VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Hari Pembantaian Jack


__ADS_3

Edo datang menemui Andre di ruang kerja, dia sengaja di panggil Andre, untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.


Edo menghampiri Andre yang sudah menunggunya di ruang kerja, Edo berdiri di hadapan Andre.


"Maaf, Pak. Ada perlu apa Bapak memanggil saya?!" tanya Edo.


"Duduklah, Do." ujar Andre, dengan sikap ramahnya.


"Baik, Pak. Terima kasih." ujar Edo, mengangguk hormat.


Lantas, Edo pun menarik sebuah kursi, lalu, dia pun duduk di kursi. Andre menatap wajah Edo.


"Begini, Do. Soal penemuan bukti bukti baru yang tempo hari kamu berikan kesaya." ujar Andre, mulai menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil Edo.


"Iya, kenapa, Pak?" tanya Edo, dengan wajah herannya.


"Saya sudah membahas kasus yang ada dalam berkas itu dengan Jaksa Penuntut, dan Pak Samuel, Jaksa Penuntut juga sudah memegang berkas bukti bukti tersebut." jelas Andre, serius.


"Di sini, saya mau minta tolong sama kamu." ungkap Andre.


"Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Edo.


"Begini Do. Oh, ya, sebelumnya, saya boleh tau nama teman kamu yang memberikan bocoran bukti bukti kejahatan para tokoh itu?" tanya Andre, menatap wajah Edo yang masih belum paham dengan maksud perkataan Andre.


"Namanya Chandra Dypta, Pak." jawab Edo.


"Oh, Chandra. Jadi gini Do. Saya minta tolong, bisa gak kamu meyakinkan Chandra, agar dia mau ketemu saya dan pak Samuel?" tanya Andre, menatap wajah Edo.


"Untuk apa ya, Pak?" tanya Edo, dengan rasa penasaran dan ingin tahunya.


"Saya dan Pak Samuel ingin bicara langsung dengan Chandra, karena, dia menjadi saksi kunci dalam kasus tersebut, jadi, ada banyak hal yang mau kami bahas dengan dia." jelas Andre.


"Kami akan bertanya seputar penemuan bukti bukti yang dia dapatkan , yang kaitannya ada hubungannya dengan nama nama yang ada dalam berkas tersebut." lanjut Andre.


Edo terdiam, dia terlihat sedang berfikir, Andre menatap lekat wajah Edo yang diam dan berfikir.


"Bagaimana, Do?" tanya Andre, dengan wajah seriusnya.


"Baiklah, Pak. Akan saya coba bicarakan dengan Chandra, tapi saya gak bisa berjanji, dia bersedia atau menolak, soalnya, orangnya agak tertutup, dan dia juga kurang percaya dengan orang yang belum dia kenal." ujar Edo.


"Maklum, Pak. Sejak dia mengusut kasus pembunuhan almarhum bapaknya, dia menjadi begitu." jelas Edo.


"Ya, Saya paham. Makanya saya percayakan ke kamu. Kamu kan teman baiknya, dan dia sudah percaya sepenuhnya sama kamu, dengan memberikan kamu berkas berkas bukti kejahatan para petinggi negara itu." jelas Andre.


"Jadi, coba kamu yakinkan Chandra, agar dia mau bertemu dengan saya dan pak Samuel." ujar Andre.


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan padanya." jawab Edo.


"Ya, bagaimana hasilnya, langsung kabari saya, ya. Kalo Chandra bersedia ketemu kami, saya akan berikan alamat lokasi pertemuannya." ungkap Andre, serius.


"Ya, Pak. Akan saya kabari secepatnya." ujar Edo.


"Ya, sudah, begitu saja Do. Mudah mudahan, Chandra bersedia." ujar Andre.


"Ya, Pak. Saya permisi." ujar Edo.


"Ya." Angguk Andre, tersenyum ramah.

__ADS_1


Lantas, Edo pun berdiri dari tempat duduknya, dia memberi hormat pada Andre yang duduk di kursi kerjanya, lalu, dia berjalan keluar dari dalam ruang kerja Andre.


---


Mobil Jack masuk ke halaman parkir gedung kantor kejaksaan agung. Dia memarkirkan mobilnya, di tempat parkir khusus petinggi pejabat kejaksaan.


Mesin mobil mati, lalu, Jack bergegas keluar dari dalam mobilnya. Dia diam sesaat, lalu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, kedua matanya mencari cari ke segala arah.


Jack berhati hati, dia khawatir, Gavlin mengikutinya hingga ke kantornya. Setelah di rasanya aman dan tak ada yang mengikutinya, Jack pun bergegas jalan menuju gedung kantor kejaksaan agung.


Jack masuk ke dalam gedung kantornya, dia berjalan menyusuri koridor, karyawan karyawati yang berpapasan dengan dia memberi hormat padanya. Jack terus berjalan dengan santainya menuju ke ruang kerjanya.



Jack tiba di depan ruang kerjanya, dia lantas membuka pintu, lalu, dia segera masuk ke dalam ruang kerjanya.


Jack masuk ke ruang kerjanya, dia lalu menutup pintu, saat dia berbalik badan dan hendak berjalan menuju meja kerjanya, terdengar suara 'Klik'dari sebuah pistol.


Lalu, dia melihat, Gavlin duduk santai di kursi kerjanya sambil mengarahkan pistol yang ada ditangannya pada Jack.


"Gavliiin?!!" Jack terhenyak kaget dan syock.


Jack tersentak kaget saat melihat Gavlin duduk di kursi kerjanya sambil mengarahkan pistol padanya.


"Apa kabar Jack? Susah sekali menemuimu ternyata, dan akhirnya, kita bisa bertemu dan bertatap muka langsung di sini." ujar Gavlin, tersenyum sinis.


"Mau apa kamu datang ke sini?! Siapa yang mengizinkanmu masuk ke dalam ruanganku?!" Bentak Jack marah.


Walau pun wajahnya memucat dan takut, namun, Jack berusaha untuk tetap tenang , dia sengaja membentak Gavlin, untuk menutupi kegugupan dan ketakutannya pada Gavlin.


"Gak ada yang mengizinkannya, Jack. Aku masuk sendiri ke ruangan ini." ujar Gavlin, tersenyum sinis.


Jack semakin takut, jantungnya berdebar cepat, dia tahu, kedatangan Gavlin pastilah untuk menangkap dan membunuhnya.


Tiba tiba, Jack berbalik badan dan hendak membuka pintu ruang kerjanya, saat pintu terbuka sedikit dan dia hendak lari keluar, Gavlin cepat menegur dia sambil menodongkan pistolnya.


"Jangan coba coba lari, Jack, kalo kamu nekat, peluru di pistol ini akan menembus tubuhmu!" bentak Gavlin marah.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya di kursi kerja Jack. Jack terdiam, dia gemetar ketakutan mendengar ancaman Gavlin.


Dengan posisi masih menghadap ke pintu dan membelakangi Gavlin, karena dia tadi hendak lari keluar, Jack menoleh pelan dan melihat Gavlin.


Gavlin berjalan menghampiri Jack yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Melihat Gavlin berjalan mendekatinya, dia semakin takut.


Diberanikan dirinya, lantas, dia pun nekat melarikan diri.


Jack cepat membuka pintu ruang kerjanya, dia lalu lari keluar, Gavlin kaget melihat Jack nekat lari, dengan cepat, Gavlin pun lantas mengejar Jack.


Gavlin lari keluar dari dalam ruang kerja Jack. Dia melihat Jack berlari di koridor. Gavlin mengarahkan pistolnya, lalu, dia menembakkan pistol pada Jack yang berlari.


Peluru menghantam bahu Jack, Jack yang berlari seketika jatuh tersungkur di lantai. Suara tembakan dari pistol Gavlin terdengar oleh semua karyawan yang ada di dalam gedung kantor kejaksaan.


"Bedebaaah!! Berani beraninya kamu melarikan diri!!" ujar Gavlin dengan geram dan marah.


Gavlin lantas berjalan cepat menghampiri Jack yang terkapar di lantai dengan bahu berdarah karena luka tembak.


Saat Gavlin berjalan mendekati Jack, muncul 4 petugas keamanan menghampiri Jack. Mereka melihat Gavlin berjalan sambil memegang pistol ditangannya.

__ADS_1


Para petugas keamanan langsung menembak Gavlin, Gavlin kaget, dengan kemunculan empat petugas keamanan, Gavlin lantas bersembunyi di balik tembok pemisah ruangan yang ada di koridor. Gavlin membalas, dia pun lantas menembaki para petugas keamanan.


Aksi tembak tembakan pun terjadi antara 4 petugas keamanan dengan Gavlin. Jack yang terluka dan berdarah meringis kesakitan di lantai. Jack tampak berusaha untuk berdiri, dengan susah payah dia mengangkat tubuhnya yang terluka. Dia memaksakan dirinya agar bisa berdiri kembali.


Dengan segenap tenaga yang di milikinya, Jack pun mampu berdiri, lalu, dengan tangannya memegangi dinding dinding ruangan, dia segera berlari menjauh dari Gavlin.


Gavlin yang bersembunyi melihat Jack lari, Gavlin pun semakin marah, dia marah pada petugas keamanan yang menghalangi dirinya menangkap dan membunuh Jack.


Gavlin dengan wajah geram dan marahnya cepat mengambil granat granat dari tas pinggangnya. Lalu, tanpa ampun lagi, Gavlin melemparkan granat ke arah 4 petugas keamanan yang menembakinya.


Bom granat meledak, ke empat petugas keamanan langsung mati terkena ledakan bom granat. Gavlin keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan sikap dingin dan menahan amarahnya, dia berjalan cepat untuk mengejar Jack yang melarikan diri.



Jack terus berlari, dia berusaha untuk menyelamatkan dirinya, darah terus mengalir dari bahunya, wajahnya mulai memucat dan terlihat tubuhnya melemah. Jack menguatkan diri untuk bisa terus berlari.


"Tolong...tolooong saya..." ujar Jack, meminta pertolongan dengan susah payah menahan sakitnya.


Para karyawan karyawati yang berpapasan dengan Jack tersentak kaget, melihat Jack berlumuran darah dan terluka di bahunya.


Saat karyawan ingin menolongnya, tiba tiba saja granat meledak di dekat mereka, mereka pun terpental dan jatuh ke lantai.


Gavlin terus berjalan dengan wajah garang dan marahnya sambil mengisi peluru peluru ke pistolnya. Gavlin jalan dan mendekati Jack yang bersama Karyawan, mereka berdua sudah tersungkur di lantai akibat terkena ledakan bom granat.


Gavlin mengamuk, dia sudah tak perduli lagi dengan siapa saja, karena dia sudah marah, sebab, petugas keamanan telah mencampuri urusannya dengan menghalangi dirinya membantai Jack.


Jack melihat Gavlin berjalan mendekat ke arahnya, dia semakin ketakutan, dengan susah payah Jack berusaha untuk kembali berdiri, Karyawan yang bersamanya membantu Jack berdiri.


Lalu, mereka berdua berjalan tertatih tatih dan pincang, karyawan memapah Jack yang jalan dengan susah payah.


Gavlin menembak mereka berdua, peluru menghantam batok kepala belakang karyawan yang sedang memapah dan membantu Jack berjalan.


Seketika, pegangan tangannya terlepas dari tubuh Jack, lalu, karyawan itu jatuh terjerembab kelantai dengan posisi tengkurap. Jack tersentak kaget, saat melihat belakang kepala karyawan yang menolongnya mengeluarkan darah segar. Jack merinding ketakutan.


Jack lantas berusaha berjalan sendiri, dengan tertatih tatih dan menahan sakitnya, dia memaksa terus berjalan. Muncul dua petugas keamanan lagi menghadang Gavlin.


Gavlin langsung menembak dua petugas keamanan yang baru datang , petugas keamanan itu pun langsung tersungkur mati.


Setiap ada petugas keamanan mencoba menghalanginya menangkap Jack, Gavlin langsung menembak dan membunuh Petugas keamanan.


Siapapun yang menghalangi dirinya menangkap Jack, pasti di bunuhnya. Gavlin benar benar murka.


Dia terus mengejar Jack, Jack terus berusaha lari dan menyelamatkan dirinya. Namun, Gavlin sudah semakin dekat padanya.


Gavlin lantas menembak kaki kanan Jack. Jack tersungkur ke lantai, dia lalu berusaha berdiri, sambil memegangi kakinya yang tertembak.


"Aaarggghh!!" erang Jack kesakitan memegangi kakinya.


Jack memaksakan dirinya untuk bisa berlari atau pun jalan, dengan kaki dan bahu yang terluka dan berdarah darah, Jack terus berusaha menjauh dari Gavlin.


Gavlin yang berjalan di belakangnya dengan tenang mengikutinya, hingga akhirnya, Jack pun keluar dari dalam gedung kantor kejaksaan.


Gavlin membiarkan Jack yang berusaha melarikan diri dengan jalan terpincang pincang. Dia terus mengikuti Jack yang sudah keluar dan berjalan ke halaman kantor kejaksaan.


Gavlin menembaki petugas keamanan yang ada di luar gedung dan menghadangnya.


Lantas, Gavlin menembak satu kaki Jack lagi, dan Jack kembali jatuh terjerembab ke tanah, dia tak bisa menggerakkan kedua kakinya, sebab, kedua kakinya tertembak.

__ADS_1


Jack nekat, dengan merayap di tanah, dia menyeret tubuhnya, agar dia menjauh dari Gavlin. Gavlin geram, dengan sikap dinginnya dia berjalan menghampiri Jack, yang merayap ditanah dengan luka di kaki dan bahunya.


__ADS_2