VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Rencana Binsar Menghadapi Aamauri


__ADS_3

Andre menyetir mobilnya, dia sendiri yang mengantarkan pulang pak Wicaksono kerumahnya, Wicaksono duduk di jok belakang mobil, sementara, Chandra yang juga ikut mengantar duduk di jok depan, di samping Andre yang menyetir mobilnya.


Di sepanjang jalan, tak habis habisnya pak Wicaksono memandangi jalanan dari dalam mobil, wajahnya tersenyum senang, dia bahagia karena sudah bisa menikmati udara kebebasannya, dan tak lagi berada di dalam penjara yang pengap.


Wicaksono tiba tiba teringat sesuatu, dia lantas menoleh dan melihat pada Chandra yang duduk di jok depan mobil.


"Bisa tolong antarkan Bapak ke rumahnya Gavlin?" ujar Wicaksono, bertanya dengan sopan pada Chandra.


Chandra menoleh kebelakang dan melihat Wicaksono yang duduk di jok belakang mobil.


"Maaf, Pak. Gavlin udah gak punya rumah lagi, setelah rumahnya dia ledakkan sendiri saat di serbu anggota Binsar, dia gak punya rumah, Saya gak tau, Gavlin tinggal dimana sekarang ini." ujar Chandra, memberi penjelasan pada Wicaksono.


"Oh, begitu." ujar Wicaksono, mengangguk mengerti dan paham.


"Kalo gitu, kita ke rumahmu, Chan. Bapak ingin tau rumahmu." ujar Wicaksono.


"Beneran Bapak mau ke rumah saya?!" ujar Chandra bertanya dengan menoleh kebelakang dan menatap wajah pak Wicaksono.


"Iya, Bapak mau tau rumahmu dimana, jadi, sewaktu waktu nanti, Bapak bisa datang berkunjung ke rumahmu." ucap Wicaksono tersenyum menatap wajah Chandra.


"Baiklah, Pak." ujar Chandra, tersenyum senang.


Dia senang karena pak Wicaksono mau mampir kerumahnya sebelum dia dan Andre mengantar pulang pak Wicaksono kerumahnya.


"Kita kerumahku, Ndre." ujar Chandra, pada Andre yang menyetir mobilnya.


"Gak langsung ke rumah pak Wicaksono?" tanya Andre, sambil menyetir mobilnya.


"Nggak. Nanti saja Bapak pulang kerumah, Bapak mau tau rumah Chandra dulu, dan mau sekedar istirahat sebentar dirumahnya, boleh kan Chan, Bapak tidur dirumahmu?" ujar Pak Wicaksono, bertanya pada Chandra.


"Tentu saja boleh, Pak. Bapak kan udah saya anggap sebagai Bapak saya sendiri." jawab Chandra, tetap duduk di jok depan tanpa melihat pak Wicaksono di jok belakang mobil.


"Baiklah, Akan aku antar kalian." ujar Andre.


Andre lantas kembali focus menyetir mobilnya, Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalan raya menuju ke rumah Chandra.


---

__ADS_1


Sementara itu, tampak Indri bermalas malasan di dalam kamar hotelnya, dia menghabiskan waktunya dengan berbaring terus di atas kasur, kedua matanya bengkak dan memerah, karena dia terus menangis sepanjang waktu, Rifai yang berada dikamarnya sangat prihatin dengan kondisi Indri yang seperti tak bersemangat dan putus asa itu.


"In. Kamu makan ya, Aku udah siapkan makanan kesukaanmu." ujar Rifai, dengan suara pelan dan lembut pada Indri.


"Aku gak mau makan, Fai." ucap Indri, dengan suara serak karena habis menangis lama.


"Tapi kan jadi mubazir makanannya kalo gak kamu makan." ujar Rifai, mencoba membujuk Indri agar mau makan.


"Kamu aja yang habisi makanan aku, Fai. Aku gak punya selera buat makan." ujar Indri, getir.


Rifai menghela nafasnya, dia yang berdiri di samping ranjang menatap wajah sedih Indri yang berbaring di kasurnya.


"In. Kamu harus makan, ya. Udah dua hari kamu gak makan dan mengurung dirimu dalam kamar, dan kamu juga membatalkan semua jadwal jadwal kegiatanmu. Kalo kamu begini terus , kamu bisa jatuh sakit, In." ucap Rifai, memberi nasehat pada Indri.


Indri diam saja, dia tak menjawab perkataan Rifai, melihat Indri yang tetap diam berbaring di kasur dan tak mau makan, Rifai hanya bisa menghela nafasnya.


"Kalo kamu begini terus, lebih baik kita pulang ke rumah , In. Apalagi kamu kan udah membatalkan semua sisa acaramu. Buat apa kita berlama lama di hotel ini, buang buang duit." ujar Rifai, pada Indri.


"Biar aja , Fai. Toh biaya kamar hotel ini pakai uang sponsorku, mereka yang membayarnya, dan bukan pakai uang pribadiku, dan jatah menginapnya masih ada tiga hari lagi, biar aja Aku di sini sampai habis batas waktunya." ungkap Indri, dengan suaranya yang serak dan parau karena habis menangis.


"Kamu kan udah baca suratnya, Gavlin bilang dia akan pergi selamanya, menghilang darimu, dari dunia ini, dan gak akan menemui kamu lagi, jadi, buat apa kamu menunggunya ?" ujar Rifai, mengingatkan pada Indri.


"Mau sampai kapan kamu begini, In? Larut dalam kesedihan, menangis terus, kamu hanya menyiksa dirimu sendiri." tegas Rifai, menegur Indri.


"Jangan perdulikan Aku , Fai. Lebih baik, kamu tinggalkan aku, Aku mau sendirian di kamar ini, merenung." ucap Indri, lirih dan getir.


Rifai diam dan menghela nafasnya kembali, dia menatap wajah Indri yang memendam kesedihannya itu, Rifai lalu berbalik badan, dia pun lantas pergi keluar dari dalam kamar hotel meninggalkan Indri sendirian yang larut dalam kesedihannya di tinggal Gavlin.


Seperginya Rifai dari kamar, Indri pun kembali menangis terisak isak di atas kasurnya, dia masih menumpahkan perasaan sedihnya pada Gavlin yang telah salah paham kepadanya.


---


Sementara itu, terlihat Binsar berada di dalam mobilnya, dia di temani Acheel, ketua gank mafia dan orang kepercayaan Binsar, di belakang mereka, ada beberapa mobil anggota anggota gank mafia Acheel, mereka ikut dan mengawal Binsar yang akan bertemu dengan Aamauri hari ini.


"Bagaimana, Apa semua sudah terpasang ditempat masing masing?" tanya Binsar pada Acheel.


"Sudah beres , Pak. Bapak nanti bisa melihatnya langsung dari Hape Bapak. Jadi, kalo ada hal yang mencurigakan Bapak bisa tau , dan langsung memberi tahu saya, agar saya dan anak buah menyergap Aamauri dan anggotanya , kalo memang Aamauri datang dengan membawa pasukannya." ujar Acheel, memberi penjelasan pada Binsar.

__ADS_1


"Bagus, kalo begitu, kita berangkat sekarang. Ingat. Jangan menunjukkan gerakan yang mencurigakan selama bertemu dengan Aamauri nanti." ujar Binsar, mengingatkan Acheel.


"Siap, Pak. Bapak tenang saja, sebelumnya, saya dan Aamauri pernah saling berhadapan , kami terlibat peperangan antar gank dulu, merebutkan dua wilayah, tapi gank saya kalah , dan Aamauri berhasil menguasai dua wilayah yang kami rebutkan itu." ungkap Acheel memberi penjelasan pada Binsar.


"Artinya kamu sudah tau, bagaimana sepak terjang Aamauri selama memimpin gank mafianya dan menjadi gank mafia nomor satu di negara ini?" ujar Binsar menatap serius wajah Acheel, yang duduk di jok belakang, bersama Binsar.


"Ya, saya tau kehebatan Aamauri dan anggota anggota ganknya, mereka sangat terlatih, bagai sekelompok pasukan tentara, ahli dalam peperangan dan perkelahian." ungkap Acheel.


"Karena itu, Aku mengingatkanmu untuk berhati hati pada Aamauri, kita jangan sampai termakan dengan kelicikan dan permainannya, hingga masuk dalam perangkapnya." ujar Binsar, dengan wajahnya yang serius menjelaskan.


"Aamauri gak bisa diremehkan begitu aja, Aku tau, bagaimana orang seperti Aamauri itu, dia pasti punya rencana lain, dan akan bertindak saat nanti bertemu denganku." tegas Binsar, memberi penjelasan pada Acheel.


"Ya, Pak. Saya akan menempatkan anak buah saya di posisi yang strategis , agar bisa menyergap Aamauri dan anggotanya, juga melindungi Bapak nantinya." ujar Acheel, memberi tahu Binsar.


"Ok Ayo kita berangkat." ujar Binsar.


"Siap, Pak." Angguk Acheel.


"Ayo, jalankan mobil ini." Perintah Acheel kepada supir.


"Siap, Bos." Angguk sang Supir.


Lalu, Supir segera menjalankan mobilnya, mobil pun lantas pergi meninggalkan markas Acheel, di belakang, para anak buahnya mengikuti dengan mobil mereka masing masing.


"Suruh anak buahmu berpencar dan jangan mengikuti kita terus." ujar Binsar , memberi perintah pada Acheel.


"Baik, Pak." Jawab Acheel, mengangguk hormat pada Binsar.


"Anak buahmu tau kan, kemana kita pergi?" tanya Binsar.


"Mereka tau, Pak. Saya sudah bilang ke mereka semua di markas. jelas Acheel.


Binsar mengangguk angguk , Acheel lantas menelpon salah satu anak buahnya, agar berpencar dan tidak mengikuti mobil yang di naiki Binsar.


Acheel sangat patuh dan tunduk pada Binsar, walau pun dia ketua gank mafia , tapi, dia sangat hormat dan takut serta segan pada Binsar.


Sepak terjang Binsar sudah sangat terkenal di dunia mafia international, karena dia memimpin organisasi Inside yang jaringannya sangat luas sampai ke beberapa negara negara lainnya. Dan juga, Gank mafia pimpinan Acheel, di berikan bantuan dana oleh Binsar selama ini, dan mereka bekerjasama dalam bisnis bisnis ilegal mereka selama ini.

__ADS_1


__ADS_2