VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Boneka Patung Lilin Citra


__ADS_3

Sutoyo tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya, melihat anak tersayangnya di jadikan sandera oleh Gavlin, atau Yanto.


Sutoyo pun marah, dia tidak bisa menerima perbuatan Gavlin, atau Yanto, yang telah menculik anaknya.


Di dalam rekaman video, Sutoyo melihat, Gavlin berdiri di belakang Citra, anaknya, pisau belati yang dipegang Gavlin ada di leher Citra.


Sutoyo syock melihat hal itu, dia pun semakin panik dan cemas akan keselamatan nyawa anaknya.


"Biaaadddaaaab !! Jangan bunuh anaaakkkkuuu Seeetaaaaannn !!" teriak Sutoyo mengamuk marah.


Dia memukuli meja kerjanya dengan kedua tangannya, dia melampiaskan emosi amarahnya pada Gavlin yang tengah mengarahkan pisau belati di leher anaknya.


"Jika kamu mau anakmu tetap hidup, cepat bebaskan Gatot! Jika tidak, aku akan memotong leher anakmu!!" ujar Gavlin geram dan marah.


Sutoyo semakin marah, melihat rekaman video dan mendengar perkataan Gavlin di dalam rekaman video yang mengancam anaknya.


"Bedeeebbbaaaahhh!! Jika sedikit aja anakku terluka karena pisau itu!! Akan ku bunuh kamu, Gavliiinnn!!" teriak Sutoyo mengamuk marah.


"Cepat bebaskan Gatot!! Aku akan melepaskan anakmu!!" ujar Gavlin.


Sutoyo mendengar perkataan Gavlin dari rekaman video yang tengah di tontonnya itu, Sutoyo pun geram dan marah.


"Temui aku besok malam di bangunan hancur milik Wijaya jam 9 malam ! Ingat ! Jika kamu datang membawa pasukan polisimu!! Aku akan langsung membunuh anakmu!!" tegas Gavlin, penuh amarah.


Sutoyo semakin marah mendengar perkataan Gavlin di dalam rekaman video tersebut.


"Ingat Sutoyo!! Jangan coba coba mengakaliku!! Jika kamu melanggar perjanjian kita, anakmu mati!!" tegas Gavlin.


Lalu, rekaman video berakhir, Sutoyo dengan geram mematikan video dan mencabut flash disk dari laptopnya.


"Kepaaraaaaaattt Gavliiiin!! Dia manfaatkan anakku, buat bebasin si Gatooottt!! teriak Sutoyo geram.


Dengan cepat, Sutoyo pun segera keluar dari dalam ruang kerjanya, dia tak mau, anaknyq mati di bunuh Gavlin, dengan terpaksa, dia harus menuruti permintaan Gavlin untuk membebaskan Gatot.


Di dalam kamar sempit tempat penyiksaan Gatot berlangsung, tampak Petugas Polisi yang bertindak sebagai algojo menyiramkan air ke tubuh Gatot.


Gatot yang pingsan pun tersadar, karena seluruh tubuhnya di siram air, luka luka di punggungnya tampak sangat parah.


Melihat Gatot sudah sadar, petugas polisi lalu mencambuk Gatot kembali. Gatot pun meringis, menahan rasa sakit di punggungnya akibat terkena cambukan.


Sutoyo masuk ke dalam ruang penyiksaan, dia lantas mendekati Petugas Polisi yang sedang mencambuk Gatot.


"Hentikaaan !!" bentak Sutoyo, dengan wajah yang penuh amarah.


"Lepaskan dia !! Cepaaat!!" Bentak Sutoyo, marah.


"Tapi, bos, kenapa dilepaskan?" tanya Petugas Polisi heran.


"Kalo dia gak ku lepaskan, anakku mati dibunuh keparat itu!!" Teriak Sutoyo penuh amarah.


Mendengar perkataan Sutoyo yang sangat marah itu, dengan gugup, petugas polisi pun menuruti perintah Sutoyo.


Mendengar perkataan Sutoyo, Gatot tampak tersenyum sinis, dia tahu, Gavlin sudah mengancam Sutoyo, dengan menangkap anaknya, dan Gatot pun senang.


Dengan cepat, dia menurunkan tubuh Gatot, lalu, dia melepaskan ikatan di seluruh tubuh Gatot. Seketika, Gatot yang lemas, langsung terjatuh dan terkulai lemah di lantai ruang penyiksaan.


"Bawa dan masukkan dia kedalam sel tahanan !" Tegas Sutoyo, memberi perintah.


"Baik, Bos." Jawab Petugas Polisi, memberi hormat.


"Dan besok malam, kamu ikut aku, bawa Gatot !" Jelas Sutoyo, dengan wajah tegang dan serius.


"Dibawa kemana Bos?" tanya Petugas Polisi.


"Gak usah banyak tanya, ikuti aja perintahku!!" Bentak Sutoyo marah.


Petugas Polisi pun mengangguk hormat, dia diam dan tak menjawab perkataan Sutoyo yang sangat marah itu.


Sementara, Gatot terlihat terkulai lemas dan tak berdaya di lantai, Petugas Polisi menyeret tubuh Gatot, dan membawanya keluar. Sutoyo lalu berjalan keluar dari dalam ruang penyiksaan.


Petugas Polisi menjebloskan Gatot ke dalam sel tahanan, dia melemparkan tubuh Gatot masuk ke dalam sel tahanan. Gatot terjerembab dan terbaring di lantai dalam sel tahanan.


Dengan cepat, Petugas Polisi mengunci dan menggembok pintu sel tahanan, lalu, dia segera pergi meninggalkan Gatot, yang terbaring lemah tak berdaya di lantai sel tahanan.


---


Di dalam gudang besar miliknya, tampak Gavlin tersenyum sinis memandangi wajah Citra yang dalam kondisi mulut tertutup lakban, dan seluruh tubuh, tangan dan kakinya terikat.


Dengan sikap dinginnya, dia mendekati Citra yang duduk di kursi dengan posisi terikat dan mulut ditutup lakban.

__ADS_1


"Aku akan mendandanimu dengan sangat cantik, menjadi seperti boneka barbie." ujar Gavlin dingin.


Sorot mata Gavlin tajam dan sangat mengerikan, membuat Citra tertunduk, tak berani menatap mata dan wajah Gavlin yang menyeringai jahat padanya.


"Papahmu pasti terkesima melihatmu nanti seperti boneka barbie." ujar Gavlin, dengan sikap dinginnya.


"Maaf, aku harus membuatmu seperti ini, semua karena dosa Papahmu yang begitu besar padaku, dan pada kedua orang tuaku." tegas Gavlin, dengan geram.


Lalu, Gavlin pun beranjak pergi meninggalkan Citra sendirian, setelah kepergian Gavlin, Citra meronta, mencoba melepaskan dirinya, namun, usahanya sia sia saja.


Sebab, ikatan yang mengikat tubuhnya sangat kuat, Citra pun tak berdaya, dia terlihat pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.


Dalam kondisi terikat di kursi, Citra pun menangis, air matanya keluar dan membasahi wajah cantiknya, Citra menangis, meratapi nasibnya.


Citra sama sekali tak menyangka, jika dia akan dijadikan tumbal atas perbuatan Papahnya, yang telah membuat marah Gavlin. Dia hanya bisa menangis, meratapi dirinya saat ini.


---


Keesokan malamnya, Sutoyo menepati janji untuk bertemu dengan Gavlin. Dia datang bersama petugas polisi yang bertindak sebagai algojo saat menyiksa Gatot.


Tiba tiba, terdengar suara letusan senjata dari kejauhan. Dan sebuah mobil sedan berjalan dengan keadaan kencang dan zig zag.


Lalu, mobil itu menabrak tiang bangunan, lantas, mobil itu pun hancur, kaca depan mobil pecah, karena ditembus peluru tajam, dan didalamnya, seorang petugas polisi mati, dengan kondisi kepala tertembus peluru.


Melihat itu, Sutoyo yang baru saja keluar dari dalam mobilnya tampak syock dan kaget, dia tak menyangka, satu anak buahnya ditembak mati.


Mata Sutoyo mencari cari keseluruh bangunan, dari bawah hingga ke lantai atas bangunan yang hancur dan belum jadi seluruhnya itu.


Wajah Sutoyo terlihat tegang, dia sedikit merasa takut, dan nyawanya terancam. Tiba tiba, terdengar suara bergema di ruangan tersebut.


"Aku udah bilang sama kamu, Sutoyo!! Jangan coba coba mengakali aku!! Ternyata kamu meremehkanku!! Kamu tetap membawa anak buahmu!!" tegas suara Gavlin penuh amarah.


Mata Sutoyo mencari cari arah suara Gavlin yang menggema di seluruh ruangan tersebut. Dia tampak panik.


"Rupanya kamu lebih memilih anakmu mati, dari pada melepaskan Gatot ! Baiklah, kita batalkan perjanjian ini !!" tegas suara Gavlin penuh amarah.


"Tunggu dulu!! Jangan bunuh anakku!! Aku udah menepati janjiku!! Gatot aku bawa !!" Tegas Sutoyo berteriak.


"Maafkan aku, aku membawa polisi itu hanya untuk menemaniku!! Selain dia, gak ada yang lainnya, percayalah!!" Jelas Sutoyo lagi, dengan wajah paniknya.


"Okay, Sutoyo! Cepat, lepaskan Gatot !! teriak suara Gavlin menggema di seluruh ruangan.


"Cepat keluarkan Gatot!!" Perintah Sutoyo pada Petugas Polisi.


Petugas Polisi lalu segera membawa keluar Gatot dari dalam mobil, Gatot pun keluar, dia berdiri bersama Petugas Polisi.


Dari atas bangunan yang paling tinggi, tampak Gavlin, dengan memakai mikropon di bajunya, serta menggunakan teropong melihat Gatot.


Wajah Gavlin tampak sedih melihat kondisi Gatot yang terlihat lemas tak berdaya, dengan wajahnya yang pucat, dan wajahnya terluka dan penuh darah.


Gavlin pun geram pada Sutoyo, karena telah menyiksa Gatot, Gavlin menahan amarahnya, dia mencoba tenang dan menahan dirinya agar tidak langsung emosi dan gegabah.


"Ini Gatot !! Sekarang !! Dimana anakku!!" teriak Sutoyo.


"Lihat ke atasmu !!" Teriak Gavlin.


Dengan cepat, Sutoyo dan Petugas Polisi pun menengadahkan kepalanya ke atas, Di atas kepalanya, dia melihat, ada sebuah kotak besi tergantung tepat diatas kepalanya.


Sutoyo dan Petugas Polisi kaget, mereka berdua lantas mundur, dan mata mereka tetap melihat ke atas.


"Citraaaa !!" Teriak Sutoyo panik dan cemas.


Sekilas, Sutoyo melihat wajah Citra, anak keduanya di dalam kotak besi berukuran besar itu.


"Turunkan anakku!! Aku mau liat anakku!!" teriak Sutoyo, penuh amarah.


"Aku akan menurunkan anakmu, setelah kamu melepaskan Gatot!!" Ujar Gavlin.


Mendengar perkataan Gavlin tersebut, Sutoyo pun semakin geram, namun, dia berusaha menahan amarahnya, dia tak ingin, jika dia marah dan mengamuk, anaknya akan di bunuh Gavlin.


"Kita sama sama!! Kamu turunkan anakku, dan aku akan melepaskan Gatot!! teriak Sutoyo, menahan amarahnya.


"Gak ada tawar menawar Sutoyo!! Aku yang berkuasa di sini, dan aku yang memberi perintah!! Tugasmu hanya menuruti perintahku saja!!' Bentak Gavlin, penuh amarah.


Sutoyo pun terdiam, dia semakin geram, karena usaha tawarannya gagal. Gavlin menolak tawarannya. Tak ada pilihan lain buat Sutoyo, selain mengalah dan menuruti Gavlin, demi anaknya.


"Lepaskan dia !" Perintah Sutoyo.


"Baik, Bos." ujar Petugas Polisi.

__ADS_1


Tanpa membantah, Petugas Polisi segera melepaskan ikatan Gatot, dan dia membiarkan Gatot berjalan.


Dengan tertatih tatih dan tubuh yang lemas, di sisa sisa tenaganya, Gatot pun berjalan pelan, menjauh dari Sutoyo dan Petugas Polisi.


Tiba tiba, sebuah motor datang dan menghampiri Gatot yang berjalan tertatih tatih. Pengendara motor yang memakai helm tertutup menyuruh Gatot naik ke motor.


"Cepat, Pak. Naik!" ujar Pengendara motor.


Gatot, dengan sisa tenaganya, lalu segera naik ke atas motor, dia pun duduk di boncengan motor, lalu, motor itu pun segera pergi meninggalkan Sutoyo dan Petugas Polisi.


"Heeei !! Kenapa kamu bawa pergi Gatot sebelum melepaskan anakku?!!" teriak Sutoyo penuh amarah.


Sutoyo sangat marah, dia merasa telah dipermainkan Gavlin, tak terdengar suara Gavlin lagi, di atas bangunan tempat Gavlin tadi bersembunyi, sudah tak ada Gavlin di situ. Gavlin sudah pergi menghilang.


Sutoyo menoleh ke atas dan melihat anaknya yang masih tergantung di dalam kotak besi. Wajah Sutoyo tampak sedih.


"Citraa, anakku!!" ujarnya lirih dan getir.


Petugas Polisi hanya bisa terdiam, dia tak tahu, harus berbuat apa untuk membantu Sutoyo.


Tiba tiba, kotak besi yang tergantung itu bergerak.


Sutoyo dan Petugas Polisi mundur dua langkah, mereka berdua melihat, kotak besi berukuran besar itu bergerak turun.


Di luar bangunan runtuh dan tak jadi milik Wijaya itu, tampak Gavlin menemui pengendara motor yang membawa Gatot.


Gavlin memberikan segepok uang jutaan pada pengendara motor tersebut.


"Terima kasih atas bantuannya." ujar Gavlin.


"Ya, sama sama." ujar Pengendara motor.


Ternyata, Gavlin sengaja membayar pengendara motor untuk membantunya menolong Gatot. Pengendara motor itu seorang pemuda berandalan yang suka balap motor liar.


Gavlin sengaja menemuinya, dan menawarkan pekerjaan dengan iming iming duit jutaan, pengendara motor tanpa pikir panjang menyanggupi, karena tugasnya hanya membawa pergi Gatot saja.


Setelah menerima pembayaran uang dari Gavlin, Pengendara motor lalu pergi, Gavlin pun memapah tubuh Gatot, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Gavlin mendudukkan Gatot di jok depan, lalu, dia memasang sabuk pengaman pada tubuh Gatot. Kemudian, Gavlin masuk ke dalam mobil, dan duduk di jok depan belakang stir, di samping Gatot.


Dia lantas memakai sabuk pengamannya, lalu, dia diam menunggu, apa yang akan terjadi di dalam bangunan runtuh, dimana Sutoyo saat ini ada didalamnya.


Di dalam bangunan runtuh, Sutoyo dengan wajah tegang dan cemas berdiri menunggu, sesaat kemudian, kotak besi berukuran besar tiba di lantai. Gavlin yang membuat secara otomatis kotak itu turun, saat dia pergi dari tempat persembunyiannya tadi.


Dengan cepat, Sutoyo dan Petugas Polisi mendekati kotak besi berukuran besar itu, lalu, dengan cepat, Sutoyo pun membuka pintu kotak besi yang tidak di gembok itu.


Ya, Gavlin sengaja tidak menggemboknya, agar Sutoyo mudah membuka kotak besi berukuran besar itu.


Setelah pintu kotak besi itu terbuka, Sutoyo melihat ke dalam kotak besi berukuran besar, tiba tiba, mata Sutoyo terbelalak lebar, dia syock melihat anaknya di dalam kotak besi tersebut.


"Citraaa!!" teriaknya, histeris.


Di dalam kotak besi berukuran besar, tampak Citra sudah kaku, seluruh tubuhnya terbungkus lilin, hanya tersisa wajahnya saja yang tak di lumuri lilin.


Ternyata, Gavlin benar benar menjadikan Citra bagai boneka barbie, ya, Gavlin membunuh Citra, dan membuat Citra menjadi patung lilin.


Sutoyo pun menangis meratapi kematian anaknya yang sudah kaku dan menjadi patung lilin tersebut. Petugas Polisi juga kaget, dia diam dan terpaku melihat Citra yang telah menjadi patung lilin di dalam kotak besi berukuran besar.


Tiba tiba, Petugas Polisi mendengar suara bunyi klik dari dalam kotak besi tersebut, Sutoyo karena menangis histeris, tidak menyadarinya.


Petugas Polisi lalu melihat, di dalam kotak, tepatnya di sudut kotak besi tersebut, tombol menyala merah.


Petugas Polisi pun syock, dia terlihat panik melihat hal itu.


"Booommm!!" teriak Petugas Polisi.


Dengan gerak cepat, Petugas Polisi mendorong tubuh Sutoyo, lalu, dia maju kedepan, menjadi martir.


Bom seketika meledak, menghancurkan kotak besi berukuran besar, tubuh Citra yang menjadi patung lilin juga hancur terkena bom.


Sutoyo mental jauh dan terguling guling di lantai, dia lalu terkapar dengan luka parah, dan Petugas Polisi, tubuhnya hancur berkeping keping terkena bom.


Di dalam mobilnya, Gavlin sambil memegang remote mini ditangannya tampak tersenyum sinis. Gavlin yang mengaktifkan bom, yang memang sengaja dipasangnya di dalam kotak besi besar, agar Sutoyo mati bersama anaknya.


Gatot melihat bangunan meledak dan mengeluarkan percikan api yang sangat besar, dengan tubuh lemahnya, Gatot tersenyum senang.


Gatot menoleh pada Gavlin yang tersenyum puas, Gavlin pun menatap wajah Gatot, dia lalu mengangkat tangannya, Gatot dengan sisa tenaganya juga mengangkat tangannya.


Gavlin dan Gatot saling tos tangan, lalu mereka tertawa senang dan puas, mereka lega, karena berhasil membantai Sutoyo.

__ADS_1


Lalu, Gavlin pun segera menjalankan mobilnya, sesaat kemudian, mobil Gavlin pun berjalan pergi, meninggalkan bangunan runtuh dan belum jadi milik Wijaya.


Gavlin dan Gatot pergi begitu saja, meninggalkan Sutoyo di dalam bangunan tersebut.


__ADS_2