VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Di Kepung di Tengah Jalan


__ADS_3

Mobil Gavlin masih mengikuti mobil Samsudin yang di kawal oleh mobil polisi militer, Gavlin terus memacu mobilnya, dia berusaha menjaga jarak agar tak kehilangan pandangan dari mobil Samsudin.



Sementara itu, di dalam mobil, seorang pengawal Samsudin sedang menerima telepon, wajahnya tampak serius menerima telepon.


"Baik, kami akan berbelok di pertigaan depan jalan nanti." ujar pengawal, bicara di teleponnya.


Pengawal Samsudin lantas menutup teleponnya, dia lalu menyimpan telponnya kembali ke dalam kantong celananya.


"Belok ke kiri di pertigaan depan jalan sana." ujar Pengawal pribadi Samsudin kepada Supir yang menyetir mobil.


"Baik." jawab Supir.


"Ada apa?!" tanya Samsudin, yang duduk di jok belakang mobilnya.


"Ada yang mengikuti kita, Pak. Saya tadi di telepon tim tentara bayarannya Inside, mereka tau, kalo Bapak sedang di ikuti." jelas Pengawal Pribadi.


"Oh, ya?!" Ujar Samsudin kaget.


Samsudin hendak menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang mengikutinya, namun pengawal mencegahnya.


"Jangan liat ke belakang, Pak. Sebaiknya Bapak bersikap wajar saja, seolah gak tau menau kalo di ikuti." ujar Pengawal Pribadinya.


"Tim Tentara Bayaran udah menunggu di pertigaan jalan, begitu mobil kita lewat nanti, mereka akan menyerang orang yang mengikuti itu." jelas Pengawal Pribadi.


"Oh, baiklah." ujar Samsudin.


Samsudin lalu berusaha untuk bersikap tenang dan biasa saja, walau pun dia bertanya tanya, siapa yang telah diam diam mengikuti dirinya.


Di mobilnya, Gavlin tidak mengetahui sama sekali, bahwa keberadaannya mengikuti mobil Samsudin telah di ketahui oleh pasukan tentara bayaran yang melacak keberadaan Samsudin dan juga Gavlin.


Mobil Gavlin terus mengikuti mobil Samsudin, dia melihat, mobil Samsudin beserta mobil polisi militer yang mengawalnya berbelok ke kiri jalan saat di pertigaan jalan.


Gavlin pun cepat memacu mobilnya, dia berusaha untuk menyusul mobil Samsudin yang sudah melesat jauh meninggalkannya.


Di jalan raya, mobil Samsudin melesat , dibelakangnya, mobil polisi militer juga melaju dengan cepatnya. Ada 4 mobil yang sudah menunggu di jalanan, begitu mobil Samsudin dan mobil polisi militer lewat, dengan cepat, empat mobil itu bergerak dan berhenti memalang di tengah jalan.


Lalu, para tentara bayaran keluar dari dalam mobilnya, mereka semua berdiri di depan mobil dengan memegang senapan mesinnya, para tentara bayaran berdiri dan bersiap menunggu kedatangan mobil Gavlin.


Dari dalam mobilnya, Gavlin melihat dikejauhan ada orang orang banyak yang berdiri ditengah jalan sambil memegang senapan mesinnya dengan mobil yang memalangi jalanan, hingga kendaraan kendaraan lain tak bisa lewat, Gavlin kaget melihat hal itu.


Namun, Gavlin tak mau mengurungkan niatnya, dia malah menginjak gas mobilnya, menambah kecepatan mobilnya. Mobil Gavlin pun melaju cepat ke arah para tentara bayaran yang berdiri di tengah jalan dengan memegang senapan.


Melihat mobil Gavlin yang melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka, para tentara bayaran itu pun mulai menembaki senapan mesinnya ke arah mobil Gavlin.


Mengetahui bahwa mobilnya di tembaki, Gavlin terlihat sangat marah dan geram sekali, lalu, dengan cepat, Gavlin menginjak rem mobilnya, mobil Gavlin pun berputar putar di tengah jalan lalu berhenti dan diam. Tembakan tembakan terus terdengar.


"Siaaal !! Aku ketauan !!" ujar Gavlin geram.


Dia lantas segera keluar dari dalam mobilnya, dengan menunduk dan bersembunyi di samping mobilnya, Gavlin cepat menyelinap ke belakang mobilnya. Dengan cepat lantas Gavlin membuka pintu bagasi mobilnya.


Gavlin berdiri dan mengambil senapan roket granatnya dari dalam bagasi mobilnya, lalu, dengan wajah penuh amarah yang membara, Gavlin pun berdiri tegak di samping mobilnya.


Gavlin mengarahkan senapan roket granatnya pada para tentara bayaran yang berdiri berjajar di tengah jalan sambil menembak ke arah dirinya.

__ADS_1


Dengan wajah memerah penuh amarah, Gavlin lantas melepaskan tembakannya, roket granat melesat dari senapannya, terbang cepat melayang ke arah para tentara bayaran.


Roket granat mengenai salah satu mobil tentara bayaran hingga hancur dan meledak, tentara bayaran pontang panting, mereka berhamburan mencari tempat persembunyian dan menghindar dari serangan Gavlin.


"Keparaaat kaliaan !! Mau coba coba melawanku!!" teriak Gavlin penuh amarah.


Gavlin terus menembakkan senapan roket granatnya. Roket granat melesat dan menghantam kembali dua buah mobil tentara bayaran, dan kali ini, ada beberapa tentara bayaran yang terkapar tewas terkena ledakan roket granat yang ditembakkan Gavlin.


Melihat Gavlin menggunakan senapaan rokey granatnya, para tentara bayaran pun bersembunyi dan membalas menembak, mereka menyerang Gavlin yang berdiri dengan menembakkan senapan roket granatnya.


Setelah semua mobil tentara bayaran hancur meledak dan terbakar karena terkena ledakan roket granat yang ditembakkannya, Gavlin lalu bergegas kembali ke belakang bagasi mobilnya.


Gavlin kemudian meletakkan senapan roket ke dalam bagasi mobil, kemudian, dia mengambil senapan mesinnya dari dalam bagasi mobil.


Lalu, Gavlin pun kembali menembaki para tentara bayaran, tembak menembak dengan menggunakan senapan mesin pun terjadi.


Melihat ada baku tembak yang terjadi saat ini ditengah jalan raya, para pengemudi mobil yang tadinya hendak lewat dijalanan itu dengan cepat memutar balik ke arah lain, mereka tak ingin terkena tembakan.


Dengan brutal Gavlin menembaki senapan mesinnya ke arah para tentara bayaran yang juga menembaki Gavlin.


Gavlin sudah tak melihat mobil Samsudin lagi, karena mobilnya sudah pergi sangat jauh dan menghilang. Gavlin terlihat semakin marah, karena dia gagal mengikuti Samsudin.


Lalu, Gavlin pun mengambil granat, dia melemparkan granat ke tempat persembunyian tentara bayaran yang menyerangnya. Granat meledak , beberapa tentara bayaran terpental terkena ledakan granat dan mati terkapar di tanah.


Gavlin lantas masuk ke dalam mobilnya sambil terus menembaki senapan mesinnya ke arah tentara bayaran. Lalu, Gavlin pun menyalakan mesin mobilnya, kemudian, Gavlin menjalankan mobilnya.


Mobil Gavlin melaju pergi meninggalkan tempat itu, Gavlin melepaskan tembakannya lagi ke arah tentara bayaran, lalu, mobil melaju pergi menjauh.


Para tentara bayaran keluar dari tempat persembunyian mereka, lantas, mereka berdiri ditengah jalan sambil menembaki ke arah mobil Gavlin yang sudah melaju melesat menjauh dari pandangan mereka.


"Siaaal !!" ujar Komandan Tentara bayaran, geram dan marah.


"Kita gak bisa mengejarnya komandan, mobil semua hancur!" tegas salah seorang tentara bayaran.


"Hubungi markas, suruh jemput kita di sini, cepat!" ujar Komandan tentara bayaran.


"Siap , komandan, laksanakan!" ujar Tentara bayaran.


Lalu dia mengambil ponselnya untuk menghubungi markas mereka, agar mendatangkan mobil yang akan menjemput mereka.


Di jalan raya, mobil Gavlin melaju dengan kecepatan tinggi dijalanan itu, di dalam mobilnya, sambil menyetir mobil, Gavlin terlihat sangat marah sekali.


"Setan!! Samsudin berhasil melarikan diri!" ujar Gavlin, geram dan marah.


"Sepertinya tentara bayaran itu suruhannya Inside!" ujar Gavlin, berfikir.


"Dari mana mereka bisa tau, kalo aku mengikuti Samsudin? Apa mereka sengaja mengawasi dan melacak keberadaan Samsudin untuk melindunginya, lalu, mengetahui, kalo aku mengikuti mobilnya?!" ujarnya lagi berfikir.


"Keparaat !! Kalo gitu, aku harus lebih hati hati lagi. Inside menggunakan tentara bayaran untuk memburuku!" tegasnya geram dan marah.


Gavlin lantas menambah kecepatan mobilnya, mobil melesat cepat di jalan raya itu.


---


Sementara itu, Samsudin sudah tiba di halaman parkir gedung kantor kementriannya, wajah Samsudin terlihat masih tegang dan cemas.

__ADS_1


"Apa kita sudah aman?" tanya Samsudin, pada pengawal pribadinya.


"Saat ini Bapak aman, saya yakin, tentara bayaran sudah membereskannya di sana." tegas Pengawal Pribadi.


"Baiklah." ujar Samsudin.


Pengawal Pribadi lantas bergegas keluar dari dalam mobil, lalu, dia membukakan pintu belakang mobil. Samsudin lalu keluar dari dalam mobilnya. Petugas Polisi Militer yang mengawal Samsudin juga keluar dari dalam mobil mereka.


Dua Polisi Militer menghampiri Samsudin, lalu, bersama pengawal pribadi, kedua polisi militer mengawal Samsudin berjalan masuk ke dalam gedung perkantoran kementriannya.


---


Di sebuah kantor pajak, tampak Samuel datang bersama tim kejaksaan dan tim pemberantas korupsi, mereka menangkap pejabat pajak yang kedapatan sedang menerima suap. Pejabat pajak tertangkap tangan saat dia menerima upeti dari salah seorang kliennya.


Karena bukti bukti yang ditemukan bersamanya, pejabat pajak tak dapat menghindar, Samuel pun menangkapnya dan membawanya segera.


Pergerakan Samuel sebagai kejaksaan semakin menjadi jadi, setiap hari, ada saja pejabat negara, anggota dewan, para pengusaha, dan mentri yang ditangkapnya. Dan hal itu membuat heboh di luaran, masyarakat heboh, mereka mulai muncul krisis kepercayaan pada kepemimpinan presiden dan kabinet mentri mentrinya yang banyak tertangkap oleh pemberantas korupsi dan kejaksaan negara.


Tidak hanya sampai di situ saja pergerakan Samuel yang bekerjasama dengan pihak pemberantas korupsi dan Andre, dari pihak kepolisian, mereka juga berhasil menangkap Wakil Presiden yang kedapatan melakukan kejahatan dengan menjual aset negara secara diam diam dan manipulatif.


Dengan tertangkapnya wakil presiden, itu membuat geger masyarakat luas, dan hal itu juga membuat sang Presiden, Adiwinata sangat malu sekali sebagai Presiden.


Di dalam rumah bawah tanah Gavlin, Chandra sedang menonton berita di televisi, dia tampak tersenyum senang, wajahnya terlihat puas atas kinerja yang dilakukan Samuel sebagai kejaksaan yang berhasil menangkapi dan memberantas kejahatan anggota anggota Inside sampai ke akar akarnya.


Gavlin masuk ke dalam ruangan, dia berjalan menghampiri Chandra yang tampak senang menonton televisi itu.


"Kejaksaan menggila, Vlin, kali ini, wakil presiden jadi sasarannya, dia di tangkap tadi." ujar Chandra, dengan wajah senangnya.


"Baguslah." ujar Gavlin, dengan sikap dingin dan cueknya.


Dia lantas duduk di sofa, di samping Chandra. Chandra lantas mematikan televisi, dia melihat Gavlin. Chandra tampak heran melihat Gavlin seperti menahan kekesalannya.


"Kamu kenapa, Vlin?" tanya Chandra, heran.


"Gak apa apa." ujar Gavlin.


"Kamu dari mana?" tanya Chandra.


"Ngejar Samsudin, tapi dia lolos, aku malah dihadang tentara bayaran." ujar Gavlin kesal.


"Tentara bayaran? Mereka anak buahnya Binsar, kamu harus hati hati, tentara bayaran itu sangat berbahaya, Vlin." ujar Chandra.


"Ya, aku tau. Aku bisa mengatasinya." ujar Gavlin, menahan geramnya.


"Sulit menangkap Samsudin, Vlin, karena kemana mana, dia mendapat pengawalan khusus. Kamu harus menjebak dan memancingnya, agar dia sendirian." ujar Chandra.


"Ya, aku juga sedang memikirkan cara, bagaimana agar Sàmsudin terlepas dari pengawalannya." ujar Gavlin.


"Memang setidaknya, aku harus bisa memancing Samsudin agar sendirian, jadi aku leluasa membantainya." tegas Gavlin.


"Kalo kamu mau nekat menculiknya, datang aja ke gedung pertemuan balai ken arok minggu depan. Samsudin akan menggelar acara pelantikan perwira tertinggi kepolisian di sana, aku mendapatkan informasinya." jelas Chandra.


"Oh ya? Boleh juga, nanti aku coba ke sana." ujar Gavlin.


"Ya." jawab Chandra, mengangguk.

__ADS_1


Gavlin diam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, dari raut wajahnya terlihat jelas, bahwa dia sedang merencanakan sesuatu hal yang besar.


__ADS_2