
Jack mendatangi Herman, dia masuk ke dalam ruang kantor dengan wajah tegangnya. Jack lantas berjalan mendekati Herman yang duduk di kursi kerjanya.
"Gawat ! Richard melarikan diri!" ujar Jack, dengan wajah tegang dan kesalnya.
"Apa? Bagaimana bisa ? Bukankah dia di kawal?" ujar Herman, kaget.
Herman berdiri , lantas dia berjalan dan mendekati Jack.
"Iya, Richard memang di kawal , ada empat petugas kepolisian yang mengawalnya selama diperjalanan menuju tahanan kejaksaan." ujar Jack.
"Tapi di tunggu berjam jam, Richard tidak sampai juga di kantor kejaksaan, lalu, anak buahku yang bertugas sebagai Jaksa penuntut mendapat kabar, kalo Richard melarikan diri, dan petugas yang mengawalnya mati terbunuh!" ujar Jack, memberi penjelasan.
"Kurang ajar !! Siapa yang menolong Richard !!" ujar Herman geram dan marah.
"Entahlah, Kami , dari pihak kejaksaan belum tau, siapa orang yang telah membunuh petugas yang mengawal serta membawa kabur Richard !" jelas Jack.
"Bagaimana dengan polisi?" tanya Herman geram.
"Polisi juga sedang menyelidikinya, mereka sekarang lagi mencari keberadaan Richard dan mencari tau, siapa orang yang telah menolong Richard melarikan diri!!" ujar Jack, dengan wajahnya yang serius.
"Siaaal !! Siaaal !! Kalo Richard lolos, kita gak bisa membunuhnya!!" ujar Herman geram dan marah.
"Hubungi Peter, suruh dia mencari tau, siapa orang yang membantu Richard melarikan diri !!" tegas Herman.
"Aku udah hubungi Peter, katanya, dia juga sedang mencari informasi." jelas Jack.
"Bagus ! Kita harus secepatnya menemukan Richard, jangan sampai Polisi yang lebih dulu menangkapnya lagi!" ujar Herman.
"Aku mau, Richard langsung kita bunuh, gak usah lagi nunggu sampai dia dipindahkan ketahanan khusus !" tegas Herman marah.
"Ya, aku juga berfikir begitu. Apalagi ternyata, ada orang di belakang Richard, yang diam diam membantu dan menolongnya." ujar Jack geram dan kesal.
Herman diam, wajahnya tampak menyiratkan kemarahan karena mengetahui Richard kabur dan ada yang membantunya. Herman tampak penasaran, siapa orang yang telah membantu Richard melarikan diri.
---
Edo bergegas menemui Andre yang sedang berada dalam ruang kerjanya bersama Masto dan sedang membahas kasus Richard yang melarikan diri.
Edo masuk ke dalam ruang kerja, lalu mendekati Andre yang duduk di kursi meja kerjanya, bersama Masto yang juga duduk dikursi, dihadapan meja kerja Andre.
"Lapor, Pak. Saya mau memberi informasi pada Bapak." ujar Edo, memberi laporan.
"Soal apa?" tanya Andre dengan wajah serius menatap wajah Edo.
"Pihak Forensik sudah menemukan sidik jari di dalam mobil yang membawa Tersangka Richard." jelas Edo.
"Milik siapa?" tanya Andre, dengan wajahnya yang serius ingin tahu.
"Sidik jari itu milik Gavlin, Pak." tegas Edo.
"Gavliin?!!" Andre terhenyak kaget.
__ADS_1
Begitu juga dengan Masto, mereka berdua kaget sekaligus heran, mendengar, bahwa sidik jari yang mereka temukan di dalam mobil, adalah milik Gavlin.
"Mana mungkin Gavlin menolong pak Richard? Dia aja dendam dan mau membunuh pak Richard?" ujar Masto heran, dan masih tak percaya.
"Tapi benar, Pak. Ada beberapa sidik jari yang ditemukan dalam mobil, dan semuanya milik Gavlin, tim Forensik sudah mengeceknya berkali kali, dan hasilnya tetap saja sama, sidik jari itu milik Gavlin!" tegas Edo, memberi penjelasan pada Masto dan juga Andre, yang masih terlihat kurang percaya.
"Kalau benar Gavlin yang membantu Richard melarikan diri, dan memasang bom di jalanan, apa tujuan Gavlin menolong Richard? Sementara selama ini kita tau, kalo Gavlin dan Richard bermusuhan dan saling dendam?" ujar Andre berfikir.
"Entahlah, Pak." jawab Edo.
"Apa mungkin, Gavlin sengaja nolong Richard, karena dia gak mau Richard di penjara, tapi Gavlin mau membunuhnya sendiri?" ujar Masto mengambil kesimpulan.
Andre diam sesaat, dia tampak memikirkan perkataan Masto, dia merasa, apa yang dikatakan Masto masuk akal dan ada benarnya juga.
"Bisa saja begitu. Saya gak kepikiran sampai ke situ. Bagus Masto!" ujar Andre, memuji Masto.
"Ini cuma dugaan saya saja, Pak." ujar Masto, merendah pada Andre.
"Kalo gitu, mari kita usut kasus ini hingga tuntas, cari sampai dapat Richard dan juga Gavlin ! Saya yakin, mereka bersembunyi disuatu tempat, dan masih ada di kota ini!" tegas Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Siap, Pak." jawab Masto dan Edo, bersamaan, sambil memberi hormat pada Andre.
"Ayo kita mulai bergerak sekarang!" ujar Andre.
"Baik, Pak!" jawab Edo dan Masto, hampir bersamaan.
Lalu, Andre berdiri dari duduknya, dan dia lantas bergegas berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya, Masto dan Edo mengikutinya , mereka berdua berjalan di belakang Andre yang berjalan dengan langkah kaki yang cepat.
Lalu, Andre dan Masto serta Edo masuk ke dalam mobil, Andre yang menyetir mobilnya, Masto duduk di depan, disampingnya, dan Edo duduk di jok belakang mobil.
Tak lama kemudian, mobil pun berjalan, lalu pergi meninggalkan halaman parkir gedung kantor kepolisian, mereka bertiga pergi, untuk menyelidiki dan mencari keberadaan Richard beserta Gavlin.
---
Peter mendatangi Jack yang sedang berada di dalam ruang kerjanya, di kantor kejaksaan agung.
"Bagaimana? Apa sudah ada kabar keberadaan Richard dari pihak Andre yang menyelidikinya?" tanya Peter, ingin tahu pada Jack.
"Belum, pihak kejaksaan belum mendapatkan kabar lagi dari pihak kepolisian, kabar terakhir yang aku dengar, Andre bersama timnya sedang memburu Richard." jelas Jack, dengan wajahnya yang serius.
"Aku dapat informasi dari anak buahku yang menyamar jadi mata mata di timnya Andre, apa benar? Orang yang menolong Richard melarikan diri adalah Gavlin? Musuh kita bersama?!" tanya Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Ya, begitu yang aku tau dan dengar dari anak buahku." ujar Jack serius.
"Keparaat!! Apa maksud si Gavlin menolong Richard ? Kenapa dia gak biarkan saja si Richard di penjara? Kalo Richard di penjara, kita kan bisa membunuh si Richard !" ujar Peter, kesal dan marah.
"Entahlah, aku juga gak tau, apa motif si Gavlin menolong Richard melarikan diri." ujar Jack geram.
"Gilaaaa !! Ini benar gilaaa!! Apa sih yang ada dalam otak si Gavlin? Kenapa dia berubah pikiran? Bukannya membunuh Richard, tapi dia malah menolongnya!! Anak setaaan Gavliin!!" ujar Peter geram dan marah pada Gavlin.
Peter tampak sangat marah sekali pada Gavlin , dia marah, karena Gavlin telah ikut campur dengan membawa lari Richard dan menolongnya. Karena ulah Gavlin, mereka gagal membunuh Richard, sesuai dengan rencana mereka semula, membunuh Richard di dalam penjara khusus nantinya.
__ADS_1
---
Di bukit tandus, Richard masih menggantung di atas crane, di tengah tengah jurang yang dalam, tubuh Richard terlihat mulai melemah dan lemas, dia juga mulai dehidrasi, bibirnya kering, dia kehausan, karena di gantung berjam jam, ditengah panasnya terik matahari dan tak diberikan air minum.
Gavlin menyiapkan timah panas yang terisi penuh di dalam tong tinggi dan besar. Gavlin lalu berjalan mendekati mobil crane besar, yang dia gunakan menggantung Richard ditengah jurang.
Sebelum Gavlin naik dan masuk kedalam mobil crane, terlebih dulu dia melihat Richard yang menggantung di ujung belalai crane, ditengah jurang yang dalam.
"Selamaaat Jaaalllaaan Richaaarddd!!" teriak Gavlin sekencang kencangnya, agar Richard mendengar.
Richard mendengar teriakan Gavlin. Richard panik, dia melihat Gavlin naik dan lalu masuk ke dalam mobil crane, Richard pun ketakutan.
"Jangan lakukan Gavliinn !! Jangan jatuhkan akuu ke juuraaang !! Aku belum mau maaaatiii!!" teriak Richard sekuat kuatnya dari atas crane yang menggantung dirinya.
Richard terlihat sangat panik, dia takut, Gavlin melepaskan ikatan gantungan dia, lalu melemparnya ke dasar jurang yang sangat dalam itu.
Gavlin duduk di dalam mobil crane, dengan sikap tenang dan dingin, Gavlin lantas mengoperasikan mobil crane tersebut.
Sesaat kemudian, mobil crane bergerak, belalai crane bergerak dan memutar, Richard yang tergantung di ujung belalai crane semakin ketakutan, karena crane mulai bergerak.
Gavlin menggerak gerakkan belalai crane naik dan turun ditengah jurang, Richard semakin panik, karena belalai crane yang menggantungnya bergerak naik dan turun, dia memejamkan kedua matanya, Richard tak berani melihat kebawah, ke dasar jurang yang sangat dalam, wajahnya pucat pasi, dia sangat takut mati jatuh ke dalam jurang.
"Tolong Gavlin, jangan bunuh aku!! Aku minta ampuuun padaaamuu!!" teriak Richard histeris dan panik.
Gavlin tak perduli, dia terus memainkan mobil cranenya, Gavlin menggerakkan terus belalai crane, ke atas dan kebawah, lalu, dia memutar belalai crane.
Richard semakin ketakutan, karena dia melayang layang menggantung di ujung belalai crane, dan belalai crane bergerak berputar putar mengelilingi jurang yang sangat dalam.
"Hentiiikaaan Gaaavvvliiin, heeennntiiiikkaaaannn !!" teriak Richard menangis ketakutan.
Dia takut, belalai crane terus bergerak gerak, lalu ikatan gantungannya terlepas, dan dia jatuh ke dalam jurang.
Sebagai Kapolri yang baru saja di angkat karena menggantikan Kapolri sebelumnya, Richard merendahkan dirinya sendiri dihadapan Gavlin, dia menangis merengek rengek, memohon belas kasihan pada Gavlin.
Hilang sudah kesombongannya, keangkuhannya, kelicikannya, dan sok tegas dan sok berwibawanya selama ini, nyali Richard menciut, dia malah menangis merengek takut mati.
Gavlin tersenyum sinis, dia senang memainkan mobil cranenya dengan Richard yang menggantung di ujung belalai crane.
Lantas, sesaat kemudian, belalai crane bergerak cepat, Richard semakin panik karena takut terjatuh. Belalai crane bergerak dan memutar, lantas menjauh dari jurang tersebut.
Richard tampak lega, karena kini, dia sudah tak lagi menggantung di tengah tengah jurang. Gavlin menggerakkan cranenya, belalai crane bergerak memutar, ke arah tong tinggi dan besar, yang di dalamnya penuh dengan timah yang sudah di masaknya.
Belalai crane berhenti dan diam, Richard yang menggantung di ujung belalai crane melihat ke bawah. Dia kaget, karena melihat, tepat dibawahnya, ada timah panas yang siap melahap tubuhnya. Richard pun mulai panik dan ketakutan.
"Apa maumu Gavliiin !! Apa maksudmu ini?!!" teriak Richard ketakutan.
Gavlin dari dalam mobil crane melihat Richard yang tampak panik dan ketakutan dalam kondisi tergantung dan terikat di atas crane. Gavlin tak mengeluarkan sepatah katapun pada Richard, dia hanya tersenyum sinis, lalu, menyeringai jahat menatap Richard yang tergantung.
Lalu, perlahan lahan, Gavlin pun mulai menggerakkan belalai crane, secara perlahan lahan, belalai crane bergerak pelan dan turun ke bawah, ke arah tong tinggi dan besar, yang di dalamnya penuh dengan timah panas. Richard yang tergantung teriak teriak ketakutan, dia meronta ronta, minta di lepaskan Gavlin dan tidak di bunuh Gavlin.
Dengan sikap dinginnya, Gavlin terus menggerakkan belalai crane kebawah, ke arah tong besar dan tinggi yang terisi penuh timah panas. Richard tak berani melihat kebawah, dia lantas memejamkan kedua matanya, dia pun terlihat mulai pasrah dengan nyawanya yang sedang terancam saat ini oleh Gavlin yang tampak dingin dan berusaha untuk membunuhnya.
__ADS_1