VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertarungan di Mulai antara Herman dan Richard


__ADS_3

Para tamu undangan pesta pernikahan anak Mentri Sekretaris Negara banyak yang bubar untuk pulang kerumah masing masing, karena acara sudah selesai.


Diantara tamu yang pamit pulang, ada juga Richard diantaranya, Richard bersalaman dengan sang Mentri dan anaknya yang melaksanakan pernikahan, dia pamit pulang.


Di kejauhan, tampak Herman berbisik pada Dody, seperti menugaskan Dody untuk menjalankan rencananya. Mata Herman terus melihat ke arah Richard.


Richard lalu berjalan santai dan tenang, keluar dari gedung yang menggelar pesta pernikahan. Dia menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman parkir gedung tersebut.


Richard lantas masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia pun menyalakan mesin mobil, untuk kemudian segera pergi dari gedung tersebut.


Di dalam gedung, masih ada Herman, Peter, Jack, Prawira , tak ada Dody diantara mereka, Setelah Herman membisikkan sesuatu pada Dody tadi, Dody segera pergi, untuk menjalankan tugas yang di berikan Herman kepadanya.


Di sepanjang jalan, Richard tampak menyetir mobilnya dengan tenang dan santai, ponselnya berdering, dia lantas menghentikan mobilnya di pinggir jalan, karena tak mau menerima telepon sambil menyetir mobil.


Richard pun lantas hendak menerima panggilan telepon dari sebuah nomor yang tak di kenal. Untuk sesaat, Richard tampak ragu menerima panggilan telepon. Dia berfikir, nomor telepon siapa yang tengah menghubunginya saat ini.


Karena penasaran, Richard akhirnya menerima juga panggilan telepon tersebut.


"Ya, siapa ini?" ujar Richard dengan tegas, di teleponnya.


"Maaf, Pak. Saya Gavlin, pake nomornya Bramantio !" tegas Gavlin, dari seberang telepon.


"Oh, kirain siapa, ada apa, Vlin? Saya lagi di jalan." ujar Richard, di telepon.


"Bapak kira kira langsung ke Villa atau pulang kerumah Bapak?" tanya Gavlin, dari seberang telepon.


"Rencana ke Villa, kenapa?" tanya Richard, di telepon.


"Saya udah temukan barang bukti yang disembunyikan Sutoyo selama ini, semua saya simpan." tegas Gavlin, dari seberang telepon.


Mendengar barang bukti sudah di tangan Gavlin, Wajah Richard pun cerah, dia tampak senang dengan keberhasilan Gavlin menemukan barang bukti yang selama ini lenyap dan menghilang dari tempat penyimpanan barang bukti di kantor kepolisian.


"Kerja bagus, Vlin ! Baik, Saya akan segera ke Villa!" tegas Richard, senang dan bersemangat.


"Baik, Pak. Saya tunggu." Jawab Gavlin, dari seberang telepon.


"Vlin...Vlin, tunggu !" ujar Richard, ditelepon.


"Ya, kenapa, Pak?" tanya Gavlin, dari seberang teleponnya.


"Jangan lagi kamu pake nomor telepon Bramantio untuk menghubungi Saya, Saya khawatir, nomor Bram di lacak Herman dan komplotannya, sebaiknya kamu buang!" tegas Richard, dengan wajah serius, di telepon.


"Oh, iya. Maaf, Pak." Jawab Gavlin, dari seberang telepon.


"Ya, sudah, tunggu Saya." ujar Richard, di teleponnya.


Lalu, Richard segera menutup teleponnya, lalu, di simpannya ponsel ke dalam kantong jasnya, kemudian, dia menyalakan mesin mobil, dan menjalankan mobilnya. Richard melanjutkan perjalanannya menuju ke Villa, dimana saat ini, Gatot, Maya dan Gavlin bersembunyi.


Gavlin duduk di sofa ruang tengah Villa, dia melepaskan kartu simcard dari ponsel milik Bramantio, untuk keselamatan nyawa Maya dan Gatot, Gavlin menuruti perkataan Richard.


Gavlin pun lantas mematahkan kartu simcard milik Bramantio, lalu membakarnya dengan korek gas yang dia punya, di letakkannya simcard yang terbakar itu di dalam asbak yang ada di atas meja.


Gatot mendekati Gavlin, dia berdiri didepan Gavlin dan heran melihat Gavlin membakar simcard di dalam asbak.


"Kenapa kamu bakar simcard itu?" tanya Gatot.


"Ini simcard Bram, tadi aku telpon pak Richard pake nomor Bram, pak Richard melarangku, dan menyuruh membuang nomor telpon Bram, agar Herman dan komplotannya gak bisa melacak nomor Bram!" jelas Gavlin.


"Oh, Richard benar, kita harus berhati hati, Vlin. Herman dan Komplotannya itu orang orang licik, mereka bisa menggunakan segala macam cara untuk menghancurkan musuh musuhnya." ujar Gatot, menjelaskan.


"Iya, Om." ujar Gavlin.


Gatot lantas duduk di sofa, di samping Gavlin yang tengah menyimpan ponsel Bramantio ke dalam kantong celananya.


"Kamu ngomong apa saja sama pak Richard ditelpon?" tanya Gatot.


"Aku bilang, aku udah menemukan barang bukti, Om." ujar Gavlin.


"Lantas, apa reaksi Richard?" tanya Gatot lagi, penasaran.

__ADS_1


"Pak Richard mau ke sini, sekarang lagi dijalan katanya." jelas Gavlin.


"Oh, begitu. Baiklah. Kita tunggu beliau datang." ujar Gatot.


"Ya, Om." Angguk Gavlin.


---


Di jalanan yang sedikit sepi, Richard masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, mobil meluncur dijalanan.


Kembali ponselnya berdering, Richard pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan, lalu, diambilnya ponsel dari dalam kantong jasnya.


Richard melihat nomor telepon yang menghubunginya, nomor telepon salah satu anak buahnya, dengan cepat, Richard pun menerima panggilan telepon tersebut.


"Ya, ada apa ?" tanya Richard, di telepon.


"Sebaiknya Bapak putar balik, jangan ke arah Villa. Bapak sedang di ikuti!" Ujar anak buah Richard, dari seberang telepon.


Mendengar perkataan anak buahnya di telepon, Richard pun kaget, dia tak menyangka, kalau dia telah di ikuti, dan dia tahu, pasti orang yang sedang mengikutinya, orang suruhannya Herman dan komplotannya.


Perlahan, Richard menurunkan sedikit kaca spion depan yang ada di dalam mobilnya. Dari kaca spion itu, Richard melihat, di belakang mobilnya yang berhenti, tak jauh jaraknya, ada sebuah mobil sedan yang juga ikut berhenti.


Richard pun tersenyum sinis melihat hal itu, lalu, Richard kembali bicara di teleponnya.


"Terima kasih, sudah kasih info ke saya!" tegas Richard, di teleponnya.


"Ya, Pak. Saya mengintai pergerakan Herman dan komplotannya, dari gedung pertemuan tadi ,saya lihat Pak Dody menugaskan salah satu anak buahnya untuk mengikuti Bapak!" jelas anak buah Richard, dari seberang telepon.


"Saya ikuti anak buah Pak Dody, ternyata benar dugaan saya, dia sedang mengikuti Bapak!" lanjut anak buah Richard, dari seberang telepon.


"Baik, tolong kamu atasi orang itu!" ujar Richard, di telepon.


"Baik Pak!" Jawab anak buah Richard, dari seberang telepon.


Lalu, Richard menutup teleponnya, dan menyimpan ponsel kembali ke dalam kantong jasnya. Dia tersenyum sinis.


"Rupanya kamu penasaran dengan tempat persembunyian Gatot, Baiklah Herman, mulai saat ini, kita bertarung ! Siapa yang kalah dan menang diantara kita nanti!" ujar Richard, tersenyum sinis.


Dengan santai, Richard terus menyetir mobilnya, di pertigaan jalan, dia berbelok ke arah kiri jalan, dia mengurungkan niatnya untuk ke Villa.


Mobil yang mengikutinya ikut berbelok ke kiri, mereka terus mengawasi mobil Richard dari belakang, mobil Richard terus melaju di jalanan dengan kecepatan sedang.


Di dalam mobilnya, Richard tetap santai, seolah, tak ada yang mengikutinya, di belakang mobilnya, dua mobil sedan terus mengikutinya.


Sebuah mobil sedan tampak mengebut ke arah dua mobil yang tengah mengikuti Richard, lantas, mobil itu dengan gerak cepat berbelok dan berhenti dengan posisi memalang, menghalangi laju jalan mobil sedan.


Satu mobil sedan berhasil menghindar, dan terus meluncur meninggalkan mobil sedan yang memalang jalan itu, satu mobil sedan terus mengejar mobil Richard.


Seorang Pemuda dengan memakai jaket dan celana jeans belel keluar dari dalam mobil, Pemuda itu anggota kepolisian, anak buah Richard, yang ditugaskan Richard untuk mengawasi pergerakan Herman dan komplotannya.


Dan Pemuda itu menghalau laju mobil sedan yang mengikuti Richard, karena menjalankan perintah dari rekannya, yang tadi menelpon Richard dan memberi tahu Richard, bahwa dia sedang di ikuti.


Dua Orang petugas Intelijen keluar dari dalam mobil, salah satunya langsung melepaskan tembakan ke arah sang Pemuda.


Sang Pemuda pun bersembunyi di samping mobilnya, menghindar dari tembakan ke dua Intel yang menyerangnya.


Sementara, Mobil Richard terus meluncur di jalanan, tidak jauh dari mobilnya, di belakang, satu mobil sedan yang tadi berhasil melepaskan diri dari halauan mobil sang Pemuda terus mengejar mobil Richard.


Di jalanan, aksi tembak menembak pun terjadi, dua lawan satu. Sesama anggota kepolisian, sedang baku tembak di jalanan.


Peluru mengenai bahu kiri sang Pemuda, Sang Pemuda pun kembali bersembunyi di samping mobilnya, dia lantas melihat bahunya yang terluka dan mengeluarkan darah, Pemuda itu pun marah.


Lalu, di isinya kembali pistol dengan peluru peluru, kemudian, dia bergerak ke arah lain, masih tetap bersembunyi di samping mobilnya.


Dari tempat lain, di samping mobilnya, dia sekarang mudah melihat dua petugas intelijen yang juga bersembunyi di balik pintu mobil mereka dan menembak.


Sang Pemuda lantas membidik salah seorang petugas intel yang terus menembak, setelah sasarannya dia rasa tepat, sang Pemuda pun melepaskan tembakannya.


Seketika, Salah seorang petugas intelijen pun terkapar mati, dengan kondisi keningnya berlubang, karena terkena tembakan peluru dari pistol sang Pemuda.

__ADS_1


Melihat temannya terkapar di aspal jalanan, Petugas Intelijen lainnya tampak marah, dia pun kalap, lantas memberondong sang Pemuda dengan tembakan tembakannya.


Sang Pemuda menghindar dan bersembunyi, lalu, menembakkan juga peĺuru dari pistolnya ke arah petugas intelijen tersebut.


Tiba tiba saja, Peluru di pistol petugas intelijen habis. Sang Pemuda diam sesaat, dia menunggu, tak ada lagi suara tembakan, lalu, dengan cepat, Sang Pemuda berdiri.


Sambil berjalan ke arah petugas Intelijen yang bersembunyi di belakang mobilnya, Sang Pemuda melepaskan tembakan tembakan dari pistolnya ke arah persembunyian petugas Intelijen.


Sang Pemuda terus menembakkan peluru peluru, hingga akhirnya, peluru di pistolnya pun habis. Lantas, sang Pemuda membuang pistolnya yang kosong tanpa peluru.


Lalu, dia melompat, dan menerjang petugas intelijen yang bersembunyi di belakang mobil.


Sang Pemuda melesat naik ke atas bagasi mobil lalu turun dan menendang petugas intelijen yang berjongkok dan bersembunyi di belakang mobilnya.


Petugas Intelijen pun terjatuh ke aspal, Sang Pemuda segera mendekatinya, dia lantas menendang petugas intelijen, Petugas Intelijen berusaha menghindar, dengan tangannya, dia menghalangi tendangan kaki Sang Pemuda.


Lantas, saat ada kesempatan, dengan cepat, Petugas Intelijen berdiri, dia pun lantas menyerang sang Pemuda, kini, setelah baku tembak, mereka duel satu lawan satu dengan tangan kosong.


Pertarungan terjadi, antara Petugas Intelijen dan Sang Pemuda, yang bertugas di divisi penyidikan kriminal dan pembunuhan.


Pertarungan sengit terjadi, jual beli pukulan di pertontonkan keduanya, saling serang menyerang, pukul memukul, tendang menendang.


Hingga pada akhirnya, Sang Pemuda berhasil menjatuhkan Petugas Intelijen, Petugas Intelijen terjerembab ke aspal, dengan cepat, Sang Pemuda menghujani tubuhnya dengan tendangan dan pukulannya, bertubi tubi.


Petugas Intelijen tak berdaya, dia kalah bertarung dengan sang Pemuda, yang ternyata memiliki ilmu bela diri yang cukup tangguh.


Sang Pemuda lantas berjongkok dan mencekik leher petugas intelijen dengan tangannya. Cengkraman dan kuncian tangannya begitu kuat di leher petugas intelijen, hingga dia susah bernafas.


Sang Pemuda tak perduli, terus mencekal leher petugas intelijen dengan kuncian tangannya, hingga akhirnya, petugas Intelijen pun terkapar mati, karena kehabisan nafasnya, dia mati di tangan sang Pemuda.


Mengetahui lawannya mati, Sang Pemuda pun melepaskan cekalan kuncian tangannya di leher petugas Intelijen yang sudah mati. Lalu, Sang Pemuda pun berdiri.


Sang Pemuda tersenyum sinis melihat mayat petugas Intelijen di depannya. Lalu, Sang Pemuda mengambil ponselnya, dan menelpon seseorang.


"Pengintai udah aku habisi. Pak Richard aman!" ujar Sang Pemuda, di telepon.


Belum sempat dia menutup teleponnya, sebuah peluru menghantam kepalanya, ponsel terlepas dari tangannya, lalu, Sang Pemuda terkapar, dia mati, kepalanya mengeluarkan darah segar.


Tidak jauh darinya, tampak seorang petugas intelijen yang berdiri di samping mobilnya berdiri, ternyata, dia yang tadi mengikuti mobil Richard.


Karena kehilangan jejak Richard, dia pun memutuskan untuk kembali dan menolong temannya yang di hadang mobil sang Pemuda.


Setelah dia mengetahui kedua rekannya mati di bunuh Sang Pemuda, dia pun lantas melepaskan tembakannya, dan membunuh sang Pemuda.


"Halloo?? Naryo...Naryooo !!!" ujar suara, dari seberang telepon.


Petugas Intelijen yang menembak sang Pemuda berjalan mendekati mayat sang Pemuda. Lalu, diambilnya ponsel sang Pemuda yang tergeletak di aspal jalanan.


"Temanmu udah mati tikus busuk!" ujarnya, di telepon.


"Keparaaat !!" ujar suara, dari seberang telepon.


Lalu, petugas Intelijen mematikan telepon sang Pemuda dan melemparkannya ke aspal, lalu, di injak injaknya ponsel itu, hingga pecah dan hancur.


Dia lantas kembali ke mobilnya, lalu, pergi meninggalkan lokasi tersebut.


---


Mobil Richard masuk ke halaman rumahnya, dia memutuskan pulang kerumahnya dan mengurungkan niatnya ke Villa.


Demi menjaga dan melindungi Gatot, juga Maya di Villa, Richard menahan rasa penasarannya untuk melihat barang barang bukti yang sudah di temukan Gavlin.


Lalu, Richard keluar dari dalam mobilnya, dia lantas berjalan masuk ke dalam rumahnya yang cukup besar dan luas serta bagus itu.


Richard masuk ke dalam rumahnya, dia menutup dan mengunci pintu rumah, lalu, dia mengintip dari balik horden jendela, melihat ke arah luar rumah.


Tak ada siapa siapa di luar rumahnya, dia pun merasa aman, karena tidak lagi di ikuti sampai kerumahnya.


Lalu, Richard pun berjalan masuk ke dalam kamarnya, saat di dalam kamar, dia menelpon Gatot.

__ADS_1


"Hallo, Saya gak jadi ke Villa, tadi ada yang mengikuti, nanti kita atur lagi pertemuan kita di Villa, setelah situasi aman!" ujar Richard, ditelepon.


Lalu, dia langsung mematikan ponselnya, dia sengaja bicara singkat di telepon dengan Gatot, agar teleponnya tidak bisa di lacak Herman dan komplotannya.


__ADS_2