
Jauhari masih berdiri di depan Bramantio yang tampak menahan amarahnya.
Jauhari masih gemetar ketakutan.
"Terus gimana nasib saya Pak?" Tanya Jauhari dengan wajah memelas.
"Saya gak tau ! Urus saja dirimu sendiri !!" Bentak Bramantio marah.
"Tapi Pak..." Ujar Jauhari.
"Aaahhh, diam !! Aku lagi pusing mikirin semua ini !! Samsul baru saja mati, kepalanya di penggal !! Kamu datang datang ngerengek minta tolong !!" Bentak Bramantio.
Bramantio memarahi Jauhari.
"Samsul wolf genk? Mati ?!" Jauhari syock.
Wajah Jauhari semakin pucat pasi, ketakutan, keringat dingin mengalir membasahi tubuh dan pakaiannya.
"Tolong saya Pak, lindungi saya, saya kan hanya menjalankan perintah bapak dulu !" Ucap Jauhari memelas.
"Tapi kamu kan udah dapat imbalannya !! Bahkan kamu berhasil menjabat sebagai kepala desa, dan sekarang, kamu lagi bertarung merebut kursi bupati !!" Bentak Bramantio marah.
"Tanpa Saya , kamu cuma pecundang !!" Bentak Bramantio.
Jauhari terhenyak kaget, dia tak menyangka Bramantio menghina dan merendahkannya.
"Kamu ini kepala desa, kenapa kamu gak minta keamanan buat jagain kamu dan lindungi rumahmu?!" Bentak Bramantio.
Jauhari terdiam berfikir, ada benarnya perkataan Bramantio, kenapa dia tak kepikiran.
Memang saat terjadi pembakaran massal dan kematian warga warga kampung Rawas dulu, Jauhari sempat kepikiran minta agar petugas keamanan desa menjaga rumahnya.
Sebab, Jauhari sebenarnya tahu, pembakaran massal yang terjadi ada hubungannya dengan kasus 18 tahun lalu.
Hanya saja, waktu itu, dia tidak mau mengakui dan berpura pura tidak tahu saat dia bertemu Gatot, Polisi yang menyelidiki kasus tersebut.
Dan dia semakin yakin, pembakaran dan pembantaian massal yang terjadi ada hubungannya dengan kasus pembakaran rumah Sanusi dulu, setelah dia mendapatkan sobekan lembaran kertas lusuh berisi berita tentang kebakaran hebat rumah Sanusi dulu.
"Kenapa kamu masih di sini?! Ayo pergi !! Saya aja gak tau bagaimana cara saya melindungi diri sendiri !! Kamu kok malah mau minta tolong saya !! Ujar Bramantio sinis.
Bramantio marah dan jengkel pada Jauhari yang merengek rengek minta bantuan dan pertolongan dirinya.
"Baiklah Pak, maaf, saya udah mengganggu waktu Bapak , permisi." Ujar Jauhari lesu.
Bramantio diam, tak menjawab, juga tak melihat Jauhari.
Bramantio cuek pada Jauhari.
Jauhari pun dengan langkah gontai keluar dari ruang kantor Bramantio.
Bramantio mulai mengamuk.
"Aaaaagggghhhh...Kepaaaarraaaatttt!!" Teriak Bramantio sekencang kencangnya.
Suaranya menggema di seluruh ruang kantornya yang tertutup itu.
Bramantio melampiaskan amarahnya, dia marah, sebab merasa sudah di pecundangi.
Ya, dia merasa harga dirinya di cabik cabik oleh pelaku yang membunuh anaknya, dan juga Samsul.
Wajahnya semakin merah padam, dia geram, ada dendam tersembunyi di dalam jiwanya, Bramantio ingin membalaskan semua perbuatan pelaku misterius yang membunuh orang orang terdekatnya .
---
Dengan langkah gontai Jauhari berjalan menuju mobilnya, bolak balik dia menoleh ke belakang.
Jauhari semakin parno, dia merasa dirinya selalu di ikuti dan di intai kemana pun dia pergi.
Dengan wajah ketakutan, Jauhari cepat masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia segera pergi dari halaman parkir gedung perkantoran milik Bramantio.
Sepanjang jalan sambil menyetir, Jauhari berfikir, dia sangat khawatir dengan ke selamatan dirinya.
Dia merasa, nyawanya terancam, dan dia tak tahu, harus bagaimana menghindari orang yang tengah mengincar dan memburunya.
__ADS_1
Jauhari begitu panik, dia merasa menyesal, karena dulu dia membakar rumah Sanusi.
Hanya karena tergiur dengan uang puluhan juta dan janji Bramantio padanya yang akan menjadikannya sebagai pejabat daerah, Jauhari menuruti permintaan Bramantio.
Dia berfikir, andaikan dia tak terlibat dalam pembakaran rumah Sanusi , tentu nyawanya tidak terancam seperti saat ini.
Jauhari serba salah, sebab, karena dia membakar rumah Sanusi, ambisinya pun terpenuhi, dia menjadi orang kaya dan sukses, karirnya melejit dengan cepat, dalam usia muda, dia bisa duduk sebagai Kepala Desa, dan kini tengah berjuang merebut kursi Bupati, yang memang sedang dia incar saat ini.
Jauhari pusing, dia semakin resah dan gelisah, dia takut , dia mati terbunuh.
Mobil Jauhari terus melaju dengan kecepatan sedang, meluncur di jalan raya.
---
Sosok pria misterius memakai cadar penutup wajah dan pakaian serba hitam menyergap Tantri, istri Jauhari.
Sosok pria misterius mengikat tubuh Tantri di kursi, lalu dia meletakkan tubuh Tantri yang terikat di pinggir kolam renang rumah Jauhari.
Lalu sosok pria misterius mengangkat bongkahan batu besar, dan meletakkan batu besar di atas pangkuan Tantri.
"Lepaskan aku !! Siapa kamu!! Apa mau kamu?!!" Teriak Tantri meronta ronta.
"Jangan berisik ! Kamu akan ku jadikan hadiah buat suamimu !!" Ucap Sosok pria misterius dengan suara berat.
Tantri semakin ketakutan.
"Tolong, lepaskan aku, apa salahku?!!" Teriak Tantri.
Dia memohon belas kasihan, namun, sosok pria misterius tak perduli Tantri memohon dan memelas padanya.
Sosok pria misterius lantas menutup mulut Tantri dengan kain hitam, dia mengikat kencang kain yang menutupi mulut Tantri.
Tantri pun tak bisa bicara, sebab mulutnya sudah di bungkam dan di tutup kain.
Sosok pria misterius menyeringai buas, dia tersenyum sinis menatap Tantri.
Sosok pria misterius lantas membuat video tentang Tantri yang terikat di kursi dan berada di pinggir kolam rumah.
Lantas sosok pria misterius mengirimkan video yang dia rekam ke nomor ponsel Jauhari.
Tak ada rasa belas kasihan pada diri sosok pria misterius tersebut pada Tantri yang menangis, memohon dan memelas.
---
Ponsel berbunyi, Jauhari yang masih menyetir mobilnya mengambil ponsel dari kantong kemejanya.
Jauhari membuka layar ponsel, dia melihat ada 1 pesan berisi file video masuk ke kotak pesan.
Pesan itu di kirimkan istrinya, sebab tertera nama Tantri, sang Istrinya di notif layar ponselnya.
Jauhari lantas menepikan mobilnya, dengan cepat dia mematikan mesin mobilnya.
Setelah dia parkir di pinggir trotoar jalan, dengan cepat dia membuka file video.
Matanya terbelalak lebar, tangannya gemetaran memegangi ponsel, dia syock melihat di video, Istrinya dalam kondisi terikat dan berada di pinggir kolam renang rumahnya.
Jauhari semakin panik melihat ada bongkahan batu besar diatas pangkuan paha istrinya dalam video.
Jauhari semakin takut, dia sangat mengkhawatirkan nyawa istrinya.
Bibirnya bergetar, dia tak mampu berkata kata.
Matanya nanar menatap layar video di ponselnya. Jauhari merasa iba dan kasihan pada istri yang sangat di cintainya itu.
Jauhari tak tega melihat Istrinya di ikat sedemikian rupa. Jauhari menangis.
"Jangan bunuh istriku, tolong lepaskan dia, istriku gak bersalah." Ujar Jauhari menangis di dalam mobilnya.
Dia menangis sedih melihat istrinya terikat, dia semakin menyesali perbuatan dia dulu , karena perbuatan jahatnya, istrinya yang kena imbasnya sekarang.
Jauhari tak mau, istrinya jadi korban pembalasan dendam pelaku.
Jauhari berusaha menelpon ke nomor yang mengirimkan video tersebut.
__ADS_1
Namun, berkali kali Jauhari mencoba untuk menghubungi, nomor tersebut mati, tak dapat di hubungi.
Jauhari kesal, dia semakin panik, Jauhari duduk gelisah.
Lantas, Jauhari pun meletakkan ponsel di kantong kemejanya.
Jauhari lantas menyalakan mesin mobil kembali. Lalu, dengan bergegas , Jauhari menyetir mobilnya.
Dengan kecepatan tinggi, mobil Jauhari melaju di jalanan raya. Wajahnya tegang, Jauhari ingin segera sampai di rumahnya, dia ingin segera menyelamatkan istrinya.
Tak ada rasa takut di dalam dirinya, saat ini, pikirannya hanya satu, bagaimana caranya agar istrinya selamat.
Jauhari tak perduli jika dirinya tewas, yang terpenting baginya , istrinya selamat.
Wajah Jauhari semakin tegang, tangannya gemetaran memegang stir mobilnya.
Jauhari resah dan gelisah , dia tak sabar , ingin segera menemui istrinya.
Dalam perjalanannya, Jauhari terus mengingat Istrinya yang di ikat , dia tak tega melihat istrinya di sandera.
"Maafkan aku bu, maafkan aku ! Gara gara aku, nyawamu terancam!" Ujar Jauhari menangis.
Dia menangis penuh penyesalan sambil terus menyetir mobilnya.
---
Tantri masih duduk di kursi dalam keadaan terikat, tak ada sosok pria misterius di sekitar kolam renang, hanya ada Tantri seorang.
Tak berapa lama kemudian, Jauhari datang, dia segera lari masuk kerumahnya menuju kolam renang.
Sesampainya dia di kolam renang, dia langsung menghampiri istrinya yang terikat di pinggir kolam renang rumahnya.
"Buuu...maafin bapak...maafin bapak." Ujar Jauhari.
Jauhari berusaha melepaskan ikatan tali yang mengikat tubuh istrinya.
Mata Tantri berputar putar , sorot matanya ketakutan, dia menggerak gerakkan kepalanya, seperti memberi isyarat pada Jauhari.
Jauhari melihat Istrinya yang menggerak gerakkan leher dan kepalanya, Jauhari juga melihat mata Istrinya berputar putar terbuka lebar.
"Sabar bu, sabar...sebentar lagi kamu bebas!" Ujar Jauhari.
Jauhari terus berusaha membuka ikatan tali, dia kesulitan membuka tali tersebut.
Sebab, ikatan tali tersebut sangat rumit dan terikat mati, hingga Jauhari susah membukanya.
Mata Tantri semakin berputar putar cepat, sorot matanya menunjukkan ketakutan, Kepalanya semakin kuat di gerak gerakkan, dia melihat Jauhari, suaminya sibuk membuka tali yang mengikat tubuhnya.
Tantri berusaha memberi isyarat, dia ingin memberitahukan pada Jauhari apa yang dia lihat saat ini, tapi Jauhari mengabaikannya, sibuk melepaskan tali pengikat.
Tiba tiba, sebuah kayu besar menghantam kepala Jauhari, seketika, Jauhari pun terkapar, jatuh ke lantai ubin pelataran kolam renang.
Tantri syock melihat Jauhari, suaminya terkapar pingsan. Tantri pun menangis, dia menangis melihat suaminya pingsan.
Tantri menangis menyesali suaminya yang tak bisa menangkap isyaratnya yang memberitahu dia bahwa sosok pria misterius sedang mendekati Jauhari membawa kayu besar ditangannya.
Jauhari sama sekali tak menduga dan tak menyangka, dia bakal di serang dan di pukul dari belakang.
Jauhari lengah, karena itu, dengan mudah sosok pria misterius membuatnya terkapar.
Sosok pria misterius membuka cadar penutup wajahnya, sosok itu Yanto.
Ya, Yanto menyeringai buas menatap tajam Jauhari yang pingsan, dia tersenyum sinis.
Yanto sengaja bersembunyi di balik pintu masuk kolam renang, dia mematikan lampu ruangan kolam renang, sehingga seluruh ruangan gelap.
Dan Jauhari tak melihat keberadaan Yanto yang bersembunyi dibalik pintu masuk kolam renang, sebab memakai pakaian serba hitam.
Yanto yang memang menunggu Jauhari, langsung menyerang Jauhari ketika Jauhari datang dan mau menyelamatkan istrinya.
Tanpa ampun dan belas kasihan, Yanto pun menghantamkan kayu besar ditangannya ke kepala Jauhari.
Jauhari tak berdaya, terkapar di lantai ubin pelataran kolam renang, darah mengalir dari kepalanya, bekas hantaman kayu Yanto.
__ADS_1
Tantri yang terikat tak berdaya, menangis sedih melihat Jauhari, suaminya tak sadarkan diri dengan kondisi kepala yang terluka dan berdarah.