VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Inside


__ADS_3

Peter membuka pintu ruang kantor Herman, dia langsung masuk kedalam dan berjalan menghampiri Herman yang berdiri dihadapan patung lilin berwujud sosok Jack.


"Dimana si Jack?!" tanya Peter , dengan wajah penasaran dan ingin tahunya.


Peter berdiri di samping patung lilin, Herman diam dan tak menjawab pertanyaan Peter.


Herman lantas memegang patung lilin, lalu, dia membalikkan patung lilin, mengarahkan patung ke hadapan Peter.


Kedua mata Peter terbelalak lebar karena syock dan terkejut saat menatap wajah patung lilin yang ada di hadapan dirinya saat ini.


"Jaaaccckkk?!!" Peter terhenyak kaget dan syock.


Peter tak percaya, Jack telah menjadi patung lilin, berdiri kaku di hadapannya, seluruh tubuhnya, dari atas kepala hingga kaki di baluri dengan lilin lilin.


"Jack dibunuh Gavlin, dan anak setan itu mengirimkan tubuh Jack yang dijadikannya patung lilin ini padaku." ujar Herman, dengan wajah tegang dan seriusnya.


"Gillaaaa !!" ujar Peter geram dan marah.


"Bukan hanya dijadikan patung lilin, aku kira, Gavlin juga menguliti seluruh tubuh Jack, liatlah diatas meja itu." ujar Herman serius.


Peter lantas menoleh dan melihat ke atas meja tamu, dia lalu berjalan mendekati meja, Peter terdiam, berdiri dihadapan meja, dia menatap pajangan kulit diatas meja.


"Itu kulitnya Jack, di sayat dan dikuliti seperti kambing!" tegas Herman, menahan geram dan amarahnya.


"Bedebaaahhh Gaavllliin!!" ujar Peter geram.


"Gavlin lebih cepat dari kita Pet, pergerakannya gak diketahui, tau tau, dia udah membunuh Jack, aku dengar, dia menyerang dan menangkap Jack di kantornya langsung." ujar Herman, dengan wajah serius.


"Ya, aku dengar kabar penyerangan dan pembantaian karyawan karyawan di gedung kejaksaan agung, tapi aku gak nyangka, kalo Jack jadi korbannya!" tegas Peter.


"Kalo sudah begini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Herman.


Peter diam, dia tampak sedang berfikir keras, mencari cara untuk menghadapi Gavlin dan melindungi dirinya dan Herman dari sergapan Gavlin.


"Aku yakin, tidak lama lagi, si Gavlin akan datang menemui salah satu diantara kita." tegas Herman.


"Aku jadi berfikir, ada benarnya yang di bilang Jack kemaren lalu." ujar Herman, dengan wajah seriusnya.


"Soal apa?!" tanya Peter.


"Sudah waktunya memang sepertinya kita minta perlindungan pada organisasi 'Inside', karena, kita gak akan bisa menghadapi Gavlin." tegas Herman.


"Man ! Kamu lupa, kalo 'Inside'melarang kita membawa bawa nama organisasi atas masalah kita?!" tegas Peter, mengingatkan.


"Iya, aku tahu, dan aku paham. Tapi, Kejahatan di masa lalu itu bukan hanya perbuatan kita saja, Pet!" tegas Herman.


"Semua orang yang ada di dalam organisasi 'Inside'terlibat, dan apa yang dulu kita lakukan hanya menjalankan perintah atasan saja! Ketua organisasi kita itu!!" ujar Herman, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


"Masa kejahatan yang dilakukan bersama kelompok organisasi kita, terus, hanya kita saja yang menanggung akibatnya? Harus mati dibunuh Gavlin yang mau membalas dendam kematian Bapaknya?!" tegas Herman, kesal dan marah.


"Kamu benar Man. Hanya saja, aku khawatir." ujar Peter, serius.


"Khawatir apa?" tanya Herman, menatap tajam wajah serius Peter.


"Aku khawatir, ketua ngamuk, lalu malah menyalahkan kita dan menyerang balik kita, karena kita melibatkan mereka dalam masalah kita sekarang ini." tegas Peter.


"Aku gak perduli Pet!!" tegas Herman.


"Jika aku tertangkap atau terbunuh, aku gak akan sendirian menjalaninya!! Organisasi kita juga harus bertanggung jawab !!" Ujar Herman, menegaskan.


"Jika begitu, musuhmu bukan hanya Gavlin saja, Man. Tapi juga organisasi 'Inside'!!" tegas Peter.


"Aku gak perduli lagi!! Toh, gak bakal lama lagi, aku pasti dibunuh Gavlin!! Mau sembunyi atau berlindung dimanapun juga, si Gavlin pasti menemukanku!!" ujar Herman serius.


"Gavlin itu anak setan, dia bagai hantu, bahkan iblis ! Kehadirannya gak terlihat !!" tegas Herman.

__ADS_1


Peter diam sesaat, dia tampak sedang memikirkan semua perkataan Herman tersebut, Herman menatap tajam wajah Peter.


"Bagaimana, Pet? Kamu mau ikuti saranku tadi, atau menolaknya?" tanya Herman serius.


Peter masih diam dan berfikir, dia tak menjawab pertanyaan Herman.


"Jika kamu menolak saranku tadi untuk melibatkan organisasi 'Inside' , aku rasa, hubungan kita berakhir sampai di sini saja, selanjutnya, kita berjalan sendiri sendiri saja!" tegas Herman.


Peter terhenyak kaget mendengar perkataan Herman, dia lantas menatap tajam wajah Herman yang berdiri dihadapannya.


"Aku gak akan meninggalkanmu, Man !! Setelah apa yang terjadi pada kita, setelah kematian teman teman dekat kita, Jack, Dody, Prawira ! Aku gak akan pergi darimu!!" tegas Peter.


"Apapun yang akan terjadi nanti, mari, kita hadapi bersama sama!!" ujar Peter, meyakinkan Herman.


"Itu artinya kamu masih bersamaku?" tanya Herman serius.


"Ya !" Tegas Peter.


"Lalu, bagaimana saranku, untuk memberitahu organisasi 'Inside' masalah kita ini? Kamu setuju, jika aku meminta bantuan organisasi kita itu?!" tanya Herman.


"Ya, aku setuju, jika itu solusi terbaik, aku mendukungmu!" jelas Peter.


"Walaupun nanti kita harus menghadapi organisasi 'Inside' dan pak Ketua, gak apa apa. Kita hadapi semuanya!" tegas Peter, dengan bersungguh sungguh dan serius.


"Terima kasih atas kesetiaan persahabatanmu!" tegas Herman.


"Ya. Hidup dan mati, kita akan tetap bersama, menjadi sahabat selamanya!!" ujar Peter.


Herman lantas menjabat tangan Peter, mereka berdua saling bersalaman dengan erat, kedua nya tersenyum senang.


---


Di sebuah rumah aman, lokasi yang biasa di gunakan pihak kejaksaan untuk melindungi dan menyembunyikan para saksi kunci persidangan sebuah kasus, terlihat beberapa orang petugas kepolisian berdiri dan berjaga jaga di sekitar area halaman rumah aman.


Di dalam rumah, tepatnya di ruang tengah, Andre duduk di sofa bersama Samuel. Mereka berdua sedang menunggu kedatangan Edo bersama Chandra.


"Sudah lewat lima belas menit dari janji temu yang ditetapkan, tapi mereka belum datang juga." ujar Samuel, sambil melihat jam ditangannya.


"Kita tunggu sebentar lagi, tadi aku tanya Edo, mereka lagi dijalan ke arah sini." jelas Andre.


"Ya, baiklah. Akan ku tunggu setengah jam lagi, jika tidak datang juga, aku terpaksa pulang, dan kita atur saja lagi pertemuan berikutnya!" tegas Samuel, dengan wajah seriusnya.


"Ya." Angguk Andre.


Tak berapa lama kemudian, Edo tiba di lokasi rumah aman tersebut bersama Chandra. Mobil yang dia kendarai masuk ke dalam halaman rumah aman, Edo memarkirkan mobilnya.


"Kita sudah sampai, Chan!" ujar Edo, sambil mematikan mesin mobilnya.


"Oh, iya. Jauh banget lokasinya, Do. Mana terpencil lagi." ujar Chandra, sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Ya, memang sengaja di cari lokasi seperti ini, kan ini rumah perlindungan buat saksi saksi dipersidangan." jelas edo.


"Iya, juga sih." Angguk Chandra mengerti dan paham.


"Yuk, kita temui mereka di dalam rumah." ujar Edo.


Chandra mengangguk, mengiyakan, lalu, dia membuka pintu mobil. Lantas, Edo dan Chandra pun bergegas keluar dari dalam mobilnya.


Ditangan Chandra ada sebuah tas kerja, yang didalamnya banyak berkas berkas dan barang barang bukti lain yang sengaja dia bawa, agar ditunjukkannya pada Samuel dan Andre nantinya.


Chandra berani membawa semua apa yang dia miliki itu, karena dia sangat mempercayai Edo.


Lalu, Edo mengajak Chandra untuk masuk kedalam rumah, mereka berdua pun kemudian berjalan masuk ke dalam rumah aman.


Para petugas yang berjaga jaga di sekitar area halaman rumah membiarkan mereka berdua masuk ke dalam rumah, sebab, mereka mengenali Edo sebagai petugas kepolisian, sama seperti mereka juga.

__ADS_1


Edo dan Chandra masuk kedalam rumah, lalu mereka berjalan menghampiri Andre dan Samuel yang sudah menunggu mereka di ruang tengah rumah aman.


Melihat kedatangan Edo dan Chandra, Andre pun lantas senang, begitu juga Samuel, mereka berdua lalu berdiri menyambut kedatangan Edo dan Chandra.


"Maaf, Pak. Kami terlambat, jalanan macet, lagi pula, jalan ke arah sini sulit, jadi harus hati hati mengendarai mobilnya." jelas Edo, serius.


"Ya, gak apa apa." jawab Andre.


"Ini Chandra, Pak. Chan, kenalkan, ini pimpinanku, Pak Andre, dan itu pak Samuel, Jaksa Penuntut." jelas Edo.


Edo memperkenalkan Andre dan Samuel kepada Chandra, Chandra mengangguk hormat, begitu juga dengan Andre dan Samuel.


Mereka lantas saling memperkenalkan diri dengan menyebut nama masing masing, lalu, mereka saling berjabatan tangan, berkenalan. Andre dan Samuel tersenyum ramah pada Chandra.


"Silahkan duduk." ujar Andre, mempersilahkan duduk Chandra.


"Terima kasih, Pak." jawab Chandra.


Lantas, Mereka berempatpun duduk di sofa masing masing yang ada di ruang tengah rumah aman, Chandra meletakkan tas kerja yang dia bawa ke atas meja, Andre dan Samuel melihat tas kerja tersebut.


"Di dalam tas ini, ada berkas berkas bukti kejahatan komplotan Herman lainnya." ujar Chandra, menjelaskan.


"Oh, begitu." ujar Andre mengangguk mengerti.


"Sebelum saya menunjukkan bukti bukti kejahatan lainnya, saya mau tau, apakah Bapak Andre dan pak Samuel tau? Siapa sebenarnya yang kalian sedang hadapi dibelakang Herman dan komplotannya?!" tanya Chandra, dengan wajahnya yang serius.


"Yang saya tau, Hanya komplotan Herman dan bramantio saja, dan memang, setelah membaca berkas berkas bukti kejahatan dari anda, pak Chandra, saya mengambil kesimpulan, bahwa ada konspirasi besar yang bermain dibelakang komplotan Herman." jelas Samuel dengan serius.


"Ya, benar, ada konspirasi besar." tegas Chandra serius.


"Maaf, sebelumnya, jangan panggil saya Bapak. Panggil saja nama saya langsung, saya canggung jika disebut Bapak." jelas Chandra.


"Oh, begitu, Baiklah. Saya akan panggil Mas Chandra saja." ujar Samuel, tersenyum ramah.


"Ya, gak apa apa." jawab Chandra, tersenyum.


Andre dan Edo juga ikut tersenyum senang, karena melihat Chandra yang bisa akrab dan santai dengan mereka.


"Saya akan jelaskan, nama kelompok Herman itu." jelas Chandra.


"Mereka berada dalam sebuah organisasi besar yang bergerak dalam semua kejahatan terselubung, nama organisasi mereka 'Inside'!" jelas Chandra, dengan wajah seriusnya.


"Inside ?!" Andre dan Samuel sama sama terperanjat kaget.


Mereka baru mengetahui dan mendengar nama tersebut, karena memang selama ini, mereka tak tahu menahu soal organisasi tersebut.


"Ya, organisasi itu sudah berjalan puluhan tahun, dan aksi aksi mereka tak terbendung, kejahatan kejahatan mereka tak terungkap sampai detik ini, mereka bergerak dan bertindak dengan sangat rapi." jelas Chandra, dengan wajah seriusnya.


"Anggota anggotanya yang bergabung dari seluruh divisi dan departemen, semua ada didalamnya, anggota legislatif, mentri, ketua partai dan anggotanya, para pengusaha, pebisnis, kejaksaan, kepolisian, kehakiman, komisi korupsi, bahkan pemuka agama ! Semua ada didalam organisasi 'Inside'itu!" tegas Chandra , menjelaskan.


"Apa pimpinannya Pak Presiden?" tanya Andre, serius dan ingin tahu.


"Bukan, beliau hanya salah satu dari bidak bidak catur saja, bukan pimpinannya." tegas Chandra.


"Pimpinan organisasi Inside itu selalu di dekat Presiden, dan keberadaan dan sepak terjangnya sebagai ketua organisasi Inside, tidak ada yang mengetahuinya!" jelas Chandra.


"Hanya saya yang mengetahuinya, sebab, saya berhasil merekam bukti percakapan antara ketua Inside dan para mentri di suatu ruangan, saat mereka merencanakan meledakkan pesawat !" tegas Chandra.


"Ledakan pesawat di tahun 2008 kah? Dimana salah satu korbannya duta besar negara lain?!" tanya Samuel.


"Ya, mereka sengaja membunuh duta besar itu, lalu menuduh perusahaan Andromeda yang menguasai batu bara sebagai pelaku sabotase pesawat!" tegas Chandra.


"Ya, pimpinan perusahaan Andromeda di penjara dan dihukum mati, karena bukti kuat ada padanya, lalu, perusahaannya tutup." jelas Andre.


"Tidak tutup, diambil alih oleh Wijaya, rekan bisnis Bramantio, dia dipercaya ketua untuk melanjutkan usaha tersebut !" tegas Chandra.

__ADS_1


"Wijaya?!! Andre dan Samuel terhenyak kaget.


Mereka berdua sama sekali tak menyangka, jika ternyata serumit itu kasus yang sedang mereka selidiki saat ini.


__ADS_2