
Keesokan paginya, terlihat Bramantio di dalam kamar, dirumah persembunyiannya sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat serius menerima telepon.
"Kamu serius, Richard selama ini memata matai kalian?" ujar Bramantio dengan serius, di telepon.
"Baik, aku akan segera datang ke sana, tunggu aku!" ujar Bramantio, di telepon.
Lalu, Bramantio pun segera menutup teleponnya, dia lantas bergegas keluar dari dalam kamarnya.
Bramantio berjalan diruangan dalam rumah persembunyiannya, dia menemui seorang petugas polisi yang berjaga di dalam rumah.
Bramantio membisikkan sesuatu ke telinga petugas polisi, Petugas itu pun mengangguk, mengerti dan paham dengan apa yang di sampaikan Bramantio.
Lalu, Petugas Polisi bergegas pergi meninggalkan Bramantio, dia masuk ke ruang lainnya. Sementara, Bramantio duduk di sofa, menunggu.
Di luar, di tempat persembunyiannya, Gavlin tampak sedang mengoperasikan remote controlnya di dalam mobil.
Dengan menggunakan kamera drone nya, Gavlin mulai mengawasi pergerakan Bramantio.
Dari Kamera Drone yang terbang tinggi di sekitar area rumah persembunyian Bramantio, dengan jelas Gavlin melihat, begitu banyaknya petugas polisi dengan memakai senjata ditangannya berdiri berjaga jaga di setiap sudut rumah persembunyian Bramantio.
Dari Kamera Drone Gavlin melihat, ada beberapa Petugas Polisi yang berjalan melindungi dan menutupi seseorang. Orang itu seperti Bramantio.
Gavlin terus perhatikan dari kameranya, Orang itu yang seperti Bramantio masuk ke dalam sebuah mobil sedan.
Gavlin pun tersenyum sinis, dengan cepat, dia menarik kembali Kamera dronenya. Kamera Drone pun melesat ke arah Gavlin, Gavlin segera keluar dari dalam mobilnya.
Dia berdiri disamping mobil, menunggu kedatangan Kamera Drone. Setelah kamera drone turun ke tanah, dengan cepat Gavlin mengambilnya, lalu, di simpannya ke dalam bagasi mobilnya.
Gavlin menutup pintu bagasi mobil, lalu, dia segera masuk ke dalam mobil, dia lantas menyalakan mesin mobilnya.
Gavlin mengambil teropong yang ada di jok depan, disampingnya, lalu, dengan teropong ditangannya, dia melihat ke arah rumah persembunyian Bramantio.
Dari teropongnya, Gavlin melihat, sebuah mobil sedan meluncur keluar dari rumah persembunyian dan berbelok ke kiri, lalu, di belakangnya, menyusul keluar sebuah mobil sedan lagi dan berbelok ke kanan, berlainan arah.
Gavlin pun heran, dia meletakkan teropong di jok sampingnya, lalu, dia berfikir, mengapa ada dua mobil yang keluar dari dalam rumah persembunyian Bramantio.
Saat mobil sedan melintas melewati mobil Gavlin, Gavlin dari dalam mobilnya melihat ke dalam mobil sedan, dia melihat seperti Bramantio duduk di jok belakang mobil.
Dengan cepat, Gavlin pun lantas menjalankan mobilnya, dia memutar balik mobilnya, lalu segera mengejar mobil sedan tersebut.
Mobil sedan terus meluncur dijalanan, di belakangnya, Gavlin mengejar. Gavlin lantas menginjak gas mobil, menambah kecepatan mobilnya.
Mobil Gavlin lantas melaju dengan kecepatan tinggi, melesat cepat. Mobil Gavlin berhasil menyusul mobil sedan tersebut.
Dengan cepat, Gavlin membanting stirnya, mobilnya berhenti di depan mobil sedan, menghalangi jalan. Supir mobil sedan kaget, langsung cepat menginjak rem.
Gavlin mengambil pistol dari dalam dashboard mobil, dengan cepat, Gavlin lantas keluar dari dalam mobil. Dengan wajahnya yang garang, Gavlin berjalan mendekati mobil sedan.
Dengan sikap dingin, Gavlin menembak supir mobil dengan pistolnya, Supir pun mati di tempat. Lalu, Gavlin berjalan ke belakang, di bukanya pintu belakang mobil.
Lalu, Gavlin menarik keluar orang yang berada didalam mobil, setelah keluar dari dalam mobil dan berdiri di samping mobil, Gavlin pun kaget.
"Kepaaaraaat!! Kamu bukan Bramantio!!" teriak Gavlin, memukul wajah pria dengan ujung gagang pistolnya.
__ADS_1
Pria itu ternyata hanya menyerupai Bramantio, Bramantio tadi meminta petugas polisi untuk menugaskan satu orang menyamar sebagai dirinya.
Itu dilakukan Bramantio untuk berjaga jaga, agar, dia tidak bisa di ikuti Gavlin jika Gavlin mengejarnya. Dan rencana Bramantìo pun berhasil. Gavlin tertipu mentah mentah.
Bramantio memang benar benar licin, dia punya banyak macam strategi untuk bisa mengelabui Gavlin. Dan Gavlin pun sangat geram.
"Kemana Bram?!!" bentak Gavlin penuh amarah.
"Dia menemui pak Herman! Aku di suruh menyamar sebagai pak Bram!!" ujar Pria yang menyamar sebagai Bramantio.
Potongan tubuhnya sama persis, dan dia memang didandani sangat mirip dengan Bramantio, hingga Gavlin, tidak bisa membedakan Bramantio asli atau palsu, saat dia melihat Bramantio tadi dari dalam mobilnya.
"Dimana tempatnya!! Cepat katakan!!" ujar Gavlin membentak marah.
"Jalan radio dalam, no.36, bekasi timur!" tegas Pria yang menyamar sebagai Bramantio.
Gavlin lantas menembak mati pria tersebut. Lalu, dengan cepat, Gavlin masuk ke dalam mobilnya. Dia menjalankan mobilnya.
Mobil Gavlin pun meluncur dengan kecepatan tinggi, dia mau menyusul Bramantio yang tadi mobilnya pergi ke arah kanan jalan dari rumah persembunyiannya.
Mayat Pria yang menyamar sebagai Bramantio tergeletak ditanah, berlumur darah, dan juga, Supir mobil pun terkapar di jok depan mobil, dengan tubuh bersandar di stir mobil.
---
Di dalam mobilnya, tampak Bramantio sendiri yang menyetir mobilnya, dia menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, karena merasa aman, dan tak ada yang mengikutinya di belakang.
Teleponnya berdering, Bramantio lalu mengambil ponselnya dari dalam dashboard mobil, lalu, dia menerima panggilan telepon itu.
"Ya, aku lagi dijalan sekarang, kalian tunggu aja disana!" ujar Bramantio, di telepon.
---
Di ruang kerjanya, Herman bersama Peter, Prawira, Jack dan juga Dody sedang menunggu kedatangan Bramantio.
"Bram lagi menuju ke sini, kita tunggu aja dia." ujar Peter.
Peter tadi yang menghubungi Bramantio, atas perintah Herman tentunya sebagai pemimpin mereka.
"Ya, kita tunggu Bram, agar Bram juga tau, apa yang akan kita jalani nantinya." ujar Dody, dengan wajahnya yang serius.
Peter, Prawira, Jack dan Herman mengangguk, mengiyakan perkataan Dody Mulyadi. Mereka pun sepakat menunggu Bramantio.
---
Mobil Gavlin terus melesat dengan kecepatan tinggi, mobil milik Gavlin benar benar sangat cepat, sebentar saja, dia sudah berhasil menyusul Bramantio.
Dengan mudah dia menemukan mobil sedan yang di bawa Bramantio, karena jalur jalanan di sekitar itu hanya satu arah, dan jalannya lurus terus dan panjang, belum ada belokan di depannya.
Karena berjalan lurus, mobil sport Gavlin pun melaju mulus dengan cepat dijalanan, dia sekarang sudah berada tepat di belakang mobil sedan Bramantio.
Jalanan itu juga sangat sepi, karena memang Bramantio memilih tempat persembunyiannya di tempat yang sangat sepi, yang tidak terjangkau, dan jarang sekali di lalui kendaraan kendaraan ataupun orang orang yang berjalan kaki melintas di sekitar rumah persembunyiannya.
Karena itu dia betah berdiam diri di rumah persembunyiannya selama ini, karena dia sangat merasa aman dan nyaman selama tinggal di dalam rumah persembunyiannya tersebut.
__ADS_1
Rumah persembunyianya itu pemberian Sutoyo, Sutoyo yang memberikannya, biasanya rumah itu dulu di gunakan Sutoyo untuk memberi perlindungan bagi saksi dari sebuah kasus yang diselidikinya.
Dari dalam mobilnya, Bramantio melihat dari kaca spion depan didalam mobilnya, Bramantio melihat, di belakang, ada mobil sedang mengikutinya.
Wajah Bramantio pun panik, karena dia melihat, mobil dibelakangnya berusaha menyalip mobilnya. Bramantio pun lantas menginjak gas mobil, di tambahnya kecepatan mobilnya.
Bramantio berusaha melarikan diri dari kejaran mobil di belakangnya, dia belum tahu, jika yang mengejarnya adalah Gavlin.
Melihat mobil Bramantio melaju cepat dan menjauh, Gavlin pun geram didalam mobilnya. Lalu, dia menambah kecepatan mobilnya.
Mobil Gavlin pun langsung melesat cepat, melaju ke depan, menuju mobil Bramantio, seketika, mobil Gavlin pun menyalip mobil Bramantio, Bramantio kaget, langsung membanting stir mobilnya.
Mobil Gavlin berhenti ditengah jalan, sementara, mobil Bramantio berhenti dan membentur trotoar jalanan.
Dengan cepat, sambil memegang pistol ditangannya, Gavlin pun keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia segera cepat berjalan menuju mobil Bramantio.
Di dalam mobil, Bramantio meringis kesakitan, dia memegang keningnya yang berdarah, karena membentur stir mobilnya.
Gavlin melongo dari jendela pintu depan mobil disamping Bramantio, dia melihat jelas wajah Bramantio di dalam mobil.
Dengan cepat, Gavlin membuka pintu mobilnya, lalu, ditariknya dengan kasar tubuh Bramantio keluar dari dalam mobilnya.
Lalu Gavlin melemparkan tubuh Bramantio ke aspal jalan, Bramantio pun berguling guling di aspal jalanan karena dilempar dengan kasar oleh Gavlin.
Dengan sikap dingin dan wajah penuh amarah, Gavlin menembak kedua kaki Bramantio.
"Aaaarrrggghhh!!!" Bramantio teriak sekuat kuatnya, dia kesakitan.
Gavlin tak perduli, lalu, dia menembak lengan tangan Bramantio, kembali Bramantio pun berteriak sekencang kencangnya.
"Bedebaaaah kamu Gaaavliiiiin!!" teriak Bramantio.
Dia teriak sambil menjerit merintih kesakitan, dipeganginya lengan tangannya yang tertembak dan berdarah, Bramantio pun tampak geram pada Gavlin.
"Kamu pikir, dengan menyuruh orang berpura pura nyamar sebagai kamu, aku gak bisa menemukanmu, Bram! Jangan ngimpi kamu!!" bentak Gavlin penuh amarah.
Lalu, Gavlin pun menarik kuat rambut Bramantio, lalu, dia menyeret tubuh Bramantio di atas aspal jalanan.
Gavlin lantas meletakkan tubuh Bramantio di belakang mobilnya, lalu, dia segera mengambil rantai dari dalam bagasi mobilnya.
Kemudian, Gavlin pun segera mengikat kedua tangan Bramantio dengan rantai , lalu, setelah mengikat kuat kedua tangan Bramantio, di ikatkannya rantai pada bagian bemper belakang mobilnya, rantai pun mengikat kuat.
Bramantio hanya diam dan pasrah, karena dia tak bisa melarikan diri, sebab, kedua kakinya tertembak, dan juga lengan tangannya terluka.
Bramantio hanya merintih kesakitan di atas aspal jalanan. Gavlin lalu masuk ke dalam mobilnya.
Gavlin kemudian segera menjalankan mobilnya, dia pun pergi dari tempat tersebut.
Mobil melaju cepat di jalanan, sementara, di aspal jalanan, di belakang mobil Gavlin, tubuh Bramantio terseret seret mengikuti mobil, karena tangannya terikat rantai yang mengikat pada bemper belakang mobil Gavlin.
Baju kemeja Bramantio pun robek robek terkena aspal jalanan, begitu juga dengan celana panjangnya, robek di sana sini.
Kulit tubuh Bramantio pun mengelupas dan mengeluarkan darah, karena dia di seret di aspal jalan dengan mobil Gavlin.
__ADS_1
Dengan kejam, Gavlin menyiksa Bramantio, sebelum dia membunuh Bramantio, terlebih dulu dia bersenang senang menyiksa Bramantio.
Di jalanan yang sepi, mobil Gavlin terus meluncur cepat, dan tubuh Bramantio terus terseret di aspal jalanan, di belakang mobil Gavlin.