VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Permusuhan Sengit Herman dan Richard


__ADS_3

Jack masuk ke dalam ruang kantor Herman, wajahnya terlihat geram dan marah sekali, Herman heran melihat Jack marah marah.


"Siaaal !! Kurang ajaaar!! Richard lancang!! Dia udah meremehkan dan merendahkanku sebagai Jaksa Agung!!" ujar Jack dengan geram dan marahnya.


"Ada apa ini? Kenapa memang si Richard?" tanya Herman heran.


"Dia sengaja menyuruh Andre dan anak buahnya mendatangi rumahku, dengan membawa surat perintah, mereka menggeledah rumahku!!" tegas Jack marah.


"Ohya? Apa yang mereka cari dirumahmu?" tanya Herman dengan wajahnya yang serius.


"Mereka mengira, Aku menyembunyikan Jafar dirumahku!" ujar Jafar kesal dan marah.


"Gobloookkk!! Mana mungkin Jafar kita sembunyikan, kita saja sedang mencarinya dan akan membunuhnya!! Tolol Richard !!" hardik Herman geram.


"Aku yakin, bukan saja rumahku yang di geledah, pasti rumahmu dan juga rumah Peter gak luput dari mereka!" ujar Jack.


"Masa ?" tanya Herman heran.


"Ya, kamu lupa? Kita kan berkomplot sama Jafar juga Bramantio dulu!! Dan Richard tau, kalo kita berhubungan baik sama Jafar dulu, dia pasti curiga sama kita bertiga ! Aku yakin, rumahmu pasti di geledah juga!" tegas Jack menahan amarahnya.


Herman diam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.


"Sebentar, akan aku tanya istriku." ujar Herman dengan wajah yang tegang dan serius.


"Ya, tanya saja." jawab Jack, masih kesal dan marah.


Herman lantas menghubungi telepon Istrinya, dia ingin bertanya dan memastikan pada istrinya tentang benar tidaknya ucapan Jack.


"Hallo Ma. Apa ada yang datang kerumah kita?" tanya Herman, bicara dari teleponnya.


"Iya, ada. Polisi polisi datang menggeledah rumah, mereka curiga, kamu nyembunyikan Jafar yang jadi buronan polisi!" jawab Istri Herman dari seberang telepon.


"Oh, Ok." jawab Herman di telepon.


Dia lantas segera menutup telepon dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, Jack berdiri di hadapannya , menatapnya tajam ingin tahu hasil dari telepon Herman.


"Bedebaaah!! Mereka juga menggeledah rumahku kata istriku!!" ujar Herman geram dan menahan amarahnya.


"Benar kan?" ujar Jack, tersenyum sinis.


"Richard semakin menjadi, di diamkan dia malah seenaknya menginjak injak harga diriku! Ini gak bisa di biarkan, aku harus beri pelajaran sama Richard !!" ujar Herman geram dan marah.


Herman lantas bergegas jalan dan hendak pergi keluar dari dalam ruang kantornya, Jack heran melihat Herman mau pergi.


"Mau kemana?" tanya Jack heran.


"Nemui Richard ! Aku harus melabraknya dan memberi pelajaran sama Richard !!" tegas Herman, marah.


"Sebaiknya tahan emosimu, jangan sampai kamu kalap dan memukul Richard, itu akan merugikan dirimu sendiri nantinya!!" ujar Jack mengingatkan Herman agar menahan dirinya dan tidak emosi.


"Aku tau, bagaimana aku harus bersikap dan berbuat pada Richard! Jangan halangi aku!!" hardik Herman marah.

__ADS_1


Jack pun lantas diam, dia lalu membiarkan Herman yang tampak sangat emosi marah itu keluar dari dalam ruang kantornya. Lalu, Jack juga segera keluar dari dalam ruang kantor Herman.


---


Pintu ruang kantor Richard terbuka lebar, para petugas kepolisian yang berjaga di depan pintu tak bisa berbuat apapun juga, karena yang datang ke ruangan Richard adalah Herman bersama Jack. Mereka tak ada yang berani menghalangi.


Herman dan Jack masuk kedalam ruang kantor Richard, Richard yang sedang duduk resah di kursi kerjanya kaget melihat kedatangan Herman bersama Jack.


Dengan penuh amarah membara, Herman berjalan mendekati Richard, Richard pun berdiri dan menghampiri Herman yang tampak sangat marah itu, sementara Jack mengikutinya dibelakang.


"Keparaaat kamu Richard !! Berani kamu geledah rumahku anjiiingggg!!" teriak Herman membentak Richard.


Herman mau melayangkan tinjunya pada Richard yang berdiri didepannya, dengan cepat Jack menangkap tangan Herman, dia mencegah Herman yang mau memukul Richard.


"Tenang Man, tenang! Kendalikan emosimu!!" ujar Jack, menenangkan Herman yang emosinya meluap.


Richard hanya berdiri diam menatap tajam wajah Herman, dia tenang menghadapi kemarahan Herman yang berapi api itu.


"Kamu kira kami bodoh !! Menyembunyikan Jafar dirumah kami?!! Dasar sialaan kamu!!" bentak Herman.


"Kamu udah mempermalukan kami, udah menginjak injak kehormatan dan harga diri kami!! Dan aku gak akan bisa memaafkan perbuatanmu!! Aku akan membalasnya !! Akan aku hancurkan kamu Richaaaarrrrddd!!" teriak Herman mengamuk marah.


Dia hendak memukul Richard, karena Herman geram melihat Richard yang hanya diam dan tersenyum sinis berdiri dihadapannya.


Namun, dia tak bisa memukul Richard, sebab, kedua tangannya di pegangi Jack dengan kuat, sehingga kedua tangannya tak bisa bergerak. Herman tampak sangat emosi pada Richard.


"Kalo kamu merasa gak sembunyikan Jafar, buat apa kamu ngamuk ngamuk datangi aku Herman?" jawab Richard sinis dan santai.


"Kepaaaaraaaattt !!" teriak Herman.


"Aku gak akan mencari Jafar lagi, karena dia sudah mati!!" tegas Richard, dengan wajah yang serius.


"Apa kamu bilang?!!" Herman terhenyak kaget.


Begitu juga dengan Jack, dia juga kaget mendengar perkataan Richard tentang Jafar.


"Kamu jangan main main denganku Richard !" bentak Herman.


"Aku serius ! Gavlin yang bilang langsung padaku di telepon, kalo dia sudah membunuh Jafar, karena Jafar membunuh Gatot dan Maya!!" bentak Richard, dengan wajah yang juga marah.


Herman terdiam, Jack melepaskan pegangan tangannya dari tubuh Herman, Jack dan Herman saling pandang.


"Sebaiknya kalian berhati hati, pasti saat ini Gavlin sedang menyusun rencana untuk memburu kalian, karena, aku pun menjadi target Gavlin!" tegas Richard, dengan wajahnya yang serius memberi penjelasan.


"Gak usah mengajariku !! Aku tau apa yang harus aku lakukan menghadapi Gavlin ! Urus saja dirimu sendiri !!" bentak Herman geram dan marah.


"Dan ingat! Urusan kita belum selesai Richard ! Aku akan menghancurkanmu nanti, setelah kami berhasil membantai Gavlin!!" tegas Herman, memberi peringatan dan ancaman pada Richard.


"Silahkan, aku akan menghadapi kalian semua!" tegas Richard, dengan tersenyum sinis.


Herman geram, dia menatap tajam wajah Richard yang berdiri tepat didepannya dengan tersenyum sinis. Herman tampak menahan amarahnya, dia lantas berbalik badan, dan segera pergi keluar dari dalam ruang kantor Richard, lantas, Jack pun juga pergi, dia segera mengejar Herman yang sudah berjalan cepat dan keluar dari ruang kerja Richard.

__ADS_1


Richard lantas berjalan ke meja kerjanya, dia berdiri didepan meja kerjanya, wajahnya tampak menyimpan dendam dan amarahnya pada Herman.


"Kita liat saja Herman, siapa yang lebih dulu mati diantara kita berdua!" Gumam bathin Richard.


Lantas, Richard pun bergegas keluar dari dalam ruang kantornya, karena dia tak tenang dan selalu memikirkan keluarganya dirumah, dia pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.


Mobil berjalan meluncur dijalanan, tampak Herman bersama Jack yang menyetir mobilnya, mereka hanya berdua saja datang ke kantor Richard, dan Herman tanpa pengawalan, karena dia sangat emosi marah, dia tak sempat memberi tahu para pengawalnya untuk menemaninya.


"Siaaal ! Gavlin lebih dulu bunuh Jafar!" ujar Herman geram.


"Baguskan? Dengan begitu kita semakin aman, karena rahasia kita gak akan pernah terbongkar, Jafar mati, dan dia gak bisa ngoceh lagi membongkar rahasia kejahatan kita selama ini!" tegas Jack, sambil terus menyetir mobilnya.


"Iya, kamu benar ! Sekarang, kita harus membuat rencana untuk menghancurkan Richard !" ujar Herman geram.


"Ya, akan kita hancurkan Richard!" tegas Jack.


Lalu, Mobil pun meluncur dengan cepatnya di jalan raya, wajah Herman masih terlihat geram dan menahan amarahnya, dia benar benar tak terima dengan perbuatan Richard yang sudah berani menggeledah rumahnya dan menuduh dia menyembunyikan Jafar. Dia bertekat akan membalas perbuatan Richard.


Di halaman parkir gedung kantor kepolisian, Richard keluar dari dalam lift, dia berjalan menuju mobilnya, wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri, sambil berjalan dia mengamati seluruh area parkir.


Richard was was, dia tak tenang, dia merasa, ada orang yang sedang mengintai dan mengikuti dirinya.


Richard lantas segera mengambil pistolnya, dan dia tampak waspada.


Richard berjalan sambil memegang pistol ditangannya, dan matanya terus melihat lihat dan mengamati seluruh area parkir, wajahnya tampak tegang dan cemas.


Ada ketakutan yang melanda jiwa Richard, dia takut, tiba tiba saja Gavlin muncul lalu menyergapnya, Richard pun mempercepat jalannya.


Richard tiba di depan mobilnya, namun, dia terdiam, matanya menatap pada kaca depan mobilnya, di kaca mobilnya, menempel selembar kertas bertulisan.


"Berhati hatilah. Aku sedang mengintaimu."


Begitu tulisan yang ada di lembar kertas yang menempel di kaca depan mobilnya. Richard kaget, dia lalu mengambil kertas tersebut.


Dengan wajah cemas dia langsung merobek robek kertas tersebut yang berisi ancaman untuk dirinya. Matanya terus melihat ke kanan dan ke kiri, mencari cari dan melihat sekitarnya, Richard benar benar cemas kalau Gavlin sedang mengintai dirinya.


"Keluaaar kamuuu !! Jangan jadi pengecut Gavliiinnn !!" bentak Richard berteriak.


Richard berteriak memanggil Gavlin sambil mengarahkan pistol di tangannya ke depan, dia mengira, Gavlin tengah bersembunyi dan mengintainya, sebab, pastilah Gavlin yang sengaja menempelkan kertas yang berisi ancaman di kaca depan mobilnya, agar dia tahu dan membaca tulisan Gavlin itu.


Setelah dia rasa aman dan tak ada Gavlin muncul di area parkiran, dengan cepat Richard memeriksa mobilnya.


Dia memeriksa sampai ke bawah mobilnya, mencari cari, kalau kalau saja Gavlin menaruh alat pelacak atau bom di bawah mobilnya.


Dengan hati hati dan serius, Richard memeriksa seluruh bagian bawah mobilnya, mulai dari depan hingga ke belakang, semua dia periksa dengan sangat teliti.


Karena ancaman dan teror Gavlin, Richard menjadi semakin takut, dan merasa, setiap saat nyawanya terancam oleh Gavlin, dia pun semakin berhati hati.


Setelah dia merasa tak ada bom atau pun alat pelacak yang ditaruh Gavlin pada mobilnya, Richard pun lantas membuka pintu lalu masuk ke dalam mobilnya.


Dengan wajah tegang dan masih cemas, dia cepat menyalakan mesin mobil, lalu, dia segera menjalankan mobilnya, dan pergi keluar dari area parkiran gedung kantor kepolisian pusat tempatnya bekerja.

__ADS_1


Di jalan raya, dengan wajah tegang dan gelisah Richard menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali matanya melirik ke kaca spion samping mobil dan juga kaca spion depan didalam mobilnya. Dia benar benar cemas, Richard melihat kebelakang, kalau kalau ada mobil Gavlin yang sedang mengejar dan mengikuti mobilnya dari belakang.


Semakin hari, Richard semakin tak bisa hidup tenang, sejak dia mendapatkan ancaman dari Gavlin, dia semakin resah dan gelisah, dia sangat mencemaskan nyawanya yang semakin terancam oleh Gavlin.


__ADS_2