
Flash Back berakhir - Kembali ke masa sekarang.
Wicaksono tersenyum senang menatap wajah Chandra yang duduk dilantai dalam sel tahanan, di hadapannya.
"Begitulah, awal perkenalan Bapak dengan Gavlin, jika gak ada Gavlin, pastilah Bapak sudah berhasil di bunuh anak buah Binsar saat itu." ujar Wicaksono, tersenyum mengingat kejadian di masa lalunya.
"Terus, selanjutnya, Apa Bapak berpisah dengan Gavlin?" tanya Chandra, menatap serius wajah Wicaksono.
Chandra ingin tahu lebih banyak lagi tentang kedekatan hubungan antara Wicaksono dan Gavlin, karena itu, dia terus melontarkan pertanyaan, agar Wicaksono mau menceritakannya.
"Setelah Gavlin mengantar Bapak ke markas, Bapak meminta Gavlin untuk tinggal sementara bersama Bapak di markas, sekalian, Bapak berjanji padanya, akan membantunya mencari saudara tirinya." ungkap Wicaksono.
"Begitulah, maka sejak itu, Gavlin tinggal bersama Bapak, lalu, Gavlin cerita, tentang maksud dan tujuannya datang ke negara ini." ujar Wicaksono.
"Dari Gavlin juga Bapak tau, kalo Gavlin punya niat untuk membalas dendam atas kematian orang tuanya yang di fitnah dan di bunuh." lanjut Wicaksono bercerita.
Chandra diam menyimak dan mendengarkan, Gentong dan Pijar yang dari tadi cuek saja, akhirnya mendekat, mereka berdua duduk di samping Wicaksono, dan ikut mendengarkan cerita Wicaksono.
"Saat Gavlin menyebut nama Bramantio dan Jafar serta Guntur, Bapak sempat kaget, karena Bapak kenal dengan orang orang itu, para penjahat itu anak buah Binsar. Orang orang kepercayaan Binsar." tegas Wicaksono.
"Singkatnya, Bapak mengatakan pada Gavlin, akan membantunya untuk membalaskan dendamnya, dan Bapak bertanya, apa yang di butuhkan Gavlin untuk menjalankan aksi balas dendamnya itu." ungkap Wicaksono.
"Gavlin lantas mengatakan semua hal yang dia butuhkan, termasuk senjata senjata yang banyak, untuk mendukung aksi balas dendamnya." lanjut Wicaksono.
"Bapak pun menyanggupinya, karena Bapak di segani di seluruh gank Mafia yang ada di negara ini maupun di luar negeri, mudah saja mendapatkan senjata buat Gavlin, termasuk senjata bom roket, yang Bapak dapatkan dari salah satu teman di lebanon. Dengan uangnya, Gavlin membeli banyak senjata.Bapak baru tau, kalo Gavlin ternyata sangat banyak hartanya." tegas Wicaksono, serius bercerita tentang sosok pribadi Gavlin kepada Chandra yang terus diam menyimak .
"Dengan lengkapnya senjata senjata dari berbagai macam jenis, Gavlin tentu mudah menghabisi Bramantio dan komplotannya." ucap Wicaksono.
"Saat itu Gavlin belum tau siapa Binsar, dan bagaimana sepak terjangnya, serta apa hubungan Binsar dengan kematian Bapaknya." tegas Wicaksono menjelaskan.
"Iya, Pak. Gavlin baru tau keterlibatan Binsar dan dalang dari semua kejahatan setelah bertemu saya dan mendengar langsung dari saya, serta melihat bukti bukti yang saya tunjukkan padanya." ungkap Chandra, menjelaskan pada Wicaksono.
"Ya." Angguk Wicaksono.
"Bapak lanjutkan ceritanya. Singkatnya, Gavlin lalu meminta Bapak untuk mengajarkan ilmu bela diri yang Bapak miliki. Dia tau, kalo Bapak juga menguasai beberapa ilmu bela diri, sama seperti dirinya." ucap Wicaksono.
"Awalnya, Bapak menolak, karena Bapak tau, Gavlin sudah menguasai banyak jenis ilmu bela diri, bukan hanya dari negara ini saja, tapi dari beberapa negara lainnya. Bapak tau itu, dengan melihat gerakannya saat berkelahi melawan anak buah Binsar pas nolong Bapak." ungkap Wicaksono, dengan wajahnya yang serius bercerita.
"Tapi Gavlin memaksa, katanya, dia ingin menjadi murid langsung Bapak. Dia ingin berguru dengan Bapak, gak mau hanya diam tinggal di markas bersama Bapak tanpa melakukan apapun juga." jelas Wicaksono.
"Akhirnya, hati Bapak luluh, dan menuruti permintaan dan keinginan Gavlin, Bapak lantas mengajarkan ilmu bela diri pada Gavlin." lanjut Wicaksono cerita.
"Gavlin berlatih selama satu tahun lebih, dia menguasai beberapa macam jenis ilmu bela diri yang Bapak ajarkan, Gavlin pintar, dia cepat menguasai jurus jurusnya." jelas Wicaksono tersenyum senang.
"Bapak bukan saja mengajarkan ilmu bela diri pada Gavlin, tapi, Bapak mengajarkan ilmu strategi padanya, bagaimana agar dia bisa membuat strategi yang jitu saat berhadapan dengan musuh musuhnya. Singkatnya, Bapak menurunkan semua ilmu yang Bapak punya, karena Bapak percaya sepenuhnya pada Gavlin." tegas Wicaksono, tersenyum bangga pada Gavlin.
"Selain itu, Bapak menjadikan Gavlin anak angkat Bapak, Bapak akan menjadikan Gavlin sebagai pengganti Bapak untuk memimpin gank mafia Bapak nantinya." jelas Wicaksono, dengan serius bercerita.
__ADS_1
"Oh, begitu rupanya." ujar Chandra, mulai paham dengan kedekatan Gavlin dan Wicaksono yang sudah menjadi anak dan Bapak.
"Bapak juga sempat bertemu saudara tiri Gavlin, dulu, Bapak menugaskan anak buah untuk mencari keberadaan saudara tiri Gavlin." jelas Wicaksono.
"Setelah anak buah Bapak menemukan keberadaan dan siapa orangnya, Bapak dan Gavlin langsung menemuinya. " lanjut Wicaksono menjelaskan.
"Gavlin sangat senang sekali, karena akhirnya dia bisa bertemu kembali dengan saudara tirinya, katanya, mereka sama sama di adopsi oleh satu keluarga yang sama dan menjadi kakak adik." jelas Wicaksono.
"Oh, begitu." Angguk Chandra, mengerti dan paham.
"Lantas, siapa saudara tirinya itu, Pak? Dan tinggal serta kerja dimana dia?" tanya Chandra menatap serius wajah Wicaksono yang duduk di depannya.
Chandra bertanya, karena dia ingin tahu juga tentang saudara tiri Gavlin, Chandra baru tahu dari Wicaksono, kalau ternyata Gavlin memiliki saudara tiri.
"Namanya Teguh, dia seorang Polisi." ungkap Wicaksono, menatap dengan serius wajah Chandra.
"Polisi?" Chandra terhenyak kaget mendengar omongan Wicaksono kepada dirinya itu.
"Ya, Teguh lebih dulu pergi dari Belanda ke negara ini, dan melanjutkan sekolah dengan masuk ke akademi kepolisian, lalu berhasil menjadi polisi yang berprestasi." ujar Wicaksono menjelaskan.
"Teguh juga membantu Gavlin dalam menjalankan aksi balas dendamnya, Teguh sebagai polisi dengan diam diam selalu memberikan informasi, tentang apa saja yang dilakukan kepolisian dan memberitahu keberadaan musuh musuh Gavlin." lanjut Wicaksono.
"Karena bantuan Teguh dan Bapak, mudah bagi Gavlin menghabisi musuh musuhnya. Bapak juga mengerahkan anak buah buat menyediakan bensin dan gas beracun, agar Gavlin bisa membantai satu perkampungan dan membunuh warga kampung rawas yang telah membakar rumahnya dulu." ungkap Wicaksono.
"Jadi, Bapak yang menyediakan semua bahan bahan yang diperlukan Gavlin?" ujar Chandra, terkesiap kaget.
"Ya. Bapak membantu Gavlin." tegas Wicaksono serius.
"Gavlin memang sendirian menjalankan aksinya, dia sendiri yang menyiram bensin kerumah rumah warga dan memberikan asap gas beracun ke rumah rumah, Bapak hanya menyediakan bahan bakunya saja." tegas Wicaksono.
"Oh begitu." Chandra mengangguk angguk makin mengerti dan paham dengan apa yang dijelaskan Wicaksono.
"Sepertinya, kasus pembantaian kampung Rawas belum terungkap sampai sekarang siapa pelakunya, Pak." ujar Chandra serius memberitahu Wicaksono.
"Ya, karena Gavlin sama sekali gak meninggalkan jejaknya di sekitar lokasi perkampungan itu." ungkap Wicaksono, tersenyum menatap wajah Chandra yang tampak serius mendengar perkataannya.
Sementara itu, Gentong dan Pijar hanya diam dan terbengong bengong saja mendengarkan cerita Wicaksono.
"Ternyata, ada Bapak selama ini di belakang Gavlin." ujar Chandra.
"Ya." Angguk Wicaksono tersenyum menatap wajah serius Chandra.
"Bapak hanya satu kali saja turun langsung ikut membantu Gavlin membalas dendam." ungkap Wicaksono, memberi tahu Chandra.
"Oh, ya?" Chandra terkesiap kaget, menatap serius wajah Wicaksono.
"Ya. Dulu, Gavlin berniat mau memburu dan membantai Guntur, dia menjadikan Guntur sebagai target pertamanya membalas dendam." jelas Wicaksono serius.
__ADS_1
"Alasan Gavlin, karena Guntur yang menyeret Bapaknya dan memberitahu kepada Polisi dengan tuduhan palsu, bahwa Bapak Gavlin pemerkosa dan pembunuh wanita pemandu lagu di tempat bar dan karaoke." lanjut Wicaksono menjelaskan.
"Ya, saya tau tentang hal itu, Pak. Almarhum Bapak saya di bunuh juga karena mengetahui tentang pembunuhan Bapak Gavlin yang di jebak." jelas Chandra.
"Ya, Bapak sudah dengar dari Gavlin tentang orang tuamu. Dia cerita semuanya, saat bertemu Bapak di rumah tahanan ini dan cerita pertemuan awal kalian berdua." ungkap Wicaksono.
Chandra diam mengangguk angguk mendengarkan penjelasan Wicaksono tersebut. Dia tampak senang, karena Gavlin juga cerita tentang dirinya kepada Wicaksono.
"Bapak bilang sama Gavlin, kalo membunuh Guntur itu sulit, karena dia selalu ada pengawalnya, kemana pun dia pergi dan berada, pengawal pengawalnya tetap menjaga dan melindunginya." ujar Wicaksono.
"Bapak lalu menawarkan diri untuk membantu Gavlin, dengan cara menjebak Guntur. Karena Guntur tau siapa Bapak, pastinya dia akan mudah di perdaya dan masuk perangkap Bapak, setelah itu, Gavlin mudah menghabisinya." jelas Wicaksono bercerita.
"Dan Gavlin setuju dengan apa yang Bapak sampaikan kepadanya, akhirnya, kami pun menyusun rencana, mulai membuat strategi, bagaimana menjebak Guntur nantinya, agar dia masuk dalam perangkap jebakan yang mereka buat nantinya." lanjut Wicaksono menjelaskan pada Chandra.
"Hampir satu bulan lebih Bapak dan Gavlin merencanakannya, agar aksi balas dendam Gavlin berjalan lancar, dan Guntur bisa di habisi Gavlin." tegas Wicaksono.
"Setelah rencana dan strategi kami matang, kami pun lantas mulai menjalankan aksi balas dendam." ungkap Wicaksono, dengan wajahnya yang serius , cerita pada Chandra.
Chandra mendengarkan semua penjelasan Wicaksono dengan wajah yang serius, sesekali dia mengangguk anggukkan kepalanya, menandakan bahwa dia mengerti dan paham dengan semua penjelasan yang telah disampaikan Wicaksono kepadanya.
"Aksi pertama kami memburu Guntur gagal, kami lalu mencoba rencana kedua yang telah Bapak siapkan buat jaga jaga, jika yang pertama gak berhasil." ungkap Wicaksono, menjelaskan.
"Apa rencana yang kedua Bapak dan Gavlin berhasil? Atau ada rencana ke tiga sebelum berhasil membunuh Guntur?!" ujar Chandra, menatap serius wajah Wicaksono.
Chandra ingin tahu, dia penasaran dengan apa yang di ceritakan oleh Wicaksono.
Gentong dan Pijar duduk diam di lantai, wajah mereka tampak serius, mereka terlihat serius mendengar cerita Wicaksono tersebut.
" Seru ceritanya." ujar Pijar nyengir.
"Kamu kira film perang seru!!" ujar Gentong, sambil menggetok kepala Pijar yang nyengir.
"Kalian diam." ujar Wicaksono pada Gentong dan Pijar.
Gentong dan Pijar langsung mengangguk diam dan menutup rapat rapat mulut mereka, mereka berdua takut di tegur Wicaksono, dan tak berani melawan Wicaksono.
"Rencana yang kedua berhasil kami jalani, Guntur masuk dalam jebakan dan perangkap Bapak, dia mau bertemu Bapak." ungkap Wicaksono serius.
Wicaksono melanjutkan ceritanya yang sempat terhenti karena Gentong dan Pijar sempat berisik dan mengganggunya.
"Oh, terus , Pak?" ujar Chandra , menatap serius wajah Wicaksono.
"Singkatnya, Gavlin pun telah berhasil membunuh Guntur, lalu, dia mau membawa mayat Guntur, katanya, akan di bawanya ke hotel Bramantio." ujar Wicaksono.
"Gavlin tau, kalo Bramantio akan meresmikan hotelnya, karena dulu, Gavlin berhasil menyamar dan kerja jadi supir pribadi Bramantio." ungkap Wicaksono.
"Oh, begitu." ujar Chandra, baru tau, kalau Gavlin sempat jadi supir pribadi Bramantio dulunya.
__ADS_1
"Gavlin dulu menyamar sebagai supir pribadi, dan satunya lagi, dia merubah penampilannya menjadi seorang seniman pembuat patung lilin bernama Yanto, dan dia sangat terkenal sebagai pembuat patung lilin." ujar Wicaksono, tersenyum senang.
Chandra mengangguk angguk semakin mengerti dan memahami tentang sosok Gavlin, setelah dia mendengar cerita Wicaksono tersebut.