VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Tameng


__ADS_3

Chandra menulis di buku notes nya, sementara Gavlin diam menyetir mobilnya. Setelah selesai menulis di buku notes nya, dia lalu menyobek kertas yang ada tulisan tangannya itu.


Mobil Gavlin berhenti di pinggir jalan, depan rumah Chandra, Gavlin lantas menoleh pada Chandra yang duduk di sampingnya.


"Kita udah sampe dirumahmu." ujar Gavlin.


"Oh, iya." ujar Chandra, melihat ke halaman rumahnya.


"Ini alamat markas Organisasi Inside. Ambillah." ujar Chandra, memberikan selembar kertas berisi alamat markas Inside yang dia tulis tadi pada buku notesnya.


Gavlin mengambil kertas tersebut, dia melihat dan membaca sekilas tulisan Chandra itu, lalu, dia melipat kertas dan menyimpannya di dalam kantong bajunya.


"Terima kasih." ujar Gavlin.


"Ya. Aku juga terima kasih, karena kamu sudah menyelamatkan hidupku." ucap Chandra, menatap serius wajah Gavlin.


"Ya. Sebaiknya, kamu lebih berhati hati, rahasiamu sudah diketahui anggota Inside, dan aku yakin, mereka pasti terus mengincarmu, ingin membungkammu!" tegas Gavlin.


"Ya. Aku akan berhati hati." ujar Chandra.


Chandra lantas membuka pintu mobil, lalu, dia bergegas keluar dari dalam mobil. Gavlin melihat Chandra yang menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke halaman rumahnya.


Gavlin lantas menjalankan mobilnya, dia pun pergi meninggalkan Chandra yang sudah masuk ke dalam rumahnya.


---


Masto masih berdiri menunggu di lantai paling atas di gedung 'Residence' yang kosong, belum ada tanda tanda kalau Samsudin datang.


Masto mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi Mardi, anak buah Samsudin, namun, telepon Mardi mati dan tak aktif.


"Kemana mereka? Apa gak jadi datang?" Gumam Masto berfikir.


Masto diam berfikir sesaat, dia lantas menghela nafasnya, Masto hendak pergi pulang, karena sudah lama dia menunggu, tapi Samsudin tak juga datang.


Saat dia berjalan ke arah pintu masuk, terlihat Mardi bersama ke enam anak buahnya keluar dari pintu masuk.


Masto menghentikan langkahnya, dia berdiri menunggu ditempatnya, Mardi berjalan bersama ke enam anak buahnya , mereka menghampiri Masto.


Mardi berdiri di hadapan Masto, sementara ke enam anak buahnya berdiri mengelilingi Masto, Masto heran, karena tak ada Samsudin bersama mereka.


"Dimana pak Samsudin?" tanya Masto, heran.


"Beliau gak bisa hadir, dan beliau menyerahkan semua urusannya padaku." ujar Mardi, tersenyum sinis.


"Apa maksudmu?" tanya Masto, semakin heran dan tak mengerti.


Mardi diam menatap tajam wajah Masto yang mulai curiga melihat sikap Mardi yang tersenyum sinis padanya itu.


"Kalo pak Samsudin gak datang, sebaiknya aku pulang. Aku gak mau bicara denganmu!" tegas Masto.


Masto hendak pergi, Mardi cepat memberi isyarat pada anak buahnya untuk meringkus Masto.


"Tangkap dan ikat dia!" ujar Mardi, memberi perintah pada anak buahnya.


"Siap !" jawab salah seorang anak buah Mardi.


Lalu, kedua anak buah Mardi memegang tubuh Masto, Masto kaget, dia meronta, berusaha menghindar.


"Apa apaan ini?!" bentak Masto marah.


Mardi dan anak buahnya tak perduli, ke dua anak buah Mardi terus memegang kuat badan Masto , lalu, mereka mengikat ke dua tangan Masto.


Masto pun menyadari, bahwa Mardi dan anak buahnya ingin membunuhnya. Dia terlihat menahan geramnya menatap tajam wajah Mardi yang tersenyum sinis padanya.

__ADS_1


"Aku diperintahkan untuk membunuhmu Masto!! Karena kamu sudah menolak tawaran pak Mentri Samsudin!" tegas Mardi sinis.


"Kurang ajaaar !!" bentak Masto, geram dan menahan amarahnya.


Mardi menatap tajam wajah Masto yang berdiri dihadapannya dengan tubuhnya di pegangi dua anak buah Mardi dan kedua tangannya terikat.


Tiba tiba, Mardi memukul keras wajah Masto, hingga bibirnya berdarah.


Masto menatap geram wajah sinis Mardi yang berdiri dihadapannya itu.


Mardi memukul lagi wajah dan perut Masto, Masto menahan nyeri dan sakitnya , dia tak bisa melawan, karena tubuhnya terikat dan dipegangi dua anak buah Mardi.


Mardi menatap tajam wajah Masto yang menahan amarahnya itu, dia menyeringai jahat dan tersenyum sinis. Lalu, Mardi mengambil pistol dari pinggangnya.


Masto menatap tajam wajah Mardi yang mengarahkan pistol ke wajahnya, tak ada rasa takut di raut wajah Masto, dia berdiri menantang Mardi.


"Bunuhlah aku, tapi ingat ! Kalian gak akan lolos ! Pihak polisi akan memburu kalian kemana pun kalian lari !!'tegas Masto.


"Jangan banyak bacot !! Enyahlah Masto!!" ujar Mardi.


Belum sempat dia menembakkan pistol ditangannya pada Masto, tiba tiba terdengar suara tembakan dari arah lain dan tak jauh dari mereka berdiri.


Dua anak buah Mardi mati terkapar terkena tembakan, Mardi melihat, Edo keluar dari persembunyiannya Sambil berjalan mendekat dan menembaki Mardi dan anak buahnya.


Melihat Edo, Mardi kaget, dia pun lari untuk bersembunyi dan menghindari tembakan Edo, Masto lantas menyerang ke dua anak buah Mardi yang memegangi tubuhnya.


Kedua anak buah Mardi melawan, mereka memukul Masto hingga terjerembab jatuh kelantai.


Edo marah melihat Masto yang dipukuli dan terjatuh di lantai, dia lantas menembak ke dua anak buah Mardi yang menyerang Masto.


Kedua anak buah Mardi tewas tertembak peluru dari pistol Edo, lalu Edo mendekati Masto, dia mengangkat tubuh Masto.


"Kamu gak apa apa, To?" tanya Edo, mengangkat tubuh Masto.


Dia senang, karena Edo datang tepat waktu menolong dirinya. Mardi yang bersembunyi di balik tembok menembakkan pistolnya ke arah Masto dan Edo.


Masto dan Edo berlari menghindar dari tembakan Mardi.


Dua anak buah Mardi yang masih tersisa ikut menyerang, mereka juga menembaki Edo dan Masto yang bersembunyi di balik tembok.


Edo lantas cepat melepaskan ikatan tali di kedua tangan Masto, Setelah ikatan terlepas dari tangannya, cepat Masto mengambil pistol dari balik pinggangnya.


Lalu, bersama Edo, dia menembaki kedua anak buah Mardi dan juga Mardi.


Tembakan Masto mengenai seorang anak buah Mardi, hingga mati terkapar , lalu Edo juga berhasil melumpuhkan seorang anak buah Mardi yang tersisa.


Ke enam anak buah Mardi mati terbunuh, tinggal Mardi sendirian saja, kini situasi berlalik , dia yang di keroyok Edo dan Masto.


Edo memberi isyarat pada Masto agar menyelinap dan berpencar untuk menyergap Mardi yang bersembunyi di balik tembok.


Masto mengangguk mengerti, dia bergegas pergi dan berpencar dengan Edo. Mardi diam bersembunyi, wajahnya terlihat tegang.


Suasana hening, untuk beberapa saat tak ada aksi tembak menembak yang terjadi, Mardi mengintip, dia ingin melihat, kemana Edo dan Masto.


Dia tak melihat Edo dan Masto, Mardi kernyitkan keningnya, dia tampak berfikir keras.


"Kemana mereka? Apa mereka melarikan diri?" gumam Mardi, berfikir keras, dengan wajah tegangnya.


Dia menghela nafasnya, lalu, sekali lagi dia mengintip dan melihat sekitar ruangan lantai atas gedung tersebut, tak ada siapa siapa.


"Sepertinya mereka lari!" ujar Mardi, tersenyum sinis.


Dia lantas keluar dari tempat persembunyiannya, saat dia berjalan hendak ke arah pintu masuk, dia kaget melihat Edo dan Masto berdiri di hadapannya sambil mengarahkan pistol.

__ADS_1


"Mau kemana kamu?!" ujar Edo membentak Mardi.


Mardi terhenyak kaget, dia tak menyangka di sergap Edo dan Masto, ternyata dia sudah di perdaya Edo dan Masto.


"Bedebaaah kalian!!" bentak Mardi geram dan marah.


Edo diam tak menjawab dan membalas perkataan Mardi yang memaki itu, Edo lalu menembak Kedua kaki Mardi, hingga dia jatuh tersungkur di lantai.


"Kamu gak pantas ada di dunia ini!!" tegas Edo.


Edo lalu menembak perut Mardi hingga dia terkapar rebah di lantai, perut dan kedua kakinya mengeluarkan darah.


Mardi meringis kesakitan, dia menahan perih luka di bagian perut dan kedua kakinya, akibat ditembak Edo.


"Selamat tinggal Mardi!" tegas Edo.


Edo lantas berjalan pergi meninggalkan Mardi yang rebah terkapar di lantai. Dengan susah payah, Mardi mengambil pistolnya yang tadi terlepas dari tangannya saat dia terjatuh karena kedua kakinya di tembak Edo.


"Matilaaaah Kaliaaaan !!" teriak Mardi.


Mardi yang terbaring lemah di lantai menembak ke arah Edo dan Masto, Edo dan Masto kaget, dengan gerak cepat Edo berdiri di hadapan Masto, dia menjadi tameng Masto.


Edo pun tertembak peluru dari pistol Mardi, peluru di pistol Mardi habis, dia lantas membuang pistol ke lantai. Edo yang terkena tembakan terkulai di lantai, Masto terhenyak kaget melihat Edo tertembak.


"Edoooo!!!" Teriak Masto histeris.


Edo rebah di lantai, Masto terlihat sangat marah, dia lantas mendekati Mardi yang terkulai lemah tak berdaya di lantai.


"Bedebaaaahhhh !!" teriak Masto.


Dengan kalap dan penuh amarahnya Masto menembaki tubuh Mardi yang rebah dilantai dan tak berdaya.


Masto mengamuk, dia terus menembaki Mardi hingga pelurunya habis, Mardi pun akhirnya mati, meregang nyawa ditangan Masto. Seluruh tubuhnya di penuhi peluru peluru yang ditembakkan Masto.


"Edo !!" Ujar Masto.


Masto melihat ke arah Edo yang terkapar di lantai dengan tubuh terluka parah terkena peluru yang ditembakkan Mardi. Masto bergegas menghampiri Edo.


"Jangan pingsan Do, tetap sadarlah! Kita ke rumah sakit sekarang!!" tegas Masto, dengan wajah panik dan cemasnya melihat tubuh lemah Edo.


Masto memangku tubuh Edo yang terkulai tak berdaya, Masto menangis sedih melihat Edo yang terluka parah.


"Mengapa kamu jadi tamengku, Do? Mengapa?!!" ujar Masto berteriak menangis sedih.


"Aku udah janji, To. Aku akan melindungimu." ucap Edo, lemah dan susah payah.


Nafas Edo tersengal sengal, dia terlihat semakin susah untuk bernafas, Edo meringis menahan sakitnya.


"Kita ke rumah sakit, Do !!" ujar Masto.


Masto lantas hendak berdiri bangun dan mengangkat Edo, namun, tiba tiba saja, Edo terkulai lemah di pangkuannya.


Masto kaget melihat itu, dia memeriksa pernafasan Edo. Masto semakin menangis panik melihat Edo yang terkulai lemah tak berdaya dan kaku.


"Tidak....tidak...Kamu harus hidup, kamu harus hidup !!" ujar Masto, menangis sedih sambil memeriksa denyut nadi Edo.


Namun, dia sudah tak bisa merasakan denyut nadi Edo, dan dia juga tak bisa merasakan helaan nafas dari hidung Edo.


"Tidaaaaakkkk !!" Teriak Masto, menangis histeris.


Masto menangis sejadi jadinya sambil memeluki tubuh Edo yang sudah kaku, Edo tewas dalam pangkuan Masto, dia mati menyerahkan nyawanya untuk menolong Masto.


Masto meratap menangisi kematian Edo, dia tak menyangka Edo mati dengan cara seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2