VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Binsar Lolos dari Kejaran


__ADS_3

Malik dan Gavlin tiba di sebuah restoran yang berlokasi di sekitar desa kecil Goult, mereka berdua segera menghampiri anak buah Malik yang tengah menunggu kedatangan mereka berdua.


"Dimana Binsar?" tanya Malik, pada anak buahnya yang berdiri menghadap padanya.


"Maaf, bos. Binsar pergi, sepertinya dia menyadari kalo kami tengah mengintainya." ujar Bruno, memberitahu Malik.


"Bodoh!! Kenapa Binsar bisa tau kalo kalian mengintainya?!" bentak Malik marah pada Bruno, anak buahnya itu.


"Kami gak tau, bos. Pas kami mengawasinya, ada seorang Pria yang menghampiri Binsar dan berbisik padanya, habis itu, Binsar lalu pergi bersama Pria yang membisikinya itu." jelas Bruno, mencoba memberitahu Malik.


"Sepertinya Binsar punya mata mata di sekitar restoran ini, Lik. Makanya dia tau, kalo ada yang mengikutinya." ujar Gavlin, dengan sikap dingin menjelaskan pada Malik.


Malik diam sesaat untuk berfikir, lalu, dia menatap tajam wajah Bruno yang tertunduk berdiri didepannya.


"Terus, kalian gak mengejarnya?!" hardik Malik.


"Abel dan Fernandes sedang mengikutinya, bos." ucap Bruno.


"Okay, kamu ikut kami, lalu telpon Abel, dan tanya, kemana mereka pergi mengejar Binsar." ujar Malik, memberi perintah pada Bruno.


"Baik, bos." ujar Bruno, mengangguk hormat.


Saat Malik dan Bruno hendak berjalan, Gavlin mencegah kepergian mereka berdua.


"Tunggu, Lik. Sebaiknya kita pulang saja." ujar Gavlin.


"Kenapa pulang?" tanya Malik, menatap heran wajah Gavlin.


"Aku capek, Lik. Kita udah jalan jauh ke sini, tapi gak ada hasil, terus, kita harus pergi lagi mencari Binsar yang kita belum tau dimana dia? Aku gak mau, Lik." ujar Gavlin menjelaskan.


"Tapi anak buahku sedang mengikuti Binsar, pasti mereka akan tau dimana Binsar selanjutnya berada, Vlin." tegas Malik pada Gavlin.


"Belum tentu, Lik. Gak semudah itu mengejar Binsar, anak buahmu dengan diam diam mengawasinya di restoran saja Binsar bisa tau keberadaan mereka, apalagi mengikutinya dengan mobil, aku yakin, pasti anak buah Binsar mengetahui kalo ada yang mengikuti mobil Binsar, dan dia pasti akan menghilang lagi." tegas Gavlin.


"Kamu jangan pesimis dulu, Vlin." ujar Malik.


"Hubungi Abel, tanya, dimana mereka sekarang, biar kita susul!" tegas Malik memberi perintah pada Bruno.


"Baik bos." Angguk Bruno.


Bruno lalu mengambil ponsel dari kantong celananya, kemudian dia segera menghubungi Abel, salah satu anak buah Malik yang lainnya.


"Hallo? Bel. Dimana posisi sekarang?!" tanya Bruno, di teleponnya.


"Di sekitar jalanan Rue Crémieux, sepertinya Binsar ada pertemuan disekitar lokasi Rue Crémieux, tapi aku dan Fernandes kehilangan jejak mobilnya. Kami masih mencari." ujar Abel , menjelaskan dari seberang telepon.


"Okay." jawab Bruno, di telepon.


Lalu, Bruno menutup telepon, dan menyimpan kembali ponselnya kedalam kantong celananya. Bruno lantas mendekati Malik dan Gavlin.


"Bagaimana?" tanya Malik, menatap tajam wajah Bruno.


"Kata Abel, mereka mengikuti Binsar sampai ke jalanan Rue Crémieux, bos. Tapi..." ujar Bruno.

__ADS_1


Bruno ragu melanjutkan perkataannya pada Malik, dia khawatir, Malik akan marah padanya.


"Tapi apa? Kenapa kamu gak melanjutkan omonganmu?!" hardik Malik marah pada Bruno.


"Maaf, Bos. Abel bilang, mereka kehilangan jejak, mobil Binsar menghilang begitu aja, dan Abel sama Fernandes masih berusaha mencari kemana mobil Binsar pergi." ucap Bruno, mencoba memberi penjelasan pada Malik.


"Bodoh !!" bentak Malik marah.


"Ngikuti satu mobil saja gak becus dan bisa kehilangan jejaknya, bodoh!!" Bentak Malik, melampiaskan kekesalan dan amarahnya.


Gavlin tersenyum kecut mendengar perkataan Malik, dia sudah menduga, hal itu akan terjadi, dan dia tadi sudah bilang pada Malik.


"Bilang sama Abel dan Fernandes, cari sampai ketemu Binsar, jangan kembali ke markas sebelum mereka menemukan lokasi Binsar!" tegas Malik, menatap tajam wajah Bruno.


"Dan kalo mereka berani kembali sebelum menyelesaikan tugasnya, akan ku hukum mereka berdua!!" bentak Malik, marah pada Bruno.


"Baik, Bos. Akan saya sampaikan." ujar Bruno, mengangguk memberi hormat.


Gavlin lantas berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Malik serta Bruno begitu saja, melihat Gavlin pergi, Malik heran.


"Mau kemana kamu, Vlin?!" tanya Malik, dengan sedikit berteriak memanggil Gavlin.


"Pulang !! Aku gak mau buang waktuku dengan hal yang sia sia dan gak jelas !!" teriak Gavlin, sambil terus berjalan menjauh dari Malik.


Malik menahan kekesalannya, dia menghela nafasnya melihat Gavlin yang terus berjalan menuju ke mobilnya.


"Kamu, cepat susul Abel, nanti kasih kabar aku, kalo kalian semua sudah menemukan lokasi Binsar!!" tegas Malik pada Bruno.


"Ya, Bos." Angguk Bruno.


Gavlin berdiri disamping mobil, dia menunggu Malik datang, Malik berlari lari kecil menghampiri Gavlin.


Malik lalu membuka pintu mobil dengan kuncinya, kemudian, Gavlin cepat masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman, Malik juga masuk ke dalam mobil.


Tak berapa lama kemudian, mesin mobil menyala, dan mobil pun mulai berjalan, pergi meninggalkan area restoran.


Selama di perjalanan , Gavlin tampak diam saja, wajahnya terlihat kaku, dan sikapnya dingin, Malik yang menyetir mobil sesekali melirik pada Gavlin yang duduk di jok depan, disampingnya dengan memasang wajah yang kaku tersebut.


"Kita mampir ke markas ya, Vlin. Menemui Bos Aamauri. Kamu kan belum menemuinya." ujar Malik, sambil terus menyetir mobilnya.


"Nanti saja ke markasnya, Lik. Aku lagi malas ketemu bos." ucap Gavlin, bersikap dingin.


"Kenapa? Bos Aamauri tau kamu kembali ke Paris , dia bertanya padaku, kapan kamu datang ke markas untuk menemuinya, aku bilang secepatnya." ujar Malik, melirik Gavlin yang duduk di sampingnya.


Gavlin diam saja tak menjawab pertanyaan Malik, pandangan matanya jauh ke depan, melihat ke jalanan.


"Gak baik kalo kamu gak nemui bos, apalagi beliau udah tau, kalo kamu udah ada di sini." ujar Malik, memberi penjelasan pada Gavlin.


"Kamu tenang aja, aku nanti pasti akan menemui bos Aamauri, tapi bukan sekarang, saat ini aku capek, mau istirahat!" tegas Gavlin.


Malik akhirnya diam setelah mendengar perkataan Gavlin, dia tak mau membantahnya, karena akan menjadi perdebatan saja nantinya antara dirinya dan Gavlin. Apalagi dia tahu, kalau Gavlin orangnya keras hati dan keras kemauan, apapun yang dikatakannya, dia tak akan pernah meralat dan menarik lagi ucapannya itu. Seperti dia bilang tidak mau bertemu bos mafianya sekarang, Gavlin tetap tak akan menemuinya.


Lantas, Malik menambah kecepatan mobilnya, dia menyetir mobilnya, melaju di jalanan menuju ke hotel tempat Gavlin menginap saat ini.

__ADS_1


Gavlin yang duduk di samping Malik masih diam saja memandang jalanan, wajahnya semakin kaku , dan sikapnya tetap saja dingin.


---


Di sebuah rumah, tampak Binsar dengan di temani empat orang pria tengah berkumpul di dalam ruangan.


"Sepertinya, ada yang berusaha mengejar dan mengincar Bapak." ujar Acheel.


"Ya, sepertinya begitu." ujar Binsar.


"Apa kira kira Bapak tau, siapa yang mengincar Bapak?" tanya Acheel, menatap lekat wajah Binsar yang duduk di sofa, dihadapan Acheel.


"Entahlah, Aku gak tau, selama berada di kota Paris ini, aku aman aman saja, gak ada satu orang pun yang tau keberadaanku, kecuali kalian, orang orang dekatku dan rekan rekan bisnisku di negara ini!" tegas Binsar, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


"Lantas siapa mereka? Sejak kita berada di restoran tadi mengurus bisnis dengan rekan kita, mereka sudah mengintai, kita pergi, mereka mengejar dan mengikuti mobil kita, untung mereka kehilangan jejak kita." ujar Acheel menjelaskan pada Binsar.


"Sebaiknya kamu cari tau, siapa mereka, dan siapa yang menyuruh mereka mengintai dan mengejar Aku!" ujar Binsar, memberi perintah pada Acheel.


"Baiklah, akan aku tugaskan beberapa orang untuk mencari informasi, siapa orang orang yang mengawasi Bapak sejak dari restoran tadi." ujar Acheel, menjelaskan pada Binsar.


"Ya." Angguk Binsar.


"Bagaimana soal penjualan senjata senjata itu? Kapan akan dilakukan pertemuan untuk transaksinya?!" tanya Binsar pada Acheel.


"Masih menunggu kabar, Pak. Nanti, kalo sudah dapat kabar, Bapak akan saya beritahu." ujar Acheel, menjelaskan pada Binsar.


"Baiklah." ujar Binsar, mengangguk mengerti dan paham.


Ternyata, selama Binsar berada di negara Prancis dan tinggal di sekitar kota Paris, dia tetap menjalani kejahatannya, dia melakukan penjualan ilegal senjata senjata, menjalin kerjasama dengan para mafia mafia yang ada di negara Prancis tersebut.


---


Gavlin tiba di hotel tempatnya menginap, dia berjalan sendirian memasuki lobby hotel, tak ada Malik bersama dirinya.


Malik tidak menemani Gavlin di hotel, sebab, dia kembali ke Markas gank mafianya, untuk memberi laporan pada pimpinan ganknya yang bernama 'Aamauri' , selain itu, Malik juga masih menunggu kabar dari Abel dan Bruno serta Fernandes, anak buahnya yang sedang mengejar dan mencari tempat persembunyian Binsar, karena lolos dari kejaran mereka tadi.


Gavlin menghentikan langkahnya, Dia melihat sebuah Banner berdiri di dekat meja receptionis, tepatnya di samping pojok.


Gavlin berdiri dan mengamati Banner tersebut yang berisi gambar gambar serta pengumuman seperti iklan atau promosi.


Gavlin terlihat membaca tulisan yang ada pada banner tersebut, wajahnya terlihat serius. Dalam Banner tertera gambar sosok diri Indri, seorang Desainer terkenal, yang akan menggelar pameran tunggal hasil rancangan pakaiannya. Gavlin juga melihat tanggal kapan akan berlangsungnya acara tersebut.


"Kamu benar benar sukses dan terkenal, In. Aku bangga padamu." Gumam hati Gavlin bicara.


Gavlin tersenyum getir memandangi gambar sosok diri Indri yang terpajang pada Banner tersebut.


"Sayang, aku gak bisa lagi menemani dan mendampingimu, In. Karena udah ada Pria lain yang menggantikanku untuk menjagamu." Gumam Gavlin sambil tersenyum kecut.


Wajah Gavlin memendam kesedihan melihat gambar Indri pada Banner, lalu, dia menghela nafasnya dengan berat.


Kemudian, Gavlin pun berbalik badan, dia lalu melangkahkan kakinya, Gavlin berjalan gontai dengan wajah murung dan sedihnya menuju lift yang ada di dalam lobby hotel tersebut.


Gavlin tiba di depan lift, dia berdiri di depan pintu lift, menunggu, tak berapa lama, pintu lift terbuka, Gavlin cepat masuk ke dalam lift.

__ADS_1


Saat pintu lift akan menutup, tak sengaja Gavlin melihat Indri bersama teman Prianya dikejauhan, mereka berdua tengah berjalan menuju ke arah lift.


Wajah Gavlin tegang menatap Indri yang berjalan mendekat ke arahnya, lalu, pintu lift tertutup, dan Gavlin sudah tak bisa melihat Indri lagi, Gavlin menghela nafasnya kembali, berkali kali dia bertemu Indri di hotel tersebut.


__ADS_2