VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Akulah Sang Penguasa


__ADS_3

Binsar menelpon seorang rekan bisnisnya yang bernama Yanto, karena dia mengira, paket yang dia terima tersebut dari pak Yanto, pengusaha pengembang real estate.


Sementara itu, Petugas keamanan berusaha untuk membuka paket koper besar itu.


"Hallo, pak Yanto, ada angin apa yang membuat anda mengirimkan paket besar kepada saya?" ujar Binsar ditelepon.


"Paket? Maaf Pak.Saya gak pernah mengirim apapun buat bapak." jawab pak Yanto, dari seberang telepon.


"Loh, pengirimnya tertera nama Yanto, saya kira Bapak yang mengirimnya dan saya sudah terima, makanya saya telpon." ujar Binsar, ditelepon.


"Tidak Pak. Bukan saya yang kirim." ujar Pak Yanto, dari seberang telepon.


"Oh, baiklah kalo begitu, terima kasih Pak. Maaf mengganggu." ujar Binsar.


Binsar menutup teleponnya, dia bingung, karena orang yang bernama Yanto yang dia kenal tidak merasa mengirimkan paket itu.


Binsar mulai muncul rasa curiganya, dia terlihat berfikir keras, lalu, Binsar menoleh dan melihat paket koper besar yang sedang di buka petugas keamanan.


"Jangan di buka!" teriak Binsar, melarang petugas keamanan.


Namun terlambat, Petugas keamanan sudah berhasil membuka bungkusan pada paket koper besar, dan saat melihat isinya, petugas keamanan terhenyak kaget.


"Aaaargggfhhh!!" teriak Petugas keamanan syock dan ketakutan.


Melihat Petugas keamanan yang berteriak ketakutan Binsar pun kaget, dia melihat petugas keamanan terbelalak matanya menatap ke dalam koper besar.


"Kenapa kamu teriak?!" bentak Binsar, memarahi petugas keamanan.


"I...itu...Pak...Di dalam koper ada...ada..."


"Aah, ngomong apa sih kamu!!" ujar Binsar marah.


Binsar memotong bicara petugas keamanan yang gagap dan ketakutan, dia lantas mendekati koper lalu melihat ke dalamnya.


Binsar terperanjat kaget saat dia melihat di dalam koper ada potongan potongan bagian tubuh manusia.


"Astagaaaa !! Gilaaaa!!" teriak binsar terperanjat kaget.


Dia tak menyangka jika di dalam koper besar itu berisi potongan tubuh manusia. Binsar terlihat marah, wajahnya memerah karena merasa sudah dipermainkan seseorang yang sengaja mengirimkan potongan tubuh manusia kepada dirinya saat ini. Binsar terlihat geram.


"Kurang ajar ! Siapa yang lancang mengirimkan ini semua padaku!!" teriak Binsar marah.


Petugas keamanan yang ketakutan hanya diam berdiri, dia yang tak pernah melihat potongan tubuh manusia yang dimasukkan ke dalam koper besar sangat takut, wajahnya pucat pasi.


Binsar lalu melihat ada selembar kertas di dalam koper, tergeletak di atas salah satu potongan tangan di dalam koper, Binsar kernyitkan keningnya, dia penasaran dengan lembar kertas tersebut. Lalu, Binsar pun mengambilnya.


"Kertas apa ini?" gumamnya berfikir.


Binsar mengamati kertas yang ada di tangannya, dia penasaran, lalu, dibukanya lembar kertas tersebut yang terlipat dua itu.


Binsar lalu membaca isi tulisan yang ada pada lembar kertas tersebut.


"Salam kenal Binsar, aku Yanto, anak Sanusi, yang kamu perintahkan untuk di bunuh, dan aku mengirimkan potongan tubuh Peter, salah satu anak buahmu sebagai peringatan, bahwa aku akan datang menemuimu untuk membalas dendam atas kematian Bapakku."


Begitu bunyi dari isi tulisan yang ada di dalam lembar kertas tersebut, Binsar terhenyak kaget, dia berfikir sesaat.


"Sanusi? Dia anaknya Sanusi?!" Gumamnya, berfikir keras.


Lalu Binsar menatap wajah pucat petugas keamanan yang masih berdiri diam bagai patung di dekat koper besar tersebut.


"Kamu, cepat bilang sekretaris, kumpulkan semua anggota diruang rapat, bilang, ada rapat penting yang segera dilaksanakan!" tegas Binsar memberi perintah.


"Baik, Pak." ujar Petugas keamanan.


Lalu, Petugas keamanan bergegas pergi keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Binsar sendirian didalam ruangan.

__ADS_1


"Siaaal !! Peter mati dan di mutilasi! Biadab!!" ujar Binsar, geram penuh amarah.


Binsar lantas bergegas keluar dari dalam ruang kantornya menuju ruang rapat, dia memerintahkan seluruh anggota untuk hadir rapat, karena ada yang ingin dia bahas saat ini juga.


---


Sementara itu, di pinggir jalan, tidak jauh dari markas organisasi Inside, terlihat Gavlin duduk di dalam mobilnya. Wajahnya terlihat tersenyum sinis.


"Setelah menerima hadiah dariku itu, tunggulah kejutan berikutnya dariku Binsar." ujar Gavlin, tersenyum sinis.


Lalu, Gavlin menyalakan mesin mobilnya, dan kemudian, dia pun menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan tempat tersebut.


---


Di halaman kantor Polisi, tampak Para petugas penyidik kepolisian berjumlah 20 orang bergegas masuk ke dalam mobil masing masing, diantaranya terlihat juga Masto dan Andre, mereka masuk ke dalam mobilnya. Lalu, mobil mobil patroli kepolisian pergi , jalan beriringan, mereka hendak ke suatu tempat.



Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di ruang kantor Kementrian perekonomian negara, terlihat tim dari kejaksaan sedang menyita barang barang yang ada di dalam kantor tersebut. Para Karyawan tak ada yang berani menghalangi aksi para petugas kejaksaan dan tim penyidik korupsi yang datang menemui mentri perekonomian.


Samuel bersama dua petugas kejaksaan dan dua penyidik korupsi masuk ke dalam ruang kantor mentri perekonomian negara.


"Maaf, Pak Jajat Sudrajat, Bapak kami tahan." ujar Samuel.


Mentri perekonomian hanya diam dan pasrah saja, tangannya di borgol oleh petugas penyidik korupsi, lalu, dua petugas kejaksaan segera membawa mentri perekonomian.


Kejaksaan , bergabung dengan divisi pemberantasan korupsi mulai bergerak menangkapi semua anggota anggota Inside yang terlibat dalam permainan kotor dan culas yang merugikan negara hingga triliunan rupiah. Diantara mentri yang di tangkap, ada mentri keuangan juga di seret oleh pihak kejaksaan dan tim pemberantas korupsi.


Samuel benar benar mulai bergerak memberantas tindak kejahatan organisasi Inside, berbekal bukti banyak yang dia punya, Samuel pun berani menangkapi para pejabat yang namanya ada dalam daftar yang berbuat kejahatan korupsi, penyelewengan jabatan dan sebagainya.


Dan penangkapan besar besaran itu terdengar sampai ke telinga Binsar dan juga pak Presiden. Karena, Media juga ikut meliput langsung penangkapan para pejabat negara tersebut.


Di dalam ruang kantornya, Adiwinata, sang Presiden terlihat terhenyak kaget, dia tak menyangka, 98 persen mentri di kabinetnya terlibat kejahatan.


Adiwinata diam berfikir, duduk di kursi meja kerjanya, ada sesuatu hal yang sangat serius sedang di fikirkannya saat ini, dan itu semua berhubungan dengan negara dan apa yang baru saja terjadi.


---


Di ruang rapat, Tampak Binsar geram dan marah, dia baru saja mendapatkan kabar dari sekretarisnya, bahwa banyak anggota Inside yang di ciduk oleh pihak kejaksaan dan tim pemberantasan korupsi.


"Siaaal !! Mereka semua telah berani mengusik ketenanganku!" ujar Binsar geram dan marah.


"Ini semua gara gara si Chandra ! Aku harus membunuhnya!!" ujarnya marah.


Lalu, Binsar menatap tajam wajah sekretaris yang berdiri tertunduk di sampingnya.


"Bagaimana, apa kamu mendapatkan informasi tentang si Yanto yang mengaku anaknya Sanusi itu?!" tanya Binsar.


"Saya sudah hubungi pak Samsudin, dan beliau bilang, benar, Yanto itu anaknya Sanusi, yang mau membalas dendam Bapaknya." ujar Sekretaris.


"Yanto itu yang telah membunuh Bramantio, guntur, Jafar, Wijaya, Herman, Dody dan terakhir Peter, Pak." lanjut Sekretaris memberi laporan.


"Bedebaaah!! Ternyata anaknya si Sanusi masih hidup ! Sama juga dengan si Chandra, anaknya Syamsul Bahri!" ujar Binsar geram dan marah.


"Ya, Pak. Dia juga mempunyai nama lain, yaitu Gavlin." jelas Sekretaris.


"Oh, begitu." Ujar Binsar paham.


"Kamu cari tau, apa si Yanto itu bekerja sama dengan si Chandra, kalo sudah dapat info, segera kabari saya!" tegas Binsar memberi perintah.


"Baik, Pak. Akan saya cari tau." ujar Sekretaris.


Lalu, sang Sekretaris pun bergegas pergi meninggalkan Binsar sendirian di ruang rapat, karena tak ada anggota yang hadir, Binsar pun lantas keluar dari dalam ruang rapat , dia kembali ke ruang kantornya.


---

__ADS_1


Samsudin mendengar dan mendapatkan informasi dari anak buahnya, bahwa saat ini pihak kepolisian sedang bergerak menuju ke kantornya untuk menangkap dirinya. Samsudin pun bersiap siap hendak pergi melarikan diri.


Saat Samsudin hendak keluar dari dalam ruang kerjanya, masuk Andre bersama 4 petugas penyidik ke polisian dan juga Yanto.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Samsudin, pura pura tak tahu.


"Saya datang membawa surat perintah penangkapan Bapak atas pembunuhan yang terjadi pada anggota kami yang bernama Edo." ujar Andre, menjelaskan sambil menunjukkan surat perintah penangkapan.


"Apa kalian punya bukti ?!" tanya Samsudin.


"Cepat , borgol dia." ujar Andre.


Andre tak menanggapi pertanyaan Samsudin, dan hal itu membuat Samsudin kesal dan marah sekali karena merasa diabaikan.


"Kamu kira bisa memenjarakanku?! Jangan mimpi, sebentar saja aku pasti akan keluar dari tahanan kalian!!" tegas Samsudin tersenyum sinis.


Andre tak perduli dengan perkataan Samsudin, dia menyuruh anak buahnya untuk segera membawa Samsudin pergi.


"Cepat bawa dia!" perintah Andre.


"Siap, komandan!" ujar petugas penyidik kepolisian.


Lalu, Samsudin pun dibawa keluar oleh dua petugas penyidik kepolisian, lalu, Petugas penyidik kepolisian lainnya menggeledah seluruh ruang kantor Samsudin, mereka mencari cari bukti kejahatan lainnya yang di sembunyikan Samsudin.


"Clear , Pak." lapor petugas penyidik kepolisian pada Andre.


"Baiklah, kita pergi." ujar Andre.


"Siap!" jawab petugas penyidik kepolisian.


Lalu, Andre pun bergegas keluar dari dalam ruang kantor di ikuti Masto dan para petugas penyidik kepolisian.


---


Sementara itu, dia ruang kantornya, Binsar melihat potongan tubuh dan kepala Peter yang ada di dalam koper, Binsar lantas mengambil telepon yang ada di atas meja kerjanya.


"Suruh Petugas keamanan datang ke ruangan saya sekarang juga!" ujar Binsar, ditelepon.


Lalu, dia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya semula, lalu, Binsar berjalan dan duduk di kursi meja kerjanya.


Tak berapa lama, datang Petugas keamanan masuk ke dalam ruang kantor dan menghampiri Binsar yang duduk di kursi kerjanya.


"Ada yang bisa saya kerjakan, Pak?" tanya Petugas Keamanan.


"Singkirkan dari sini dan buang koper beserta isinya itu!!" ujar Binsar.


"Baik, Pak." ujar Petugas Keamanan.


Saat Petugas keamanan mendekat ke koper, dia terperanjat kaget melihat potongan tubuh didalam koper.


"Astagaa!!" ujarnya, terhenyak kaget.


Petugas Keamanan merasa mual dan ingin muntah karena melihat potongan potongan tubuh, selama hidupnya, baru kali ini dia melihat potongan tubuh manusia dimutilasi.


"Kenapa diam? Ayo cepat bawa !!" bentak Binsar marah.


"B...baik, Pak." ujar Petugas keamanan gugup.


Petugas keamanan lantas menutup koper tersebut, lalu, dia pun mendorong koper besar dan membawanya keluar dari ruang kantor Binsar, Wajah Binsar terlihat geram dan marah sekali.


"Yanto, apa rencanamu berikutnya?!" gumam Binsar, berfikir keras.


Binsar yang baru mengetahui bahwa Yanto adalah anaknya Sanusi sangat geram, apalagi dia telah berani mengirimkan potongan tubuh Peter dengan memberinya ancaman.


"Kamu kira aku takut padamu? tidak, aku gak pernah takut pada siapapun, karena aku sang Penguasa!" tegas Binsar tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2