
Masto berlari lari menghampiri Andre yang baru saja tiba di gedung kantor kepolisian pusat, melihat Masto yang berlari lari ke arahnya dengan wajah panik, Andre pun heran melihatnya.
Masto berhenti di depan Andre, sesaat dia mengatur nafasnya yang habis berlari jauh dari dalam kantor hingga keparkiran mobil.
"Ada apa?!" tanya Andre heran.
"Saya baru saja mendapatkan informasi, bahwa mobil yang mengawal Richard meledak, dua petugas tewas di tempat dan terbakar!" tegas Masto, memberikan laporan pada Andre.
"Apa?! Lantas, bagaimana dengan Richard?!" tanya Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Sepertinya dia di tolong oleh supir yang membawanya ke tahanan kejaksaan, Pak." jelas Masto.
"Kan ada dua petugas tahanan kepolisian yang mendampingi Richard dalam mobil? Kemana mereka?!" tanya Andre, mulai marah.
"Entah, Pak. Mereka menghilang." jelas Masto.
"Siaaal !! Berarti ada orang lain yang membantu Richard." ujar Andre geram.
"Dimana lokasi kejadiannya?!" tanya Andre, dengan wajahnya yang serius.
"Di jalan Nuri, Pak!" tegas Masto.
"Baik, kamu ikut saya, kita ke sana sekarang juga!!" Ujar Andre.
"Baik Pak." jawab Masto, mengangguk hormat.
Saat mereka hendak masuk ke dalam mobil Andre, datang Edo dengan berlari tergopoh gopoh menghampiri.
"Tunggu, Pak!" ujar Edo.
Edo berhenti dan berdiri di hadapan Andre dan Masto, wajah Edo juga tegang.
"Ditemukan mayat kedua petugas tahanan kepolisian yang membawa Richard di jalan cendrawasih, kedua mayat di buang di pinggir jalan!" lapor Edo.
"Kurang ajaaarr !! Ini gak bisa di biarkan!!" tegas Andre marah.
"Kamu lacak mobil yang membawa Richard, mobil itu di pasangi alat pelacak! Bawa pasukan untuk mengejar dan menangkap Richard serta komplotannya yang membawanya lari!!" tegas Andre memberi perintah pada Edo.
"Baik, akan saya kerjakan !" ujar Edo, memberi hormat.
"Ayo, To , kita pergi sekarang!" ujar Andre dengan wajah yang menahan amarahnya.
"Bapak mau kemana?" tanya Edo.
"Kelokasi kejadian, dimana mobil pengawalan Richard meledak!" ujar Andre.
"Oh, baik, Pak!" ujar Edo.
Andre dan Masto lantas masuk ke dalam mobilnya, Edo segera berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam gedung kantor kepolisian pusat untuk melacak keberadaan mobil yang membawa Richard serta menyiapkan timnya untuk memburu Richard yang melarikan diri.
Mobil Andre berjalan, lalu pergi meninggalkan gedung kantor kepolisian, Andre yang menyetir mobilnya, sementara Masto, duduk di sampingnya.
"Saat Richard di tahan di kantor, apa ada orang yang mengunjunginya?!" tanya Andre, sambil terus menyetir mobilnya.
"Sudah saya cek. Gak ada yang datang menemui Richard, Pak." ujar Masto.
"Hmm...Jadi siapa yang menolong Richard?" Ujar Andre, berfikir keras.
Mobil melaju di jalanan dengan kecepatan sedikit kencang, mobil melaju melewati kendaraan kendaraan lainnya, Andre sengaja mengendarai mobilnya dengan sedikit lebih cepat, agar dia segera sampai di lokasi dan mengecek lokasi kejadian.
---
Richard mulai sadarkan diri, kedua matanya terbuka, lalu, perlahan lahan, dia melihat ke sekitarnya, saat dia melihat sekitarnya, Richard kaget.
Dan dia semakin panik meronta ronta, karena mengetahui dan menyadari bahwa dirinya saat ini tergantung tinggi di atas crane.
Saat ini, Richard berada di bukit tandus, yang di kelilingi dengan jurang jurang sangat dalam serta menganga lebar, mulut jurang siap melahap tubuh Richard, jika dia terjatuh ke dalam jurang dalam tersebut.
Sementara, Gavlin terlihat sedang memanaskan sebuah tong besar yang di dalamnya berisi timah panas. Melihat Gavlin, Richard pun marah.
"Heeei seeetaaan !! Lepaskan akuuu!!" teriak Richard dari atas crane yang menggantung dirinya.
Richard tak bisa berbuat apa apa, karena seluruh tubuhnya terikat kuat, dan dia juga sedang berada di atas ujung crane, menggantung tinggi, Richard melihat ke tanah yang ada di bawah. Jarak antara dirinya yang tergantung dengan tanah sangat jauh. Richard memejamkan matanya.
Dia berfikir, jika dia jatuh dari crane tersebut, pastilah dia langsung mati di tanah. Karena Gavlin menggantung dia sangat tinggi menggunakan mobil crane yang berukuran besar.
__ADS_1
Gavlin cuek dan mengabaikan teriakan Richard yang memaki dirinya, dia tetap sibuk memanaskan timah yang penuh di dalam tong besar. Gavlin tengah merencanakan sesuatu hal besar untuk Richard saat ini.
---
Andre dan Masto tiba di lokasi kejadian, di lokasi, sudah ada mobil petugas pemadam kebakaran, mobil ambulance bersama petugas paramedis, dan juga tim ahli forensik. Mereka semua datang kelokasi karena ditugaskan langsung oleh Masto yang mendapatkan kabar lebih dulu daripada Andre.
Petugas pemadam kebakaran tampak sedang memadamkan api yang membakar mobil pengawalan Richard.
Andre dan Masto berdiri di dekat petugas pemadam kebakaran. Setelah api berhasil dipadamkan seluruhnya, lalu, salah seorang petugas pemadam kebakaran merangkak masuk ke dalam mobil. Dia berusaha untuk mengambil mayat kedua petugas polisi yang mengawal Richard.
Petugas Pemadam kesulitan, lalu, Petugas penyidik kepolisian yang juga hadir di lokasj membantunya. Mereka berusaha membongkar pintu mobil.
Beberapa saat pintu mobil berhasil di bongkar dan di lepaskan, lalu, mereka cepat menarik mayat petugas polisi dari dalam mobil.
Andre dan Masto terpaku diam ditempatnya, mereka tak sanggup melihat mayat kedua polisi yang sudah hangus terbakar.
Petugas Tim Ahli Forensik mendekati kedua mayat petugas polisi, lalu mereka mulai bekerja, mencari tahu tentang kematian dua petugas polisi tersebut.
Seorang petugas penyidik kepolisian yang melihat kedatangan Andre bersama Masto di lokasi langsung cepat menghampiri Andre .
"Ditemukan sisa sisa bom dan kabel kabelnya di sekitar jalanan sini, Pak." ujar Petugas Penyidik Kepolisian memberikan laporan pada Andre.
"Apa?! Bom?!" ujar Andre kaget.
"Iya, Pak. Sepertinya mobil hancur karena menginjak salah satu bom, yang ada di jalanan ini." jelas petugas penyidik kepolisian.
"Siapa yang sengaja memasang bom di jalanan ini?" ujar Andre marah sambil berfikir.
"Pintar sekali orang itu, sepertinya dia tau, mobil yang membawa Richard akan melewati jalan ini, dia pun lantas memasang bom, dengan tujuan meledakkan mobil yang mengawal lalu membebaskan Richard." lanjut Andre, berfikir.
"Lantas, siapa orang itu?" ujarnya geram.
"Tim Forensik masih menyelidiki, Pak. Untuk sementara, belum ditemukan bukti lainnya, hanya ada jejak mobil yang berasal dari mobil petugas tahanan kepolisian saja." jelas petugas penyidik kepolisian.
Telepon Masto berbunyi, dengan cepat dia mengambil ponsel dari kantong celananya, lalu menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya, bagaimana?" tanya Masto, di telepon.
"Ok. Baik. Akan saya sampaikan." jawab Masto lagi di teleponnya.
"Baik, selidiki lagi. Cari disekitar sini bukti bukti lainnya, saya yakin, pasti akan menemukan jejak si pelaku saat dia memasang bom di jalanan ini." ujar Andre, dengan wajah serius menahan amarahnya.
"Baik, Pak." ujar petugas penyidik kepolisian.
Lalu, dia pun pergi meninggalkan Andre dan Masto.
Andre menatap wajah Masto yang tampak serius itu.
"Siapa yang telpon kamu?" tanya Andre , dengan wajahnya yang serius.
"Edo, Pak. Kedua mayat petugas tahanan kepolisian yang dibuang sudah di evakuasi." ujar masto, memberi laporan.
"Dan Edo juga bilang, dia sudah melacak, dan menemukan titik terakhir mobil berada !" jelas Masto.
"Edo akan mengirimkan denah lokasi gps nya ke hape saya!" lanjut Masto, memberi penjelasan.
"Baik, kita segera kesana !" ujar Andre.
"Baik, Pak." ujar Masto.
Andre dan Masto lantas segera berjalan ke arah mobil Andre, ponsel Masto kembali berbunyi, sambil berjalan, Masto mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.
Mereka berdua tiba di depan mobil, lalu, Andre dan Masto segera masuk ke dalam mobil, Masto yang duduk di jok depan, di samping Andre yang menyetir sedang membaca pesan yang di kirimkan Edo ke ponselnya.
"Edo sudah kirim denah lokasi gpsnya Pak." ujar Masto.
"Baik. Segera kamu aktifkan gpsnya, kita ke sana sekarang juga!" ujar Andre dengan wajah geram dan menahan amarahnya.
"Baik, Pak." Jawab Masto.
Masto lantas memegang ponselnya dan mengaktifkan peta denah lokasi yang dikirim edo kepadanya, lokasi dimana mobil yang membawa Richard ditemukan melalui alat pelacak kepolisian.
Andre mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan lokasi mobil pengawalan kepolisian meledak. Sementara, para petugas penyidik kepolisian, tim ahli forensik dan paramedis masih ada di sekitar lokasi. Hanya petugas pemadam kebakaran saja yang sudah pergi dari lokasi tersebut.
---
__ADS_1
Gavlin berdiri di dekat mobil crane, dan dia menengadah jauh ke atas, melihat Richard yang tergantung tinggi di atas belalai crane.
"Turunkan aku anak setaaan!!" teriak Richard sekeras kerasnya dari atas.
Gavlin diam tak menjawab, dia tersenyum sinis mendengar perkataan Richard. Dari atas, dimana dia tergantung, dengan jelas Richard melihat kepada Tong besar yang didalamnya penuh dengan timah panas yang menggelegak karena baru saja selesai di masak Gavlin.
Dengan tenang dan santai Gavlin lantas berjalan mendekati mobil crane, lalu, Gavlin pun menaiki mobil crane besar itu. Dia duduk dengan santainya di dalam crane.
Dari dalam mobil crane, Gavlin mendongak melihat keluar, kearah Richard yang tergantung. Tak lama kemudian, Gavlin pun mulai mengoperasikan mobil crane tersebut.
Mesin mobil crane mulai menyala. Lalu, belalai crane yang menggantung Richard mulai bergerak ke kanan dan ke kiri, melihat crane mulai bergerak, dan Gavlin sedang menjalankan mobil crane tersebut, Richard pun panik dan takut.
"Mau apa kamu?!! Lepaskan aku, lepaskan akuuu!!" teriak Richard meronta ronta ketakutan.
Gavlin tak perduli, lantas dia menggerakkan mobil crane ke arah jurang yang sangat dalam, Richard semakin panik dan takut, saat melihat, dia sekarang berada di tengah jurang.
Richard melihat ke bawah, dia memejamkan matanya, tak sanggup melihat jurang yang sangat dalam sekali.
"Tolooongggg...jangan buang aku ke juraaaang, tolooonggg lepaaaskan aaakuu!!" teriak Richard memohon dan mengiba pada Gavlin.
Gavlin tersenyum sinis. Dari dalam mobil crane, dia melihat jelas, di depannya, jauh di tengah jurang, di ujung belalai crane, Richard tergantung dengan kondisi seluruh tubuhnya terikat kuat.
"Sampah busuk sepertimu harus di buang ketempat yang jauh Richard!! Agar bau busukmu gak membuat penyakit pada orang lain!!" teriak Gavlin, dari dalam mobil crane pada Richard.
"Tiiiddddaaaakkk , tiiidddaaakkk!! Tolong Gavlin, tolong!! Jangan bunuh aku ! Jangan buang aku ke jurang !!" ujar Richard berteriak, merengek memohon pada Gavlin, dengan wajah panik dan penuh ketakutan.
Gavlin diam, dia tak menjawab, Gavlin hanya tersenyum sinis menatap tajam pada Richard yang tergantung di ujung belalai mobil crane, tepat ditengah jurang.
Dengan sekali sentuhan menekan tombol yang ada di dalam mobil crane, tubuh Richard akan terlepas dari belalai crane lalu terjatuh masuk ke dasar jurang yang sangat dalam itu.
Namun, Gavlin tak ingin buru buru melenyapkan Richard, dia masih ingin sedikit lebih lama lagi bermain main dengan Richard dan membuatnya semakin panik dan lemas.
Setelah itu, baru dia akan melaksanakan rencana yang sebenarnya sudah dia siapkan untuk Richard nantinya.
---
Mobil Andre berhenti di sebuah lokasi persawahan yang sepi, dari dalam mobilnya, Andre melihat ke arah luar, lalu, menoleh pada Masto yang duduk di sampingnya.
"Benaran ini titik akhir lokasinya?" tanya Andre, dengan wajahnya yang heran.
"Benar, Pak. Ini liat, titiknya berhenti persis di sini." jelas Masto, menunjukkan ponselnya yang menampilkan denah lokasi gps pada Andre.
"Ya, sudah, kita keluar, dan cari mobil serta Richard." ujar Andre.
"Baik, Pak." jawab Masto
Masto lantas menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, lalu, Dia pun lantas keluar dari dalam mobil, mengikuti Andre yang sudah lebih dulu keluar dari dalam mobilnya.
Andre dan Masto berdiri di depan mobil, mereka mengambil pistol dari pinggang masing masing, lalu, dengan siap siaga, mereka berdua memegang pistol.
"Hati hati." ujar Andre.
"Baik, Pak." ujar Masto.
Lantas, mereka berdua pun mulai bergerak mencari keberadaan mobil dan juga Richard yang telah melarikan diri karena di bantu seseorang yang belum diketahui identitasnya.
Andre dan Masto berjalan dengan berhati hati dan waspada sambil memegang pistol ditangannya. Mereka berjalan menyusuri persawahan.
Tak berapa lama, Masto menemukan mobil yang digunakan membawa Richard dari kantor kepolisian ke kantor kejaksaan.
"Mobilnya ada di sini, Pak!" ujar Masto, memberi tahu Andre.
Lalu, Andre pun lantas bergegas menghampiri Masto yang berdiri persis di samping mobil.
Masto mengamati mobil, lalu dia mengintip kedalam mobil tersebut, dia melihat, di jok belakang ada percikan darah yang masih menempel di jok belakang mobil. Dan dia tahu, pastilah itu darah milik kedua petugas tahanan kepolisian yang ditembak mati.
"Kosong, gak ada siapa siapa di dalam mobil, Pak!" ujar Masto, sambil membuka pintu belakang mobil.
Andre masuk kedalam mobil tersebut, dia mengamati isi dalam mobil, Andre juga melihat darah yang sudah mengering tercecer dilantai mobil dan juga di sandaran jok mobil. Lalu Andre keluar dari dalam mobil.
"Panggil tim forensik ke sini, suruh mereka menyelidiki mobil ini, aku yakin, sidik jari si pelaku yang menolong Richard pasti tertinggal di dalam mobil ini!" ujar Andre, memberikan perintahnya pada Masto.
"Baik, Pak." ujar Masto.
Masto lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, dia segera menghubungi unit penyidik kepolisian beserta tim ahli forensik untuk segera datang kelokasi mereka saat ini.
__ADS_1