VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Usaha Pembunuhan yang Gagal


__ADS_3

Binsar mendapatkan informasi dari anggota Inside yang ditugaskannya untuk menyusup dan menjadi mata mata di kantor polisi, khususnya di bagian divisi yang di pimpin Andre.


Dari anak buahnya yang menjadi mata mata juga Binsar mengetahui, kalau pasukan tentara bayarannya mati terbunuh saat aksi tembak tembakan melawan para pasukan kepolisian anti teror dan huru hara yang di pimpin Andre langsung sebagai Komandan kepolisian.


"Saat ini, Gavlin dirawat di rumah sakit, Pak. Dia menjadi tahanan pihak kepolisian, dan berada dalam pengawasan kepolisian selama 24 jam penuh." ujar Kuncoro, seorang perwira kepolisian anggota Inside yang menjadi mata mata di divisi Andre.


"Saya gak mau tau, saya ingin, Gavlin, atau si Yanto, atau siapapun nama anaknya Sanusi itu, dia harus mati!!" ujar Binsar.


"Selama dia masih hidup, dia akan mempersulit dan terus menjadi halangan buat Inside! Dan saya gak yakin, pihak kepolisian bisa menahannya!" tegas Binsar.


"Lantas, apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Kuncoro, dengan wajahnya yang serius menatap Binsar yang duduk di kursi meja kerjanya.


"Habisi Gavlin! Jangan biarkan dia hidup!!" ujar Binsar, memberi perintah.


"Baik, Pak. Akan saya laksanakan!" ujar Kuncoro.


"Saya permisi, Pak." ujar Kuncoro.


"Ya." Angguk Binsar.


Kuncoro pamit pergi untuk segera menjalankan apa yang sudah diperintahkan Binsar kepadanya. Binsar yang duduk di kursi kerjanya tampak wajahnya merah padam menahan amarahnya.


---


Di rumah aman, rumah tempat perlindungan bagi saksi kepolisian dan kejaksaan, Chandra mengintip dari balik horden jendela, dia melihat ke arah keluar rumah, Masto yang melihatnya berdiri didekat jendela segera mendekatinya.


"Kamu ngapain?" tanya Masto, dengan heran mendekati Chandra.


"Ah, nggak, aku cuma mengawasi situasi luar saja." ujar Chandra, berbalik badan menatap Masto yang berdiri disampingnya.


"Kamu gak usah khawatir, tempat ini aman, penjagaannya pun sangat ketat, kamu liat sendiri, di seluruh area luar rumah ini dan di dalam, ada petugas kepolisian yang berjaga jaga, jadi, gak akan ada yang bisa datang menyusup kesini." ujar Masto, menjelaskan.


"Ya, aku percaya. Aku memang liat, banyak petugas polisi yang berjaga jaga di luar mau pun di dalam rumah ini, aku jadi tenang dan merasa aman." ujar Chandra.


"Ya, kamu pasti aman di sini." jelas Masto.


"Baiklah, aku mau pergi dulu, sebaiknya, kamu tetap di dalam kamar, jangan keluar rumah, ada baiknya tetap waspada dan berhati hati, walau pun sudah ada penjagaan ketat." ujar Masto, mengingatkan.


"Ya. Aku gak kemana mana." ujar Chandra.


"Kamu mau kemana?" tanya Chandra, menatap lekat wajah Masto yang berdiri tepat di hadapannya itu.


"Ke rumah sakit, mau liat Gavlin, dan berjaga di sana." ujar Masto.


"Oh, begitu, baiklah. Memang Gavlin harus di jaga, firasatku mengatakan , Inside pasti berusaha untuk membunuh Gavlin, bagaimana pun caranya." tegas Chandra.


"Ya, aku tau itu, karena itu malam ini aku mau berjaga di sana, karena, kamu disini sudah aman, dan aku gak perlu khawatir tentangmu." jelas Masto.


"Ya. Gavlin lebih butuh perlindungan saat ini, karena kondisinya masih lemah dan belum sadarkan diri." ujar Chandra.


"Ya, aku pergi dulu." ujar Masto.


"Ya." jawab Chandra mengangguk.


Masto lantas bergegas keluar dari dalam rumah, Chandra berdiri memandangi kepergian Masto, lantas dia menghela nafasnya dengan berat, lalu, Chandra pun berbalik badan, dia berjalan masuk ke dalam kamar untuk berisitirahat.

__ADS_1


---


Malam harinya, di dalam kamar ruang ICU, Gavlin masih tertidur pulas dan tak sadarkan diri diatas ranjang, Andre baru saja melihatnya, Andre lantas keluar dari dalam kamar ruang ICU.


Di depan pintu masuk kamar, dia berpapasan dengan Masto yang baru saja tiba di tempat itu.


"Bagaimana Chandra? Mengapa kamu ke sini?" tanya Andre, menatap heran Masto yang berdiri dihadapannya.


"Chandra aman Pak. Dia sudah mendapatkan penjagaan ketat, makanya saya ke sini untuk menjaga Gavlin." ujar Masto.


"Oh, begitu, baiklah. Karena kamu sudah ada di sini, sebaiknya saya pulang, kamu jaga Gavlin menggantikan saya ya." ujar Andre.


"Ya, Pak." jawab Masto.


"Jika ada sesuatu hal yang berhubungan dengan Gavlin dan itu penting, segera kabari saya,ya!" tegas Andre, mengingatkan.


"Siap, Pak!" ujar Masto, memberi hormat.


"Baiklah, saya pulang dulu." ujar Andre.


Lantas, Andre bergegas pergi meninggalkan Masto yang berdiri di depan pintu masuk kamar ruang ICU, sementara, dua petugas kepolisian masih berdiri berjaga jaga di depan pintu masuk kamar ruang ICU.


Masto lantas berjalan, dia duduk di bangku tunggu, Masto menghempaskan tubuhnya di bangku, dia melepaskan rasa penat dan lelahnya karena baru saja melakukan perjalanan jauh dari rumah perlindungan saksi kepolisian menuju ke rumah sakit.


Di dalam kamar ruang ICU, terlihat Gavlin mulai tersadar, dia perlahan lahan membuka ke dua kelopak matanya, secara samar samar pandangan Gavlin melihat ke atas, pada atap plafon kamar ruang ICU.


Gavlin memegang kepalanya dengan tangan kanannya, dia merasakan sakit di bagian kepalanya, lalu, dia pun melihat luka pada perutnya, saat dia hendak bergerak bangun dan duduk diatas kasur, dia kaget, karena tangan kirinya di borgol, dan borgol terikat di pinggir ranjang.


Gavlin heran melihat dirinya yang di borgol, dia pun menghela nafasnya, dia sadar, bahwa dia dalam pengawasan pihak kepolisian sepertinya.


---


Masto yang berjaga jaga bersama dengan kedua petugas kepolisian di depan pintu masuk kamar melihat pada jam tangannya.


Jam menunjukkan pukul 22:13 malam saat ini, Masto menghela nafasnya, dia duduk bersandar di bangku tunggu.


Tak berapa lama, datang seorang Perawat Pria berjalan mendekat ke arah kamar ruang ICU, ditangannya dia membawa peralatan obat obatan.


Masto melihat Perawat pria itu yang memakai masker penutup hidung dan wajah, Perawat pria berdiri di depan pintu masuk, dia di halangi oleh petugas polisi yang berjaga di depan pintu masuk.


Sebelum di izinkan masuk kedalam kamar, Petugas Polisi melakukan pemeriksaan pada Perawat pria itu, untuk berjaga jaga dari hal hal buruk yang bisa saja terjadi.


Dari bangkunya, Masto melihat Perawat pria yang sedang di periksa oleh petugas kepolisian didepan pintu masuk, Masto memperhatikan dan mengamati penampilan Perawat Pria itu.


Mata Masto tertuju pada sepatu Perawat Pria, dia kernyitkan keningnya, saat melihat, Perawat pria itu memakai sepatu pantofel hitam.


Petugas Polisi selesai memeriksa Perawat pria, lantas dia mengizinkan perawat pria itu masuk ke dalam kamar ruang ICU, Masto masih mengamati dan memperhatikan perawat yang sudah masuk ke dalam kamar.


Seorang Perawat pria lainnya berjalan dan lewat di hadapan Masto yang duduk di bangku tunggu, Masto melihat perawat yang berjalan menjauh itu, dia perhatikan penampilan perawat pria yang baru saja lewat di hadapannya, Perawat itu memakai sepatu kets, sepatu yang biasa di pakai para perawat dan suster rumah sakit, bukan memakai sepatu pantofel, seperti perawat pria yang baru saja di izinkan masuk ke dalam kamar ruang ICU Gavlin.


Masto berfikir sesaat, lalu, dia pun tersadar, dengan cepat Masto berdiri dari duduknya di bangku tunggu, lalu, dia bergegas lari dan masuk ke dalam kamar ruang ICU.


Di dalam kamar ruang ICU, Perawat Pria yang memakai sepatu pantofel mendekati Gavlin yang tidur di atas ranjangnya, Perawat Pria itu lantas mengambil jarum suntik berisi racun yang sudah dia siapkan sebelumnya. Dan Petugas Kepolisian tak ada yang mengetahuinya, saat memeriksa Perawat pria itu tadi, petugas kepolisian tak menyadari, bahwa Perawat pria membawa peralatan dan jarum suntik yang sudah di isi serum racun.


Saat Perawat Pria bersiap siap untuk menyuntikkan jarum suntik berisi serum racun pada slang tabung oksigen Gavlin, pintu kamar ruang ICU terbuka, lalu, Masto dengan cepat menerobos masuk ke dalam kamar dengan memegang pistol ditangannya.

__ADS_1


"Hentikan !! Jangan coba coba menyuntikkan jarum suntik itu ke slang pernafasan itu!" Bentak Masto marah sambil menodongkan pistol ditangannya pada perawat pria.


Perawat Pria kaget, dia tak menyangka, jika penyamarannya di ketahui oleh Masto. Perawat Pria pun akhirnya mengurungkan niatnya, dia tak jadi menyuntikkan jarum suntik berisi serum racun pada slang pernafasan Gavlin.


Masto bergerak, dia berjalan mendekat ke arah perawat pria sambil tetap mengarahkan pistolnya pada perawat pria.


"Siapa kamu?!" bentak Masto, berdiri dibelakang Perawat Pria tersebut.


Perawat Pria itu diam tak menjawab, Masto terlihat geram, dia melihat Gavlin yang tertidur diatas ranjangnya.


"Angkat tanganmu dan berbalik perlahan!" ujar Masto dengan tegas.


Dengan sikapnya yang tenang Perawat Pria itu pun mengangkat tangannya, lalu, perlahan lahan dia berbalik badan. Tiba tiba saja, Perawat pria itu, yang tak lain Kuncoro yang menyamar sebagai perawat melemparkan peralatan obat obatan pada Masto, Masto kaget.


Perawat pria lantas dengan cepat menyerang Masto, dia berusaha untuk merebut dan mengambil pistol dari tangan Masto.


Perkelahian pun terjadi antara Masto dan Kuncoro, yang menyamar sebagai Perawat Pria, dengan tujuan ingin membunuh Gavlin dengan jalan meracuninya.


Namun, karena usahanya diketahui dan digagalkan Masto, tak ada pilihan lain buatnya, selain dia harus melawan Masto dan bisa membebaskan diri, jika tidak, dia akan di tangkap, karena itu, Kuncoro pun menyerang Masto.


Perkelahian terjadi, Masto berusaha mengamankan pistolnya, agar tidak di rebut Kuncoro, Perlawanan sengit di berikan Kuncoro pada Masto, namun, Masto bisa mengatasi Kuncoro.


Masto akhirnya berhasil mengalahkan Kuncoro, Kuncoro terjajar jajar di pukuli Masto. Kuncoro pun akhirnya menyerah dan mengaku kalah, Masto lantas membuka masker penutup wajah Kuncoro.


"Kuncoro?!" ujar Masto kaget.


Kuncoro diam saja , dia tersenyum sinis menatap wajah Masto yang kaget melihatnya.


"Ternyata selama ini kamu menjadi mata mata di divisi kami! Kamu pasti suruhannya Inside! Iya kan?!" bentak Masto.


Kuncoro diam saja tak menjawab, Masto geram, dia lantas membawa Kuncoro keluar dari dalam kamar ruang ICU.


Di luar kamar, Masto menyerahkan Kuncoro pada Petugas kepolisian yang berjaga di pintu masuk kamar, Petugas polisi kaget dan heran, karena Masto menangkap Kuncoro.


"Borgol dia, dan bawa ke kantor , lalu jebloskan ke penjara! Dia mata mata Inside yang mau membunuh Gavlin di dalam kamar ini!" ujar Masto menjelaskan.


Petugas Kepolisian kaget, mereka berdua tak menyangka, jika Kuncoro menyusup dan mau membunuh Gavlin, mereka merasa di pecundangi, karena sebelumnya, mereka sudah periksa Kuncoro dan tidak ada hal yang mencurigakan dari Kuncoro.


"Saya curiga dia bukan perawat, karena sepatunya berbeda!" jelas Masto.


Petugas Kepolisian melihat sepatu Kuncoro, mereka baru tahu dan baru menyadarinya, sebab, tadi saat memeriksa Kuncoro, mereka tidak perhatikan penampilan Kuncoro , dan Masto sebagai Penyidik kepolisian sangat jeli dalam melihat sesuatu hal yang aneh dan mencurigakan.


Petugas Kepolisian hendak memborgol Kuncoro, tiba tiba saja Kuncoro bergerak melawan dan mengambil pistol petugas polisi yang menempel di pinggangnya.


Kuncoro lalu menodongkan pistol ke arah petugas kepolisian, Masto kaget melihat hal itu, dia mengarahkan pistolnya pada Kuncoro yang saat ini sedang menodongkan pistol pada petugas kepolisian.


Satu petugas polisi mengambil pistolnya juga, dia bersiap siap, mengarahkan pistolnya pada Kuncoro yang menyandera temannya.


"Jangan nekat kamu Kuncoro!" Bentak Masto geram.


"Minggir kamu, dan buang pistolmu, kalo nggak, akan ku tembak dia !" bentak Kuncoro.


Masto diam, dia pun menuruti perkataan Kuncoro, perlahan lahan, Masto menurunkan tangannya dan berjongkok hendak meletakkan pistolnya ke lantai. Petugas Polisi yang mengarahkan pistol mencoba menyerang Kuncoro, namun naas baginya, Kuncoro menyadari pergerakannya, lalu, Kuncoro menembak petugas polisi itu. Masto kaget, melihat petugas polisi terkena tembakan, Masto pun marah dan kalap, dia lantas menembakkan pistolnya pada Kuncoro.


Peluru dari pistol Masto tepat mengenai kening Kuncoro, seketika, pistol terlepas dari tangan Kuncoro, dan dia terjerembab jatuh ke lantai koridor rumah sakit.

__ADS_1


Petugas Polisi yang disandera Kuncoro cepat mengambil pistol miliknya yang diambil Kuncoro tadi, dia melihat, Kuncoro sudah mati meregang nyawa di lantai, dengan keningnya yang bolong dan mengeluarkan darah segar, karena di tembak Masto.


__ADS_2