
Siang ini, pertemuan antara Presiden Adiwinata dan Andre serta Samuel akan berlangsung.
Terlihat Andre datang bersama Samuel, mereka berjalan menyusuri koridor gedung kantor sekretariat kepresidenan dengan di kawal oleh dua petugas pengaman presiden yang berpakaian lengkap dan memakai senjata.
Andre dan Samuel diperbolehkan lanjut masuk untuk menemui presiden setelah menjalankan sejumlah pemeriksaan ketat yang dilakukan petugas pengamanan presiden di depan pintu masuk menuju kantor presiden.
Binsar yang baru saja keluar dari ruang kantornya terperanjat kaget saat dia berpapasan dengan Andre dan Samuel yang berjalan menyusuri koridor menuju ruang kantor presiden dengan dikawal dua petugas pengamanan presiden.
Binsar berdiri diam didepan pintu masuk ruang kantornya, dia memandangi Andre dan Samuel yang berjalan lalu masuk ke dalam ruang kantor presiden.
Binsar diam sesaat, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, ada rasa curiga pada dirinya melihat kedatangan Andre bersama Samuel menemui Presiden. Binsar lantas bergegas masuk kembali ke dalam ruang kantornya, dia tak jadi pergi.
Di dalam ruang kantor Presiden, terlihat Sang Presiden Adiwinata duduk di sofa tamu sedang menunggu kedatangan Andre dan Samuel.
Saat pintu terbuka dan masuk dua petugas pengamanan presiden membawa Andre dan Samuel, Presiden Adiwinata tersenyum senang.
"Ah, akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga, silahkan duduk." ujar Adiwinata, sang Presiden.
"Terima kasih, Pak. Saya Andre, dan ini Samuel, Jaksa Penuntut." ucap Andre memperkenalkan diri.
"Ya, senang bertemu kalian berdua di sini." ujar Adiwinata.
Lalu, mereka pun saling berjabatan tangan, Samuel juga memperkenalkan dirinya pada bapak Presiden, lalu, keduanya duduk di sofa, yang ada dihadapan Adiwinata.
Kedua petugas pengamanan Presiden yang membawa Andre dan Samuel berdiri di depan pintu ruang kantor, mereka berjaga jaga di situ. Terdengar ketukan di pintu, seorang petugas pengamanan presiden membuka pintu, masuk Chandra kedalam ruangan dan menghampiri Presiden yang sedang duduk di sofa bersama Andre dan juga Samuel.
"Maaf, saya terlambat datang." ujar Chandra, memberi hormat pada Presiden.
"Mengapa kamu datang ke sini?" tanya Presiden Adiwinata heran.
"Maaf, Pak. Saya yang meminta Chandra untuk datang ke sini dan ikut dalam diskusi kita, karena, Chandra memiliki informasi yang banyak tentang Organisasi Inside." jelas Samuel.
"Oh, ya?" ujar Adiwinata kaget.
Adiwinata tak menyangka, jika selama ini, Chandra, yang bekerja di sekretariat kepresidenannya memiliki data dan informasi banyak tentang Inside.
"Jika Bapak ingin mengetahui sepak terjang organisasi Inside, Bapak bisa bertanya langsung dengan Chandra." jelas Samuel.
"Ya, Pak. Karena, kami juga mendapatkan bukti bukti kejahatan anggota anggota Inside dari Chandra, Beliau inilah sumber informasi kami." ujar Andre, menambahkan penjelasan Samuel.
"Oh, begitu. Baiklah. Silahkan duduk." ujar Adiwinata pada Chandra.
Chandra lantas duduk di sofa yang ada disamping Samuel, dia meletakkan map yang berisi catatan anggota anggota Inside yang terlibat tindak korupsi dan kejahatan negara di atas meja tamu.
Di dalam ruang kantornya, terlihat Binsar duduk di kursi kerjanya sedang melihat laptop yang ada diatas meja kerjanya.
Dari laptop itu dia melihat dengan jelas, kegiatan pertemuan di dalam ruang kantor Presiden.
Tanpa diketahui siapapun dan juga Presiden, diam diam, selama ini Binsar sudah memasang beberapa kamera cctv mini di dalam ruang kantor presiden, dia juga menyembunyikan pengeras suara dalam kantor presiden, agar dia bisa mendengar dengan jelas apa saja yang dibicarakan Presiden di dalam ruang kantornya.
Selama ini, Binsar selalu mengawasi pergerakan Presiden secara diam diam.
Wajah Binsar terlihat geram dan menahan amarahnya, saat dia melihat kamera cctv di laptopnya, dimana dia mendengar jelas perkataan Andre dan Samuel, yang mengatakan, bahwa Chandralah yang memberi informasi pada mereka.
"Keparat! Ternyata ada musuh di dekatku, selama ini, diam diam Chandra menyelidiki Inside, dan dia yang membocorkan rahasia Inside pada polisi dan jaksa!" ujar Binsar geram.
__ADS_1
"Bedebah kamu Chandra, kamu menyebabkan anggota Inside banyak ditangkap, akan ku habisi kamu!!" ujar Binsar geram dan marah pada Chandra.
Lalu, dia dengan wajah tegang dan serius memperhatikan layar monitor di laptopnya yang menampilkan gambar Presiden sedang bicara serius dengan Andre dan Samuel serta Chandra.
Dengan jelas Binsar bisa mendengar penjelasan Chandra kepada Presiden, dia sedang membocorkan segala tindak tanduk yang sudah dilakukan organisasi Inside, dan Pak Presiden terlihat serius mendengarkan semua penjelasan Chandra, Andre dan Samuel, melihat kenyataan itu, Binsar semakin marah.
"Setaaan !! Gara gara mereka, Adiwinata jadi tau semua gerakanku dan organisasi Inside!! Ini gak bisa di biarkan, aku harus membungkam Presiden, agar dia tak terpengaruh dengan Chandra!!" ujar Binsar geram dan marah.
"Chandra benar benar pengacau!! Siapa kamu? Apa urusanmu, berusaha mengungkap kejahatan organisasiku?!!" ujar Binsar geram dan marah pada Chandra.
Binsar lantas mengambil ponsel dari kantong celananya, dia menghubungi salah satu anak buahnya.
"Hallo! Mulai saat ini juga, kamu selidiki Chandra, Sekretaris Presiden, cari daftar riwayat hidupnya, latar belakangnya, dan siapa si Chandra !! Lalu, kerahkan anggota untuk menghabisi Chandra!! Lenyapkan dia !!" tegas Binsar, bicara di telepon.
Binsar lantas menutup teleponnya, dia terlihat sangat marah sekali, karena merasa, telah di pecundangi Chandra, dia selama ini tak menyadari gerak gerik Chandra, yang ternyata diam diam menyusup masuk ke dalam sekretariat presiden dan bekerja hanya agar bisa menyelidiki kejahatan organisasi Inside.
"Karena sok Pahlawanmu ini, kamu akan mati Chandra!!" bentak Binsar, marah dan geram.
Binsar lantas menatap tajam pada layar monitor laptopnya, dia masih melihat, dalam kamera cctv, Chandra, Andre dan juga Samuel sedang bicara serius dengan Presiden.
"Baiklah, tolong kabari dan beri saya informasi atas perkembangan kasus yang kalian selidiki ini, saya berjanji, akan mendukung kalian, untuk mengungkap segala tindak kejahatan organisasi Inside, jika terbukti bersalah, siapapun orangnya, wajib kalian tangkap dan adili!" tegas Presiden.
"Sekalipun jika kalian menemukan, bahwa saya sebagai presiden terlibat juga, jangan ragu menahan saya!!" tegas Adiwinata, memberi penjelasan dan perintah.
"Baik, Pak. Akan kami laksanakan sebaik baiknya apa yang sudah bapak sampaikan." ujar Andre.
"Ya, saya berterima kasih karena kalian sudah mau hadir menemui saya, dengan begini saya sedikit tenang dan tidak bertanya tanya lagi, karena saya sudah mendengar langsung dari kalian, dan saya juga sudah membaca berkas dalam map ini yang menyatakan kejahatan organisasi Inside!" ujar Adiwinata.
"Saya gak menyangka, banyak pejabat negara dan mentri mentri di kabinet saya yang terlibat didalamnya!" ujar Presiden Adiwinata menjelaskan sambil menunjuk map yang ada diatas meja tamu.
"Baiklah, Pak. Kalo begitu, kami permisi dulu, kami akan menyelidiki lebih dalam lagi tentang kasus ini." jelas Samuel serius.
Lantas, Samuel, Chandra dan Andre berjabatan tangan dengan Adiwinata, lalu, mereka berdiri dan pamit, mereka bertiga keluar dari dalam ruang kantor Presiden.
Kedua Petugas Pengaman Presiden ikut keluar dari dalam ruang kantor presiden, mereka mengawal Chandra, Andre dan juga Samuel.
Adiwinata mengambil map yang tergeletak diatas meja tamu, dia lalu berjalan ke meja kerjanya sambil membawa map ditangannya.
Adiwinata duduk di kursi kerjanya, diletakkannya map diatas meja kerjanya, lalu, dia membuka map tersebut, Adiwinata kembali membaca dan mempelajari berkas berkas kasus kejahatan Inside yang ada pada map tersebut. Wajahnya terlihat tegang dan serius, dia tak menyangka dengan semua kebenaran yang dinyatakan dalam berkas tersebut.
---
Masto bertemu dengan Edo di sebuah cafe, wajah Masto terlihat tegang dan bingung, dia sengaja meminta Edo untuk bertemu dengannya di cafe, karena ada yang ingin dia bahas dengan serius bersama Edo, dan dia tak ingin ada orang lain yang mendengar percakapan mereka, karena itu, dia menentukan pertemuan di cafe agar aman.
"Ada apa kamu menyuruhku datang ke cafe ini, To?" tanya Edo, menatap heran wajah tegang Masto.
"Ada yang mau aku sampaikan padamu, Do, dan aku gak mau, orang lain mendengarnya." ujar Masto, dengan wajah seriusnya.
"Apa itu?" tanya Edo heran.
"Begini, Do. Beberapa hari ini, aku baru saja bertemu dengan Menkopolkam Samsudin di kantornya, aku tiba tiba dipanggilnya." jelas Masto serius.
"Oh, ya? Pasti ada hal yang serius jika kamu sampai dipanggil Menkopolkam." ujar Edo, tersentak kaget.
"Ya, Do. Memang dia bicara serius, dan menyampaikan satu hal yang membuatku kaget dan gak menyangka." tegas Masto, dengan wajah serius.
__ADS_1
"Apa yang disampaikannya padamu?" tanya Edo, menatap wajah tegang Masto.
"Pak Samsudin bilang, dia akan menaikan pangkatku, dan memberikanku jabatan tinggi dikepolisian, sebagai komisaris jendral polisi!" tegas Masto, menjelaskan.
"Oh, ya. Selamat To! Akhirnya, kamu naik pangkat juga, langsung tinggi pula." ujar Edo, tersenyum senang.
"Jangan senang dulu, Do. Aku malah kaget dan berfikir, pasti ada sesuatu hal yang direncanakan pak Samsudin, sehingga tiba tiba dia memilihku dan memberikan jabatan tinggi dikepolisian, melangkahi pak Andre!" ujar Masto menegaskan.
"Kamu curiga maksudnya?" tanya Edo.
"Ya. Dan kecurigaanku terbukti, saat pak Samsudin mengajukan syarat jika aku mau menjabat sebagai komisaris jendral polisi." jelas Masto.
"Oh, ya? Apa syaratnya?" tanya Edo, dengan wajah penasaran ingin tahu.
"Beliau minta, agar aku selalu memberikan informasi tentang perkembangan kasus yang sedang kita selidiki bersama pak Andre, Beliau ingin tau, sejauh mana kita sudah mengungkap kejahatan organisasi Inside! Dia juga minta, agar aku memberikan bukti bukti yang kita dapatkan dari hasil penyelidikan!" jelas Masto, dengan serius.
"Katanya, sebagai Menkopolkam, dia wajib mengetahui sejauh mana kasus itu sudah berjalan dan diselidiki, alasannya, agar dia bisa meredam keresahan masyarakat, akibat banyaknya pejabat dan mentri yang ditangkap karena terungkapnya kasus kejahatan Inside!" tegas Masto.
"Artinya, secara gak langsung, Beliau meminta kamu agar berkhianat pada kepolisian !" ujar Edo, serius.
"Ya, begitulah yang aku rasa dan pikirkan." ucap Masto.
"Lantas, bagaimana denganmu sendiri?" tanya Edo.
Edo menatap tajam wajah Masto, dia ingin memastikan, apakah Masto mementingkan dirinya dan menerima jabatan itu atau dia menolak tawaran Samsudin.
"Aku minta waktu, aku bilang saja, aku harus berfikir dulu sebelum mengambil keputusan." ujar Masto.
"Lalu, apa kamu sudah mengambil sikap dan keputusan?" tanya Edo, menatap serius wajah Masto.
"Ya. Aku sudah memutuskannya." ujar Masto serius.
"Kamu menerima tawaran pak Samsudin?!" ujar Edo, menatap serius wajah Masto.
"Tidak , Do. Aku akan menolaknya, bagaimana pun, aku gak bisa mengingkari hati nuraniku, aku sudah di sumpah saat menjadi polisi, agar aku berbuat jujur dan adil, tidak berkhianat pada kepolisian, dan aku gak mau, mengingkarinya!" ujar Masto.
"Aku gak mau mengkhianati kepolisian hanya demi mendapatkan sebuah jabatan, biarlah aku tetap seperti sekarang ini, menjadi penyidik kepolisian, daripada aku duduk sebagai komisaris, tapi aku dapatkan dari hasil berkhianat pada kepolisian, terutama pak Andre, yang selama ini menjadi pembimbing dan pemimpin yang sangat aku hormati!" jelas Masto.
"Aku bangga atas kesetiaanmu, To!" ujar Edo tersenyum senang.
"Ya, tapi, aku yakin, pak Samsudin gak akan begitu saja menerima penolakanku, apalagi aku sudah tau tujuan dia, dan dia juga anggota organisasi Inside yang sama sama kita ketahui, aku yakin, dia gak akan melepaskan aku begitu saja." jelas Masto.
"Maksudmu?!" tanya Edo, heran tak mengerti.
"Maksudku, setelah aku menolak tawarannya, pak Samsudin pasti mengerahkan anak buahnya untuk menyingkirkanku, agar aku bungkam dan gak cerita tentang tujuannya merekrut aku!" tegas Masto.
Edo terdiam, dia terlihat sedang berfikir, apa yang dikatakan Masto ada benarnya, Masto terlihat tegang, Edo lantas menatap lekat wajah tegang Masto.
"Kasih tau aku, kapan kamu bertemu lagi dengan pak Samsudin, aku akan menemanimu!" tegas Edo.
"Tidak bisa, Do. Karena beliau melarangku membawa orang lain, dia hanya mau aku sendiri yang datang." jelas Masto.
"Kalo begitu, kamu kasih tau alamat pertemuannya nanti dimana, biar aku datang secara diam diam, akan aku awasi tindak tanduk pak Samsudin, jika memang dia mau membunuhmu, aku pasti tau dan akan menolongmu!" ungkap Edo serius.
"Baiklah, akan ku beritau kamu nanti." ujar Masto.
__ADS_1
"Ya, kamu jangan khawatir, aku akan mendukungmu." jelas Edo.
"Terima kasih, Do." ujar Masto tersenyum senang.