VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terluka


__ADS_3

Gavlin tersenyum menyeringai geram, dia menatap tajam wajah Bramantio yang memegang pistol, pistol tersebut mengarah pada Gavlin.


Gavlin pun bersiap siap menyerang Bramantio.


Jafar, perlahan lahan, dengan mengendap endap, melangkah mundur, dia tak mau ikut campur urusan Bramantio.


Jafar bersikap begitu, karena tak tahu, orang yang saat ini di hadapi Bramantio adalah, Gavlin, atau yang mempunyai nama kecil Yanto.


"Mau kemana kamu, Far?!" Bentak Bramantio pada Jafar.


Jafar pun menghentikan langkahnya, karena ketahuan Bramantio, mau melarikan diri.


"Kamu, tau, siapa orang itu?!" hardik Bramantio.


"Nggak. Aku gak tau." ujar Jafar dengan wajah serius.


"Dia Yanto, anak kecil, yang rumahnya dulu kita bakar, dan Bapaknya kamu jebak sebagai pembunuh, juga ibunya yang kamu bunuh." Jelas Bramantio geram.


"Namanya sekarang Gavlin!" tegas Bramantio.


Mendengar penjelasan Bramantio, Jafar pun terhenyak kaget, dia tak percaya dengan perkataan Bramantio.


"Bukannya anak itu mati terbakar dirumahnya?" ujar Jafar heran.


"Dia selamat, dan dia sekarang mau membalas dendam! Bersiaplah, Jafar !" Tegas Bramantio dengan wajah geram dan marahnya.


Tiba tiba, Bramantio menembakkan pistolnya pada Gavlin, Gavlin pun berhasil menghindar, Gavlin segera melompat dan berguling guling ditanah menghindari peluru yang melesat ke arahnya.


Melihat hal itu, Jafar pun lari ketakutan, dia tak mau berhadapan dengan Gavlin, dia pun melarikan diri. Bramantio dengan kalap terus menembak Gavlin.


Peluru mengenai lengan kiri Gavlin, lengan Gavlin pun berdarah, melihat lengannya terluka karena tembakan Bramantio, Gavlin semakin marah.


Dengan mengamuk, Gavlin melemparkan helm yang dia pegang dari tadi ke arah Bramantio. Bramantio menghindar.


Gavlin langsung, dengan cepat menyerang Bramantio, Gavlin memegangi tangan Bramantio yang tetap menggenggam pistolnya.


Gavlin berusaha menghindari pistol Bramantio, dengan sekuat tenaga, Bramantio memberikan perlawanan.


Dengan penuh amarah, Gavlin menghajar Bramantio, dia berhasil memukul wajah Bramantio, lalu, Gavlin menendang perut Bramantio.


Bramantio terhuyung dan terjajar mundur ke belakang dan terjatuh ke tanah, Gavlin hendak menyerang lagi, saat Gavlin bergerak mendekat, dengan cepat, Bramantio menembakkan pistolnya lagi ke arah Gavlin.


"Mati kamuuuu!!!" Teriak Bramantio, sambil menembakkan pistolnya.


Gavlin pun terhuyung, kali ini, perutnya terkena peluru, Gavlin melihat ke perutnya, untung saja, peluru tidak menembus perutnya, hanya menggores perutnya saja.


Namun, tetap, perut Gavlin terluka, dan mengeluarkan darah, akibat terserempet peluru dari timah panas pistol Bramantio.


Gavlin memegangi perutnya, dia menatap tajam wajah Bramantio yang berusaha bangun dari tanah, Tampak sorot mata Gavlin menunjukkan kemarahan yang sangat besar.


Bramantio mengarahkan pistolnya lagi, dia lantas menembakkan pistolnya lagi, namun, peluru sudah habis, Bramantio tidak bisa menembak Gavlin.


Mengetahui bahwa pistol Bramantio sudah kosong, tak ada lagi pelurunya, Gavlin pun tersenyum sinis.


"Tiba waktunya, kamu akan ke neraka jahanam Bram!!" Bentak Gavlin penuh amarah.


Bramantio ketakutan, dia lantas melemparkan pistol ditangannya ke arah Gavlin. Pistol itu mengenai kening Gavlin.


Dengan sikap berdiri tenang, Gavlin memegang keningnya yang terluka dan berdarah, Gavlin tersenyum menyeringai geram, menatap Bramantio penuh amarah.


Gavlin pun dengan cepat menyerang Bramantio, dia menerjang Bramantio, Bramantio menghindar, lalu cepat berdiri.


Bramantio balik menyerang Gavlin, dia mencoba melawan Gavlin, Gavlin mengamuk, memukuli Bramantio dengan kalap, Bramantio tampak kesulitan.


Bramantio tak bisa menghindari pukulan pukulan Gavlin, dia pun berkali kali menerima hantaman pukulan keras Gavlin.


Saat Gavlin hendak menendang Bramantio, melesat mobil yang dikendarai Jafar. Mobil itu menabrak Gavlin.


Gavlin pun terpental jauh, berguling guling ditanah, karena di tabrak mobil Jafar.


"Ayo, cepat masuk, bang!" ujar Jafar pada Bramantio.


Tanpa pikir panjang, Bramantio pun dengan cepat membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, lalu, Jafar pun menjalankan mobilnya. Lalu pergi dari tempat itu.


Gavlin meringis kesakitan, dengan terhuyung huyung, dia berusaha berdiri. Dengan sekuat tenaganya, dia pun bisa berdiri. Gavlin tampak geram dan marah.


Tatapan matanya tajam penuh amarah, melihat kepergian Bramantio dan Jafar.


"Kepaaaaaraaaaaatttt!!!!!" Teriak Gavlin penuh amarah.


Dia mengamuk marah, karena dia gagal membunuh Bramantio dan Jafar. Lalu, Gavlin memegangi lengan kirinya yang terus berdarah, akibat peluru yang menembus ke lengannya.


Dengan terhuyung huyung kesakitan, karena ditabrak mobil juga, Gavlin pun berjalan ke arah motornya.


Sebelum pergi, Gavlin mengambil helmnya, yang tadi dia lemparkan pada Bramantio, lalu, dia pun keluar dari reruntuhan gedung hotel Bramantio.


Dia berjalan menuju motornya. Dari lengan dan kening serta perutnya, terus keluar darah. Gavlin menguatkan dirinya.


Setibanya dia di dekat motornya, dia pun segera naik ke atas motornya, lalu, dipakainya helmnya, kemudian, dinyalakannya mesin motor, lalu, Gavlin pun segera menjalankan motornya, dia pergi dari tempat itu.


Dengan sekuat tenaganya, dan menahan rasa sakit akibat terkena peluru dari pistol Bramantio, Gavlin terus mengendarai motornya di jalan raya yang sepi.


---


Mobil Jafar terus melaju dengan kecepatan tinggi, Jafar sengaja ngebut, agar Gavlin tidak bisa mengejar mereka.


"Hentikan mobilnya!!" bentak Bramantio marah.


"Kenapa, bang? Kita kan belum sampai di rumahmu?" Tanya Jafar heran, sambil terus menyetir mobilnya.

__ADS_1


"Pinggirkan mobilnya dan berhenti!!" Bentak Bramantio marah.


Jafar pun kaget di bentak Bramantio, tanpa banyak tanya lagi, Jafar lantas menepikan mobilnya, mobil pun berhenti di pinggir jalan.


"Abang mau kemana?" Tanya Jafar heran.


"Bukan urusanmu!! Ingat!! Urusan kita belum selesai, Far!! Aku pasti akan menemui kamu lagi, membuat perhitungan denganmu!!" Ancam Bramantio penuh amarah.


"Silahkan, bang. Aku tunggu." Jawab Jafar cuek.


Dengan geram dan penuh amarah, Bramantio membuka pintu mobil, lalu dia segera keluar dari dalam mobil dengan membanting pintu mobil.


"Dasar gak punya otak!! Udah di tolong, bukannya trima kasih, malah marah, pake ngancam segala!! Kampret kamu Bram!!" hardik Jafar marah, di dalam mobilnya.


Jafar lantas menjalankan mobilnya, dia pergi, meninggalkan Bramantio sendirian di pinggir jalan.


Bramantio berdiri di atas trotoar jalanan, dia tampak meringis kesakitan, wajahnya penuh dengan lebam dan memar memar, dari pelipis dan bibirnya keluar darah.


Bramantio merasa sakit di seluruh tubuhnya, dia pun tampak lemah, Saat melihat taksi melintas di kejauhan ke arahnya, dia dengan cepat berdiri menghadang taksi.


Taksi pun berhenti, tepat di depan Bramantio yang berdiri menghadang, dengan cepat, Bramantio membuka pintu belakang taksi, lalu dia segera masuk ke dalam taksi.


Bramantio duduk di jok belakang mobil taksi. Wajah sang supir kaget , melihat wajah Bramantio penuh dengan luka memar.


"Antarkan saya ke komplek Anyelir nomor 13. Cepat!" perintah Bramantio.


"Baik, Pak." ujar Supir taksi gugup.


Lalu, sang Supir pun segera menjalankan mobil taksinya, lalu, taksi itu pun pergi, Bramantio tampak memegangi bibirnya yang berdarah, wajahnya tampak geram, penuh amarah pada Gavlin, juga Jafar.


Gara gara Gavlin, dia tidak bisa membunuh Jafar, dan dia sangat marah, karena Gavlin menyerangnya secara tiba tiba.


---


Motor Gavlin masuk ke halaman rumah Maya, lalu, dia mematikan mesin motornya,


Maya, yang saat ini sedang pulang kerumahnya untuk mengambil baju ganti dia, selama menjaga Ayahnya dirumah sakit, segera keluar, karena mendengar suara motor Gavlin.


Gavlin melepas helmnya, dia lalu turun dari motornya setelah mencabut dan mengantongi kunci motornya.


Maya keluar dari dalam rumahnya, dia segera menghampiri Gavlin, Gavlin tampak sempoyongan, pandangannya buram.


Saat Maya mendekatinya, Gavlin pun jatuh dan rebah di tanah, Maya syock melihat Gavlin jatuh dan terkulai lemah, dalam keadaan tak sadarkan diri di tanah.


Karena tak kuat menahan rasa sakit, dan banyak mengeluarkan darah, Gavlin pun menjadi lemas, dia akhirnya jatuh pingsan, di halaman rumah Maya.


"Vliiin...Vliiiinnn!!" Ujar Maya panik.


Maya mencoba menyadarkan Gavlin yang pingsan, namun, Gavlin tidak juga sadar dari pingsannya.


Maya kaget, melihat lengan tangan kiri Gavlin terluka dan berdarah bekas tembakan.


Dengan sekuat tenaganya, Maya pun mengangkat tubuh Gavlin, namun, karena bobot tubuh Gavlin sangat berat, Maya tak bisa mengangkatnya.


Maya pun lantas terpaksa menyeret Gavlin, dengan sekuat tenaganya, dia pun lantas menyeret tubuh Gavlin, membawanya masuk ke dalam rumahnya.


Setelah di dalam rumah, Maya merebahkan Gavlin di lantai ruang tamunya, lalu, dia segera berlari ke dapur, dia mengambil peralatan obat obatan yang selalu tersedia di rumahnya.


Dengan membawa kotak obat obatan, Maya pun berlari menghampiri Gavlin. Lalu, dia segera mengobati luka luka Gavlin.


Maya memberikan obat anti infeksi, lalu, dia menaburkan obat bubuk khusus untuk luka, di bagian perut, kening dan juga lengan tangan kiri Gavlin.


Setelah itu, Maya pun membalut luka di perut Gavlin dengan menggunakan kain kasa serta perban.


Kemudian, dia juga memakaikan plester luka di kening Gavlin. Lalu, Maya terdiam sesaat. Dia berfikir, bahwa dia harus mengambil peluru di lengan tangan kiri Gavlin.


Namun, Maya tak berani melakukannya, di samping itu, dia juga tidak mengerti, bagaimana caranya dia mengambil peluru tersebut.


Dengan wajah sedih dan cemasnya, dia lantas menaburi obat bubuk luka di seluruh luka tembak Gavlin. Hanya itu yang bisa di lakukannya.


Lantas, dia pun membalut luka tembak di lengan tangan kiri Gavlin, dengan menggunakan kain kasa dan juga perban.


Setelah selesai mengobati Gavlin, Maya pun bergegas kembali kedapur dengan membawa kotak obat obatannya.


---


Taksi berhenti di samping rumah Bramantio, setelah membayar ongkos taksi, dengan cepat, Bramantio keluar dari dalam taksi.


Bramantio lantas berjalan cepat, dia membuka pintu pagar rumahnya, lalu, berjalan masuk kehalaman rumahnya.


Wajah Bramantio tampak sangat marah sekali, dia benar benar tak bisa menerima, dirinya menjadi bulan bulanan pukulan Gavlin tadi.


Bramantio masuk ke teras rumahnya, dia lantas berdiri di depan pintu rumahnya, dia kemudian memencet bel rumah berkali kali.


Pintu terbuka, dengan cepat, Bramantio masuk ke dalam rumahnya, Masayu yang membukakan pintu heran melihat wajah Bramantio luka luka memar.


Masayu menutup pintu rumahnya, lalu, dia segera menghampiri Bramantio yang tampak marah itu.


"Mukamu kenapa , Pah?" Tanya Masayu heran dan kaget.


Bramantio diam dan tak menjawab, dia terus berjalan ke belakang rumahnya, meninggalkan Masayu sendirian.


Masayu tampak cemas, dia khawatir, jika Bramantio berkelahi dengan Jafar, dengan panik dan cemas, dia lantas berlari ke kamarnya.


Masayu masuk ke dalam kamarnya, dia lantas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Lalu, dia segera menelpon Jafar.


"Halo, Far? Kamu dimana?!" Tanya Masayu cemas, di telepon


"Dijalan, mau balik ke hotel." ujar Jafar, dari seberang telepon.

__ADS_1


"Kamu berantem sama Bram? wajahnya penuh dengan luka memar!" ujar Masayu khawatir pada Jafar.


"Nggak, bukan sama aku!" Jelas Jafar, dari seberang telepon.


"Lantas, sama siapa?!" Tanya Masayu penasaran di telepon.


"Gavlin ! Musuhnya!! Gavlin datang lalu menyerang kami." ujar Jafar dari seberang telepon.


"Oh, gitu, syukurlah, soalnya wajahnya keliatan marah banget, aku jadi takut, Far." ujar Masayu, di telepon.


"Kamu tenang aja. Udah dulu, ya. Jelasnya, nanti aku ceritakan sama kamu, kalo aku udah di hotel." ujar Jafar dari seberang telepon.


"Iya, Far. Hati hati!" Ujar Masayu dengan wajah cemas, di telepon.


Masayu lantas menutup teleponnya, dia tampak lega, karena Jafar baik baik saja, dan dia tidak berkelahi dengan Bramantio.


Masayu pun tersenyum senang, Dia juga merasa tenang, sebab, ternyata Bramantio tidak mengetahui perselingkuhannya dengan Jafar.


Dengan wajah senang, Masayu pun berjalan keluar dari dalam kamarnya.


Saat dia keluar kamar, dia kaget, karena, dia melihat, Bramantio berdiri dengan sikap dingin tepat di depan pintu kamar.


Masayu berusaha untuk bersikap tenang, dia berpura pura perhatian pada Bramantio, dia pun lantas memasang muka sedih, berpura pura sedih, melihat Bramantio luka memar.


"Kasihan kamu, Pah. Aku obati lukamu, ya." ujar Masayu tersenyum.


Bramantio menatap dingin wajah Masayu, dia tahu, senyum Masayu palsu, hanya di buat buatnya saja. Bramantio sangat jijik pada Masayu.


Bramantio menggeretakkan giginya, menahan geram dan marahnya pada Masayu, yang tersenyum penuh kepalsuan, berdiri di depannya.


"Ayo, Pah. Aku obati. Jangan dibiarkan, nanti bisa infeksi dan semakin parah lukamu." ujar Masayu, berpura pura memberi perhatian.


Bramantio tetap berdiri kaku, sikapnya sangat dingin, Masayu jadi heran, melihat sikap dingin Bramantio, apalagi dia melihat, Bramantio tersenyum menyeringai jahat menatapnya.


"Kamu kenapa, Pah?!" Tanya Masayu heran.


Dia melihat, tangan Bramantio ada di belakang, dan sedang memegang sesuatu ditangannya. Masayu semakin heran melihat sikap dingin dan kaku Bramantio.


"Dapat salam dari Jafar." ujar Bramantio tenang dan bersikap dingin.


"Jafar kirim salam?! Oh, ya. Salam balik, Pah." ujar Masayu tersenyum.


Masayu semakin heran mendengar perkataan Bramantio, dia tahu, tak mungkin Jafar kirim salam melalui Bramantio.


Masayu pun berfikir cepat, pasti ada sesuatu hal yang sudah terjadi antara Jafar dan Bramantio, sehingga, Bramantio sengaja mengatakan hal itu padanya.


"Jafar bilang, dia puas dengan pelayananmu di kasur selama ini!" ujar Bramantio dengan geram dan marah.


Mendengar perkataan Bramantio, Masayu pun terperanjat kaget, apa yang dia takutkan terjadi, Bramantio telah mengetahui perselingkuhannya dengan Jafar.


"Kamu udah berkhianat padaku!" ujar Bramantio dengan sikap dingin, menahan amarahnya.


Masayu pun menjadi takut, wajahnya lantas berubah pucat, dia perlahan lahan melangkah mundur, Bramantio menatap tajam wajah Masayu.


Tiba tiba, dengan cepat, Bramantio menarik rambut Masayu dengan kuatnya. Masayu pun merintih kesakitan.


"Aduuuh, lepaskan, lepaskan rambutku, sakiiiittt!!" Teriak Masayu kesakitan.


Masayu memegangi tangan Bramantio yang menarik paksa rambutnya, Bramantio terus menarik kuat rambut Masayu.


"Kamu harus ku beri pelajaran Masayu!!' Bentak Bramantio marah.


Dia lantas berjalan dengan tetap menarik paksa rambut Masayu, Masayu pun terpaksa mengikuti Bramantio.


Bramantio tak perduli, Masayu berteriak teriak kesakitan, dia terus berjalan, membawa Masayu, dengan tetap menarik kuat rambutnya.


Masayu pun terjajar jajar dan tersandung, lalu jatuh kelantai, Bramantio tak perduli, dia lantas menyeret tubuh Masayu, dengan menarik rambutnya.


Masayu merintih, menjerit kesakitan, Bramantio tetap tak perduli, dia terus menyeret tubuh Masayu.


Bramantio membuka pintu rumah, lalu dia keluar dari dalam rumahnya, dengan menyeret Masayu.


"Tolooonggg...lepaskan aku...lepaskaaaan!! Mau dibawa kemana aku !!" Teriak Masayu kesakitan dan ketakutan.


Bramantio tak menghiraukan teriakan Masayu, dengan wajah penuh amarah, dia terus menyeret Masayu.


Baju Masayu pun robek, karena tergesek batu batuan yang ada dihalaman rumah, bukan hanya bajunya robek, namun, tubuhnya pun terluka dan berdarah, akibat di seret paksa Bramantio.


Bramantio lantas menghentikan langkahnya, dia melepaskan tangannya yang menarik rambut Masayu. Masayu tampak meringis kesakitan, terbaring ditanah.


Tubuh Masayu lemah, luka luka terlihat banyak di tubuh, tangan dan kakinya, Bramantio tak perduli.


Lalu, dengan gulungan tali tambang yang dia pegang dan sembunyikan dibelakang badannya tadi, dia pun segera mengikat tangan, kaki dan tubuh Masayu.


Bramantio lalu melingkarkan tali tambang di leher Masayu. Masayu tampak ketakutan, melihat dirinya terikat.


"Toloooonggggg...Lepaskan aku, Bram, tolong, aku ngaku salah, aku salah udah berselingkuh dengan Jafar!" ujar Masayu menangis memohon ampunan.


"Aku minta maaf, Pah. Maafkan aku." rintih Masayu memelas memohon di ampuni Bramantio.


Bramantio tetap diam, dengan sikap dingin dan menahan marahnya, Bramantio lantas melemparkan gulungan tali tambang ke batang cabang pohon yang ada di halaman rumahnya.


Lalu, dengan cepat, dia menarik kuat tali tambang tersebut, tubuh Masayu pun bergerak, naik ke atas, mengikuti tarikan tali tambang yang di tarik Bramantio.


Bramantio pun lantas mengikat sisa gulungan tali tambang ke badan pohon, dia menggantung Masayu.


Dengan tatapan dingin, Bramantio menatap wajah Masayu yang tergantung di atas pohon, di halaman rumahnya.


Bramantio tersenyum menyeringai sinis pada Masayu.

__ADS_1


__ADS_2