
Pintu ruang kantor Richard terbuka, Andre bersama Edo masuk ke dalam ruang kantor Richard.
Richard yang sedang bersantai dan leha leha di kursi meja kerjanya sambil menikmati rokok cerutu kubanya tampak senang melihat kedatangan Andre bersama Edo.
"Andre, Edo. Ada apa kalian ke sini?" tanya Richard, sambil mematikan rokok cerutu kuba dan meletakkannya di atas asbak yang ada di meja kerjanya.
Andre dan Edo mendekati Richard, mereka berdiri di depan meja kerja Richard, Wajah Andre terlihat serius dan menahan geramnya menatap wajah Richard yang duduk di kursi dengan santainya.
"Bapak kami tahan, karena terbukti sebagai tersangka pelaku pembunuhan empat anggota polisi dan istri Bapak!" tegas Andre, menatap tajam wajah Richard.
Richard terhenyak kaget mendengar perkataan Andre yang memvonis dia sebagai tersangka. Dengan marah, Richard menggebrak meja kerjanya lalu berdiri di hadapan Andre.
"Kurang ajaaar kamu Andree !!" bentak Richard marah.
"Apa apaan ini? Kamu jangan asal tuduh saja!!" bentak Richard marah pada Andre.
"Maaf, Pak. Kami menemukan bukti kuat, kalo Bapak ternyata pelakunya, bukan Gavlin!" tegas Andre menatap tajam wajah Richard yang marah padanya.
"Kamu jangan asal tuduh !! Aku kan sudah bilang, Gavlin pembunuhnya, aku saksinya langsung!!" bentak Richard marah.
Richard berusaha berkelit dan tidak mau mengakui, dia tetap menuduh Gavlin sebagai pembunuhnya, namun, Andre tak bergeming, dia sudah tak percaya dengan omongan Richard, setelah dia melihat langsung dan dengan jelas bukti Richard menembak empat anak buahnya dan juga istrinya.
"Borgol dia." perintah Andre pada Edo.
"Siap Pak." jawab Edo.
Edo mengambil borgol dari pinggangnya, lalu, dia berjalan mendekati Richard, Richard semakin marah, karena Andre mengabaikan perkataannya dan tetap mau menangkapnya.
"Jangan coba coba memborgol Aku! Kalian akan ku pecat !!" bentak Richard, mengancam.
"Gak ada gunanya mengancam kami, Pak. Semua bukti sudah jelas, Bapak gak bisa lagi berkelit!" tegas Andre.
"Kurang ajar kamu Andre !! Mana buktinya, kalo aku memang pelakunya!!" bentak Richard marah.
Richard menantang Andre untuk menunjukkan bukti, jika dia pelakunya. Richard berani meminta bukti pada Andre, karena dia merasa, Andre belum mendapatkan rekaman cctv yang ada gambar dia saat membunuh. Dan Richard tidak tahu, bahwa sudah beredar di masyarakat luas rekaman cctv tersebut.
Andre tersenyum sinis, lalu dia berjalan mendekati Richard, Andre lantas mengambil dan menyalakan laptop milik Richard yang ada di atas meja kerja. Lalu, Andre mengambil flash disk dari kantong celananya.
Melihat flash disk ada ditangan Andre, Richard kaget dan syock, dia tak menyangka, ternyata Andre sudah mendapatkan flash disk, dan dia tahu, flash disk itu dikirim Gavlin.
"Lihat itu!" tegas Andre, menunjuk kelayar laptop.
Andre berdiri disamping Richard, Richard melihat ke layar laptop, kedua matanya terbelalak lebar, dia semakin syock dan panik, saat melihat, dalam rekaman cctv di flash disk, terpampang wajahnya saat menembak empat polisi, dan juga saat dimana dia menembak dengan kalap berteriak, sehingga peluru dari pistolnya mengenai istrinya, hingga istrinya juga mati karena tertembak.
"Ini palsu!! Ini rekayasa !! Pasti ada yang sengaja membuat rekaman ini untuk menjatuhkan aku!!" ujar Richard mulai panik.
"Bukan aku pembunuhnya, bukan aku!! Ini bohong, rekaman itu palsu!! Gavlin pembunuhnya, Gavlin !! Bukan aku!!" teriak Richard marah dan panik.
Andre menoleh pada Edo, dia memberikan isyarat, agar Edo memborgol Richard. Edo pun paham, lalu, dia bergegas mendekati Richard, dan memborgol Richard.
__ADS_1
"Lepaskan !! Lepaaaskaaan !! Aku bukan pembunuh !! Aku bukan pembuuunnnuuhhhh!!" teriak Richard, meronta ronta hendak melepaskan kedua tangannya yang sudah di borgol Edo.
Richard pun semakin menjadi panik, dia tak menyangka, bahwa karir dan hidupnya berakhir secepat ini. Dia tetap berteriak, berusaha meyakinkan Andre, agar percaya dengan dirinya.
"Andree...Andree...tolong percaya saya!! Bukan saya pelakunya, tapi Gavlin !! Saya saksi , bukan pembunuhnya!!" tegas Richard berusaha meyakinkan Andre.
Andre menatap tajam wajah Richard yang berdiri di sampingnya, terlihat Andre sangat geram pada Richard.
"Gak usah banyak omong!! Bawa dia!!" hardik Andre geram.
"Siap!!" jawab Edo.
Lalu, Edo segera membawa Richard yang kedua tangannya sudah di borgol, Richard pun di bawa keluar Edo dari dalam ruang kantornya.
Andre mematikan laptop milik Richard, lalu, dia mencabut dan mengambil flash disk dari laptop, Andre lantas menyimpan flash disk ke dalam kantong celananya.
Lalu, Andre pun berjalan keluar dari dalam ruang kantor Richard, dia tampak masih geram pada Richard, karena sudah membunuh anak buahnya.
Dan yang membuat Andre heran, kenapa Richard tega membunuh ke empat anak buahnya, padahal anak buahnya sudah mengorbankan waktu dan tenaga, untuk berjaga dan memberikan perlindungan pada keluarga Richard dan juga rumahnya.
Andre tak habis fikir, apa motif Richard membantai ke empat anak buahnya dan juga istri Richard.
Di koridor gedung kantor kepolisian, Edo membawa Richard yang di borgol, para petugas kepolisian yang ada di sekitar koridor melihat Richard yang dibawa Edo dengan tangan di borgol. Mereka pun tahu, bahwa Richard di tangkap, karena terbukti sebagai pelaku pembunuhan yang terjadi dirumahnya. Mereka pun kasak kusuk, bergosip membicarakan Richard yang menjadi tersangka tunggal kasus pembantaian empat polisi.
---
"Kamu sudah dapat kabar?" tanya Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Tentang Richard? Ini aku lagi baca beritanya di surat kabar." ujar Herman, tersenyum senang.
Herman meletakkan surat kabar yang dia baca di atas meja kerjanya, Peter melihat surat kabar itu, di lembaran depan surat kabar, tampak wajah Richard terpampang jelas dan besar, Richard sebagai pelaku dan tersangka pembunuhan menjadi head line di surat kabar itu.
"Iya, berita itu! Aku kaget, saat mendapatkan kabar tentang Richard." ujar Peter serius.
"Buat apa kamu kaget, harusnya kamu bersyukur, lega, dengan ditangkapnya Richard, maka musuh kita tinggal satu, hanya Gavlin saja!!" tegas Herman, tersenyum sinis.
"Iya, kamu benar, dengan tertangkapnya Richard, kita aman, karena Richard gak akan mengganggu kita dan berusaha untuk menangkap serta menghancurkan kita lagi." ujar Peter, dengan wajah serius.
"Tapi..." ujar Peter, berfikir keras.
"Tapi apa?" tanya Herman heran.
"Tapi, aku gak habis pikir, mengapa Richard tiba tiba menjadi pembunuh, yang tega membunuh empat polisi? padahal polisi itu ditugaskan berjaga jaga dan melindungi Richard, itu yang aku dengar dari anak buahku yang memata matainya." jelas Peter, serius.
"Dan yang membuatku semakin kaget dan heran, dia juga membunuh istrinya!" tegas Peter.
"Apa yang ada dalam pikiran Richard saat itu? Padahal, kalo aku liat dari rekaman cctv, gak ada penyerangan atau pun perlawanan sebelumnya dari empat polisi, dan, di dalam rumahnya juga gak ada orang lain, hanya empat polisi yang mati dan juga istri Richard!" tegas Peter , menjelaskan.
"Entahlah, aku juga gak ngerti. Mungkin ada alasan, mengapa Richard sampai membunuh ke empat polisi yang berjaga di rumahnya itu." ujar Herman, mengambil kesimpulan atas pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Aneh, Aneh saja bagiku." ujar Peter, masih memikirkan perbuatan Richard yang menjadi tersangka.
"Hei, kenapa kamu malah sibuk mikirin si Richard ? Biar saja dia membusuk di penjara!!" tegas Herman.
"Oh, iya. Maaf." ujar Peter.
"Terus, apa kita biarkan saja Richard di jebloskan ke penjara?" tanya Peter.
"Maksudmu?" tanya Herman heran.
"Ya, maksudku, apa kita gak sebaiknya menghabisi Richard, mumpung dia masuk penjara, dia pasti akan di jebloskan ke rumah tahanan khusus para pembunuh, bagaimana kalo kita suruh salah satu napi buat bantai Richard?" ujar Peter, memberi ide pada Herman.
"Bagus juga ide kamu, gak ada salahnya kita coba." ujar Herman setuju dengan ide Peter.
"Ya, sudah, kamu urus semua, dan cepat bereskan Richard, habisi dia!" perintah Herman.
"Baik, akan aku laksanakan." ujar Peter.
"Aku pergi dulu." pamit Peter.
"Ya." Angguk Herman.
Lantas, Peter pun bergegas keluar dari dalam ruang kerja Herman, Herman lantas menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya, lalu dia mengambil surat kabar yang ada diatas meja. Herman melihat photo Richard yang terpampang di lembaran terdepan surat kabar.
"Richaaarrrdd...Richaaarrrddd...betapa tololnya dirimu, apa kamu gak sadar, kalo kamu memasang cctv dirumahmu? Seenaknya saja kamu menembak empat polisi itu, kamu gak tau, kalo aksimu direkam cctv?" Gumam Herman, tersenyum sinis.
Herman menyangka, bahwa di dalam rumah Richard sebelumnya memang sudah ada cctv, karena itu dia mengatakan Richard 'tolol', membunuh dengan membiarkan dirinya terekam cctv.
Herman tak pernah tahu, jika cctv cctv ada di setiap ruang dalam rumah Richard, karena Gavlin lah yang telah memasangnya, dengan tujuan untuk mengintai dan mengawasi pergerakan Richard selama berada di dalam rumah. Dengan adanya cctv, mudah bagi Gavlin menyusup dan membantai Richard, itu rencana awal Gavlin, namun, semua rencana rusak dan gagal, karena Richard terekam cctv membantai empat polisi dan istrinya.
---
Di dalam kamar khusus tempat menyimpan senjata senjatanya, Gavlin terlihat sedang memasukkan senjata senjata ke dalam tas ransel besar dan panjang. Dia memilih senjata senjata khusus yang akan di gunakannya nanti dalam aksi berikutnya membantai Richard.
Gavlin selesai merapikan dan memasukkan senjata senjata ke dalam tas ransel besar dan panjangnya, dia pun lantas diam sesaat.
"Sebentar lagi, kamu akan mati di tanganku Richard." Gumam Gavlin, dengan geram dan menahan amarahnya.
Gavlin lantas mengambil tas ransel besar dan panjangnya dari atas meja, lalu, dia segera pergi keluar dari dalam kamar khusus penyimpanan senjata dengan membawa tas ransel besar dan panjang.
---
Sementara itu, tampak dua petugas tahanan kepolisian menyuruh Richard keluar dari dalam sel tahanan. Richard pun lantas keluar dari dalam sel tahanan, dia berdiri di depan dua petugas tahanan yang lantas memborgol ke dua tangannya.
"Mau di bawa kemana aku?" tanya Richard dingin.
"Di pindahkan, ketahanan kejaksaan, untuk menjalani proses persidangan, setelah itu, anda akan di bawa kerumah tahanan khusus para penjahat dan pembunuh." jelas seorang petugas tahanan kepolisian.
Richard pun terdiam, wajahnya tampak menunjukkan ketakutan yang sangat besar, kedua petugas tahanan kepolisian lantas memegangi tubuh Richard, lalu, mereka membawa Richard pergi dari sel tahanan.
__ADS_1