VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terbunuhnya Mulyono


__ADS_3

Richard bersama Gatot dan beberapa petugas kepolisian, anak buah Richard dan Gatot masuk ke dalam ruang kerja Herman.


Wajah Richard tampak menunjukkan kemarahan pada Herman.


Herman yang tengah duduk di kursi meja kerjanya kaget, melihat kedatangan Richard dan Gatot dengan membawa pasukan kepolisian.


Herman dengan marah lantas segera berdiri, lalu, dia pun berjalan dan menghampiri Richard.


"Apa apaan ini Richard !!" bentak Herman, penuh amarah.


"Kami datang untuk menggeledah ruang kerjamu, mencari bukti penting dari kasus 18 tahun yang lalu!!" tegas Richard.


"Berani kalian menggeledah ruang kerja Mentri Kehakiman?!!" bentak Herman penuh amarah.


Gatot mendekati Herman, lantas dia menyerahkan surat perintah penggeledahan ruang kerjanya. Melihat surat di tangan Gatot, Herman pun diam.


"Apa yang kalian cari? Aku gak menyembunyikan apapun di ruangan ini!" hardik Herman marah.


"Aku mencari data asli kasus 18 tahun lalu, Aku tau, kamu memalsukan data datanya, sehingga kasus itu jadi kadaluwarsa!" tegas Richard.


"Silahkan saja cari! Buktikan, kalo aku memang merubah data kasus 18 tahun lalu !" tegas Herman menantang.


"Ingat Richard ! Kalo kamu gak bisa membuktikan tuduhanmu, aku akan menuntut balik atas pencemaran nama baik!!" Ancam Herman, penuh amarah.


Richard diam tak menjawab, dia hanya tersenyum sinis menatap wajah Herman yang tampak menahan amarahnya.


"Geledah seluruh ruangan ini!" Perintah Richard pada semua anggota kepolisian.


Lantas, para anggota kepolisian pun bergerak cepat, mereka menggeledah seluruh ruang kerja Herman, semua sudut sudut ruangan di geledah para petugas kepolisian.


Mereka tampak serius mencari barang bukti, berupa buku data kasus 18 tahun silam. Herman berdiri di tempatnya dengan tersenyum sinis.


Dia terlihat sangat tenang menghadapi situasi tersebut, tak ada kepanikan di wajah Herman saat para petugas Kepolisian menggeledah seluruh ruangan kerjanya.


Karena Herman tahu, bahwa buku berisi data kasus pembunuhan 18 tahun lalu tidak di simpannya dalam ruang kerjanya. Jadi, tak ada yang perlu dia khawatirkan.


Salah seorang petugas kepolisian bergegas menghampiri Richard dan Gatot yang tengah berdiri di hadapan Herman.


"Semua bersih ! Gak ditemukan barang bukti !" ujar Petugas Kepolisian, memberi laporan pada Richard dan Gatot.


"Bersiaplah, menghadapi tuntutan pencemaran nama baik !" Ancam Herman, tersenyum sinis.


Herman merasa menang, karena Richard dan Gatot tidak menemukan bukti buku data asli kasus 18 tahun lalu.


Richard tampak geram dan menahan amarahnya, dia menatap tajam wajah Herman yang tersenyum sinis padanya.


"Keparat kamu !! Kamu pasti menyembunyikannya di rumahmu!!" ujar Richard , geram dan marah.


"Kita sekarang kerumahnya, kita geledah rumahnya!!" ujar Richard, memberi perintah.


"Heei !! Apa apaan ini !! Kalian hanya di berikan surat perintah penggeledahan kantorku saja, tapi tidak dirumahku!" bentak Herman marah.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Gatot lantas mengambil satu lembar lagi kertas surat. Lalu, di tunjukkannya lembaran kertas surat yang berisi perintah penggeledahan rumah Herman.


Surat itu bukan hanya menyatakan perintah dan izin menggeledah rumah Herman saja, namun, dalam surat itu tertulis perintah penangkapan Herman, dengan tuduhan telah merubah data buku asli kasus pembunuhan 18 tahun lalu.


Herman pun terhenyak kaget, lantas terdiam, dia mulai cemas, karena bukti data asli kasus 18 tahun dia sembunyikan di dalam gudang belakang rumahnya.


Dia khawatir, jika para petugas polisi menggeledah gudangnya, mereka pasti akan menemukan barang bukti tersebut.

__ADS_1


"Kamu ikut kami!!" ujar Richard.


"Borgol dia!!" Perintah Richard pada salah satu anggota kepolisian.


Anggota Kepolisian mengangguk hormat, lantas, Petugas Polisi pun mau memborgol kedua tangan Herman, namun, Herman melawan dan menepiskan tangan Petugas Polisi.


"Apa apaan ini!! Aku menolak di borgol!!" tegas Herman marah.


"Borgol dia!!" Perintah Richard lagi pada Anggota Polisi.


Richard tak perduli dengan perkataan Herman, dia tetap mau, Herman di borgol, agar tidak bisa melarikan diri.


Petugas Polisi pun cepat memborgol ke dua tangan Herman, Herman pun pasrah tangannya di borgol.


"Bawa dia !" Perintah Richard.


Petugas Polisi mengangguk, mengiyakan dengan hormat, lantas dia memegang tangan Herman. Richard dan Gatot berjalan keluar dari dalam ruang kerja Herman.


Petugas Polisi pun menarik tangan Herman dan membawanya keluar dari ruang kerjanya. Herman pun dengan terpaksa mengikuti petugas polisi.


Para Petugas Polisi lainnya lantas juga ikut keluar dari dalam ruang kerja Herman.


Herman di bawa Petugas Kepolisian dengan tangan di borgol, sepanjang jalan di koridor gedung kementrian kehakimann, para karyawan dan karyawati yang bekerja di gedung kementrian kehakiman melihat Herman yang di seret Polisi dalam keadaan di borgol.


Mereka pun saling berbisik, semua orang heran, kasus apa yang menimpa Herman, sehingga dia di borgol dan di bawa Polisi dari ruang kerjanya.


Herman terlihat sangat malu, karena begitu banyaknya orang orang yang menyaksikan dirinya di tangkap Polisi dan di borgol.


Richard sengaja tak menutupi tangan Herman yang di borgol, agar dia bisa mempermalukan Herman di muka umum, Richard ingin, orang orang menyaksikan, Herman di tangkap Polisi.


Richard dan Gatot terus berjalan keluar dari gedung kementrian kehakiman, Para Petugas Polisi beserta Polisi yang membawa Herman juga keluar dari dalam gedung tersebut.


Dia sengaja tidak ikut masuk ke dalam ruang kerja Herman dan memilih menunggu di luar, agar dia tak mengganggu kerja Richard dan Gatot yang menggeledah ruang kerja Herman.


Melihat kedatangan Herman yang dipegangi Petugas Polisi dan tangannya di borgol, Mulyono pun tersenyum sinis, lantas, dia segera berjalan dan menghampiri Herman beserta Richard dan Gatot beserta para Petugas Kepolisian.


Richard, Gatot dan para Petugas Kepolisian menghentikan langkah kaki mereka, mereka semua melihat Mulyono yang berdiri dihadapan Richard serta Gatot.


Melihat Mulyono, Herman tampak sangat senang sekali, wajahnya berbinar binar kesenangan, dia berharap, Mulyono mau melepaskannya.


"Mulyono !! Kamu datang pasti mau membebaskanku, iya kan?" ujar Herman, dengan wajahnya yang senang.


Mulyono pun tersenyum kecil menatap tajam wajah Herman yang tampak senang sekali melihat Mulyono.


"Lepaskan aku !! Pak Mentri temanku!!" ujar Herman.


Petugas Polisi diam , dia tetap memegangi tangan Herman, Petugas Polisi tak mau menuruti perintah Herman. Sebab baginya, Herman bukanlah pimpinannya.


"Suruh anak buahmu melepaskan Herman, Chard!" ujar Mulyono dengan wajahnya yang tegang dan sikap dingin.


"Apa apaan kamu? Kenapa kamu minta Herman dilepaskan?" ujar Richard marah.


"Percaya saja padaku ! Aku gak akan khianati kamu lagi!!" tegas Mulyono, dengan wajahnya yang serius.


Richard pun lantas menarik nafasnya, lalu, dia menoleh pada anggota polisi yang memegangi tangan Herman.


"Lepaskan dia !" Perintah Richard.


Mau tak mau, Petugas Polisi pun melepaskan pegangan tangannya, Herman mengarahkan kedua tangannya agar petugas Polisi melepaskan juga borgolnya.

__ADS_1


Petugas Polisi melihat Richard, dia menunggu perintah Richard selanjutnya.


"Jangan lepaskan, biarkan tangannya di borgol!! Dia harus ikut dengan kita kerumahnya!!" tegas Richard, pada Petugas Polisi.


"Siap !" Jawab Petugas Polisi.


Petugas Polisi pun mematuhi perintah Herman, Herman tampak geram dan kesal, karena Richard melarang anak buahnya untuk membuka borgol di tangannya.


"Herman ! Kemarilah. Mendekatlah padaku!" ujar Mulyono, dengan wajah tegang dan sikap tenangnya.


Dengan wajahnya yang senang, Herman pun cepat berjalan menghampiri Mulyono, namun saat Herman berjalan ke arah Mulyono apa yang terjadi ?


Mulyono cepat mengeluarkan pistol dari balik baju di pinggang depannya.


"Pisstooolll !!" teriak salah satu petugas Polisi.


Dengan gerak cepat, para Petugas Polisi pun bersiap dan mencabut pistol mereka masing masing, lantas, para petugas polisi segera mengarahkan pistolnya pada Mulyono.


Richard dan Gatot panik melihat Mulyono memegang pistol dan mengarahkannya pada Herman yang tengah berjalan mendekatinya.


Herman kaget melihat di tangan Mulyono ada pistol, namun, belum sempat dia berbalik dan menghindar, Mulyono sudah menembakkan pistol ditangannya.


Para Petugas Polisi pun spontan menembaki Mulyono, karena Mulyono mengeluarkan tembakan lebih dulu.


"Hentikaaaan !! Jangan meneeembaaak!!" Teriak Richard, memberi perintah pada para anggota kepolisian.


Seketika, para anggota kepolisian pun menghentikan tembakannya masing masing, Mulyono terhuyung huyung lalu jatuh ke tanah dengan tubuh berlumuran darah, akibat terkena tembakan dari pistol para petugas kepolisian.


Begitu banyaknya peluru yang menembus di tubuh Mulyono, hingga dia terkapar jatuh ditanah.


"Muuuullll !!" teriak Richard histeris.


Richard berlari cepat mendekati Mulyono, lalu , di rangkulnya tubuh Mulyono yang sudah berlumuran darah itu.


Gatot hanya terdiam di tempatnya berdiri, dia sangat syock, melihat Mulyono di tembak para petugas polisi.


Lalu Gatot melihat ke arah Herman, Herman pun terlihat terkapar di tanah, dengan luka di bagian perutnya.


"Cepaaat panggil Ambulaaaanceee!!" teriak Gatot, memberi perintah pada petugas polisi.


Salah seorang petugas Polisi pun bergegas menghubungi Ambulance, agar segera datang menolong nyawa Mulyono juga Herman.


"Maa...aaf...kan...A...ku...me...nge..ce...wakan...mu." ujar Mulyono, terbata bata bicara.


Richard tampak menangis sedih, di dekap dan di peluknya erat tubuh Mulyono, dia tak perduli darah Mulyono menempel di pakaiannya.


"Kamu akan baik baik aja, Mul. Bertahanlah ! Sebentar lagi ambulance datang, dan kamu akan di bawa kerumah sakit terdekat!!" tegas Richard sambil menangis sedih.


Mulyono terdiam, tak ada lagi sepatah kata yang keluar dari mulut Mulyono, matanya tampak terbuka lebar, Richard semakin menangis histeris, melihat Mulyono sudah tak bernafas, dan mati.


"Tidaaaaaakkkkk !!" teriak Richard, menangisi kematian Mulyono dalam pelukannya.


Gatot pun terdiam menatap mayat Mulyono yang berada dalam dekapan Richard, Gatot juga tampak bersedih, dia juga sangat menyesali, karena sudah memberi izin Mulyono ikut bersama mereka.


Sama sekali Gatot mau pun Richard tak berfikir dan tak menyangka, jika Mulyono ingin ikut bersama mereka menggeledah ruang kerja Herman, karena dia sudah merencanakan sebelumnya untuk membunuh Herman.


Mulyono menembak Herman, agar Herman mati, dan dia membalaskan dendamnya, sebab, Herman dan komplotannya sudah membunuh anak semata wayangnya beserta istrinya dengan keji.


Richard terus menangis, ditutupnya kedua mata Mulyono yang terbelalak lebar, dia pun lantas terduduk ditanah sambil tetap memeluk tubuh Mulyono, dia sangat sedih atas kematian Mulyono, dia tak menyangka, jika Mulyono nekat menembak Herman di muka umum.

__ADS_1


__ADS_2