VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kalung Nama


__ADS_3

Bramantio membuka kotak yang terbungkus rapi, dia meletakkannya di atas meja kerjanya.


Kotak tersebut dibawa Surya, Asisten Managernya yang saat ini berdiri disampingnya.


Bramantio terhenyak kaget saat kotak terbuka.


Wajah Bramantio pucat, dengan cepat dia melemparkan kotak tersebut.


Surya kaget dan heran, karena Bramantio membuang kotak tersebut.


"Kenapa Pak?!" Tanya Surya heran.


Bramantio diam tak menjawab, wajahnya terlihat pucat.


Surya yang bingung lantas mendekati kotak yang terjatuh di lantai.


Saat dia mau mengangkat kotak tersebut, Surya pun syock, dia melihat, ada sebuah tangan didalam kotak memakai jam tangan.


"Ta...tang...an siapa ini ...Pak !!" Ujar Surya gugup dan ketakutan.


Surya berdiri gemetaran, Bramantio menghela nafasnya, berusaha menghilangkan syocknya.


"Tangan Juhari." Ujar Bramantio.


"Jauhari Kepala Desa, teman Bapak ?" Tanya Surya heran.


Surya kenal dengan Jauhari, sebab, beberapa kali dia mengantarkan upeti dari Bramantio buat Jauhari.


Upeti selalu diberikan Bramantio, agar bisnis barang terlarangnya seperti narkoba bebas berkeliaran di desa di mana Jauhari duduk sebagai Kepala Desanya.


"Ya." Jawab Bramantio.


Bramantio mengenali tangan itu milik Jauhari, sebab dia melihat jam tangan yang ada di tangan tersebut.


Jam tangan berharga mahal itu dia yang memberikannya pada Jauhari, dan merk jam tangan tersebut tidak ada di Indonesia, sebab, Bramantio membelinya di luar negri.


Surya pun terdiam, wajahnya semakin pucat dan ketakutan saat dia mengetahui bahwa pemilik tangan yang terpotong adalah milik Jauhari, orang yang dia kenal dengan baik.


Bramantio terdiam duduk di kursinya, wajahnya terlihat menahan amarahnya.


Dia marah dan dendam pada orang yang telah membunuh Jauhari.


Bramantio yang tak mau melindungi Jauhari akhirnya pun pasrah melihat kematian Jauhari yang mengenaskan itu.


---


Di dalam gudangnya, Yanto tampak sedang membuat patung lilin dengan menggunakan tubuh asli Jauhari yang tanpa lengan kirinya.


Tubuh Jauhari yang kini menjadi patung hanya punya satu tangan, sebab, tangan satunya sudah diberikan Yanto pada Bramantio sebagai peringatan keras , bahwa dia akan segera menuntut balas pada Bramantio.


Yanto bersiul siul dengan senang, dia asyik membentuk tubuh Jauhari, menjadikan tubuh Jauhari yang sudah jadi mayat, sebagai patung lilin berikutnya.


Jika ada yang tahu, Yanto membuat patung lilin dengan sosok orang asli seperti Jauhari dan Samsul, pastilah orang tersebut bergidik ngeri dan ketakutan, sebab patung itu sangat menyeramkan.


---


Di ruang tamu rumahnya, Masayu tampak sedang membuka kotak paket yang baru saja dia terima dari kurir.


Dengan wajah heran dan penuh tanda tanya Masayu membuka kotak tersebut.


Dia melihat, di dalam kotak ada sebuah kalung nama, Masayu mengambilnya.


"Mike", tertulis nama anaknya di kalung nama tersebut, Masayu pun mengenali kalung nama tersebut milik anaknya, Mike.


Lantas dia melihat ke dalam kotak, ada secarik kertas berisi tempelan kertas kertas huruf yang di jadikan sebuah kalimat,


"Mau tau dimana anakmu ? Tanya suamimu sekarang juga !".


Masayu terhenyak, dia syock, dia heran, apa maksudnya kalimat dalam kertas tersebut.


Masayu terdiam sesaat, dia merenung, dia sadar, bahwa memang sudah hampir lebih satu minggu Mike, anaknya tidak pernah berkunjung kerumah dan menemuinya.


Biasanya Mike selalu menyempatkan waktunya untuk mampir kerumah hanya untuk sekedar bertemu Mamanya.


Ya, Mike tidak tinggal bersama orang tuanya, dia hanya sesekali saja menginap dirumah orang tuanya, sebab dia punya Penthouse sendiri.


"Apa maksudnya dia menyuruhku bertanya ke suamiku soal Mike?" Gumam Masayu berfikir.


Masayu lantas pergi mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu dia bergegas keluar dari rumahnya.


---


"Mengapa Pak Jauhari dibunuh Pak?" Tanya Surya dengan wajah ketakutan.


"Mana aku tau, bukan aku yang bunuh !" Bentak Bramantio.


Dia marah dan jengkel karena Surya malah bertanya soal matinya jauhari.


Bramantio sangat marah, dia merasa benar benar sudah di permainkan dan di remehkan.


Beberapa pembunuhan yang terjadi pada orang dekatnya, dianggap Bramantio sebuah tantangan.


Dan Bramantio pun bertekat, akan mencari pelaku tersebut, untuk membuat perhitungan dengannya.


"Lantas, mau diapakan tangan itu Pak?" Tanya Surya.


Wajah Surya masih terlihat pucat, dia sangat ketakutan, ngeri melihat potongan tangan Jauhari tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Biarkan saja di situ, jangan kamu sentuh dan pindahkan, biar polisi polisi nanti yang mengamankannya sebagai bukti!" Ucap Bramantio tegas.


"Baik Pak, saya akan melaporkannya pada Polisi." Ujar Surya.


"Ya." Jawab Bramantio.


Saat Surya, Asisten Manager Bramantio hendak keluar, masuk Masayu dengan wajah marah langsung menghampiri Bramantio yang duduk di kursi meja kerjanya.


Surya dan Bramantio kaget, melihat Masayu yang tiba tiba datang dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


Wajah Surya dan Bramantio terlihat panik, mereka khawatir, Masayu melihat potongan tangan Jauhari yang ada di lantai.


Potongan tangan Jauhari keluar sedikit dari dalam kotak sebab dilempar Bramantio tadi.


"Dimana Mike Pah?!" Tanya Masayu marah.


Bramantio kaget, Masayu datang datang bertanya tentang Mike.


"Kenapa Mike beberapa hari ini gak pernah kerumah menemuiku ?!" Tanya Masayu marah.


"Mike ada urusan bisnis di luar kota." Jawab Bramantio berbohong.


"Omong kosong ! Tadinya aku juga mikir begitu, tapi gak mungkin Mike pergi berhari hari tanpa pernah menghubungiku !" Ucap Masayu kesal.


"Jangan coba coba menyembunyikan tentang Mike padaku Pah !!" Bentak Masayu marah.


"Gak ada yang aku sembunyikan darimu, Mike benar benar ngurus bisnisnya !" Bentak Bramantio.


Bramantio pun memarahi istrinya yang sudah berani membentak dan memarahinya.


Bramantio yang masih kesal, marah karena baru saja mendapatkan paket potongan tangan Jauhari, jadi bertambah emosi karena istrinya datang datang memarahinya.


Bramantio memang sengaja tak memberitahu istrinya tentang kematian Mike, sebab, dia tak ingin, istrinya terguncang, dan menjadi putus asa.


Sebab Bramantio tahu, istrinya sangat menyayangi dan mencintai Mike, bahkan, istrinya lah yang sangat memanjakan Mike selama ini.


"Kalo Mike benar benar keluar kota ngurus bisnisnya, lantas apa ini?!" Ujar Masayu marah.


Dia melemparkan kalung nama Mike ke atas meja bersama selembar kertas.


Bramantio terhenyak kaget melihat kalung nama Mike ada ditangan istrinya.


"Dari mana kamu dapatkan kalung Mike ini?!" Tanya Bramantio.


Bramantio tampak gugup, dia pun ingat, saat mayat Mike di temukan , memang kalung nama Mike tak ada di lehernya.


Bramantio pun paham, bahwa pelaku sengaja mengambil kalung nama Mike untuk meneror istrinya dan dirinya.


Ya, Yanto sengaja mengirimkan kalung nama Mike pada istri Bramantio, dengan maksud, agar suami istri tersebut bertengkar hebat karena kematian anaknya.


Dengan begitu, Bramantio tidak akan focus, dan lengah, jika Bramantio lengah, maka mudah bagi Yanto untuk menyerangnya.


Bramantio terdiam, dia tampak menahan geram dan marahnya, dia tahu, Musuhnya sedang mencoba meneror keluarganya, menebar ketakutan pada dirinya.


"Tolong bilang Pah, dimana Mike ?!!" Bentak Masayu.


"Mike sudah meninggal." Ujar Bramantio dengan lirih dan getir.


"Aa...paaa...me...mening...gaal?!" Masayu terhenyak kaget. Dia syock.


"Iya, Mike di bunuh, dibenamkan kedalam semen, lalu tubuhnya di simpan dalam tong." Ungkap Bramantio.


"Gak...!! Gak mungkin !! Jangan bohongi aku Pah !! Kamu jangan bercanda !! Mike gak kan mati !!" Teriak Masayu menangis sedih.


"Aku sendiri yang menemui mayat Mike di depan rumah kita Ma, saat itu kamu sedang keluar kota, aku sengaja gak bilang kamu, agar kamu gak down, gak panik kayak gini !!" Ujar Bramantio.


"Siapa yang bunuh Mike Pah, siapaaaa ?!!!" Teriak Masayu dengan kalap dan menangis.


"Aku gak tau, siapa pembunuhnya!" Ujar Bramantio penuh rasa bersalah.


"Kamu gak tau pembunuhnya? Kamu orang hebat, orang paling berpengaruh !! Selama ini kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan mudah !" Ungkap Masayu sambil menghapus air matanya.


"Kenapa menemukan pembunuh anak kandungmu sendiri kamu gak mampu!!" Teriak Masayu.


Masayu melampiaskan amarahnya pada Bramantio. Marah dan sedih bercampur jadi satu dalam jiwanya saat ini. Masayu menangis dalam kemarahannya.


"Aku sedang berusaha mencari pembunuhnya Ma, Polisi juga sedang memburunya." Ujar Bramantio.


"Polisi?! Kamu percaya dan menyerahkan semuanya pada Polisi?! Dulu setiap masalahmu kamu gak pernah mau melibatkan Polisi !!" Bentak Masayu.


"Dan saat aku nyuruh kamu buat minta tolong polisi mengusut kematian Guntur, kamu marah dan melarangku ikut campur !! Kamu gak mau melibatkan polisi !!" Bentak Masayu.


"Dan sekarang, kamu mau melibatkan polisi? Apa kamu jadi lemah Pah? Apa kamu berubah jadi pengecut yang gak berani menghadapi langsung pembunuh anakmu !!" Bentak Masayu.


Masayu sambil menangis terus melampiaskan emosi marahnya pada Bramantio.


Bramantio menahan marahnya, dia geram, Bramantio merasa malu pada Surya yang masih berdiri di sampingnya. Dia malu di bentak bentak istrinya di depan Surya.


Surya tertunduk diam ditempatnya, dia tak berani menatap wajah Bramantio dan Masayu yang sama sama sedang emosi marah.


"Bukan begitu Ma, Polisi tau tentang pembunuhan Mike, mereka datang menemuiku, bertanya padaku, apa Mike punya musuh, aku bilang aku gak tau." Ujar Bramantio.


Bramantio berusaha menjelaskan agar istrinya bisa tenang.


"Polisi bilang, mereka akan menyelidiki kasus Mike, mereka akan mencari pelaku yang membunuh Mike !" Ujar Bramantio.


"Aku gak percaya Polisi polisi itu bisa cepat menemukan pembunuh Mike !!" Bentak Masayu.

__ADS_1


"Kenapa kamu gak suruh Samsul ! Biasanya kan Samsul yang menyelesaikan semua masalahmu!!" Ujar Masayu marah.


"Samsul juga mati, Kepalanya di penggal." Ujar Bramantio.


"Apaaa?!!" Masayu kembali terhenyak kaget.


Masayu semakin syock mendengar Samsul juga mati.


"Aku yakin, orang yang membunuh Samsul itu orang yang sama membunuh Mike." Ujar Bramantio geram.


"Aaaaggghhhh !! Ini gilaaa, benar benaaar gilaaa !!" Teriak Masayu.


Masayu kalap, dia pun bergerak melangkah menuju sofa sambil terus teriak melampiaskan amarahnya , dia melihat ada kotak di lantai, Masayu pun menendang kotak tersebut dengan kesalnya.


Surya dan Bramantio saling pandang, mereka takut, potongan tangan Jauhari keluar dari dalam kotak.


Benar saja, Masayu pun melihat potongan tangan Jauhari menggelinding di lantai.


"Aaaaggghhh !!" Teriak Masayu histeris.


Masayu kaget setengah mati melihat tangan tersebut.


Bramantio langsung mendekati Masayu, dia memeluk tubuh istrinya, menutup mata istrinya.


Wajah Masayu pucat pasi, dia gemetar ketakutan.


"Ta...tangan...siapa itu...!!" Ujar Masayu menangis ketakutan.


"Kepala Desa Jauhari." Ujar Bramantio sambil terus memeluk erat istrinya.


Masayu melepaskan pelukan Bramantio, dia menghapus air matanya, lalu dia menatap tajam wajah suaminya itu.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu Pah ?! Ada masalah apa kamu sama orang yang sudah membunuh Mike dan Samsul ?!" Bentak Masayu marah.


"Aku gak tau Ma, aku juga bingung, apa motif orang itu membunuh orang orang dekatku, bahkan membunuh anak kandungku ! Aku benar benar gak tau, ada masalah apa dia denganku!!" Ujar Bramantio marah.


Wajah Bramantio terlihat kesal, bingung dan marah, bercampur aduk.


"Kamu pasti bisa menebak nebak, dari banyaknya musuhmu, mana yang benar benar ingin menghancurkanmu Pah !!" Bentak Masayu.


"Entahlah Ma, aku gak yakin, kalo orang itu salah satu musuh musuhku." Ujar Bramantio.


"Mustahil !! Kalo dia bukan musuhmu, buat apa dia bunuh anakmu dan orang kepercayaanmu!! Bahkan mencoba meneror aku dengan mengirimkan kalung nama Mike !!" Teriak Masayu.


Masayu menumpahkan amarahnya. Bramantio terdiam, tak mampu menjawab perkataan istrinya.


Surya hendak mengambil potongan tangan Jauhari, Bramantio menghentikannya.


"Biarkan tangan itu di situ, jangan kamu ambil, sidik jarimu nanti ada ditangan itu !" Ujar Bramantio mengingatkan Surya.


"Oh, baik Pak." Jawab Surya.


Surya pun tak jadi mengambil potongan tangan Jauhari, dia kembali berdiri ditempatnya tadi.


"Apa orang yang membunuh Kepala Desa Jauhari sama dengan yang membunuh Mike dan Samsul ?!" Tanya Masayu.


"Iya, aku yakin, karena sebelum Jauhari dibunuh, dia sempat datang menemuiku, minta perlindungan padaku." Ujar Bramantio.


"Terus?!" Tanya Masayu.


"Belum sempat aku melindunginya, Jauhari sudah di bunuh, aku tau Jauhari mati ya karena orang itu mengirimkan potongan tangan Jauhari." Ujar Bramantio.


Masayu terdiam, dia pun tampak sedang memikirkan sesuatu hal.


"Apa mungkin ini ulah orang suruhannya Wijaya Pah?" Ujar Masayu.


Masayu yang tahu kalau Bramantio bermusuhan dengan Wijaya sebab kesalah pahaman soal pernikahan anak anak mereka menuduh dan menduga, pelakunya Wijaya.


"Bukan Wijaya dalang pembunuhannya." Ujar Bramantio.


"Dia kan musuhmu Pah ! Bisa aja dia sengaja membunuh orang orang dekatmu, karena dia tau, Samsul itu tangan kananmu, orang yang selama ini mengurus masalah bisnismu !!" Ujar Masayu.


"Ya, dia musuhku, tapi Wijaya tidak membunuh Samsul dan Mike,juga Jauhari !" Bentak Bramantio.


Bramantio marah pada istrinya yang terus mendesak dia agar menuduh Wijaya.


"Aku yakin, Wijaya yang bunuh Mike! Aku akan membalasnya !! Aku akan datangi Wijaya, aku akan bunuh Linda ,anak Wijaya !!" Bentak Masayu.


"Linda mati dibunuh Mike !" Bentak Bramantio.


Mendengar perkataan Bramantio membuat Masayu syock, dia terdiam, dia kaget mendengar Linda mati.


"Mike bunuh Linda?!" Ujar Masayu syock.


"Iya, Mike mengaku, dia yang bunuh Linda , karena Mike sakit hati, Linda sudah menghina dia katanya." Ujar Bramantio.


Masayu terdiam, dia tampak sedang berfikir. Wajah Masayu terlihat geram, ada kemarahan dalam dirinya.


"Karena itu Wijaya bunuh Mike Pah!! Dia tau, Mike bunuh anaknya, Wijaya lantas balas dendam !!" Ujar Masayu marah.


"Wijaya sampe sekarang gak tau, kalo Mike yang bunuh Linda ! Polisi belum kasih tau Wijaya, sebab, Polisi juga belum menemukan Pelaku sebenarnya yang membunuh Linda !!" Ujar Bramantio kesal.


"Dan Wijaya juga gak bunuh Samsul, Orang yang membunuh Samsul mengirimkan potongan kepala Samsul pada Wijaya !! Sama seperti dia kirim tangan Jauhari padaku !!" Bentak Bramantio.


Bramantio marah dan jengkel sama istrinya, yang mencoba mengambil kesimpulan sendiri dan menuduh Wijaya sebagai pelaku pembunuhan tanpa bukti yang jelas dan pasti.


Masayu terdiam mendengar semua penjelasan Bramantio, Masayu bingung, juga marah, dia marah sebab anaknya sudah dibunuh.

__ADS_1


Dan yang membuat Masayu semakin marah, karena Bramantio tidak memberi tahukan dia tentang kematian Mike, anaknya.


Masayu juga marah pada orang yang sudah mengirimkan kalung nama Mike padanya.


__ADS_2