
Di suatu malam, terlihat sosok seseorang berpakaian serba hitam berjalan di jalanan perkampungan Rawas.
Sosok itu tanpa kepala, ditangan kanannya terlihat sosok tersebut memegang kepalanya, dia berjalan melayang.
Tapak kakinya terlihat tidak menapak menginjak jalanan kampung.
Warga warga yang berpapasan dan melihatnya ketakutan dan langsung berlari.
Rumah rumah warga tertutup rapat semua, menguncinya, mengamankan rumah masing masing.
Dengan maksud, agar tidak didatangi dan dimasuki hantu kepala buntung yang sedang meneror kampung mereka.
Warga warga bersembunyi di dalam rumah masing masing, mereka berusaha menghindar dan menyelamatkan diri dari bertemu dengan hantu kepala buntung.
Akibatnya, perkampungan itu pun menjadi sunyi senyap, karena kedatangan hantu kepala buntung yang meneror seluruh warga perkampungan Rawas.
Salah seorang warga dari dalam rumahnya, bersembunyi dibalik horden jendela melihat keluar rumah.
Wajahnya terlihat pucat pasi begitu melihat diluar, dijalanan kampung depan rumahnya.
Hantu kepala buntung berjalan melayang menyusuri jalanan melewati rumah rumah warga.
Seorang warga yang mengintip dari balik horden jendela bergidik ngeri, dia cepat berlari masuk kedalam kamarnya.
Dia menutup seluruh tubuhnya dengan kain selimut lebar yang ada di tempat tidurnya.
Tidak ada satu wargapun yang berani keluar rumah dan menghadapi hantu kepala buntung yang datang ke perkampungan mereka.
Semua warga memilih untuk menyelamatkan diri, mengurung diri dan bersembunyi di dalam rumah masing masing.
Mereka tidak mau dirinya mati konyol oleh hantu kepala buntung yang sangat menyeramkan itu.
Setelah setengah jam berlalu dari kehadiran hantu kepala buntung yang meneror, suasana perkampungan Rawas semakin hening dan sepi.
Semua warga berada didalam rumah masing masing, terlelap tidur dengan rasa ketakutan yang muncul di dalam diri karena teror hantu kepala buntung.
Sudah tak terlihat hantu kepala buntung berkeliaran dijalanan kampung.
Suasana di jalanan sekitar rumah rumah warga sepi senyap malam itu.
Dari balik pohon besar yang ada di pinggir jalan, terlihat sosok mata dengan bola matanya berwarna merah menyorot tajam.
Matanya sedang mengamati seluruh rumah rumah warga kampung Rawas.
Mulutnya terlihat menyeringai menyeramkan, seakan menunjukkan rasa lapar dan haus akan darah.
Maya terlihat sedang menonton video hasil liputannya saat di pameran patung lilin Yanto didalam kamarnya.
Video itu sudah ditayangkan secara online, dan video yang di upload majalah tempat dia bekerja mendapat sambutan yang banyak dari orang yang menontonnya.
Maya terlihat serius melihat, saat dirinya sedang mewawancarai Yanto di lokasi pameran patung lilin.
Saat pandangan mata Maya beralih pada gambar patung patung lilin, dia segera menekan tombol "pause" untuk menghentikan video sesaat.
Mata Maya menatap lekat pada gambar patung lilin pria tua yang duduk di kursi taman.
Maya memperhatikan wajah patung yang ada didalam video, dia masih penasaran dengan wajah patung lilin pria tua di video.
Raut wajahnya terlihat sedang berfikir keras, mencoba untuk mengingat ingat.
Maya mengingat ingat dimana dirinya pernah melihat wajah yang sangat mirip dengan patung lilin pria tua yang sedang duduk dikursi taman dalam video.
Walau berusaha sekeras apapun dia mencoba untuk mengingat, namun Maya tidak bisa ingat, dimana dia pernah melihat wajah yang mirip dengan patung lilin pria tua itu.
Maya menghela nafasnya, lalu menutup laptopnya, kemudian berdiri dari kursi yang di dudukinya.
Maya melangkah ke tempat tidurnya, lalu merebahkan dirinya di kasur.
Dia terlentang menatap ke langit langit kamar, rasa penasaran masih ada di dalam dirinya, menggelayut dalam benaknya.
Sesaat kemudian dia berbalik ke kiri, lalu memejamkan matanya, mencoba untuk tidur dengan posisi miring kesamping kiri.
Maya berusaha untuk melupakan beban fikiran yang saat ini terus bermain main di kepalanya karena penasaran pada patung lilin Yanto.
Sementara itu, di kampung Rawas yang sunyi sepi, terlihat dari celah celah lubang yang ada di jendela dan ventilasi udara rumah, asap tebal masuk ke dalam rumah.
Bukan hanya satu rumah saja yang di semprotkan asap tebal ke dalam rumah.
Namun seluruh rumah warga yang berjumlah 20 rumah di kampung Rawas itu didalamnya sudah dipenuhi asap tebal.
Di dalam rumah masing masing warga, terlihat penghuni penghuninya tertidur dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mereka pingsan karena menghirup asap tebal yang masuk ke dalam rumah.
Asap tebal yang ternyata berisi racun itu membuat warga warga jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Bahkan ada diantara warga yang meregang nyawa karena menghirup racun dari asap tebal.
Mati dengan kondisi mengeluarkan air liur yang banyak dari mulutnya, karena keracunan.
Ada warga yang mati dengan mata melotot, ada yang mati memegang lehernya seperti sedang merasakan sesak nafas.
Ada yang kejang kejang lalu terkulai mati lemas karena keracunan gas racun.
Semua warga didalam rumah yang sengaja disemprotkan asap tebal berisi racun tidak ada yang selamat, semua mati keracunan.
Setengah jam berlalu, tiba tiba muncul sebuah mobil di jalanan perkampungan Rawas.
Mobil tersebut dibuat seperti mobil taman yang biasa menyemprotkan pohon pohon di sekitar trotoar jalan raya yang dapat ditemui di kota kota.
Mobil itu menyemprotkan air ke tiap tiap rumah rumah warga yang ada di perkampungan itu.
Terus melaju menyusuri dan menyiramkan air ke rumah rumah lalu menghilang di kegelapan malam.
Sesaat kemudian setelah kepergian mobil tersebut yang menyiramkan air ke rumah rumah warga, tiba tiba melesat bola bola api melayang kearah rumah rumah warga.
Bola bola api yang banyak itu melayang melesat, masing masing mengarah kerumah rumah warga.
__ADS_1
Saat bola api itu jatuh kerumah warga, dengan cepat api itu melalap rumah rumah warga yang sudah disirami air.
Ternyata air yang di siramkan itu adalah bensin, yang sengaja di isi lalu di siramkan kerumah rumah warga.
Seketika itu juga rumah rumah warga yang terkena siraman bensin terbakar.
Api merambat membakar rumah, semakin membesar, menjalar dari rumah satu ke rumah lainnya yang ada diperkampungan itu.
Asap tebal terlihat mengepul di udara, diatas rumah, dilangit langit, api yang menyala nyala membakar rumah rumah warga menerangi kegelapan malam.
Di kejauhan, terlihat sosok seseorang yang misterius berpakaian serba hitam berdiri menatap rumah rumah warga yang sudah terbakar.
Sorot mata merahnya tajam, ada rasa kepuasan terlihat dari senyuman di bibirnya.
Dia terus menatap tajam, menyaksikan kebakaran hebat yang terjadi pada kampung Rawas.
Seakan menunjukkan rasa amarahnya yang terpendam lewat kobaran api yang membakar rumah rumah warga.
Suatu kejadian yang sama sekali tidak akan pernah di duga warga kampung Rawas.
Bahwa mereka harus berakhir dengan mati mengenaskan, keracunan menghirup asap racun, dan rumah terbakar hingga tubuh pun hangus terbakar.
Sosok pria misterius yang menyaksikan kebakaran hebat itu lalu berbalik.
Dia berjalan santai pergi meninggalkan rumah rumah warga yang sudah habis dilalap api yang semakin membesar, membakar rumah rumah.
Sosok pria misterius lalu menghilang dalam kegelapan malam.
Pagi harinya, setelah kejadian kebakaran hebat seluruh rumah rumah warga kampung Rawas.
Datang Petugas Kepolisian, Ambulance, mobil Pemadam Kebakaran dan Tim Forensik ke tempat kejadian.
Petugas Pemadam Kebakaran segera menyemprotkan air untuk memadamkan sisa sisa api yang masih menyala membakar rumah rumah warga.
Ada 5 mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk memadamkan api.
Sementara Petugas Paramedis dengan cepat dan cekatan masuk kedalam rumah warga yang terbakar.
Dua Petugas Paramedis masuk ditemani petugas kepolisian dan satu Petugas Pemadam Kebakaran.
Mereka masuk kedalam rumah untuk melihat kondisi di dalam rumah.
Jika masih ada yang hidup mereka akan segera memberikan pertolongan.
Jika sudah mati, maka Petugas Paramedis akan segera membawa dan mengeluarkan mayat mayat yang mati dari dalam rumah.
Sebuah mobil sedan berhenti di dekat mobil patroli polisi yang terparkir di sisi jalanan kampung.
Dari dalam mobil, keluar Gatot setelah mematikan mesin mobil, dia menutup pintu mobilnya.
Gatot berdiri disamping mobil, diam sejenak menatap ke arah rumah rumah warga yang sudah hangus terbakar dan meninggalkan sisa puing puing bekas terbakar.
Gatot menghela nafasnya dengan berat, lalu dia bergerak melangkah, berjalan mendekati kerumunan polisi polisi yang berada disekitar rumah warga.
"Ada yang selamat ?" Tanya Gatot pada salah seorang Petugas Kepolisian yang bertugas di lokasi saat ini.
"Gila ! Apa yang terjadi sama kampung ini ?" Ujar Gatot.
"Di mulai dari penemuan mayat mayat yang sengaja dibunuh, sekarang seluruh rumah terbakar habis." Geram Gatot.
"Ini pasti ulah seseorang yang menyimpan amarah yang besar pada warga kampung Rawas." Ujar Gatot mencoba mengambil kesimpulan dari kejadian tersebut.
"Minta Petugas Forensik untuk mengecek korban, saya ingin tau, kenapa warga yang mati gak ada yang sadar kalo rumahnya terbakar." Ujar Gatot.
"Dan selidiki, apa penyebab kebakaran ini, laporkan ke saya." Ujar Gatot lagi pada Petugas Kepolisian.
"Siap Pak Komandan !" Ujar Petugas Kepolisian pada Gatot yang lantas berjalan ke arah rumah salah satu warga yang terbakar.
Saat Gatot berjalan hendak masuk kedalam rumah, dia berpapasan dengan dua Petugas Paramedis.
Petugas Paramedis keluar dengan membawa tubuh mayat warga yang sudah hangus terbakar.
Gatot melirik mayat itu dan menghela nafasnya, dia lalu berdiri memandangi sekeliling rumah.
Kemudian Gatot melangkah kesamping rumah, dia segera melakukan penyelidikan sendiri, mencari tahu apa penyebab kebakaran itu.
Saat Gatot berjalan ke samping rumah, matanya menatap bekas cairan yang masih menempel di tembok rumah yang tidak terbakar.
Jari tangan Gatot memegang cairan yang hampir mengering ditembok, dia mencium, mencari tau bau dari cairan tersebut.
Setelah Gatot mencium baunya, Gatot lantas terhenyak, dia kaget mencium bau itu.
"Bensin." Ujarnya pada dirinya sendiri.
"Kopraaalll Teguuuhhh !" Teriak Gatot pada anak buahnya.
Sesaat kemudian orang yang bernama Teguh berlari lari datang menemui Gatot.
"Siap Pak !" Ujar Teguh.
"Jadikan ini sebagai barang bukti, kasih ke Tim Forensik buat dicek kebenarannya!" Perintah Gatot.
"Saya yakin, bensin ini sengaja disiramkan seseorang untuk membakar rumah warga." Ujar Gatot.
Gatot pun lantas menunjuk cairan bensin yang menempel di tembok rumah warga.
"Siap, Laksanakan !" Ujar Teguh, dia lalu berlari meninggalkan Gatot yang melanjutkan pencarian buktinya.
Sesaat kemudian Teguh sudah kembali bersama satu Petugas Forensik yang juga hadir di lokasi kejadian.
Petugas Forensik segera mengambil cairan yang ada di tembok rumah warga dengan menggunakan alat khususnya.
Gatot terus menyusuri halaman belakang rumah warga yang sudah hangus terbakar.
Gatot tidak menemukan apapun dirumah itu, lalu dia terus berjalan.
Gatot masuk ke rumah warga lainnya yang berada disamping rumah warga yang baru saja di ceknya.
__ADS_1
Dia masuk ke halaman rumah warga yang posisinya sedikit berjarak dengan rumah sebelumnya yang dia datangi.
Rumah itu hanya setengah bangunannya saja yang terbakar, berbeda dengan rumah sebelumnya.
Rumah lain, seluruhnya terbakar, hanya menyisakan tembok semen disamping rumah saja.
Gatot segera menyusuri sekitar area, berjalan kesamping, mengamati dengan mata yang penuh dengan kehati hatian.
Gatot mencari sesuatu hal sekecil apapun yang bisa dia temukan ditempat itu.
Saat Gatot berada dibelakang rumah warga yang terbakar setengah itu, matanya tertuju pada selang yang masih menempel di celah lubang ventilasi udara rumah.
Selang itu sudah hangus terbakar, hanya meninggalkan sisa, Gatot yang tangannya memegang sarung tangan segera mengambil sisa selang yang terbakar.
Dengan memakai sapu tangannya dia mengambil, Gatot mengamati sisa selang yang terbakar di tangannya.
Gatot berfikir, apa maksud dan tujuan adanya selang tersebut yang seperti sengaja diletakkan diatas lubang ventilasi udara rumah.
Lalu Gatot segera menyimpan sisa selang yang terbakar dan memasukkannya ke dalam kantong jaketnya.
Kemudian Gatot melanjutkan kembali penyusurannya menyelidiki.
Ada rasa penasaran pada dirinya tentang kejadian tragis yang menimpa kampung Rawas.
Gatot tak habis fikir, apa motif pelaku membakar habis dengan kejadian itu.
Gatot berfikir, kenapa semua rumah rumah warga dan membunuh seluruh warga penghuni kampung Rawas hingga tidak tersisa seorang pun.
Gatot kembali ke depan, ke jalanan kampung depan rumah rumah warga.
Gatot melihat begitu banyaknya mayat mayat tergeletak di tanah jalanan.
Mobil Ambulance yang datang tidak cukup untuk membawa seluruh mayat korban yang berjumlah 110 orang itu.
Mata Gatot melihat jejak bekas ban di jalanan itu, dia segera mendekati dan berjongkok mengamati jejak bekas ban.
Gatot melihat jauh ke depan, dimana bekas ban dari sebuah mobil ada.
Dia lalu melihat kebelakang, garis bekas jejak ban juga ada, di dekat bekas jejak ban ada sisa sisa bekas cairan bensin yang tumpah.
Gatot memanggil Tim Forensik dan Petugas Polisi, dia menyuruh untuk mencari tahu serta menjadikan bukti dari jejak ban serta bekas ceceran bensin ditanah.
Gatot lalu berdiri kembali, dia berfikir memandang sekitarnya.
Saat itu, Kepala Desa datang ke lokasi.
Kepala Desa turun dari dalam mobilnya, berjalan cepat mendekati Gatot yang berdiri didepan mayat, sedang melihat mayat yang terbakar.
"Apa yang terjadi di sini ?!" Ujar Kepala Desa.
Kepala Desa terhenyak melihat mayat mayat banyak tergeletak ditanah.
Lalu Kepala Desa melihat rumah rumah yang sudah hangus terbakar menyisakan puing puing.
Gatot yang melihat kedatangan Kepala Desa segera menghampirinya.
"Ini pembunuhan massal Pak. Kami akan menyelidikinya." Ujar Gatot pada Kepala Desa yang terhenyak, dia tak menyangka warga warganya mati mengenaskan.
"Tolong cari pelakunya Pak. Saya tidak terima kampung saya dihancurkan dengan cara seperti ini! Ini perbuatan biadab !" Ujar Kepala Desa.
Wajah Kepala Desa terlihat sangat kesal, dia geram, dia terlihat sangat marah.
"Kami nanti akan memberikan laporan tentang perkembangan kasus ini pada bapak selaku kepala desa di sini." Ujar Gatot pada Kepala Desa.
"Iya, tolong kabari saya jika pelakunya tertangkap, saya ingin lihat langsung mukanya!"
"Saya ingin tau, siapa dia dan kenapa dia membunuh lalu membakar rumah warga warga saya." Ujarnya geram.
Air mukanya menunjukkan kesedihan melihat warganya mati mengenaskan.
"Oh ya Pak, apa kejadian ini ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya ?" Tanya Kepala Desa pada Gatot.
"Maksud bapak dengan pembunuhan yang terjadi sebelumnya di kampung Rawas ini?" Tanya Gatot pada Kepala Desa.
"Iya, apa mungkin pelakunya sama, dia sengaja melakukan ini karena belum puas membantai semua warga saya ?" Ujar Kepala Desa lagi.
"Kami belum tau pastinya pak, saya akan menyelidikinya, apakah kasus ini ada kaitannya dengan kasus sebelumnya." Ujar Gatot memberi penjelasan.
"Mudah mudahan tidak, tapi jika ada hubungannya, berarti pelakunya masih akan terus membunuh." Ujar Kepala Desa.
"Dan itu berarti jiwa saya juga terancam." Ujar Kepala Desa berfikir, ada kecemasan yang muncul dalam dirinya.
"Ada baiknya bapak waspada, agar tidak lengah." Ujar Gatot.
"Iya, saya akan menugaskan Keamanan untuk berjaga disekitar rumah saya mulai sekarang." Ujar Kepala Desa.
Dia sedikit lega karena rumahnya tidak berada dikampung Rawas, jauh dari kampung itu.
"Maaf, saya boleh tahu nama bapak?" Tanya Kepala Desa pada Gatot.
"Saya Gatot, Komandan Gatot." Ujar Gatot menyalami Kepala Desa.
"Saya pak Jauhari." Ujar Kepala Desa memperkenalkan dirinya pada Gatot.
Sementara itu, mobil Petugas Pemadam kebakaran pergi meninggalkan lokasi kejadian.
Tugas mereka saat ini sudah selesai mengamankan korban dan memadamkan api api yang membakar rumah rumah warga.
Sementara itu Petugas Paramedis bersiap siap untuk pergi membawa sebagian korban yang sudah berada didalam mobilnya.
Petugas Tim Forensik sedang melakukan penyelidikan pada mayat mayat yang tergeletak di tanah.
Mereka menunggu kedatangan mobil ambulance lainnya yang akan mengangkut mayat mayat yang tersisa.
Kejadian yang begitu tragis meninggalkan sejarah kelam bagi Kampung Rawas.
Kematian warga warga seluruhnya saat ini, sekarang hanya meninggalkan kenangan nama kampung Rawas saja.
__ADS_1