
Gavlin kembali ke gudang miliknya, yang biasa dia gunakan membuat patung patung lilin. Di dalam ruangan, tepat ditengah tengah ruangan, terdapat sebuah benda yang seperti peti mati, namun terbuat dari batu marmer, bentuknya lebih mirip dengan Bathtub (bak mandi).
Di dalam bak mandi tersebut, tampaķ sudah tergenang cairan asam klorida yang penuh dan banyak. Gavlin menyiapkan semua itu, untuk melaksanakan rencananya.
Wajah Gavlin terlihat tegang, sikapnya dingin, dia lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan bak mandi berisi asam klorida.
Gavlin keluar dari dalam gudangnya, dia berjalan mendekati mobilnya, lalu, dia segera menggotong mayat Jafar, yang tergeletak diatas tanah, di belakang mobil pick upnya.
Gavlin lantas kembali masuk ke dalam gudang dengan menggotong mayat Jafar. Wajahnya masih tegang dan sikapnya tetap dingin.
Gavlin masuk ke dalam gudangnya, dia berjalan mendekati bak mandi, membawa mayat Jafar. Lalu dia berdiri di samping bak mandi, dia diam sesaat melihat ke arah bak mandi, dimana asam klorida ada didalamnya dan mengepul mengeluarkan asap.
Gavlin lantas menurunkan mayat Jafar, lalu, dia menyandarkan tubuh Jafar di pinggir bak mandi, kemudian, dengan kakinya, dia menekan tubuh Jafar, hingga terbalik dan masuk ke dalam bak mandi.
Seluruh tubuh Jafar tenggelam dalam asam klorida di dalam bak mandi, seketika, seluruh kulit Jafar melepuh terbakar, dari dalam bak mandi mengeluarkan asap.
Seketika, asam klorida membakar tubuh Jafar, dan asam klorida dengan cepat merusak seluruh jaringan jaringan tubuh Jafar.
Gavlin berdiri tenang dan bersikap dingin melihat tubuh Jafar yang sudah menjadi mayat perlahan lahan kulitnya melepuh dan meleleh terkena asam klorida. Hingga kemudian, terlihat tulang tulang dari bagian bagian tubuh Jafar.
Gavlin menyiksa Jafar, walau pun dia sudah mati, Gavlin ingin melenyapkan Jafar, agar dia tak bisa dikenali siapapun juga.
Dengan rusaknya seluruh jaringan jaringan tubuh Jafar dan meleleh terbakar asam klorida, sangat sulit mengetahui, jika mayat itu Jafar.
Setelah seluruh tubuh Jafar meleleh dan terbakar asam klorida, Gavlin pun lantas tersenyum sinis. Lalu, dia berbalik badan, dan pergi keluar dari dalam gudangnya.
---
Sarono bergegas keluar dari dalam rumahnya, dia menghampiri Indri yang sedang menyapu halaman rumah.
"Bapak belanja dulu ya In." ujar Sarono.
"Pake apa perginya?" tanya Indri heran.
"Pake motormu, nih, kuncinya udah Bapak ambil dikamarmu." ujar Sarono, tersenyum sambil menunjuk kunci motor Indri.
"Oh, ya udah. Hati hati di jalan, Pak." ujar Indri.
"Ya." jawab Sarono.
Lantas, Sarono segera naik ke atas motor Indri yang parkir di pinggir halaman rumah, lalu, Sarono segera menjalankan motor, dan dia pun pergi meninggalkan Indri sendirian dirumahnya.
Indri lantas melanjutkan menyapu halaman rumahnya, sambil bersenandung kecil, Indri bernyanyi sambil menyapu halaman, menghibur dirinya yang merasa sepi dan sendiri dirumahnya saat ini.
Sementara itu Gavlin tampak berdiri di depan kandang anjing anjing buas, di dalam kandang, tampak anjing anjing buas itu sedang melahap tulang belulang, dan diantara tulang tulang yang berserakan dan dimakan anjing anjing buas itu, terlihat tengkorak kepala Jafar, tergeletak di tanah.
Seekor anjing mendekati tengkorak kepala Jafar, lalu, anjing itu menggigitnya, tengkorak kepala Jafar pun dimakan anjing liar.
Gavlin benar benar melenyapkan tubuh Jafar, bukan saja dia menghancurkan kulit dan seluruh daging tubuh Jafar, tulang belulangnya pun dilenyapkannya, dengan diberikannya pada anjing anjing buas yang sengaja dia pelihara di belakang gudang besar dan luas miliknya. Sebelumnya, Gavlin membersihkan tulang tulang itu agar tak ada bau asam klorida lagi tertinggal, dan anjing bisa memakan tulangnya.
Lalu, Gavlin pun berbalik badan dan pergi, dia meninggalkan anjing anjing buas yang memakani tulang belulang Jafar dengan lahap dan rakusnya di dalam kandang.
Gavlin berjalan dengan tersenyum sinis, wajahnya tampak sudah tak tegang lagi, dia kini lega, karena Jafar sudah dia lenyapkan dari muka bumi ini.
Gavlin lantas masuk ke dalam mobil pick up, mobil itu tampak sudah bersih karena Gavlin mencucinya, agar dalam mobil tidak meninggalkan bau mayat dan bekas bekas darah.
Gavlin lantas menjalankan mobilnya, lalu, dia segera pergi meninggalkan gudangnya, dia menyetir mobilnya, di jok depan, disampingnya, tergeletak dua tas besar dan panjang berisi senjata senjatanya, sementara di belakang bagasi mobil pick up, berdiri motor sport milik Gavlin.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya, Gavlin berniat untuk kembali pulang kerumah Sarono, sebab, dia tahu, dia sudah beberapa hari tidak pulang, dan pastinya, Sarono tak bisa berjualan sayuran, sebab, mobilnya dia pakai.
---
Sarono berjalan kaki menyusuri ruko ruko, motornya di parkirnya di tempat parkir, Sarono mencari cari sesuatu barang yang dibutuhkannya.
Tiba tiba, kedua mata Sarono melihat sebuah poster pengumuman di dinding sebuah ruko. Sarono mengenali wajah di photo poster yang terpampang itu.
__ADS_1
Sarono mendekati poster yang menempel di dinding ruko, diamatinya photo tersebut.
"Gavlin? dia buronan?" gumam Bathin Sarono kaget.
Dia baru menyadari, jika ternyata, Gavlin, orang yang sudah dia selamatkan hidupnya adalah seorang buronan kepolisian.
Sarono terdiam sesaat, dia tampak berfikir, lalu, dia menatap ke poster yang menempel di dinding , lalu, Sarono mengambil lembaran poster tersebut.
Sarono melirik ke kanan dan kekiri sambil melipat lembaran poster, dia merasa aman, karena tak ada orang lain yang melihatnya mengambil poster tersebut.
Dengan cepat, Sarono lantas memasukkan lembaran poster yang sudah di lipatnya ke dalam kantong celananya. Lalu, dia bergegas melanjutkan perjalanannya.
Sarono berusaha untuk bersikap tenang, dia kembali kepada tujuannya semula, berbelanja untuk kebutuhan dirumahnya.
---
Mobil Pick up yang di kendarai Gavlin masuk kehalaman rumah bilik kayu Sarono, Gavlin lantas keluar dari dalam mobil.
Gavlin lalu menurunkan motor sportnya dari mobil pick up, motor sport Gavlin lantas di parkirkannya di pinggir halaman rumah, di dekat mobil pick up parkir.
Gavlin lalu menurunkan patung manekin, dia menepati niatnya, dan membeli patung manekin untuk Indri.
Gavlin berjalan menuju teras rumah sambil menggotong patung manekin, sementara tas besar berisi senjata senjatanya, masih tertinggal di dalam mobil.
Saat Gavlin masuk ke teras rumah, Indri keluar dari dalam rumahnya, Indri kaget, sekaligus bercampur senang, melihat kedatangan Gavlin kembali kerumahnya.
"Gavliiin?!" ujar Indri, dengan wajah senangnya.
Indri menghampiri Gavlin, Gavlin lantas menurunkan patung manekin dan di berdirikannya di teras rumah.
"Untuk apa patung ini, Vlin?" tanya Indri heran.
"Buat kamu, ada satu lagi di dalam mobil." ujar Gavlin.
"Buatku?" ujar Indri, dengan wajah seakan tak percaya.
"Jadi aku kepikiran, dan berniat, untuk membelikan patung manekin, agar kamu bisa memajang hasil jahitan dan rancangan pakaianmu pada patung manekin ini." lanjut Gavlin.
"Waah, terima kasih, Vlin. Memang udah lama aku mau beli, cuma harganya mahal mahal, gak ada duit aku buat belinya." ujar Indri, tersenyum kecut, dan malu.
"Sekarang kan kamu udah punya, dan kamu nanti bisa memajang pakaian pengantin yang sedang kamu buat itu di manekin ini." jelas Gavlin.
"Iya, Vlin. Makasih ya." ujar Indri tersenyum senang.
"Itu motor siapa, Vlin?" tanya Indri.
Dia heran, karena ada motor sport di halaman rumahnya. Gavlin tersenyum kecil.
"Motorku. Aku sengaja membawanya kesini, biar aku gak minjam motor kamu, atau mobil Bapakmu lagi." jelas Gavlin.
"Kamu mau langsung pergi lagi?" tanya Indri.
Ada rasa tak rela dihati Indri jika Gavlin langsung pergi, dia ingin, Gavlin tetap tinggal dirumahnya dan tidak pergi.
"Nanti In, bukan sekarang. Sekarang, aku masih di sini." ujar Gavlin.
"Oh." ujar Indri.
Diam diam, dia tersenyum simpul, Indri senang, karena Gavlin tidak langsung pergi, dan mau tinggal dirumahnya.
"Bapakmu mana?" tanya Gavlin.
"Lagi kepasar, belanja makanan mungkin." ujar Indri.
"Oh." Angguk Gavlin.
__ADS_1
Gavlin lantas mengangkat patung manekin dan membawanya ke dalam rumah, Indri mengikuti Gavlin.
Di dalam rumah, Gavlin meletakkan patung manekin di samping mesin jahit Indri dalam ruangan tengah, ruangan itu biasa dipakai Indri untuk menjahit.
Gavlin lantas bergegas keluar rumah, sesaat kemudian, dia sudah masuk kembali dengan membawa satu patung manekin.
Gavlin meletakkan patung manekin satunya disamping patung manekin wanita, yang lebih dulu diletakkannya.
"Nah, sekarang, kamu punya sepasang patung manekin." ujar Gavlin, tersenyum senang.
"Iya, Vlin." ujar Indri, dengan wajahnya yang senang.
Sarono baru saja pulang dari pasar, dia turun dari motor, Sarono melihat, mobil pick upnya sudah ada dihalaman rumahnya, dan dia tahu, Gavlin sudah pulang.
Sarono melihat motor sport milik Gavlin, dia terlihat kagum dengan motor Gavlin.
"Wah, keren, pasti mahal harganya ni motor." ujar Sarono.
Lantas, dia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Gavlin dan Indri yang ada dalam ruang tengah melihat kedatangan Sarono yang masuk ke dalam rumahnya.
Gavlin segera menghampiri Sarono, Indri mengikutinya, Lantas, Sarono menghentikan langkahnya, dia berhenti didepan Gavlin.
"Apa kabar, Pak?" ujar Gavlin , tersenyum senang
"Kabar Bapak baik, nak Gavlin." ujar Sarono tersenyum senang.
"Maaf, saya berhari hari membawa mobil Bapak, jadi Bapak gak bisa jualan." ujar Gavlin.
"Gak apa, hitung hitung Bapak istirahat." ujar Sarono, tersenyum ramah.
"Vlin, Bapak mau bicara denganmu, boleh?" tanya Sarono.
"Boleh, Pak. Mengapa nggak?" ujar Gavlin.
"Kalo gitu, mari kita bicara diruang tamu." ujar Sarono.
Lantas, Sarono pun berjalan menuju keruang tamu rumahnya, Gavlin mengikutinya, Indri diam sesaat, dia berfikir, Indri merasa aneh dengan sikap Bapaknya, yang pulang pulang tampak serius mengajak Gavlin bicara. Dalam hatinya Indri bertanya tanya, ada apa gerangan dengan Bapaknya.
Indri lantas bergegas jalan keruang tamu, dia ingin tahu, apa yang akan di bicarakan bapaknya dengan Gavlin.
Sarono berdiri di ruang tamu, Gavlin juga berdiri disampingnya, tak berapa lama datang Indri, dia berdiri disamping Bapaknya.
"Silahkan duduk nak Gavlin." ujar Sarono, tersenyum ramah.
"Terima kasih Pak." ujar Gavlin.
Gavlin lantas duduk di sofa, dia menangkap, ada yang aneh dari sikap Sarono, Gavlin juga melihat, kalau di raut wajah Sarono sedang menyimpan kerisauan.
Gavlin tahu, ada sesuatu hal yang disimpan Sarono, namun, Gavlin berusaha tetap bersikap tenang da pura pura tidak tahu.
Sarono lantas duduk di sofa, di hadapan Gavlin, lalu, Indri pun ikut duduk, dia duduk di samping Bapaknya.
"Ada yang mau Bapak tanyakan padamu, dan, Bapak berharap, kamu jujur mengatakannya pada Bapak." ujar Sarono, dengan wajahnya yang serius.
"Baik, Pak. Silahkan bertanya pada saya, Saya akan menjawab semua pertanyaan Bapak dengan jujur." ujar Gavlin, dengan sikap tenangnya.
Indri diam, dia memperhatikan wajah Gavlin yang tampak tenang dan santai, lalu, dia melihat wajah Bapaknya, wajah Bapaknya terlihat tegang.
Sarono lalu mengeluarkan lembaran poster dari dalam kantong celananya, Indri heran melihat lembaran poster ditangan Bapaknya, dia penasaran, poster apa itu, sementara Gavlin, tetap bersikap tenang dalam duduknya.
Lembaran poster terbuka, lalu, Sarono meletakkan poster dan membentangkannya di atas meja, dia kemudian menatap wajah Gavlin.
"Apa benar, ini kamu nak Gavlin?" tanya Sarono, dengan wajah tegang dan serius.
Indri kaget melihat wajah Gavlin terpajang di lembaran poster, dia membaca tulisan di bawah photo, Indri semakin terhenyak kaget, mengetahui Gavlin seorang buronan.
__ADS_1
Dengan wajah tak percaya, Indri menatap lekat wajah Gavlin, Gavlin masih diam dalam duduknya, dia tampak tersenyum tenang, Gavlin tahu, Sarono menemukan photo dia sebagai buronan.
Gavlin terus tersenyum memandangi wajah Sarono yang menatapnya tajam, dengan wajah tegang menunggu jawaban dari Gavlin. Indri terdiam, dia tak mampu berkata kata mengetahui Gavlin seorang buronan kepolisian.