VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menyusun Siasat


__ADS_3

Peter dan Dody menemui Herman di ruang kerjanya, di dalam ruang kerja Herman, sudah ada Prawira dan Jack. Mereka berkumpul karena ada yang akan mereka bahas.


"Gatot gak ada di rumah sakit dan juga dirumahnya, dia lari!" ujar Peter, memberi laporan pada Herman.


"Sudah kalian geledah seluruh rumahnya?" tanya Prawira.


"Sudah, rumahnya kosong." tegas Peter.


"Ada yang sengaja menolong dan menyembunyikan Gatot, agar kita gak bisa menangkapnya, dan menginterogasinya!" tegas Herman.


"Ya, kami juga berfikir begitu." ujar Dody, dengan wajahnya yang serius.


"Yang tau rencana penangkapan Gatot cuma kita, selainnya, gak ada yang tau, lantas, dari mana orang itu tau rencana kita, dan nyembunyikan si Gatot?" ujar Jack, dengan wajah heran dan penasaran.


"Kita harus menyelidikinya, jangan jangan ada mata mata di sekitar kita!" tegas Herman.


"Kamu Dod ! Kerahkan anak buahmu, untuk menyelidiki setiap anggota kepolisian, aku curiga, ada yang sengaja menyusup untuk memata matai pergerakan dan semua rencana kita!" tegas Herman.


"Siap, aku akan menugaskan anggota intelku mencari penyusup itu!" ujar Dody.


"Bunuh aja kalo ketauan orangnya!!" ujar Jack Hutabarat, marah.


"Jangan langsung dibunuh, kita tanyain dulu, dia suruhan siapa, baru bunuh!" tegas Herman.


"Ya, aku setuju." ujar Peter.


Telepon yang ada di atas meja kerjanya berbunyi, Herman lantas mengangkat gagang telepon.


"Ya, Hallo? Suruh dia masuk." ujar Herman, bicara di telepon.


Lalu, Herman meletakkam gagang telepon ke tempatnya, dia menutup telepon.


"Ada kawan lama yang mau ketemu kita." ujar Herman, dengan wajah senang.


Peter, Prawira, Jack dan juga Dody saling pandang, mereka tak ada yang tahu, siapa yang dimaksud kawan lama oleh Herman.


Pintu ruang kerja diketuk dari luar, Herman pun terlihat senang.


"Nah, itu dia datang." ujar Herman, dengan wajahnya yang senang.


"Masuk aja." teriak Herman.


Lalu, pintu ruang kerja terbuka, kemudian, Bramantio pun masuk ke dalam ruang kerja, melihat kedatangan Bramantio, Peter dan yang lainnya senang, mereka mengerti, kalau Bramantio yang dimaksud Herman, kawan lama.


"Bramantiooo!!" ujar Peter, dengan wajah senang.


Mereka semua lantas menyalami Bramantio, Bramantio senang, mendapat sambutan hangat dari teman teman lamanya.


Mereka saling berpelukan, pelukan persahabatan. Wajah Bramantio tampak cerah dan senang.


"Sudah lama sekali aku gak bertemu kalian, kalian udah jadi orang orang sibuk semuanya. Sementara, aku pensiun dari aktifitas pemerintahan!" tegas Bramantio, tertawa.


"Biar pensiun, pengaruhnya tetap besar sampe saat ini dipemerintahan!" tegas Prawira, tertawa senang.


"Bagaimana kabarmu, Bram?" tanya Herman.


"Baik, walaupun aku harus pindah pindah tempat untuk bersembunyi." ujar Bramantio.


"Loh, kenapa?" tanya Jack Hutabarat, heran.


"Aku di buru anaknya Sanusi, hampir aja aku mati waktu itu, Anak Sanusi datang dan meledakkan rumahku, dia mau balas dendam bapaknya!" tegas Bramantio, menjelaskan.


"Oh, begitu." ujar Jack Hutabarat, mengangguk mengerti dan paham.


"Kamu bilang di telepon, si Gavlin, anaknya Sanusi hubungi kamu, menyamar sebagai Ronald buat menjebakmu?" tanya Herman.


"Ya, aku tau, itu bukan pesan dari Ronald, bahasanya beda, aku langsung tau dan curiga." jelas Bramantio.


"Makanya kemaren aku hubungi kamu, minta agar Peter mengerahkan anak buahnya buat berjaga jaga di rumahku yang hancur, dan menyergap si Gavlin." lanjut Bramantio.

__ADS_1


"Terus, gimana hasilnya? Gavlin datang?" tanya Herman.


"Nggak, sepertinya dia tau, kalo aku mau menjebaknya." ujar Bramantio.


"Ya, Gavlin tau, dan dia kayaknya sengaja melemparkan bom granat, yang membuat anak buahku ada yang mati!" tegas Peter, dengan wajah yang geram.


"Kurang ajaar!! Licin juga ternyata anaknya Sanusi itu!" tegas Herman marah.


"Ya, dia profesional sebagai pembunuh. Semua rencananya rapi dijalaninya, sulit menemukan bukti kejahatannya!" tegas Bramantio.


"Aku datang ke sini untuk meminta bantuan kalian, demi masa lalu kita bersama, agar bisa menangkap, bahkan membunuh Gavlin, anaknya Sanusi!" tegas Bramantio, dengan wajah serius.


"Kamu gak usah khawatir, kami memang sedang memburunya, dan kami hampir aja menangkap Gatot, kaki tangan si Gavlin. Tapi Gatot lolos!" ujar Herman geram.


"Lolos? Kenapa?" tanya Bramantio heran.


"Ada yang melindungi Gatot sepertinya, orang itu menyelamatkan Gatot, Gatot tiba tiba aja menghilang, dan sulit ditemukan keberadaannya!" jelas Herman, menahan amarahnya.


"Oh." Jawab Bramantio, mengerti dan paham.


Lantas, bagaimana kita bisa membekuk si Gavlin?" tanya Bramantio.


"Serahkan padaku, aku dan anggotaku sebagai intel, pasti bisa menemukan persembunyian Gavlin!" tegas Dody.


"Kalo udah ketemu, akan ku kabari kalian, agar kita semua menangkap anak Sanusi dan membantainya!" tegas Dody.


Peter, Prawira, Jack dan Herman mengangguk setuju dengan perkataan Dody. Bramantio pun diam, dia tampak berfikir keras.


---


Mobil Gavlin dan mobil Minto masuk ke pekarangan halaman Villa yang ada diatas bukti yang lokasinya sangat terpencil dan sulit ditempuh dan di cari.


Minto lantas keluar dari dalam mobilnya, Gavlin pun juga keluar dari dalam mobilnya, dia lalu mendekati Minto.


Gavlin berdiri disamping Minto, matanya memandangi Villa yang besar, luas dan megah, Gavlin lantas menoleh pada Minto.


"Di sini tempatnya?" tanya Gavlin, dengan wajah serius, dan tatapan mata yang dingin pada Minto.


Lalu, Gavlin pun segera berjalan menuju Villa, dia lantas membuka pintu masuk Villa, Minto mengikutinya.


Gavlin lantas masuk ke dalam Villa, di ikuti Minto, Gatot yang duduk bersama Richard sedikit kaget, karena kedatangan mereka.


Dengan gerak refleks, Richard menodongkan pistol ke arah Gavlin dan Minto yang berjalan mendekatinya.


"Ini Minto, Bos!" ujar Minto.


Mengetahui, bahwa yang datang Minto, anak buahnya, Richard pun menyarungkan pistolnya di pinggangnya.


"Saya datang bersama Gavlin." ujar Minto.


"Gavliin?!" ujar Gatot, dengan wajah senang.


Gavlin yang berdiri dibelakang Minto dan terhalang tubuh Minto, lalu berjalan mendekati Gatot.


"Apa kabar Om? Om udah sembuh?" tanya Gavlin dengan wajah senangnya.


"Sudah Vlin, aku udah sembuh!" tegas Gatot.


Gatot memeluk erat tubuh Gavlin, Gavlin pun memeluk tubuh Gatot juga. Gatot sangat rindu pada Gavlin, dia khawatir dengan keselamatan Gavlin.


"Bagaimana kabarmu, Vlin?" tanya Gatot.


Gatot melepaskan pelukannya dari tubuh Gavlin, lalu, ditatapnya lekat wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya.


"Kabarku baik, Om." ujar Gavlin, tersenyum senang.


"Syukurlah, aku khawatir denganmu. Soalnya, musuhmu semakin banyak, orang orang yang selama ini diam dalam persembunyiannya, mulai keluar dan bergerak memburumu, mereka yang menjebak Bapakmu!" tegas Gatot, dengan wajah serius.


"Ya, aku tau, Om." ujar Gavlin.

__ADS_1


"Maya mana Om?" tanya Gavlin.


"Di kamar, mungkin sedang istirahat. Dia cemas sama kamu, Vlin, temuilah dia di kamar." ujar Gatot.


"Baik, Om." ujar Gavlin, tersenyum senang.


Lalu, Gavlin pun pergi meninggalkan Gatot dan Richard untuk menemui Maya di kamar.


"Terima kasih, Chard! Berkat kamu, Gavlin berkumpul denganku dan Maya di sini." ujar Gatot, dengan wajah senangnya.


"Ya, sama sama." ujar Richard.


"Sebaiknya Gavlin tau, wajah wajah musuhnya, biar dia mudah mengenali Herman, Peter , Dody dan juga Prawira serta Jack Hutabarat." tegas Richard.


"Ya, coba aja kamu kasih photo photo mereka, kamu ada kan?" tanya Gatot.


"Ada, aku udah siapkan, memang niatnya, akan ku tunjukkan photo photo Herman dan komplotannya sama Gavlin." tegas Richard, dengan wajah serius.


Gatot pun mengangguk, mengiyakan perkataan Richard tersebut kepada dirinya.


Pintu terbuka, Gavlin masuk ke dalam kamar, lalu, dia berjalan mendekati Maya yang sedang tidur di atas kasur.


"May." Panggil Gavlin, dengan suara pelan dan lembut.


Maya masih tetap tertidur, Gavlin yang berdiri disamping ranjang lalu duduk di tepi ranjang. Lantas, tangannya mengelus kepala dan rambut Maya dengan lembut dan penuh kehangatan kasih sayangnya.


"May, bangun, ini aku, Gavlin." ujar Gavlin, membangunkan Maya.


Perlahan lahan, kedua mata Maya pun terbuka, dia menoleh pada Gavlin yang duduk di tepi ranjang sambil mengelus rambutnya dan tersenyum senang menatap wajahnya.


Dengan samar samar, Maya melihat Gavlin, lalu, setelah pandangannya menjadi jelas, wajahnya pun berubah cerah dan senang.


"Gavliiin!!" ujar Maya.


Maya langsung bangun dan memeluk erat tubuh Gavlin, Gavlin pun dengan senang hati juga memeluk erat tubuh Maya. Mereka melepaskan rasa rindu bersama.


"Aku kangen kamu, Vlin, aku juga khawatir sama kamu, karena kamu gak ada kabar!" ujar Maya, sambil terus memeluk erat tubuh Gavlin.


"Iya, May. Aku datang ke rumah kamu, tapi kamu gak ada dirumah, rumahmu malah berantakan, pintunya hancur!" tegas Gavlin.


"Kayaknya orang yang mau menangkap Ayahku datang ke rumah Vlin." ujar Maya.


"Iya, May. Aku sempat panik dan cemas dengan keselamatan nyawa kamu, karena, aku gak liat kamu dirumah, dan rumah dalam kondisi berantakan!" tegas Gavlin.


"Kalo Minto gak datang menemuiku, dan bilang kamu di sini, mungkin aku udah kalap mencarimu kemana mana, May." ujar Gavlin.


Gavlin melepaskan pelukannya dari tubuh Maya, lalu, dia menatap lekat wajah Maya yang tersenyum senang menatapnya.


"Aku gak mau kehilanganmu, May." tegas Gavlin, dengan wajahnya yang serius.


"Aku juga, Vlin. Aku gak mau kehilangan dan jauh darimu! Aku sangat cemas, aku gak kan tenang sebelum aku bertemu kamu!" tegas Maya.


"Setelah pak Richard bilang, kalo anak buahnya sedang mencarimu, aku sedikit lega, kutenangkan diriku, sambil terus menunggumu!" jelas Maya, dengan wajahnya yang serius.


"Ya, May." ujar Gavlin.


"Dari kapan kamu dan Ayahmu di sini?" tanya Gavlin.


"Kemaren, Vlin. Pak Richard dan anak buahnya membawa pergi Ayah dari rumah sakit, katanya, Musuh Ayah pasti akan datang nemui Ayah dirumah sakit, jadi, pak Richard langsung membawa Ayah." jelas Maya.


"Terus, mereka menjemputku di rumah, awalnya aku menolak karena ragu, setelah aku liat Ayah, aku pun langsung mau ikut ke sini." lanjut Maya, memberi penjelasan pada Gavlin.


"Oh, begitu." ujar Gavlin.


"Vlin, kayaknya, Ayahku gak bisa bekerja dengan aman lagi di kepolisian, sebab, dia udah jadi target musuh musuhnya, yang juga sebagiannya dari kepolisian!" ujar Maya, dengan wajah sedih dan prihatin.


"Gak apa, May. Setelah semuanya beres, dan musuh musuhku sudah mendapat ganjaran atas perbuatan mereka semua, aku yakin, Ayahmu akan kembali bisa bekerja di kepolisian!" tegas Gavlin.


"Ya, mudah mudahan aja, Vlin." ujar Maya.

__ADS_1


Maya berharap, agar semua masalah yang dihadapi Gavlin dan juga Ayahnya cepat selesai, agar dia dan Gavlin bisa hidup dengan tenang dan nyaman, menjalani kehidupan mereka sebagai manusia normal seperti manusia pada umumnya.


__ADS_2