyakan, lalu, Maya pun bergegas pergi keluar dari dalam rumahnya, Gavlin tampak diam duduk di sofa panjang ruang keluarga.
Gavlin tampak tengah berfikir, siapa pejabat yang dimaksud Maya, dia pun juga sama penasarannya seperti Maya. Apa yang terjadi dirumah sakit, dan mengapa harus ada pengawalan ketat dari kepolisian? Gavlin berfikir keras.
---
Maya menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran, lalu, setelah mematikan mesin mobil dan mencabut kunci mobil, Maya pun keluar dari dalam mobilnya.
Saat dia hendak masuk ke dalam restoran tersebut, tiba tiba dia tersentak kaget, matanya terbelalak lebar, melihat ke dalam restoran, kearah satu meja yang ada di dekat pintu masuk restoran.
"Ronald?" Bathin Maya bicara.
Dia kaget, karena tanpa sengaja, dirinya bertemu dengan Ronald, orang yang telah menikam Ayahnya hingga koma.
Maya pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam restoran tersebut, lalu, Maya pun berjalan ke sudut luar restoran, dia bersembunyi.
Dengan wajah serius, dia pun mengarahkan ponselnya ke arah Ronald yang tengah makan di dalam restoran.
Maya mengambil photo Ronald, kemudian, dia pun merekam Ronald yang sedang asyik makan di dalam restoran.
Di dalam restoran, Ronald yang seorang penjahat kakap, pembunuh berantai dan psikopat, menyadari, jika saat ini, dia ada yang mengawasi.
Matanya melirik ke seluruh ruangan, sambil terus makan, matanya melirik ke kanan dan ke kiri ruangan, mencari cari orang yang mengawasi dirinya. Maya tak tahu, jika Ronald sadar, kalau dia sedang di awasi.
Mata Ronald lalu melihat ke sudut restoran, diluar, dia melihat Maya bersembunyi sambil memotret dirinya. Ronald pun tersenyum sinis dan menyeringai licik.
Maya menyudahi mengambil gambar Ronald, lalu, dia menyimpan ponsel ke dalam tasnya, kemudian, Maya beranjak pergi dari tempat persembunyiannya.
Melihat Maya pergi, Ronald cepat pergi, dia menyudahi makannya, Ronald pun bergegas keluar dari dalam restoran untuk mengejar Maya.
Maya masuk ke dalam mobilnya, Ronald keluar dari dalam restoran, bertepatan dengan mobil Maya yang berjalan dan pergi meninggalkan restoran.
Maya mengurungkan niatnya membeli makanan di restoran itu, karena ada Ronald, dia mencari restoran lainnya.
Dengan wajah geramnya, melihat kepergian Maya, Ronald pun cepat berjalan ke arah mobilnya yang parkir di sudut halaman restoran.
Ronald masuk ke dalam mobilnya, lalu, beberapa saat kemudian, dia pun menjalankan mobilnya, Mobil Ronald lantas pergi meninggalkan restoran, untuk mengejar mobil Maya.
Di dalam mobilnya, sambil menyetir, dan matanya terus melihat ke depan, kearah mobil Maya yang melaju di depannya, wajah Ronald menyeringai jahat.
"Berani beraninya kamu diam diam mengambil photoku anak cantik! Belum tau kamu, siapa aku." ujar Ronald menyeringai licik sambil terus menyetir.
Dengan santainya Maya terus mengendarai mobilnya, mencari cari restoran lain untuk membeli makanan buat dirinya dan Gavlin, dia tak tahu, jika Ronald mengikutinya di belakangnya.
Mobil Maya terus melaju menyusuri jalanan, dan mobil Ronald pun terus mengikutinya dari belakang.
Mobil Maya berhenti di sebuah restoran, dia lantas keluar dari dalam mobilnya, lalu dia berjalan masuk ke dalam restoran tersebut.
Mobil Ronald berhenti dan parkir di dekat mobil Maya, lalu, Ronald pun segera keluar dari dalam mobilnya, dia berdiri di sudut restoran, menunggu Maya keluar dari dalam restoran.
Di dalam restoran, Maya tengah memesan makanan buat dirinya dan Gavlin. Sementara, Ronald terus berdiri di luar, disudut restoran, menunggu Maya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Maya pun keluar dari dalam restoran dengan menenteng kantong plastik berisi makanan siap saji.
Saat Maya keluar dari dalam restoran, dengan cepat Ronald berjalan menghampiri Maya. Maya kaget melihat Ronald mendekatinya.
"Toooollloooonggg !! Raaaampoookkk...Raaaaampoooookkk!!" teriak Maya sekeras kerasnya.
Ronald tersentak kaget mendengar Maya tiba tiba berteriak sekeras kerasnya di depan restoran. Ronald pun menghentikan langkahnya.
Orang orang berhamburan datang mendekati Maya yang berteriak minta tolong, dua Petugas Polisi yang bertugas di sekitar area restoran juga mendekati Maya.
"Mana rampoknya, Mbak?" tanya Petugas Polisi.
"Itu, itu dia rampoknya!! Tangkap dia, Pak ! Tangkap!! Dari tadi dia ikuti saya, dia ancam saya!!" Ujar Maya berbohong.
Ronald pun geram, karena Maya menunjuk dirinya sebagai Perampok. Tak ingin dirinya jadi bulan bulanan amukan massa dan di tangkap dua polisi, Ronald pun akhirnya pergi.
"Heeei !! Jangan lari kamu!!" Teriak Petugas Polisi.
Polisi pun percaya dengan apa yang dikatakan Maya, melihat Ronald melarikan diri, Polisi pun yakin, kalau memang Ronald perampok yang dimaksud Maya.
Dua petugas polisi mengejar Ronald, orang orang yang berkerumun di dekat Maya juga ikut berlari mengejar Ronald.
"Rasain kamu Ronald!" ujar Maya sinis.
Melihat Ronald lari, dan polisi serta orang orang mengejar Ronald, Maya tersenyum sinis, dia lantas bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat, Ronald masuk ke dalam mobilnya, dia menyalakan mesin mobilnya, dua polisi mendekatinya, mengetuk ketuk kaca mobilnya, orang orang juga sudah mengelilingi mobil Ronald.
"Keluar kamu, keluaaarrr !!" teriak orang orang.
Ronald tak perduli, dia menjalankan mobilnya dengan cepat, orang orang dan kedua petugas polisi menghindari mobil Ronald, agar tak di tabrak.
Mobil Ronald pun lantas pergi meninggalkan restoran tersebut, Maya yang sudah masuk ke dalam mobilnya, segera menjalankan mobilnya, dia pun pergi.
Maya sekarang yang bergantian mengejar Ronald, Ronald tak tahu, jika mobil Maya mengejarnya.
Maya sengaja mengikuti mobil Ronald, karena dia ingin tahu, dimana Ronald selama ini bersembunyi.
Di dalam mobilnya, Ronald tampak sangat marah, dia memukuli stir mobilnya.
"Siaaal !! Siaaal !! Wanita keparaaat!!" ujar Ronald marah, didalam mobilnya.
Mobil Ronald terus melaju dijalanan, di belakangnya, dengan tetap menjaga jarak, mobil Maya terus mengikuti Ronald.
"Tunggu dulu! Kayaknya aku kenal wanita itu, tapi, dimana aku pernah meliatnya?!" Gumam Ronald, sambil terus menyetir mobilnya.
Sesaat kemudian, Ronald pun tersadar, dia ingat, lalu, Ronald tersenyum licik.
"Maya !! Dia Maya anak Gatot Polisi keparat itu!!" Ujar Ronald geram.
"Berani kamu Maya, mengikutiku, lalu menuduhku perampok!! Aku akan merobek robek tubuhmu, dan akan kumakan daging dagingmu!!" ujar Ronald, geram dan marah.
Ronald menjadi semakin marah, setelah dia menyadari, jika wanita yang baru saja dia lihat dan temui adalah Maya. Ronald pun bertekat akan kembali mencari Maya.
Mobil Ronald meluncur dan berbelok ke sebuah jalanan, di belakang, mobil Maya terus mengikutinya, Maya pun membelokkan mobilnya ke arah mobil Ronald berbelok tadi.
Mobil Ronald terus melaju dijalanan, mobil Maya juga masih mengikuti di belakangnya. Lalu, Mobil Ronald berhenti di depan sebuah rumah.
Bangunan rumah tersebut bangunan tua, bangunan belanda. Mobil Ronald masuk ke pekarangan halaman rumah tersebut.
Maya menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak jauh dari rumah tersebut. Maya pun tersenyum sinis, melihat ke arah rumah, dimana mobil Ronald tadi masuk.
"Disini ternyata selama ini kamu sembunyi, Ronald." ujar Maya tersenyum sinis.
Maya lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dengan Ponselnya, dia lantas memotret bangunan rumah tempat persembunyian Ronald itu.
Setelah dia memotret rumah tersebut, Maya mengamati sekitar jalanan dari dalam mobilnya, dia mencoba mencari tahu, dimana dia berada saat ini.
Maya tersenyum senang, dia tahu, ada dimana dia saat ini, lalu, Maya pun menjalankan mobilnya, dia lantas pergi meninggalkan rumah tersebut.
Sementara itu, Ronald menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu rumahnya, wajahnya terlihat sangat marah sekali, karena sudah diperdaya Maya.
"Aku akan mencarimu, Maya!! Aku akan mencincang tubuhmu, tunggu saja!!" ujar Ronald, marah.
Wajah Ronald terlihat memerah karena menahan amarahnya yang meluap luap di dalam jiwanya, dia tampak geram dan sangat marah pada Maya.
__ADS_1