VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Hanya Sebagai Robot Yang Di Kendalikan


__ADS_3

Di Markas organisasi Inside terlihat Binsar marah besar setelah mendapatkan kabar, bahwa rencananya membunuh Chandra mengalami kegagalan, dan bahkan, enam pembunuh bayaran pilihannya yang terbaik tewas terbunuh. Dan yang membuat semakin marah Binsar, karena Chandra lolos, sebab di tolong oleh Gavlin yang datang tepat pada waktunya ke rumah Chandra.


"Keparaaatt!! Saya gak mau tau !! Cari sampai dapat Si Gavlin, Yanto ataupun siapa nama anaknya Sanusi itu! Bunuh dia dan lenyapkan dia dari muka bumi ini!!" bentak Binsar pada anak buahnya.


Lukman, Ketua Pembunuh bayaran yang berdiri di hadapan Binsar diam tertunduk, dia tak berani melihat dan menatap wajah Binsar yang penuh dengan amarah itu.


"Kejar Chandra!! Cari mereka sampai dapat!! Bunuh semuanya!! Bila perlu, habisi semua orang orang yang dekat dengan Chandra dan Gavlin!!" perintah Binsar.


"Baik, Pak." ujar Lukman.


"Sudah sana, cepat kerjakan tugasmu!!" bentak Binsar marah.


"Ya, Pak. Saya permisi." ujar Lukman, membungkuk memberi hormat.


Lukman lantas bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerja Binsar di markas inside, Binsar dengan wajah penuh amarah menghempaskan tubuhnya di sofa, dia tak terima anak buahnya tewas terbunuh.


"Jika aku tau anak anak Sanusi dan Syamsul Bahri masih hidup, sudah pasti ku bunuh mereka semua!!" ujar Binsar geram.


"Ini semua ketololan Bramantio dulu!! Diperintahkan untuk membumi hanguskan seluruh keluarga Sanusi dan Syamsul, malah membiarkan anaknya hidup, hingga sekarang muncul menuntut balas kematian Bapaknya, siaaal!!" ujar Binsar.


Dengan penuh amarah yang membara dia menggebrak meja tamu, Binsar melampiaskan amarahnya.


---


Di dalam rumah Gavlin, rumah ruang bawah tanah, Chandra terbengong bengong mengamati seluruh isi ruangan tersebut, dia mengagumi bangunan rumah Gavlin yang berada di bawah bangunan reruntuhan rumah Gavlin.


Gavlin datang dengan membawa sebotol air minum dan gelas ditangannya, dia mendekati Chandra yang masih berdiri mengamati seluruh ruangan rumah bawah tanah Gavlin.


"Duduklah." ujar Gavlin, sambil meletakkan botol minuman beserta gelas di atas meja.


"Oh, iya, terima kasih." ujar Chandra, masih dengan wajah yang terpukau dan takjub pada rumah Gavlin.


Chandra duduk di sofa tamu, Gavlin juga duduk di sofa, yang ada di samping Chandra duduk.


"Mengapa rumahmu di lantai atas hancur berantakan saat kita datang dan masuk ke sini tadi?" tanya Chandra, menatap lekat wajah Gavlin.


"Aku menghancurkannya." ujar Gavlin, menjawab santai dan tenang.


"Kamu hancurkan? Kenapa?!" tanya Chandra, kaget dan heran.


"Waktu itu, komplotan Bramantio datang menyerangku secara tiba tiba, aku memang sudah memperisapkan semuanya, memasang bom di seluruh rumahku, berjaga jaga saat komplotan Bramantio datang menyerang." ujar Gavlin, menjelaskan.


"Terus?" Ujar Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Tanpa pikir panjang, aku ledakkan rumahku, agar komplotan Bramantio mati meledak dalam runtuhan rumahku, dan itu berhasil, walau Bramantio selamat dari ledakan waktu itu, tapi setelahnya, aku berhasil membunuh Bramantio!" tegas Gavlin, dengan wajah serius menceritakan.


"Oh, begitu." ujar Chandra, mengangguk mengerti dan paham.


"Apa komplotan Bramantio gak tau rumah bawah tanahmu ini?" tanya Chandra.


"Gak, gak ada yang tau tempat ini. Jadi, selama tinggal di sini, aku aman." ujar Gavlin.


Chandra diam dan mengangguk angguk paham.


"Untuk sementara waktu, kamu tinggal di sini, nyamankan dirimu di rumah ini." ujar Gavlin.


"Ya, Baiklah." ujar Chandra.


"Minumlah." ujar Gavlin.


Chandra mengangguk, dia lantas mengambil gelas dan botol minuman, lalu, dia pun menuangkan air dalam botol ke gelas, Chandra minum, Gavlin mengambil berkas yang ada di atas meja, dia membaca berkas berkas tersebut.


Wajah Gavlin berkernyit, dia terlihat sangat geram dan menahan amarahnya, saat membaca urutan rincian tentang kejadian penjebakan Bapaknya hingga Bapaknya di fitnah sebagai pembunuh dan pemerkosa lalu ditangkap dan akhirnya mati di bunuh dalam sel tahanan, dan dalam berkas, ada juga tertulis tentang rencana pembakaran rumah Gavlin dulu.

__ADS_1


"Isi berkas ini sama persis dengan rekaman cctv yang sudah aku tonton." ujar Gavlin.


"Ya, itu bukti kuat, bagaimana Bapakmu di jebak dan sengaja dibunuh, begitu juga dengan bapakku. Karena menemukan bukti itulah aku bertekat untuk membongkar kejahatan Inside!" tegas Chandra.


Gavlin terdiam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, Chandra meraih remote tv yang tergeletak di atas meja, dia lantas menyalakan televisi dan menontonnya.


Saat ini, di televisi, ada lintasan berita yang disampaikan pembaca berita, Chandra menyaksikannya dengan serius.


"Hanya berselang dua jam setelah penangkapan yang dilakukan pihak kepolisian tanpa bukti, Pak Samsudin, Menkopolkam di bebaskan dari tahanan, karena pihak polisi tidak bisa menghadirkan bukti untuk menangkapnya." ujar pembaca berita.


Gavlin melihat ke televisi dan mendengarkan apa yang dibacakan si pembaca berita, dia tersenyum sinis, Chandra mengkernyitkan keningnya.


"Mengapa gak ada bukti? Bukankah semua bukti kejahatan Samsudin sudah aku serahkan sama Andre dan Samuel? Kenapa Samsudin bisa lolos?" ujar Chandra, dengan wajah heran.


"Ya pasti lolos, karena semua instansi negara sudah di kuasai Inside ! Biarpun ada bukti kuat, mereka akan dengan mudahnya melepaskan anggota anggotanya lagi dari jerat hukum!" tegas Gavlin, tersenyum sinis.


Chandra terlihat kesal dan tak puas mengetahui Samsudin di bebaskan, lalu, dia mengambil ponselnya, Chandra lantas menghubungi Andre.


"Hallo, Ndre. Aku baru liat berita pembebabasan Samsudin, kenapa kamu melepaskannya? Bukankah bukti kejahatannya banyak?!" tegas Chandra di telepon.


"Samsudin aku tangkap dengan tuduhan pembunuhan Edo, anggota kepolisianku, bukan karena tindak kejahatannya yang lain." jelas Andre, dari seberang telepon.


"Aku sengaja menangkapnya untuk memancing reaksi organisasi Inside, dan dugaan aku ternyata benar, bahwa pejabat sementara Kapolri anak buah Inside, dia yang melepaskan Samsudin!" jelas Andre, dari seberang telepon.


"Oh, mengapa gak kamu tangkap dengan kasus kejahatannya itu?" jelas Chandra, ditelepon.


"Aku masih tunggu Samuel, jika Samuel menyuruhku bergerak menangkapnya, aku pasti segera menangkap Samsudin lagi." tegas Andre, dari seberang telepon.


"Ok, baiklah kalo begitu." ujar Chandra.


Lalu, dia pun mematikan teleponnya, Chandra lantas memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya. Gavlin terlihat diam dan tersenyum sinis.


"Jangan harap kalian bisa menjerat anggota Inside melalui jalur hukum, karena hukum yang ada sekarang sudah menjadi milik Inside!" ujar Gavlin.


Chandra menatap serius wajah Gavlin yang tersenyum sinis sambil menatap lembar berkas yang tergeletak diatas meja tamunya.


"Dengan cara peradilan rakyat!" tegas Gavlin.


"Peradilan rakyat?! Maksudnya bagaimana? Bisa kamu jelaskan padaku?" tanya Chandra, menatap tajam wajah Gavlin yang tampak bersikap santai dan tenang itu.


"Dengan memberitahu pada semua masyarakat, tentang kejahatan anggota anggota Inside, mengungkap kejahatan Binsar pada masyarakat secara langsung." tegas Gavlin.


"Caranya?" tanya Chandra, penasaran dan ingin tahu.


"Ada caranya, dan serahkan padaku, aku yakin, dengan langkah yang akan aku pilih nanti, satu persatu anggota Inside, para pejabat negara bobrok itu akan dengan sendirinya mengakui kejahatannya!" ujar Gavlin.


"Dan mereka pasti akan membuat pernyataan langsung di depan media untuk mengakui kejahatannya, karena, gak akan ada jalan buat menghindar atau melarikan diri dari semuanya." jelas Gavlin serius.


"Kamu yakin, hal itu akan berhasil kamu lakukan?" tanya Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Ya, Aku yakin." ujar Gavlin.


"Jika berhasil, dan Binsar membuat siaran langsung di depan media, aku akan membunuh Binsar! Untuk membalaskan dendam Bapakku dan juga Bapakmu." tegas Gavlin.


Chandra terdiam, dia tampak berfikir sesaat, Gavlin tetap bersikap santai dan tenang, Chandra lalu menghela nafasnya dan menatap wajah dingin Gavlin.


"Baiklah, aku percaya padamu, aku serahkan semuanya padamu, Vlin." ujar Chandra.


"Ya. Kamu dan Andre serta Samuel silahkan adili Organisasi Inside melalui jalur hukum negara yang ada, aku akan mengadili mereka dengan caraku sendiri." ujar Gavlin menegaskan dengan wajahnya yang serius.


"Dan jangan sampai, apa yang kita kerjakan saling berbenturan, kamu harus ingatkan Andre dan Samuel, bahwa kita saat ini ada dalam pihak yang sama! Sama sama akan menghancurkan Inside !" tegas Gavlin, dengan wajah seriusnya.


"Baiklah." ujar Chandra, mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ya, sudah, sekarang, kalo kamu mau istirahat, istirahatlah, aku tinggal dulu." ujar Gavlin.


"Ya, nanti aku istirahat di kamar." ujar Chandra.


Gavlin berdiri dari duduknya di sofa, lalu dia berbalik badan dan pergi meninggalkan Chandra yang duduk di sofa, Chandra mengambil map berisi berkas berkas kejahatan organisasi Inside diatas meja, lalu, dia melihat dan membaca berkas berkas tersebut.


---


Presiden Adiwinata kembali memanggil Binsar keruangannya, dia ingin tahu, apa yang sebenarnya sudah terjadi, Dengan sikap cuek dan tenangnya, Binsar datang menemui Presiden di dalam ruang kantornya.


Binsar duduk di sofa tamu dengan bersikap santai dan tenang, Adiwinata, sang Presiden mendekatinya , dia lalu duduk di sofa yang ada di samping Sofa Binsar.


"Tolong jelaskan pada Saya, apa yang sudah abang lakukan bersama anggota Inside selama ini?" tanya Adiwinata.


"Apa maksudmu?!" tanya Binsar, menatap kesal wajah Adiwinata.


"Bagaimana bisa, hampir 90 persen mentri dikabinetku terlibat kejahatan dan hampir semuanya ditangkap polisi dan pihak kejaksaan, dan rata rata, mereka semua memiliki kasusnya sendiri sendiri!" tegas Adiwinata.


"Sebagai Presiden, aku gak bisa hanya berdiam diri saja, sebagai pemimpin negara, aku harus bertanggung jawab !" ujar Adiwinata.


"Sebaiknya Abang jujur , jelaskan pada Saya, agar saya bisa mengambil sikap ke depannya." ujar Adiwinata.


"Sudah aku katakan, kamu diam saja!! Ikuti saja aturan main Inside dan yang sudah aku bilang ke kamu!!" tegas Binsar kesal.


"Tidak bisa begitu Bang, Jika abang gak mau bilang, Saya akan mencari taunya sendiri!" tegas Adiwinata.


"Hei Adiii!! Kamu mau membangkangku?! Ingat !! Kamu jadi presiden itu karena aku dan Inside!! Jangan sok kuasa kamu!" bentak Binsar marah.


Binsar berdiri dihadapan Adiwinata yang masih duduk di sofanya dengan sikap tenangnya. Wajah Binsar terlihat marah.


"Kamu itu jadi presiden hanya sebagai robot saja!! Semua aku yang kendalikan, kamu hanya tinggal ikuti saja semua perintahku!!" tegas Binsar.


"Jika kamu masih mau aman dalam posisimu sebagai presiden, jangan coba coba lancang ikut campur urusanku dan Inside!" ujar Binsar.


"Jangan sekali kali kamu mencoba untuk mencari tau tentang Inside! Jika kamu tetap lakukan, kamu aku habisi !!" tegas Binsar, memberi peringatan dan ancaman pada Adiwinata.


"Silahkan mengancam saya, Saya akan tetap mencari tau kebenarannya, Bang." ujar Adiwinata.


"Jika saya juga terlibat dalam kejahatan kalian, Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya, dan akan meletakkan jabatan saya!" tegas Adiwinata.


"Setaaaannn!! Jangan coba coba Adiii!!" bentak Binsar marah.


"Sekarang, silahkan abang keluar dari ruangan saya, sudah cukup buat saya bicara dengan abang, tidak ada lagi yang akan kita bicarakan setelah ini." tegas Adiwinata.


"Kurang ajar kamu!!" bentak Binsar.


Adiwinata tersenyum kecut duduk di sofa, Binsar yang berdiri dihadapannya terlihat sangat geram dan marah, dia menatap tajam wajah Adiwinata yang duduk santai di sofa.


"Kamu akan menyesali perbuatanmu ini Adi!!" bentak Binsar marah.


Adiwinata diam tak menjawab, dia hanya tersenyum sinis saja, Binsar dengan penuh amarahnya lalu berbalik badan, dia pun lantas bergegas pergi meninggalkan Adiwinata, dia keluar dari dalam ruang kantor kepresidenan.


Adiwinata mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, dia terlihat diam dan tercenung, ada beban pikiran yang sangat berat sekali dia pikirkan saat ini, dan hal itu mengenai kabinet mentri mentrinya.


Adiwinata terlihat menarik nafasnya dalam dalam, dia lantas mencoba untuk menenangkan dirinya yang terlihat gundah itu, lalu, dengan berat, dia berdiri dari duduknya di sofa.


Adiwinata berjalan gontai menuju meja kerjanya, lalu, dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.


Adiwinata lantas membuka laci meja kerjanya, dia mengambil sebuah flash disk yang ada didalam laci, lalu, dinyalakannya laptopnya yang tergeletak diatas meja, Flash disk dipasangnya di laptop, lalu, dia membuka flash disk.


Adiwinata menonton rekaman cctv yang berisi tentang obrolan rencana kejahatan yang di pimpin Binsar untuk menguasai negara dan juga menjebak Sanusi yang mengetahui rencana jahat mereka.


Wajah Adiwinata tampak sedih. Dia menyesal, karena baru menyadari, bahwa dia hanya dimanfaatkan saja sebagai presiden oleh Binsar dan organisasi Inside.

__ADS_1


__ADS_2