VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pakai Otakmu, jangan Pakai Emosi


__ADS_3

Tampak Wijaya tertawa terbahak bahak di meja kerjanya, dia baru saja menonton berita di televisi, yang mengabarkan tentang meledaknya hotel Hera milik Bramantio yang megah dan mewah itu.


Wajah Wijaya tampak senang, dia tertawa puas, mengetahui kehancuran hotel Bramantio.


"Mampus kamu Bram !! Itu balasannya, karena kamu udah menghancurkan bangunan bangunanku !!" Ujar Wijaya dengan tertawa terbahak bahak.


"Aku puas, aku senang, aku bahagia!! Ada yang membalaskan sakit hatiku padamu Bram!!" Ujar Wijaya terus terbahak bahak tertawa.


"Sekarang, gak ada lagi yang bisa kamu banggakan Bram!! Simbol kejayaan dan kekuasaanmu yang berdiri megah udah hancur dan musnah !! Hanya menyisakan puing puing!!" Ujarnya masih tertawa kesenangan.


"Aku jadi pengen tau, gimana mukamu saat ini, Bram!! Pasti kamu gak akan sombong lagi kan?! Karena, gak ada yang bisa kamu banggakan lagi!!" Ujar Wijaya tertawa dengan gembiranya.


"Gak perlu aku ternyata yang membalas perbuatanmu, Bram!! Aku cukup diam menyaksikan ! Dan ada orang yang akan membalaskan sakit hatiku!!" Ujar Wijaya geram.


"Itu bayaran, atas semua kejahatan yang kamu lakukan padaku!! Biarpun, bukan aku pelakunya ! Tapi aku senang, hotel kebanggaanmu, yang baru saja di resmikan, udah hancur berkeping keping!!" Tegas Wijaya.


"Aku tunggu kamu, Bram ! Aku tunggu kamu datang mengemis uang padaku!! Aku tau, kamu akan butuh banyak uang, untuk membangun kembali hotelmu itu!!" Ujar Wijaya geram.


"Dan, jika kamu benar benar datang, mengemis padaku!! Aku akan buat, kamu menjadi anjingku!!" Bentak Wijaya dengan geram dan marah.


Wijaya benar benar tampak puas dengan kehancuran hotel Bramantio itu. Walaupun dia terlihat geram dan marah pada Bramantio yang menghancurkan bangunan miliknya. Tapi dia juga senang, sebab, hotel Bramantio pun hancur.


---


Gatot menemui Bramantio di dalam ruang kerja Bramantio, ada Ronald yang sedang duduk di sofa tamu.


Gatot berdiri di hadapan Bramantio yang juga berdiri di depan meja kerjanya.


"Kalo anda gak bisa bekerjasama, sampai kapanpun kasus pemboman hotel anda gak akan terungkap!!" Tegas Gatot kesal.


"Sekali lagi saya tanya pada anda, siapa yang membuat patung lilin raksasa Dewi Hera yang ada di hotel anda?!" Tanya Gatot dengan tegas.


Bramantio diam, dia melirik Ronald yang hanya tersenyum sinis melirik Gatot. Ronald tak suka pada Gatot yang seorang Polisi, Ronald sangat membenci Polisi.


Bramantio tampak ragu untuk memberitahu pada Gatot, Gatot tampak serius, dia menatap tajam wajah Bramantio.


"Kalo anda diam, anda bisa di tuduh menghalangi tugas polisi dalam mencari bukti!!" Tegas Gatot.


Bramantio menatap geram wajah Gatot yang tampak serius dan kesal itu,. Bramantio lalu menarik nafasnya dalam dalam.


"Yanto. Seniman pembuat patung lilin yang ada di kota ini." Jelas Bramantio.


"Yanto?!" Ujar Gatot menegaskan lagi.


"Ya. Seniman itu aku bayar mahal untuk membuat patung lilin raksasa Dewi Hera, Aku yang memintanya, membuat patung itu tinggi!" Tegas Bramantio.


"Oh, begitu." Angguk Bramantio mengerti dan paham.


"Seperti yang saya duga ! Meledaknya apartemen dimana Yanto tinggal ada hubungannya dengan ledakan hotel anda!" Tegas Gatot.


Bramantio terdiam, dia tak mau membantah Gatot, Gatot menoleh pada Ronald yang tampak duduk cuek di sofa. Gatot mendekati Ronald.


"Aku tau, siapa otak pemboman apartemen tempat tinggal Yanto, Pelaku sengaja meledakkan Penthouse Yanto untuk membunuhnya!" Tegas Gatot.


Gatot selama bicara menatap tajam wajah Ronald yang duduk diam di sofanya.


Tatapan mata Ronald juga tampak tajam, dia menahan geram dan marahnya pada Gatot.


"Dan, saat saya mendapatkan bukti kuat, saya akan menyeret dalang pengeboman apartemen itu! Jadi, siapapun orangnya, berhati hatilah!" Tegas Gatot.


Gatot sengaja memberi peringatan didepan Ronald, karena dia tahu, Ronald otak pengebomannya. Namun, karena belum punya bukti cukup, Gatot tak bisa menangkapnya.

__ADS_1


Gatot sengaja mengatakan kalimat yang sedikit mengancam, dia ingin memancing reaksi Ronald. Dia ingin tahu, bagaimana sikap Ronald saat dia menjelaskan kasus peledakan apartemen tempat tinggal Yanto.


Gatot meninggalkan Ronald yang masih duduk di sofa menahan geram dan marahnya. Ronald mengambil pisau lipat dari kantong celananya.


Gatot mendekati Bramantio yang masih berdiri diam di depan meja kerjanya.


"Terima kasih informasi dan kerjasamanya, saya permisi!" Ujar Gatot tersenyum sinis.


Saat Gatot berjalan ke arah pintu keluar, tiba tiba saja, pisau lipat melesat dan menancap di pintu. Pisau itu menggores sedikit telinga Gatot.


Gatot menghentikan langkahnya, dia memegang telinganya yang terluka dan berdarah, Gatot tampak geram dan marah.


Saat dia membalikkan badannya, saat itu juga Ronald sudah mendekatinya. Ronald berdiri tepat dihadapan Gatot.


"Jangan coba coba mengancamku, Bedebah!! Kalo kamu menghalangiku, kamu akan mati ditanganku!!" Bentak Ronald marah.


Ronald tak perduli kalau Gatot seorang Polisi, dia marah dan tersinggung pada Gatot, Ronald pun mengancam balik Gatot.


"Silahkan, kapan saja, aku akan meladenimu!!" Ujar Gatot cuek dan tersenyum sinis.


Ronald mencabut pisau lipat yang menancap di pintu masuk ruang kerja Bramantio.


"Hati hati aja, jangan sampe lengah, jangan biarkan pisauku ini menguliti tubuhmu nanti!" Bentak Ronald mengancam.


Ronald mengarahkan pisau lipatnya yang sangat tajam ke wajah Gatot, melihat perlakuan Ronald yang terlalu berani pada Gatot, Bramantio pun menjadi marah.


"Hentikan, Nald!!" Bentak Bramantio.


"Diaam!! Jangan bentak aku!!! Teriak Ronald.


Ronald yang psikopat langsung marah mendengar bentakan Bramantio, dia tak perduli dengan perkataan Bramantio.


Dengan marahnya, Bramantio mengusir Ronald, Ronald terdiam, dia tampak geram dan menahan amarahnya.


Ronald menatap wajah Gatot yang tersenyum sinis padanya. Dengan cuek, Gatot pun berbalik, lalu membuka pintu dan keluar dari ruang kerja Bramantio.


"Apa apaan kamu?!! Gatot itu Komandan Polisi !! Kamu gak mikir!! Dengan mengancamnya begitu, itu artinya kamu secara tak sengaja udah mengaku kalo kamu pelaku pemboman apartemen Yanto!!" Bentak Bramantio marah.


"Karena aku kesal !! Gatot tau, kalo aku pelaku pemboman apartemen, dia sengaja mengancamku tadi!! Dan aku gak bisa diam aja dengar ancamannya!!" Hardik Ronald.


"Sebaiknya, pake otakmu, jangan hanya pake emosimu aja!!" Bentak Bramantio marah.


Ronald semakin kesal dan marah mendengar perkataan Bramantio itu. Dengan cepat, Ronald pun membuka pintu, lalu dia segera keluar dari ruang kerja Bramantio.


Bramantio melemparkan telepon yang ada di atas meja kerjanya, Bramantio mengamuk.


"Dasar tolol !! Bodoooh...!! Duuungguuu!! Di ingatkan malah gak terima !! Idiiiiooottt !!" Teriak Bramantio penuh amarah.


Bramantio benar benar sangat marah, dia yang marah karena hotelnya hancur, di buat semakin marah oleh Ronald yang tak bisa menjaga sikapnya tadi di hadapan Gatot, yang seorang komandan polisi.


Bramantio marah dan menegur Ronald, sebab dia tak ingin, Gatot benar benar curiga pada dia dan Ronald sebagai otak dan dalang pengeboman apartemen tempat tinggal Yanto.


Dan jika Gatot mengincar dirinya, maka, ruang gerak dia semakin terbatas, dan dia serta Ronald tak akan bisa memburu Yanto dan Gavlin, untuk membuat perhitungan atas perbuatan mereka berdua.


Bramantio benar benar marah, pikirannya kacau, karena, kekayaannya musnah dengan begitu cepatnya.


---


Malam itu, di ruang keluarga, tampak Masayu, istri Bramantio sedang serius bicara di telepon.


"Masa kamu belum dengar beritanya? Di tv kan ada?!" Ujar Maya berbisik di teleponnya.

__ADS_1


"Hotel milik Bramantio hancur, ada yang sengaja meledakkan hotel itu!" Ujar Masayu dengan suara pelan di telepon.


"Aku gak tau. Terus, bagaimana Bram?" Tanya Jafar, dari seberang telepon.


Ya, Yang sedang di telepon Maya saat ini adalah Jafar. Adik Bramantio, dan kekasih gelap, selingkuhannya Masayu selama ini.


"Dia uring uringan, setiap saat marah dan ngamuk kesetanan, aku jadi takut mendekatinya!!" Ujar Masayu berbisik di teleponnya.


"Apa Bram tau, pelaku yang mengebom hotelnya?!" Tanya Jafar dari seberang telepon.


"Sepertinya Bram belum tau, tapi entahlah. Aku kan belum bicara dengannya, aku masih takut, soalnya dia marah marah terus." Ujar Masayu pelan diteleponnya.


Masayu melihat Bramantio turun dari tangga lantai atas rumahnya. Masayu pun tampak khawatir.


"Udah dulu, ya, Bram datang." Ujar Masayu berbisik di telepon.


Masayu lantas dengan cepat mematikan teleponnya, saat itu Bramantio sudah berada di dekatnya. Bramantio berdiri di samping Masayu.


"Kamu habis nelpon siapa?!" Tanya Bramantio dengan tatapan mata penuh curiga pada Masayu.


"Jafar." Jawab Masayu jujur.


Masayu sengaja bicara jujur, agar Bramantio tak menaruh curiga padanya. Masayu melihat, ada kemarahan yang begitu besar dalam diri Bramantio. Dia pun takut.


"Mau apa Jafar telpon kamu?" Tanya Bramantio menyelidiki.


"Dia dengar kabar, terus nanya ke aku, mau mastikan benar tidaknya kabar itu." Ujar Masayu mencoba menjelaskan.


"Soal hotelku?!" Tanya Bramantio dengan sikap dingin dan tatapan mata yang tajam.


"Iya. Jafar prihatin katanya, dia kaget, mendengar, hotelmu hancur di bom orang!" tegas Masayu menjelaskan.


"Bilang Jafar, dia gak usah ikut campur urusanku, tetap aja dia bersembunyi di tempatnya yang sekarang!" Ujar Bramantio.


"Tunggu aja, sampai aku menghubungi dia, dan memberi tugas padanya!" Lanjut Bramantio menjelaskan.


"Ya, nanti aku sampaikan, kalo Jafar telpon aku lagi." Ujar Masayu tersenyum.


Masayu berusaha tersenyum ramah, dia berpura pura bersikap baik dihadapan Bramantio, padahal, dia sebenarnya sudah muak dengan Bramantio.


Sejak kematian Mike, Masayu sudah tidak lagi menaruh rasa hormat pada Bramantio sebagai suaminya, bahkan Masayu semakin berani berselingkuh dengan Jafar.


"Apa kamu udah tau, siapa pelakunya, Pah?" Tanya Masayu.


Dia memberanikan diri bertanya, sebab, dilihatnya, saat ini, Bramantio sedikit tenang, dan tidak dalam kondisi marah besar.


"Ya, baru dugaan, belum ada bukti kuat." ujar Bramantio datar.


"Siapa?" Tanya Masayu heran dan wajah yang penasaran ingin tahu.


"Yanto, seniman yang membuat patung lilin Dewi Hera!" Tegas Bramantio.


"Seniman itu?!! Apa motifnya meledakkan hotel kamu itu Pah?!" Ujar Masayu heran.


"Entahlah, sepertinya dia sengaja menanam bom di dalam patung lilin raksasa itu!" Ujar Bramantio geram.


"Apa, dia ada dendam sama kamu?" Tanya Masayu ingin tahu.


"Ya, pastinya. Dengan menghancurkan hotelku, Yanto itu pasti punya dendam padaku!!" Tegas Bramantio dengan geram.


Masayu terdiam dan berfikir, dia melirik wajah Bramantio, tampak Bramantio berdiri diam. Wajahnya memerah menahan amarah dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2