VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Penebusan Dosa


__ADS_3

Andre datang bersama Edo ke dalam ruang sel tahanan dimana Herman tewas bunuh diri. Andre masuk ke dalam ruang sel tahanan, dia mendekati tubuh kaku Herman yang mengeluarkan busa di mulutnya.


Andre berjongkok di depan mayat Herman, sementara Edo berdiri disampingnya. Andre melihat, ada botol kecil tergeletak di lantai, di dekat tubuh Herman.


Andre mengambil sapu tangannya dari dalam kantong celananya, lalu, diambilnya botol kecil dilantai dengan sapu tangan yang ada ditangannya.


Andre lantas berdiri, dia mengamati botol kecil ditangannya, lalu, Andre mencium botol kecil tersebut, dia meringis , saat mencium bau yang menyengat dalam botol kecil itu.


Serahkan pada ahli Forensik, cek isi botol ini, saya yakin, Herman pasti bunuh diri dengan meminum racun dari botol ini." ujar Andre, dengan wajah seriusnya.


"Ya, Pak." jawab Andre.


Edo lantas mengambil botol kecil dari tangan Andre dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kecil khusus menyimpan barang bukti.


"Darimana dia mendapatkan racun dibotol ini, Pak?" tanya Edo.


"Entahlah, sepertinya ada yang sengaja memberikannya ." ujar Andre serius.


"Kita harus mencari tau, apakah ada orang yang datang menemui Herman sebelum kematiannya ini." tegas Andre, dengan wajah yang serius.


"Baik, Pak. Coba saya nanti cek daftar pengunjung, siapa tau, memang ada yang datang bertemu korban." jelas Edo.


"Saya akan cek kamera cctv yang ada di ruang tahanan ini." tegas Andre serius.


"Baik, Pak." Angguk Edo.


Tak berapa lama, datang petugas ahli Forensik dan langsung masuk ke dalam ruang sel tahanan, petugas ahli forensik segera memeriksa kondisi mayat Herman. Andre dan Edo berdiri di dekat petugas forensik yang serius memeriksa tubuh Herman yang sudah terbujur kaku itu.


Tak berapa lama, petugas ahli forensik berdiri di hadapan Andre.


"Kematiannya sekitar dua jam yang lalu, akibat racun yang di minumnya." ujar petugas ahli forensik.


"Ya, ini botol kecil berisi racun yang kami temui di dekat tubuh korban." ujar Edo.


Edo memberikan botol kecil yang ada didalam kantong plastik kecil, petugas ahli forensik mengambilnya dari tangan Edo.


"Saya akan memeriksa jenis racun yang ada dalam botol ini." ujar petugas ahli forensik.


"Ya, sekalian, cek, apakah ada sidik jari orang yang memberikan botol racun itu pada Herman." jelas Andre, serius.


"Baik, nanti akan saya kabari, jika ditemukan bukti lainnya." ujar Petugas ahli forensik.


"Ya." Angguk Andre.


Dua Petugas medis datang dengan membawa brankar dorong, mereka langsung masuk ke dalam ruang sel tahanan. Petugas Medis lalu mengangkat mayat Herman dan diletakkan di atas brankar dorong. Lalu, petugas medis membawa mayat Herman keluar dari dalam sel tahanan.


Petugas Ahli Forensik juga pergi meninggalkan ruang sel tahanan, tinggallah Andre bersama Edo didalam ruang tahanan.


"Sebaiknya kamu ikut dengan petugas forensik, tunggu hasil pemeriksaan lab dari mereka." jelas Andre.


"Baik, Pak." ujar Edo.


Edo lantas bergegas pergi meninggalkan Andre, dia segera menyusul petugas ahli forensik yang sudah lebih dulu pergi.


Andre berdiri di dalam ruang tahanan yang kosong itu, dia melihat, ada tulisan di tembok dinding ruang tahanan, Andre berjalan mendekat, dia berdiri tepat di depan tembok dinding tahanan, Andre membaca tulisan yang ada pada tembok dinding.


"Kematianku ini sebagai Penebusan Dosa besarku."


Begitu pernyataan yang dibaca Andre pada tulisan yang ada di tembok dinding. Andre menghela nafasnya, dia pun semakin yakin, bahwa Herman memang sengaja bunuh diri.

__ADS_1


Namun yang dia pikirkan, siapa yang memberikan botol berisi racun pada Herman.


Andre lantas berjalan keluar dari dalam ruang sel tahanan, dia hendak mencari tahu kebenaran atas kematian Herman.


---


Chandra berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman parkir gedung kepresidenan. Chandra membuka pintu mobilnya, lalu dia masuk ke dalam mobil.


Pintu mobil tertutup rapat, Chandra memakai sabuk pengamannya, lalu, dia menyalakan mesin mobilnya. Tiba tiba saja, muncul Gavlin dengan menodongkan pistol di belakangnya. Dari kaca spion depan mobilnya, Chandra melihat jelas Gavlin, duduk di jok belakang mobilnya sambil menodongkan pistol ke tengkuknya.


"Jangan coba coba berbuat macam macam, Chan, aku akan menembakmu!" tegas Gavlin, dengan wajah serius dan tatapan mata yang tajam.


"Mau apa kamu?!" tanya Chandra, duduk diam di jok depan.


"Jangan banyak tanya, ikuti saja perintahku!!" bentak Gavlin marah.


Chandra terdiam, dia tak menyangka, Gavlin muncul tiba tiba dan malah menodongkan pistol serta mengancam dirinya.


"Cepat pergi dari sini, ikuti perintahku!" tegas Gavlin.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Chandra.


"Jangan banyak tanya!! Jalani saja mobil ini !!" bentak Gavlin marah.


Chandra pun diam, tak ada pilihan lain baginya saat ini untuk melawan Gavlin, karena dirinya di todong pistol, Chandra pun menuruti perintah Gavlin. Dia lantas segera menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan gedung kantor kepresidenan.


---


Diruang control monitoring cctv kantor kepolisian, Andre tampak serius mengamati rekaman cctv yang ada di dalam sel tahanan.


Dia terhenyak kaget, saat melihat sosok pria yang terekam jelas dalam cctv yang sedang dia saksikan itu.


"Gavliin?!!" ujar Andre terhenyak kaget.


Lalu, Andre juga melihat, saat Gavlin berbalik badan hendak pergi meninggalkan Herman, dia menyempatkan dirinya menoleh pada kamera cctv dan tersenyum sinis memandang kamera cctv.


Gavlin sengaja memperlihatkan wajahnya dengan terang terangan pada kamera cctv, agar polisi mengetahui, bahwa dialah pelakunya yang memberikan racun dan menghasut serta mempengaruhi bathin Herman, agar bunuh diri.


"Gavlin, ternyata dia yang memberikan racun pada Herman, Gavlin membunuh Herman." ujar Andre geram.


"Sial ! Gavlin gak bisa di bilangin, kalo Herman mati, kami gak bisa menggelar persidangan atas kesaksiannya!! Dengan begitu, sulit memanggil Samsudin dan Binsar serta anggota Inside lainnya yang terlibat dan di sebut namanya oleh Herman!!" ujar Andre geram dan marah.


"Gavlin berbuat semaunya, seenak dirinya saja membunuh Herman, saksi dari kejahatan organisasi Inside, aku harus mencegah Gavlin! Jangan sampai dia membunuhi semua anggota Inside, sebelum aku menyeret mereka ke pengadilan!!" tegas Andre, dengan wajah seriusnya.


Andre geram dan marah, karena mengetahui, bahwa kematian Herman karena ulah Gavlin yang sengaja memberikan botol berisi racun, agar Herman bunuh diri, untuk menebus dosa kejahatannya di masa lalu.


Andre lantas bergegas jalan keluar dari dalam ruangan monitoring cctv, wajahnya terlihat kesal, geram dan marah pada Gavlin, yang tidak menuruti perkataannya untuk tidak membunuh Herman sebagai saksi kunci.


"Betapa bodohnya penjaga penjaga tahanan ini!! Dengan mudahnya si Gavlin menyusup dan menemui Herman!!" tegas Andre geram dan marah.


---


Chandra berjalan bersama Gavlin yang jalan dibelakangnya sambil menodongkan pistol di belakangnya. Mereka saat ini berada di lokasi pembangunan Wijaya yang hancur dan mangkrak, karena pembangunannya dihentikan, sebab Wijaya telah mati.


"Mengapa kamu membawaku ke sini?!" tanya Chandra heran.


"Cepat jalan, masuk ke ruangan itu!!" ujar Gavlin membentak Chandra.


Gavlin tak menjawab pertanyaan Chandra, dia menyuruh Chandra agar terus berjalan masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada pada bangunan yang sudah hancur itu.

__ADS_1


"Duduk dan diam di batu itu!" ujar Gavlin.


Chandra pun lantas duduk disebuah bongkahan batu besar yang ada di dalam ruangan yang hancur dan terbengkalai itu.


Gavlin dengan cepat mengambil tali dari kantong celananya, lalu, dia memegang kedua tangan Chandra dan memutar tangan Chandra kebelakang, Gavlin lalu segera mengikat ke dua tangan Chandra.


"Apa yang mau kamu lakukan padaku? Mengapa kamu mengikatku dan menyanderaku di sini? Aku bukan musuhmu!!" tegas Chandra, marah pada Gavlin.


"Diam Chandra!! Aku sengaja menculik dan membawamu ke sini, agar kita aman!! Ada yang mau aku tanyakan, aku mau memastikan kebenaran semua perkataan Herman , dan juga pernyataan Andre tentang dirimu!!" tegas Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.


"Apa yang kamu mau tau lagi? Semua sudah di ungkap Herman, dan pernyataan pengakuannya semua benar !!" jelas Chandra, kesal pada Gavlin.


"Apa kamu punya bukti nyata tentang kejahatan organisasi Inside? Atau itu hanya dugaanmu saja?" ujar Gavlin, bertanya dengan serius.


"Aku punya bukti, bukan mengada ada!! Semua bukti nyata aku dapatkan tentang kejahatan organisasi Inside, sepak terjang Binsar, Samsudin, Bramantio, Jafar, Herman dan semua anggota inside yang terlibat !!" tegas Chandra.


"Apa kamu juga punya bukti, atas pernyataanmu yang mengatakan bahwa Bapakku mati diracun dan bukan bunuh diri?" tanya Gavlin, menatap tajam wajah Chandra.


"Ya, aku punya bukti rekaman suara, dimana Wijaya, Bramantio, Samsudin dan Herman merencanakan untuk meracuni Bapakmu!!" tegas Chandra, menjelaskan pada Gavlin.


"Dimana bukti bukti itu semuanya? Cepat berikan padaku!!" ujar Gavlin, menatap serius wajah Chandra yang tampak kesal pada Gavlin.


"Semua bukti bukti tentang kejahatan seluruh anggota Inside sudah aku berikan pada Andre dan Samuel, mereka yang menyimpan bukti itu!!" tegas Chandra, memberi tahu Gavlin.


"Oh begitu." ujar Gavlin.


Gavlin diam, dia tampak berfikir untuk sesaat, Chandra menatap kesal wajah Gavlin yang diam dan berdiri dihadapannya, Chandra meronta, berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya, namun, ikatan tali itu sangat kuat, dia tak bisa melepaskannya.


"Tolong lepaskan aku, ada bukti lainnya yang tidak ku berikan pada Andre dan Samuel, dan bukti itu tentang rencana menjebak Bapakmu dan melakukan pembakaran rumahmu dulu." tegas Chandra.


Gavlin tersentak kaget , dia menatap tajam wajah Chandra yang menatapnya dengan serius.


"Kamu jangan membohongiku Chandra!! Kamu bilang tadi, semua bukti sudah kamu serahkan pada Andre dan Samuel!" tegas Gavlin marah.


"Ya, memang benar, semua bukti tentang Inside sudah aku berikan, tapi tidak dengan bukti rencana pembunuhan dan penjebakan bapakmu serta pembakaran rumahmu!!" tegas Chandra.


Gavlin diam, dia tak menanggapi perkataan Chandra, Gavlin mengambil ponsel Chandra, lalu, dia menatap wajah Chandra.


"Apa kode telponmu, cepat bilang!" tegas Gavlin sambil memegang ponsel Chandra ditangannya.


"707020, itu kodenya." jelas Chandra.


Gavlin lantas mengetik nomor pasword yang diberikan Chandra pada ponsel , sesaat kemudian, layar ponsel terbuka, Gavlin cepat melihat riwayat panggilan telepon di ponsel milik Chandra yang dia ambil, lalu, Gavlin melihat nama Andre di riwayat panggilan telepon. Gavlin lalu menghubungi nomor Andre yang ada di ponsel Chandra.


"Hallo? Andre, ini aku, Chandra sekarang aku tahan !" ujar Gavlin, di teleponnya.


Di ruang kerjanya, Andre tersentak kaget mendengar perkataan Gavlin ditelepon yang mengatakan Chandra ditahan Gavlin.


"Apa apaan kamu? Mengapa kamu menahan Chandra?!" tegas Andre, diteleponnya.


"Serahkan bukti bukti kejahatan Inside padaku, aku tunggu dalam waktu satu jam, aku akan memberitahukan alamat pertemuan kita nanti!!" tegas Gavlin, dari seberang telepon.


"Aku gak bisa menyerahkan bukti itu padamu, karena , Samuel, Jaksa Penuntut yang menyimpannya!" ujar Andre, ditelepon.


"Aku gak mau tau, cepat kamu bawa dan berikan padaku! Jika tidak, aku akan menyakiti Chandra!!" tegas Gavlin, mengancam Andre dari seberang telepon.


"Jangan bunuh Chandra!! Dia juga musuh Inside Gavlin!!" tegas Andre, dengan wajah tegang dan serius di teleponnya.


Tak ada jawaban dari Gavlin, terdengar nada telepon terputus Andre terlihat kesal.

__ADS_1


"Siaaal !! Apa apaan si Gavlin !! Mengapa dia menculik dan menyandera Chandra!!" ujar Andre, geram dan marah.


Andre lantas menyimpan ponsel ke dalam kantong celananya, lalu dia bergegas keluar dari dalam ruang kerjanya dengan wajah geram , tegang dan marah.


__ADS_2