
Gavlin tampak bersiap siap hendak pergi, dia sudah rapi, tas ransel berisi peralatan senjata tajam sudah ada di tangannya.
Gavlin membuka pintu rumahnya, lalu dia keluar rumah, lalu dia pun menutup serta mengunci pintu rumah.
Saat dia hendak naik ke atas motornya, ponselnya yang ada di dalam tasnya berbunyi.
Dengan cepat dia mengambil ponsel dari dalam tasnya, ponsel tersebut biasa di gunakan Yanto untuk komunikasi, sebab itu, Gavlin menyimpannya dalam tas.
Sementara, ponsel miliknya sendiri, ada dalam kantong celananya. Gavlin cepat membuka layar ponsel.
Dia lantas membaca sebuah pesan yang di kirimkan ke ponselnya tersebut.
"Pelaku pengeboman Penthousemu, Ronald, ini photonya."
Gavlin geram membaca isi pesan tersebut, lalu, kembali dia membaca teks pesan berikutnya.
"Ini alamat tempat tinggal Ronald, dan base camp dia biasa nongkrong."
Begitu isi pesan yang di kirim kan seseorang pada Gavlin. Gavlin lantas menatap tajam photo Ronald yang di kirimkan ke ponselnya.
"Bedebaah. Jadi kamu pelakunya! Okay. Aku akan meledakkan isi otakmu !" Ujar Gavlin geram.
Saat Gavlin hendak menyimpan ponsel milik Yanto di dalam tasnya, ponsel tersebut berbunyi, Gavlin langsung menerima panggilan telpon tersebut.
"Ya, Bro ! Aku udah terima pesanmu, thanks." Ujar Gavlin dengan sikap dingin. Bicara di telepon.
"Sebaiknya kamu tahan diri, Yan ! Jangan bertindak gegabah ! Tunggu aku !" Tegas Seseorang dari seberang telepon.
"Jangan menyerang Ronald dan anak buahnya sendirian, Ronald sangat berbahaya !" Lanjut orang tersebut dari seberang telepon.
"Tunggu sampai aku datang menemuimu, kita berdua yang akan menumpas Ronald!" Tegas orang tersebut dari seberang telepon.
"Udah gak ada waktu lagi bro ! Kelamaan nunggu kamu dan Polisi!!" Ujar Gavlin geram ditelepon
"Yan ! Dengar aku ! Jangan bertindak sebelum aku datang !!" tegas orang tersebut dari seberang telepon.
"Sorry, Bro ! Ini urusanku sama Ronald itu, aku gak mau melibatkanmu !!" Tegas Gavlin di telepon.
Dia lantas menutup teleponnya. Lalu menyimpan ponsel di dalam tas. Gavlin kemudian naik ke atas motornya.
Setelah menyalakan mesin motornya, Gavlin pun lantas menjalankan motornya. Dia pergi dari rumahnya.
Sepanjang jalan, diatas motor yang di kendarainya, wajah Gavlin terlihat geram dan marah.
Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak cepat, tampak dalam dirinya menyimpan dendam pada Ronald.
Gavlin ingin segera menemui Ronald, dia mau menuntut balas, karena Ronald sudah meledakkan Penthousenya.
Gavlin tahu, Ronald melakukan pengeboman Penthousenya, karena menuruti perintah Bramantio.
Dan Gavlin tak akan membiarkan Bramantio lolos begitu saja dari tangannya.
Sebagai dalang dari semua kejahatan yang di lakukan terhadap Gavlin, Bramantio jadi target utama Gavlin selama ini.
Gavlin menargetkan Bramantio yang terakhir dalam aksinya. Gavlin menambah kecepatan motornya. Motorpun melesat dengan cepat dijalan raya.
Sebuah mobil tiba di parkiran hotel Hera. Mobil itu parkir di tempat parkir tamu khusus.
Dari dalam mobil, keluar Ronald, dengan sikap santai dan angkuhnya, dia pun berjalan hendak menuju lift, yang ada di lantai halaman parkir hotel tersebut.
Ronald baru pulang dari kantor Bramantio, dan dia bermaksud istirahat di kamar hotel yang dia tempati. Wajah Ronald tampak dingin dan kaku.
Tiba tiba saja, saat dia berjalan santai, Gavlin datang dan menyerangnya.
Ronald kaget, dia terjajar, karena, tiba tiba saja, Gavlin memukul dan menyerangnya.
__ADS_1
Ronald marah, melihat Gavlin yang telah memukulnya, dan berdiri di hadapannya.
"Bedebah ! Cari mati kamu !!" Bentak Ronald.
"Gak usah banyak bacot !" Bentak Gavlin marah.
Mata Gavlin memerah, dia sangat marah saat ini pada Ronald, Ronald mengambil pisau lipatnya, dia pun memasang kuda kuda, bersiap siap.
"Oke, kamu ternyata mau nyerahin dirimu, baiklah ! Aku akan mencincang dirimu ! Aku akan memakanmu !!" Bentak Ronald marah.
"Makanan yang nikmat itu, di masak dengan api neraka, Nald !" Ujar Gavlin dengan tatapan mata tajam dan dingin.
Ronald geram menatap tajam wajah Gavlin yang tersenyum menyeringai padanya, lalu, tanpa menunggu lama, Ronald menyerang Gavlin. Gavlin pun menghadapinya.
Pertarungan pun terjadi antara Ronald dan Gavlin. Perkelahian yang sengit. Berkali kali, mereka saling jual beli pukulan.
Ronald menyerang Gavlin dengan pisau lipat ditangannya, Gavlin berusaha menghindar, lalu menyerang balik Ronald.
Saat Gavlin lengah, karena sangat bernafsu ingin menghabisi nyawa Ronald, Ronald berhasil melukai Gavlin.
Ronald menyabet pisau lipatnya ke perut Gavlin. Gavlin terdiam sesaat, dia memegangi perutnya yang mengeluarkan darah dan terluka. Gavlin pun semakin marah.
Dengan geram dan penuh emosi yang memuncak, Gavlin menyerang Ronald. Tapi Ronald bukanlah lawan yang mudah, Ronald memberi perlawanan sengit.
Gavlin berhasil memukul Ronald hingga terjajar ke belakang dan hampir jatuh, Dengan cepat, Ronald kembali berdiri tegak, lalu, dengan kalap, Ronald menghantam Gavlin.
Pukulan bertubi tubi dari Ronald tak mampu di hindari Gavlin, berkali kali, Ronald memukul perut Gavlin yang terluka, sebab, dia mengincar luka Gavlin.
Gavlin yang terluka, mulai melemah, dia meringis menahan sakitnya, namun, dia berusaha untuk menguatkan dirinya.
"Hehe...masih belum mau nyerah ternyata !" Ujar Ronald tertawa sinis.
"Siapa kamu?! Kenapa menyerangku?! Apa kita ada masalah?!" Tanya Ronald dengan tatapan mata dingin dan sinis.
Dengan kalap, Gavlin menyerang Ronald, namun, karena Gavlin sudah melemah dan tidak bertenaga lagi, dengan mudah, Ronald memukul Gavlin.
Ronald menghajar habis habisan Gavlin, dia memukul dan menendang Gavlin, Gavlin pun terjatuh ke lantai halaman parkir.
Dengan kalap dan wajah penuh amarah, Ronald berlari dengan cepat hendak menghujamkan pisaunya ke tubuh Gavlin, terdengar suara tembakan.
Ronald jatuh tersungkur, pisau ditangannya terlepas, lengan kanannya terluka, terkena tembakan. Sebuah motor lalu segera mendekati Gavlin .
"Cepat naik !" Ujar Pengendara motor.
Wajah Pengendara motor tak terlihat, sebab, dia memakai helm yang menutupi seluruh wajahnya. Dengan cepat, Gavlin berusaha bangun, dia pun naik ke atas motor.
Gavlin meringis kesakitan, dia terus memegang luka perutnya yang berdarah, dengan cepat, Pengendara motor pergi membawa Gavlin.
Ronald mencoba berdiri, dia memegangi lengan tangan kanannya yang tertembak. Ronald berdiri. Menatap tajam pada motor yang sudah pergi membawa Gavlin.
Tampak Ronald sangat emosi, dia marah sekali, karena Pengendara motor telah melukai dirinya. Wajahnya tampak memerah menahan emosi amarahnya.
---
Di sebuah tempat gedung bangunan kosong yang tak terawat, Pengendara motor menghentikan motornya.
Gavlin dengan susah payah dan lemah segera turun dari motor. Si Pengendara motorpun kemudian mematikan mesin motor, dan dia kemudian turun dari motornya.
Gavlin berjalan ke sudut bangunan, lalu dia duduk di tanah dan bersandar pada tembok kusam dan kumuh, dia meringis kesakitan, memegangi perutnya yang terluka.
Si Pengendara mendekatinya, dengan masih memakai helm yang menutupi wajahnya, dia berjongkok di depan Gavlin, dia memeriksa luka perut Gavlin.
"Luka sayatan pisaunya sangat lebar. Kamu harus segera di obati. Aku akan membawamu ke rumah sakit !" ujar si Pengendara motor.
"Jangan, Bro ! Jangan bawa aku ke rumah sakit." Ujar Gavlin dengan suara lemah.
__ADS_1
Gavlin memegang tangan Pengendara motor yang mau mengangkat tubuhnya. Pengendara motor tak jadi mengangkat Gavlin.
"Yan ! Luka ini cukup dalam, dan kamu udah banyak kehilangan darah, kalo gak segera diobati, nyawamu terancam!" Tegas Pengendara motor.
Si Pengendara motor ternyata, Seseorang yang biasa memberikan informasi pada Yanto atau Gavlin.
Ya, dialah Infroman yang selama ini memberitahu Gavlin atau Yanto, tentang sepak terjang kepolisian dalam menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi.
Gavlin terdiam, nafasnya terengah engah, dia semakin melemah, tiba tiba, Gavlin pun pingsan. Si Informan kaget.
"Yan...!! Yanto...!! Ah, apa aku bilang!!" Ujarnya panik.
Dia pun lantas menelpon mobil ambulance, agar Gavlin segera di bawa kerumah sakit. Wajah sang Informan tampak prihatin.
"Aku kan udah ingatkanmu, Yan! Jangan gegabah, Ronald bukan tandinganmu." Tegas Informan itu dengan wajah sedih.
Dia melihat Gavlin yang pingsan, lukanya cukup lebar dan dalam. Dia prihatin, karena ingin membalaskan dendamnya, Gavlin tak perduli dengan nyawanya sendiri.
---
Di sebuah ruangan, dalam markas Moses, tampak Moses sedang mengobati luka Ronald, Moses berhasil mengeluarkan peluru dari lengan tangan Ronald.
Moses meletakkan peluru pada sebuah mangkok. Ronald dengan geram melihat peluru di atas meja, Moses mengobati dan membalut luka Ronald dengan perban.
"Bedebah !! Siapa Pemuda tengik yang menyerangku !! Kenapa dia tiba tiba menyerangku, ada masalah apa dia denganku !!" Bentak Ronald penuh amarah.
"Kamu gak kenal dia?" Tanya Moses sambil mengikat perban dilengan tangan Ronald.
"Nggak, sama sekali, aku gak kenal dia !! Aku baru pertama kali melihatnya!" Ujar Ronald geram.
"Kalo aja, temannya gak datang dan menembakku, aku pasti udah membunuh anak itu !!" Bentak Ronald sangat geram dan marah.
"Dia di tolong temannya?!" Tanya Moses kaget.
"Iya, tiba tiba aja temannya datang, langsung menembakku, aku jadi terjatuh, dan mereka berdua kabur!" Ujar Ronald geram.
"Apa dia si Yanto?!" Tanya Moses.
"Nggak ! Dia bukan Yanto, wajahnya beda." Ujar Ronald menahan amarahnya.
"Maksudku, temannya yang nembak kamu!" Tegas Moses.
"Entahlah ! Aku gak bisa liat wajahnya, karena tertutup helm." Ujar Ronald geram.
"Dia pasti Yanto. Mereka berdua sengaja datang menyerangmu ! Yanto pasti udah tau, kalo kamu pelaku yang meledakkan Penthousenya!" Ujar Moses dengan tegas.
Moses selesai mengobati dan memberikan perban pada luka Ronald, Ronald terdiam, untuk sesaat, dia pun berfikir.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Ronald pada Moses.
Dia bertanya, karena melihat Moses berdiri dan hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Aku mau nyimpan obat obatan ini." Ujar Moses.
"Oh." Ujar Ronald mengerti.
"Baiknya kamu minta Bramantio buat cek kamera cctv hotel itu, kan hotel itu punya Bram !" Tegasnya.
"Dan kamu bisa liat dari cctv yang ada di halaman parkir hotel!" Lanjutnya.
"Dengan begitu, kamu bisa mencari tau tentang orang yang menyerangmu!" Tegas Moses.
"Benar juga !" Angguk Ronald.
Dia pun diam dan berfikir, Moses dengan membawa peralatan obat obatan pergi meninggalkan Ronald, Ronald tampak geram dan memendam emosi amarahnya.
__ADS_1