
Gatot yang sedang mengendarai mobil dan melintas dijalanan melihat seseorang sedang memegangi tubuh seorang wanita. Gatot belum tahu, kalau wanita itu Maya, anaknya.
Dia melihat, wanita itu tampak meronta dan melawan, berusaha untuk melepaskan diri dari sergapan orang yang memegangi tubuhnya.
Dengan cepat Gatot menghentikan mobilnya, dia memarkirkan mobil di pinggir jalan. Lalu, Gatot pun bergegas keluar dari dalam mobilnya. Lantas, dia segera berlari cepat ke arah orang yang sedang menyergap wanita tersebut.
"Lepaskan dia!!" Bentak Gatot.
Gatot dengan marah mencengkram tangan orang tersebut, orang tersebut marah melihat Gatot.
Dia pun melepaskan pegangan tangannya pada Maya. Dengan marah, dia menyerang Gatot.
"Keparaaat !!" Teriak orang tersebut menyerang Gatot.
Gatot menghindari pukulan orang tersebut. Gatot kaget melihat Maya yang ketakutan.
"Maya ?!! Kurang ajar !! Berani kamu menculik anakku!!" Bentak Gatot marah.
Gatot pun menyerang orang tersebut, perkelahian terjadi, tiba tiba, datang dua orang lagi menyerang Gatot, mereka membantu orang tersebut. Gatot berusaha bertahan melawan ketiga orang tersebut. Sementara Maya menjauh, dia menghindar, wajahnya tampak ketakutan.
Gatot terus memberi perlawanan sengit pada ketiga orang yang mengeroyoknya. Satu pukulan menghantam perut Gatot, Gatot sempat terjajar kebelakang, seorang lagi menyerang dan menendang perut Gatot. Gatot tersungkur jatuh.
"Ayaaaah !!" Teriak Maya panik.
Maya hendak menolong Ayahnya yang terjatuh di aspal, belum sempat dia mendekati Ayahnya, seseorang sudah menyerang Gatot lagi. Gatot menghindar, lalu, dia cepat bangun dan berdiri. Gatot pun lantas memberikan perlawanan lagi.
Orang yang tadi menyergap Maya mengeluarkan pisau dari celananya. Gatot melihat, pisau terhunus di tangan orang tersebut. Gatot pun siaga, berjaga jaga, agar dirinya tak terluka.
Melihat orang itu memegang pisau tajam ditangannya, Maya semakin panik, dia takut, Ayahnya terluka.
"Tolooonggg...Toloooonggg!!" Teriak Maya sekeras kerasnya.
Wajah Maya terlihat ketakutan dan panik. Dia terus melihat Ayahnya yang masih berkelahi dengan ketiga orang tersebut.
Maya terus berteriak minta tolong, orang orang yang mendengar teriakan Maya tak ada yang perduli, mereka tak berani menolong, sebab, mereka melihat, tiga orang itu sekarang masing masing memegang senjata tajam ditangannya.
Gatot menyerang salah seorang dari ketiga orang tersebut, dia berhasil memukul wajah orang tersebut. Kedua orang lagi menyerang Gatot, mereka terus menyerang dengan menghujamkan pisau pada Gatot, Gatot pun terus menghindar.
Gavlin yang mengendarai motornya sayup sayup mendengar teriakan Maya yang minta tolong, Gavlin melihat, ada orang yang sedang berkelahi.
Gavlin menghentikan motornya, dia lantas melepaskan helmnya, dia melihat Maya berdiri di trotoar jalan dengan wajah ketakutan dan panik, terus berteriak minta tolong.
"Maya?!!" Gumam Gavlin.
Mengetahui Maya yang berteriak, dengan cepat Gavlin pun berlari, dia lantas menyerang ketiga orang yang menyerang Gatot.
Gatot terluka, lengannya terkena sayatan pisau dari salah seorang yang mengeroyoknya. Gavlin menghantam salah seorang yang menyerang Gatot.
Melihat kehadiran Gavlin yang membantu dirinya, Gatot kaget, namun dia senang, karena Gavlin datang membantunya.
"Gavlin?!" Ujar Gatot.
Gavlin diam tak menjawab, Gavlin terus menyerang ketiga orang tersebut, dia berhasil memukul dua orang yang menyerang Gatot.
Melihat kesigapan Gavlin yang melawan ketiga orang tersebut, Gatot pun bersemangat, dia tak perduli dengan luka di lengannya, dia pun ikut menyerang dan membantu Gavlin.
Maya tampak sedikit tenang, wajahnya mulai tak panik serta tidak takut, sebab, dia senang, ada Gavlin yang menolong Ayahnya.
Gavlin berhasil mengalahkan dua orang tersebut, dengan emosinya, Gavlin membabi buta memukuli dan menendang kedua orang tersebut.
Gatot juga berhasil mengalahkan orang yang tadi menyergap Maya. Gatot menghantam tenggorokan orang tersebut dengan tangannya, orang tersebut langsung tersungkur, dan pingsan di aspal.
Gavlin menendang salah seorang dari ketiga penyerang Gatot, dia menendang dan menginjak tubuh orang tersebut hingga tak berdaya.
Lalu, dengan tatapan mata dingin penuh amarah dalam dirinya, Gavlin menyerang seorang lagi. Hanya tersisa satu orang saja, dan Gavlin tak akan melepaskannya.
Gavlin pun menyerang orang itu, tak memberi kesempatan, Gavlin membabi buta menghantam, memukul dan menendang orang tersebut.
Gatot lantas menghampiri Maya yang masih berdiri melihat perkelahian mereka, dia merangkul tubuh Maya.
__ADS_1
"Kamu gak terluka kan, May?" tanya Gatot cemas.
"Nggak, Yah. Tapi, tangan Ayah berdarah." Ujar Maya cemas.
"Gak apa, cuma tergores aja." Ujar Gatot.
"Tapi harus di obati, Yah, kalo gak, infeksi nanti !" Ujar Maya cemas.
"Ayah gak apa. Yang penting kamu selamat!" ujar Gatot menegaskan.
Mereka berdua lantas melihat Gavlin yang terus menghantam orang tersebut.
Dengan kalap, Gavlin memukuli orang tersebut, orang itu tak mampu melawan Gavlin yang sudah mengamuk kesetanan.
Dia terjajar dan jatuh tersungkur di aspal dengan wajah yang berdarah darah, Gavlin tak memberinya kesempatan, dia menginjak injak perut orang tersebut, melampiaskan amarahnya.
Gavlin sangat marah, karena orang itu ingin menyerang Maya dan Ayahnya.
Gavlin terus menghajar orang tersebut.
Gatot dan Maya melihat, Gavlin sangat marah, Gavlin tampak mencekik leher orang tersebut. Melihat perbuatan Gavlin, Gatot pun lantas segera mendekatinya.
"Lepaskan, Vlin !! Kamu bisa membunuhnya !!" Hardik Gatot.
"Aku gak perduli !!" Bentak Gavlin.
Dia terus mencekik kuat leher orang yang sudah tak berdaya itu, Gatot kesal pada Gavlin, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan Gavlin dari leher orang tersebut.
Maya cemas, dia takut, Gavlin membunuh orang tersebut, lalu, dia pun segera mendekati Gavlin.
"Lepaskan dia, Vlin!" Ujar Maya lembut dan memohon.
Gavlin diam, dia merenggangkan cengkraman tangannya di leher orang itu. Gavlin menoleh pada Maya yang berdiri di sampingnya.
"Tapi mereka mau menyerangmu, May ! Aku gak bisa diam saja!!" ujar Gavlin geram dan marah.
"Aku tau, kamu marah, Vlin, tapi, bukan lantas kamu harus membunuhnya, kan? Lepaskan dia, serahkan pada Ayahku, biar Ayahku menangkap mereka." Ujar Maya serius.
"Siapa yang menyuruhmu menyerang anakku?!" Tanya Gatot.
Gatot menampar wajah orang tersebut, agar sadar dan tidak pingsan, orang itu tampak lemah, Gatot geram melihatnya.
"Cepat katakan !!" Bentak Gatot.
"Moses, Moses yang menyuruh kami." Ujarnya dengan suara melemah.
"Moses? Siapa Moses?" Ujar Gavlin.
Orang itu tak menjawab, dia malah pingsan, Gavlin pun kesal , melihat orang itu pingsan.
"Biadaaab Moses !!" Teriak Gavlin penuh amarah.
Gatot lalu memborgol tangan orang tersebut, lalu, dengan cepat, dia berlari ke mobilnya, diambilnya tali tambang dari dalam bagasi mobilnya, lalu, Gatot segera mengikat ke dua orang yang menyerang dia dan Maya.
Gatot lantas mendekati Gavlin yang berdiri menatapi orang yang pingsan itu, wajah Gatot tampak marah pada Gavlin.
"Aku udah peringatkan kamu! Jauhi Maya, jangan libatkan anakku dengan masalahmu!" Bentak Gatot.
"Hampir saja Maya terluka dan di culik, kalo saja aku gak datang menolong, mereka pasti sudah membawa Maya !!" Lanjut Gatot marah.
"Aku gak akan pernah memaafkan kamu Yanto !! Jika Maya terluka parah karenamu !!" Hardik Gatot penuh amarah.
"Sudah, Yah. Cukup ! Hentikan !" ujar Maya pada Ayahnya.
Gavlin hanya terdiam, dia tak menjawab dan membantah perkataan Gatot, dia sadar, bahwa Maya terancam nyawanya.
"Ayah bawa mereka, May! Dan kamu Yanto!! Jaga Maya, lindungi dia!! Jangan sampai mereka menculik Maya !!" Hardik Gatot pada Gavlin.
Gavlin hanya mengangguk dingin, dia tak menjawab. Maya mendekati Ayahnya yang membawa salah seorang yang menyerang dia.
__ADS_1
"Siapa Moses, Yah?" Tanya Maya.
"Temannya Ronald, si pembunuh maniak!" Ungkap Gatot.
Gatot lantas pergi, dia membawa ketiga orang tersebut ke dalam mobilnya, ketiga orang tersebut, masuk kedalam mobil Gatot, dalam kondisi pingsan dan terikat.
Wajah Gavlin tampak geram menahan amarahnya, saat dia tahu, bahwa ketiga orang tersebut suruhan Moses, dan Moses adalah teman Ronald, dia pun semakin marah pada Ronald dan Moses.
Wajahnya tampak penuh amarah, matanya memerah, dia sangat geram sekali, Maya mendekatinya, dia menggenggam jemari tangan Gavlin, memberi ketenangan pada Gavlin.
Mobil Gatot lantas pergi meninggalkan Gavlin dan Maya. Gavlin lantas menatap lekat wajah Maya. Dia sangat khawatir pada diri Maya.
"Kamu gak apa apa kan, May?" Ujar Gavlin bertanya penuh rasa cemas dihatinya pada Maya.
"Aku baik baik aja, Vlin." Jawab Maya tersenyum.
"Kenapa orang itu menyerangmu dan Ayahmu?" Tanya Gavlin penasaran.
"Entahlah, aku tadi lagi jalan sendiri, tiba tiba, seseorang langsung menyergapku, aku meronta, berusaha melepaskan diri, tapi tangannya terlalu kuat buatku." Ujar Maya bercerita.
"Aku gak tau, tiba tiba Ayahku datang menolongku, kalo gak ada Ayahku, mungkin orang itu udah menculikku." Ujar Maya.
"Mungkin Ayahmu lagi lewat aja di jalanan ini, dan gak sengaja melihat kamu, makanya dia langsung datang menolong." Ujar Gavlin.
"Iya, mungkin begitu, Vlin." Ujar Maya.
"Vlin, aku takut, mereka datang lagi dan menculikku." Ujar Maya takut.
"Aku harus gimana sekarang, Vlin? Aku jadi gak tenang berangkat kerja, aku takut, kalo aku lagi jalan, tiba tiba orang orang suruhan Moses menangkapku!" Tegas Maya dengan wajah takut dan paniknya.
"Kamu tenang aja, May. Kamu akan baik baik aja, aku pasti melindungimu." Ujar Gavlin, meyakinkan Maya.
"Gimana aku bisa tenang, Vlin. Sementara, kamu udah jauh dariku. Mana bisa kamu tiap saat menjaga dan melindungiku." Ujar Maya cemas.
Gavlin terdiam sesaat, dia tampak sedang berfikir sejenak, kemudian, Gavlin menatap lekat wajah Maya yang masih cemas dan takut itu.
"May, aku akan membelikan kamu mobil, kamu bisa pakai mobil buat berangkat kerja dan pulang kerja, kalo aku bisa, aku akan datang mengantar dan menjemputmu, aku akan menemanimu." Ujar Gavlin.
"Kamu serius, Vlin?" Ujar Maya bertanya.
"Aku serius, May." Jawab Gavlin tersenyum.
"Tapi, Maaf Vlin. Apa kamu punya uang? Bukankah, kamu sedang menganggur?" Tanya Maya.
"Aku punya uang, May. Kamu jangan khawatir, aku mendapat warisan dari orang tua angkatku, kamu gak usah khawatir." Ujar Gavlin.
Gavlin berbohong mengatakan dia dapat harta warisan, padahal, dia punya uang dari hasil membuat patung lilin dengan menjadi sosok Yanto, seorang seniman pembuat patung lilin.
Dia sengaja tetap merahasiakan jati dirinya yang menyamar sebagai Yanto, dia tak ingin, Maya tahu saat ini, Gavlin berniat, akan mengungkapkan sosok Yanto pada Maya nanti, setelah dia sudah membunuh semua musuh musuhnya.
"Ya, udah kalo kamu bilang ada, aku nurut, aku cuma gak mau, kamu jadi terbebani karenaku." Ujar Maya lirih.
"May, kamu tenang aja, untukmu, apapun akan aku korbankan, jangankan harta, nyawaku pun akan aku berikan untuk melindungi kamu." Ujar Gavlin serius dan bersungguh sungguh.
"Terima kasih, Vlin." Ujar Maya tersenyum senang.
"Sekarang, kamu ikut aku." Ujar Gavlin.
"Kita mau kemana?!" Tanya Maya heran.
"Ke showroom mobil, kita beli mobil buatmu." Tegas Gavlin.
"Sekarang juga?!" Tanya Maya kaget.
"Iya, sekarang, aku gak mau berlama lama, kalo kamu udah punya mobil, orang orang itu gak kan bisa mengenalimu dan mengikutimu!" ungkap Gavlin serius.
"Baiklah, Vlin." Ujar Maya tersenyum.
Kemudian, mereka berdua pun pergi, Gavlin mengambil sebuah helm dari dashboard motornya, diberikannya helm pada Maya, Maya pun memakai helm tersebut, Gavlin juga memakai helmnya.
__ADS_1
Lalu, mereka pun naik ke atas motor Gavlin, mesin motor menyala, Gavlin bersiap siap, Maya duduk di jok belakang, dia merangkul mesra pinggang Gavlin, pegangan tangannya erat diboncengan motor Gavlin.
Sesaat kemudian, motor Gavlin pun mulai berjalan, lalu, motor melesat, melaju, menyusuri jalan raya.