VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Sepucuk Surat dari Indri


__ADS_3

Gavlin kembali kerumahnya, dia nekat datang untuk mengambil peralatan senjata senjatanya yang masih tertinggal di dalam kamar khusus rumah bawah tanahnya.


Gavlin menyembunyikan motornya di belakang pekarangan rumahnya, di belakang gudang tempat penyimpanan barang.


Gavlin lalu berjalan masuk melalui pintu rahasia, dia menekan tiang besi yang ada disamping gudang, pintu rahasia terbuka di bawah tanah, Gavlin lantas masuk dan turun kebawah, pintu rahasia tertutup kembali secara otomatis setelah dia masuk kedalam rumah bawah tanahnya.


Di dalam rumahnya, Gavlin bergegas ke kamar khususnya, dia melihat tas ransel besar masih tergeletak di depan pintu masuk kamar khusus, ternyata tak ada yang mengetahui isi tas tersebut, dan pihak kepolisian tidak mengambilnya, mereka membiarkan tas tersebut.


Gavlin mengambil tas ransel besar, dia membawanya ke dalam kamar khusus, setelah di dalam kamar, dia meletakkan tas ransel besar diatas meja, dibukanya tas ransel, lalu, dia melihat kedalam tas ransel.


Gavlin mengeluarkan senjata senjata dari dalam tas ransel besar tersebut, dia memeriksa kembali senjata senjata yang akan di bawanya.


Senjata senjata berupa senapan mesin, pistol, senapan rocket rudal, dan juga granat granat di letakkannya berjejer di atas meja.


Gavlin membuka lemari yang ada didalam kamar khususnya, dia mengambil beberapa senjata otomatis lainnya dari lemari tersebut, lalu, di letakkannya senjata otomatis itu diatas meja.


Banyak sekali senjata senjata yang dipersiapkan dan akan di bawa Gavlin, dia benar benar berencana ingin berperang dengan organisasi Inside, hampir semua senjata yang dia miliki di bawanya. Dia memasukkan senjata senjata itu ke dalam tas ransel berukuran besar miliknya. Lalu, sebagian, dia bawa dengan memanggulnya, sementara beberapa pistol diselipkannya di pinggangnya.


Tak lupa juga Gavlin membawa pisau belati yang menjadi andalannya dalam hal membunuh lawan lawannya.


Setelah semuanya sudah dia bawa dan dimasukkan kedalam tas ransel besarnya, Gavlin lantas bergegas keluar dari dalam kamar khususnya. Dia bergegas keluar dari dalam rumah bawah tanahnya.


Gavlin keluar dari dalam rumah bawah tanahnya, dia mendekati motornya yang dia sembunyikan di belakang gudang, Gavlin meletakkan tas ransel berukuran besar di jok belakang motornya, dia lantas mengikat tas tersebut pada jok motornya.


Gavlin lalu naik ke atas motornya, dia menyalakan mesin motornya, lalu, Gavlin segera menjalankan motornya, saat dia pergi, dia melihat pada mobilnya yang sudah hancur karena diledakkan oleh tentara bayaran suruhan Binsar. Gavlin terlihat marah, karena mobilnya dihancurkan.


Lalu, motor Gavlin pun pergi meninggalkan rumah Gavlin yang sudah hancur berantakan tersebut, motor melaju dijalanan.


Beberapa saat kemudian, dua unit mobil polisi masuk ke halaman rumah Gavlin, mereka berselisih jalan dengan Gavlin, yang baru saja pergi melalui jalan lainnya.


Dua unit mobil polisi berhenti di halaman rumah, delapan petugas penyidik kepolisian keluar dari dalam mobil, mereka lalu masuk ke dalam rumah Gavlin.


Kedatangan mereka kerumah Gavlin dengan tujuan mencari Gavlin yang baru saja melarikan diri dari rumah sakit, para penyidik kepolisian datang kerumah Gavlin atas perintah Andre.


Andre berfikir, Gavlin pasti kembali kerumahnya untuk mengambil sesuatu hal yang penting buatnya di dalam rumah.


Benar dugaan Andre, Gavlin memang kembali kerumahnya untuk mengambil senjata senjata miliknya, namun, petugas tim penyidik kepolisian tidak bertemu Gavlin, mereka malah berselisih jalan dengan Gavlin, sebab, Gavlin pergi melalui jalan belakang rumahnya, dari pintu rahasia yang tembus kejalanan lain disamping rumahnya, sementara, mobil penyidik kepolisian datang dari arah depan rumah Gavlin yang sudah hancur berantakan.


Para penyidik kepolisian tidak ada yang mengetahui jalan rahasia yang di lalui Gavlin, itu sebabnya Gavlin tidak bertemu mereka, dan hal itu juga yang menyelamatkan Chandra saat dia kabur karena di serang oleh pasukan tentara bayarannya Binsar waktu itu.


Salah seorang penyidik kepolisian yang sudah memeriksa rumah Gavlin tampak menelpon. Wajahnya terlihat serius bicara ditelepon.


"Kami sudah menggeledah rumahnya, tapi gak ada tanda tanda kalo Gavlin kembali kerumah ini, Pak." ujar petugas penyidik kepolisian memberi laporan melalui teleponnya.


"Ya, sudah, kalian sekarang balik ke kantor." ujar Andre, dari seberang telepon.


"Baik, Pak." jawab petugas penyidik kepolisian.


Penyidik kepolisian lalu menutup teleponnya setelah memberi kabar dan informasi pada Andre yang menugaskan mereka untuk mencari Gavlin dirumahnya.


Petugas penyidik kepolisian menyuruh rekan rekannya untuk pergi dari rumah Gavlin dan kembali ke kantor, lantas, para penyidik kepolisian pun masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil mobil penyidik kepolisian pergi meninggalkan rumah Gavlin, mereka tak menemukan Gavlin ditempat tersebut.


---


Sementara itu, di rumah perlindungan, Chandra berjalan santai dan tenang mendekati Masto yang duduk di sofa ruang tengah rumah perlindungan.


"Bagaimana? Sudah ada kabar tentang keberadaan Gavlin?" tanya Chandra, ingin tahu.


"Belum. Penyidik kepolisian sedang mencari dan memburu Gavlin, selain itu, kami juga sedang mencari tau, siapa orang yang sudah membantu Gavlin melarikan diri dari rumah sakit." ujar Masto, dengan wajah seriusnya.


"Mengapa kalian malah focus mengejar Gavlin? Dan bukannya mengejar anggota anggota Inside?" ujar Chandra bertanya pada Masto.


"Karena Gavlin sudah lama menjadi buronan utama pihak kepolisian, jadi, Gavlin harus segera ditangkap dan di adili, karena dia sangat berbahaya." ujar Masto menegaskan.


"Bahaya mana dengan perbuatan organisasi Inside sama Gavlin?" tanya Chandra.


"Maksudmu?!" Masto menatap heran wajah Chandra yang berdiri dihadapannya.


"Ya maksudku, mana yang lebih berbahaya bagi negara ini, Gavlin atau organisasi Inside ?" ujar Chandra.


"Bukankah kalian sudah tau sepak terjang anggota anggota inside? Dan bagaimana ulah kejahatan mereka dalam menghancurkan perekonomian negara ini dengan cara culas mereka? Mengapa kalian gak segera menangkapnya?" ujar Chandra dengan serius bertanya pada Masto.


Masto terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Chandra yang seperti sedang berusaha menekan dan memojokkan dirinya.


"Bukankah kalian sudah mendapatkan bukti bukti penting dari aku atas kejahatan organisasi Inside, terutama kejahatan Binsar, otak dan dalang dari semua kejahatan yang dilakukan organisasi Inside?" tegas Chandra.


"Mengapa kalian lebih sibuk mengejar Gavlin daripada mengejar Binsar dan kelompoknya? Apa kalian takut, gak berani menangkap Binsar, karena kekuasaan dan kekuatannya yang menguasai pemerintahan bahkan presiden?!" ujar Chandra menekan Masto.


"Aku gak tau, itu urusannya pak Andre dan pak Samuel, bukan wilayahku menjelaskannya." ujar Masto.


Chandra berusaha mempengaruhi pikiran Masto, agar Masto bicara dengan Andre, dan mereka tidak focus mengejar Gavlin, dengan begitu, Gavlin bisa bebas bergerak untuk menjalankan aksi balas dendamnya.


Chandra lebih yakin pada Gavlin dari pada pihak kepolisian dalam hal memberantas organisasi Inside, karena itu, Chandra membela Gavlin, apalagi dia sudah berhutang nyawa pada Gavlin.


Masto menghela nafasnya, dia lantas berdiri dari duduknya di sofa. Wajah Masto terlihat suntuk.


"Kamu mau kemana?" tanya Chandra.


"Cari angin di luar, pikiranku mumet." ujar Masto.


Masto pergi meninggalkan Chandra yang tersenyum sinis melihat kepergian Masto, Chandra lantas berbalik badan, dia pun masuk ke dalam kamarnya.


---


Motor Gavlin berhenti dihalaman rumah bilik kayu milik pak Sarono, dia datang kerumah pak Sarono dengan tujuan untuk menumpang tinggal sementara waktu dirumah tersebut.


Gavlin turun dari motornya, dia lalu melepaskan helmnya, Gavlin lantas berjalan masuk ke teras rumah bilik kayu pak Sarono.


Gavlin heran, melihat suasana rumah yang sangat sepi, tak ada suara orang dari dalam rumah, dia mencoba mengetuk pintu rumah.


"Pak, Pak Sarono...Indri...In..." ujar Gavlin, memanggil pak Sarono dan Indri.

__ADS_1


Namun, tak ada jawaban dari dalam rumah, suasana sangat sepi, di halaman juga tak ada mobil pak Sarono yang biasa dia pakai berjualan sayur.


Gavlin kernyitkan keningnya, dia heran, karena pak Sarono dan Indri tak ada dirumah.


"Kemana mereka ?" Gumamnya berfikir.


Gavlin lantas mencoba membuka pintu rumah, Gavlin mendorong paksa pintu tersebut hingga terbuka. Gavlin lantas masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Gavlin segera mencari keseluruh ruangan yang ada didalam rumah, namun, seluruh ruangan kosong, dia tak menemukan pak Sarono dan juga Indri.


Gavlin lantas masuk keruang tengah, ruangan yang biasa di pakai Indri menjahit pakaian pakaian pesanan orang.


Dia masuk keruang tengah, sepasang patung manekin yang di belinya masih ada di sudut ruangan, tanpa memakai busana.


Gavlin berjalan mendekat ke meja yang biasa di pakai Indri bekerja, dia berdiri diatas meja, mata Gavlin melihat pada sebuah amplop putih yang tergeletak diatas meja.


Gavlin diam sesaat, dia berfikir menatap pada amplop putih yang ada di atas meja, lalu, Gavlin pun mengambil amplop putih tersebut, dia mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalam amplop tersebut.


Gavlin berdiri dan membuka lembaran kertas yang terlipat di dalam amplop, dia melihat, di lembaran kertas ada tulisan tangan Indri.


Gavlin membaca halaman depan amplop putih, tertulis sebuah kalimat " teruntuk Gavlin ".


Begitu kalimat yang ditulis Indri pada amplop putih.


Gavlin pun langsung membaca tulisan yang ada pada lembaran kertas itu, karena dia tahu, surat itu ditujukan untuk dirinya, selain itu Gavlin ingin tahu, apa isi dari tulisan tangan Indri di lembaran kertas tersebut.


"Hai, Vlin. Jika kamu membaca suratku ini, itu artinya kamu selamat dan benar benar menepati janjimu untuk kembali datang kerumahku."


Begitu bunyi tulisan dalam lembaran kertas yang di tulis Indri.


"Maafkan aku Vlin, aku gak menunggumu datang, karena ini mendadak, tiba tiba saja, aku dan bapak harus segera berangkat.


Vlin, kami pindah, ikut dengan keluarga Bapak yang mengajak kami tinggal bersamanya di perancis.


Selain itu, aku juga akan sekolah desainer lagi di perancis, di biayai adik bapakku, aku akan melanjutkan dan meneruskan cita citaku, mudah mudahan aku berhasil."


Gavlin menghela nafasnya membaca tulisan Indri tersebut, dia terdiam. Gavlin lalu melanjutkan membaca lagi.


"Vlin, aku janji, setelah aku lulus sekolah desainer di perancis, aku akan kembali ke Indonesia, aku gak tau, kapan kembali, dan berapa tahun aku harus menyelesaikan sekolahku di perancis.


Vlin, jaga dirimu baik baik ya. Mudah mudahan, kita bisa bertemu kembali nantinya, aku sangat merindukanmu.


Dariku, Indri, yang mencintaimu."


Gavlin meremas kertas surat yang ditulis Indri untuknya, Gavlin tak menyangka, jika Indri dan Bapaknya pergi jauh ke negara lain. Dan itu artinya mereka berpisah, dan tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu dekat.


Gavlin terduduk lemas di sofa, dia menatap pada patung manekin, lalu, Gavlin memandangi mesin jahit milik Indri.


"Semoga, apa yang kamu cita citakan tercapai In. Dan aku gak tau, apa kita masih bisa bertemu, karena misi balas dendamku belum tuntas, dan aku juga gak tau, aku akan tetap hidup atau mati nantinya." ujar Gavlin getir.


"Aku selalu mendukungmu In. Biarpun kita jauh sekarang, aku akan tetap mengingatmu, jika aku masih hidup beberapa tahun kedepan, aku akan tetap menunggumu, dan berharap, kita masih bisa bertemu lagi nantinya, dan mudah mudahan, kamu masih mengenaliku." ungkap Gavlin dengan wajah menahan sedihnya.

__ADS_1


Ada kesedihan yang muncul dalam jiwa Gavlin saat ini, mengetahui kepergian Indri dan pak Sarono.


Dia yang datang kerumah mereka untuk bertemu, hanya menemukan sepucuk surat saja. Gavlin pun terdiam dan tercenung duduk di sofa.


__ADS_2