VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Geram


__ADS_3

Ronald cepat melangkah menyusuri seluruh ruangan kerja Bramantio.


Dia mencari cari sesuatu pada lemari yang ada diruangan kerja tersebut.


Matanya berhenti pada satu tempat di lemari, di dalam sebuah etalase kaca, ada patung gajah kecil terpajang.


Ronald perhatikan patung tersebut, patung gajah dalam etalase kaca lemari tepat mengarah ke meja kerja Bramantio.


Dengan posisi lemari yang ada tepat di depan meja kerja Bramantio dengan jarak yang sedikit jauh, pahamlah Ronald.


Jika dari kamera cctv yang dipasang di dalam patung gajah kecil akan menampakkan seluruh ruangan kerja Bramantio dengan jelas dan detil.


Ronald tersenyum sinis, dia lantas membuka etalase kaca lemari tersebut.


Di dekatkannya wajahnya pada patung gajah kecil yang berada didalam etalase kaca lemari.


Ronald semakin mendekatkan wajahnya pada patung gajah kecil, lalu dia pun menyeringai tersenyum bengis menatap mata patung gajah kecil.


Tiba tiba, Ronald pun tertawa tawa, Bramantio heran melihat Ronald tertawa tawa sendiri sambil menatap etalase kaca lemari.


Dengan rasa penasaran, Bramantio menghampiri dan mendekati Ronald yang masih tertawa menatap patung gajah kecil di etalase kaca lemari.


"Haaaiii...salam mutilasi dariku." Ujar Ronald dengan tatapan mata yang dingin namun sadis.


Dia kembali menyeringai licik menatap patung gajah kecil dengan wajahnya yang sangat dekat dengan patung gajah kecil tersebut.


Di kamar ruang sempit, Yanto yang sedang melihat monitor cctv tersebut geram dan marah.


Melihat wajah Ronald yang sangat dekat sekali dengan kamera cctv mini yang dia pasang, Yanto pun marah.


Dia tahu, Ronald sudah menemukan cctv mini lainnya yang sengaja dia letakkan di ruangan kerja Bramantio.


"Bedebaah !! ****** itu berhasil menemukan kamera kamera cctv yang ku pasang disana !!" Ujarnya geram.


Mata Yanto menatap tajam penuh amarah pada Ronald yang masih terus menatap ke arah kamera cctv mini dengan wajahnya yang menyeringai licik.


Yanto pun menegasi pandangannya pada wajah Ronald, dia sangat geram dan marah.


Yanto pun menganggap Ronald salah satu musuhnya, sebab, Ronald sudah mencampuri urusannya, dengan merusak rencananya.


Karena Ronald berhasil menemukan kamera cctv yang dia sembunyikan di dalam ruang kerja Bramantio.


Maka, Yanto tak akan bisa lagi leluasa memantau pergerakan dan tindakan serta rencana Bramantio didalam ruang kerjanya.


"Salam penggal juga dariku keparat! Liat aja, kamu akan mati!" Ujar Yanto dengan geramnya.


Yanto menatap wajah Ronald yang tertawa tawa tepat didepan kamera cctv mini.


Bramantio menepuk bahu Ronald, dia heran, apa yang sedang dilakukan Ronald di lemari tersebut.


"Kamu kenapa Nald?" Tanya Bramantio heran.


Ronald tak menjawab pertanyaan Bramantio, dia mengambil patung gajah kecil dari dalam etalase kaca lemari.


Ronald dengan cepat mencongkel dan melepas kedua mata patung gajah kecil tersebut.


Ditemukanlah sepasang kamera cctv mini dari dalam kedua mata patung gajah kecil.


Ronald menunjukkan kamera cctv mini pada Bramantio.


Bramantio kembali terhenyak kaget, dia melihat ditangan Ronald, ada dua kamera mini cctv.


"Siaaal !! Banyak juga dia pasang cctv diruanganku ini !" Ujar Bramantio marah.


Ronald berbalik dan berjalan menuju sofa yang ada diruangan kerja tersebut.


Ronald meletakkan dua kamera mini cctv di atas meja, lalu, dia pun duduk di sofa.


Bramantio mendekati Ronald, lantas, dia pun ikut duduk di sofa yang ada di samping sofa tempat Ronald duduk.


"Orang itu memang udah merencanakannya dengan baik, dia berniat mau membunuhmu Bang." Ujar Ronald.


"Makanya dia pasang cctv untuk mengintai pergerakanmu !" Tegas Ronald.


"Dengan kamera kamera dan mikropon mini, aku yakin, dia mendengar dan melihat jelas apa yang kamu lakukan." Lanjut Ronald.

__ADS_1


"Aku yakin, dia udah dapat info banyak dari hasil mengintai dan merekamnya." Tanda Ronald.


"Siaal !! Tapi apa mungkin memang si Yanto seniman itu yang melakukannya? Aku masih gak yakin sama dia." Ujar Bramantio.


"Bisa saja bang Bram. Dia sengaja memancingmu, mendekatimu, lalu, setelah berhasil mendekatimu, dia pun leluasa memasang kamera kamera tersebut." Ujar Ronald.


"Gak mungkin Nald, kalo memang dia, selama dia datang dan ada diruangan kerjaku ini, dia selalu bersamaku." ujar Bramantio menjelaskan.


"Abang yakin? Abang gak tinggalin dia sendirian, biar sebentar juga." Ujar Ronald.


Ronald menatap tajam wajah Bramantio, dia melihat, Bramantio ragu dan tampak sedang berfikir.


Bramantio sedang mengingat ingat saat saat dia bertemu dengan Yanto waktu itu.


Bramantio menghela nafasnya, lalu dia menatap tajam wajah Ronald.


"Aku yakin Nald, dia selalu bersamaku saat dia ada diruanganku ini." Tegas Bramantio dengan penuh keyakinan dihati.


"Hmm...kalo begitu, bagaimana cara dia meletakkan patung gajah kecil itu dalam etalase kaca lemari itu?" Ujar Ronald berfikir.


"Tunggu Nald, aku ingat sekarang." Ujar Bramantio.


"Ingat apa Bang?" Tanya Ronald heran.


"Waktu itu, Surya, Asisten Managerku itu datang membawa kotak kecil berisi paket patung gajah kecil itu." Ujar Bramantio.


"Tapi, gak ada nama pengirimnya, karena aku liat patungnya bagus dan aku suka, aku suruh Surya memajangnya di etalase kaca lemari." Ujar Bramantio.


Ronald pun diam dan berfikir, begitu juga dengan Bramantio, dia berfikir, siapa orang yang berani menyembunyikan kamera mini cctv diruangan kerjanya.


Sesaat kemudian, Ronald mengambil patung gajah mini, kemudian kembali duduk disofa dan menatap tajam wajah Bramantio.


"Abang perhatikan patung gajah ini." Ujar Ronald.


Bramantio mengambil patung gajah kecil dari tangan Ronald, dia mengamatinya.


Patung tersebut sudah tak ada matanya, sebab, kedua matanya sudah di lepas Ronald, saat dia mengambil kamera mini dari dalam mata patung tersebut.


"Gak ada yang aneh sama patung ini." Ujar Bramantio pada Ronald.


Bramantio terkesiap kaget, dia pun tersadar, dia perhatikan sekali lagi patung tersebut, dan memang benar, patung gajah sama dengan patung sosok dirinya.


Patung itu terbuat dari lilin, sama persis dengan patung dirinya, Bramantio pun geram, dia sadar, kalau dirinya sudah benar benar diperdaya Yanto.


"Keparat Yanto !!" Ujar Bramantio geram dan marah.


"Apa sebelumnya, abang kenal dengan Yanto itu? Setidaknya, pernah ketemu sebelumnya, tapi gak saling kenal?" Tanya Ronal ingin memastikan.


"Seingatku, aku gak pernah kenal dan belum pernah bertemu dengan Yanto itu Nald!" Ujar Bramantio.


"Aku kenal dia ya cuma pas dia aku minta buatin patung dewi Hera, setelahnya ya sudah, kami gak ada komunikasi lagi sampai sekarang." Ujar Bramantio kesal.


Ronald diam, dia tampak sedang memikirkan motif Yanto mengintai dan mengincar Bramantio.


"Kalo memang Yanto pelakunya, apa tujuannya mengawasiku? Aku gak pernah bermusuhan dengannya!" Tegas Bramantio jengkel.


"Pasti Bang, pasti ada suatu masalah antara dia dan abang, hanya, saat ini, masalah apa itu, abang belum tau !" Ujar Ronald.


"Gak mungkin kalo gak ada masalah dia sengaja dan nekat pasang cctv buat ngawasi kamu Bang!" Lanjut Ronald.


"Aku yakin, Yanto pasti dendam sama abang, makanya dia merencanakan semua ini, untuk membalaskan dendamnya." Tegas Ronald.


"Balas dendam? Apa masalahnya? Aku gak kenal dia, kenapa dia merasa udah aku rugikan? Tegas Bramantio.


"Siapa dia? Siapa keluarganya? Apa aku pernah menyakiti dia dan keluarganya, sehingga dia mau balas dendam padaku?" Tandas Bramantio.


"Bisa saja begitu Bang, aku akan cari tau." Tegas Ronald.


"Sebaiknya, Abang lebih berhati hati, selalu waspada, jangan sampe lengah." ujar Ronald.


"Aku yakin, cepat atau lambat, dia pasti akan datang menemuimu, memburumu, lalu berusaha membunuhmu bang !" Tegas Ronald.


Bramantio terhenyak kaget mendengar perkataan Ronald tersebut. Ada ketakutan dalam dirinya, dia takut, Yanto datang dan benar benar membunuhnya.


"Aku harus bagaimana Nald?" Tanya Bramantio bingung dan takut.

__ADS_1


"Abang tenang, jangan panik, aku akan minta anak buah temanku buat jagain abang 24 jam 7 hari." Ujar Ronald.


"Siapa temanmu?" Tanya Bramantio ingin tahu.


"Dia ketua gank Bang, mereka biasa bekerja di lokasi lokasi perjudian sebagai keamanan disana , kelompoknya terhebat, nomor satu diwilayahnya!" Ujar Ronald.


"Oh, begitu, baik, aku serahkan semuanya sama kamu Nald." Ujar Bramantio lega.


Dia lega, karena Ronald berjanji akan memberikan dia perlindungan ekstra, agar dia tak bisa di bunuh.


"Abang tau, dimana Yanto tinggal?" Tanya Ronald.


"Seingatku, menurut info yang aku dapat dari karyawanku saat hubungi Yanto, dia tinggal di Apartemen Samara, dia punya penthouse disana." Ujar Bramantio.


Ronald pun mengerti dan mengangguk angguk paham, dia lantas berdiri dan menatap wajah Bramantio.


"Baik Bang, aku pergi dulu, nanti aku ke sini lagi nemui abang !" Ujar Ronald.


"Tolong, secepatnya kamu suruh temanmu buat jagain aku ya Nald, berapa pun upahnya, akan ku bayar, yang penting mereka melindungiku!" Tegas Brqmantio.


"Siap Bang, secepatnya, mereka akan ku tugaskan menjaga dan melindungi abang !" Tegas Ronald.


"Aku pergi dulu bang ." Ujar Ronald.


"Iya Nald, Trima kasih." ujar Bramantio.


Ronald pun pergi keluar dari ruangan kerja Bramantio, Bramantio lanta kembali duduk di sofa.


Diambilnya dua kamera mini cctv yang ada di atas meja, di amati dan di pandanginya kedua kamera minu tersebut.


Wajah Bramantio tampak geram, dia menyimpan amarah dalam dirinya.


Bramantio marah pada Yanto, yang sudah memperdaya dirinya. Bramantio marah karena Yanto telah mengintai dan mengawasi dirinya selama ini.


Di ruang kamar sempit, Yanto tampak menahan emosi amarahnya.


Dia marah, karena dia tak bisa lagi mengawasi pergerakan Bramantio, Wajah Yanto tampak serius, dia memikirkan rencana lain.


Ponselnya berdering, Yanto pun tersadar dari lamunannya karena mendengar bunyi telepon.


Yanto lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu dia menghubungi salah satu nomor telepon yang tersimpan di ponselnya.


"Hallo, Bagaimana? Sudah kamu terima photo nya kan? Apa kamu tau, siapa orang itu?" Tanya Yanto dengan wajah serius ditelepon.


"Photo itu Ronald, dia Pembunuh berdarah dingin, pernah dipenjara 15 tahun karena kasus membunuh dan mutilasi korbannya." Ujar seseorang.


Seseorang yang sedang bicara dengan Yanto melalui telepon adalah informan Yanto.


Selama ini, orang tersebut yang memberikan informasi yang berhubungan dengan aksi balas dendam Yanto.


"Ronald baru saja dibebaskan dari penjara, karena masa tahanannya sudah habis." Ujar Seseorang misterius dari seberang telepon.


"Oh, baiklah, terima kasih infonya." Ujar Yanto di telepon.


"To, sebaiknya kamu lebih hati hati, Ronald itu sangat berbahaya, jangan sampe kamu lengah dan dia berhasil menangkapmu !" Tegas orang tersebut.


"Ya, aku akan berhati hati." Ujar Yanto.


Lalu dia menutup telepon, dan menyimpan telepon kedalam kantong celananya lagi.


"Ronald, mari bermain main denganku, aku gak takut denganmu! Kita sama sama penyuka mutilasi." Ujar Yanto geram.


"Aku suka, aku senang bertemu orang yang punya hobby yang sama denganku, mutliasi orang!" Tegas Yanto.


Yanto tersenyum menyeringai, matanya menatap jauh ke depan, tatapan matanya sadis, Yanto menahan amarah dan dendam dihatinya.


Yanto akan segera bertindak, untuk melanjutkan aksi balas dendamnya lagi.


Dia pun sudah punya target, siapa orang berikutnya yang akan dia buru dan dia bantai lalu dibunuhnya.


Dengan wajah geram, Yanto berdiri, lalu dengan cepat, dia pun keluar dari ruangan kamar sempit tersebut.


Dia pergi, untuk segera menjalankan aksi berikutnya, mendatangi targetnya, dan mulai melakukan pembunuhan kembali.


Yanto pergi dengan membawa dendam membara di dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2