
Setelah sehari semalam Maya bersama Gavlin dirumahnya memadu kasih dan bercinta. Pagi hari, Maya pun pulang kerumahnya.
Wajahnya terlihat cerah, dia begitu sangat bersemangat dan bahagia.
Gavlin mengantarkan Maya pulang kerumahnya.
Sementara itu, Gatot tampak marah, dia marah, sebab Maya tidak pulang ke rumah malam tadi.
Dan Gatot tahu, Maya pasti bersama dengan Gavlin. Gatot tak ingin Maya semakin dekat dan berpacaran dengan Gavlin.
Gavlin dan Maya tiba dirumah Gatot, Gatot yang melihat kedatangan keduanya, langsung menghampiri Maya.
"Cepat masuk kamu !" Ujar Gatot marah.
"Apa apaan sih Ayah marah marah gini?!" Ujar Maya.
Dia kesal melihat Ayahnya marah padanya, selama ini Maya tidak pernah melihat Ayahnya marah.
Saat ini wajah Ayahnya itu merah padam, Maya tahu, Ayahnya sedang menahan amarahnya.
Maya khawatir pada Gavlin, dia khawatir Gavlin jadi sasaran kemarahan Ayahnya.
Maya tak mau masuk ke dalam rumahnya, dia berdiri dan diam di tempatnya.
"Ayo masuk, cepat ! Kamu mau membangkang Ayah ?!" Ujar Gatot dengan suara keras, membentak Maya.
Maya kaget mendengar suara keras Ayahnya, dia tak menduga, Ayahnya bisa berkata keras dan membentaknya.
"Sebaiknya kamu masuk May, aku gak apa apa kok." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya melihat Gavlin bersikap tenang menghadapi Ayahnya, akhirnya Maya pun menuruti perkataan Gavlin.
Maya pun lantas masuk ke dalam rumahnya, membiarkan Gavlin bersama Ayahnya di luar rumahnya.
"Mulai detik ini juga, saya minta kamu jangan lagi nemui Maya !" Bentak Gatot penuh amarah.
"Saya gak akan pernah menjauh dari Maya." Ujar Gavlin santai.
Sikap Gavlin tampak tenang dan cuek menghadapi Gatot.
Gavlin memang sudah mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan Gatot.
"Kamu...!! Aaaggh !!" Ujar Gatot.
Gatot yang tadinya mau memukul Gavlin, tak jadi memukul, dia pun semakin kesal.
"Maaf Om, saya pulang dulu." Ujar Gavlin tersenyum.
Dengan santainya Gavlin berbalik dan pergi meninggalkan Gatot yang masih menahan marahnya.
"Jangan bahayakan nyawa Maya Yanto !!" Teriak Gatot.
Mendengar nama kecilnya di sebut Gatot, Gavlin pun menghentikan langkahnya, lantas Gavlin membalikkan tubuhnya.
Dengan berjalan santai dan tenang, Gavlin menghampiri Gatot.
"Jadi Om udah tau siapa aku?" Ujar Gavlin tersenyum.
"Ya, aku udah tau siapa kamu, aku bisa mengenalimu dari ciri cirimu." Ungkap Gatot menahan amarahnya.
"Apa alasan Om mengatakan saya bisa membahayakan nyawa Maya?" Ujar Gavlin.
Gavlin tetap bersikap tenang, namun, tatapan matanya begitu dingin menatap wajah Gatot yang menahan amarahnya.
"Karena aku tau siapa kamu !! Aku tau, kamu kembali setelah bertahun tahun menghilang untuk membalas dendammu !!" Ujar Gatot dengan suara keras.
"Lantas?" Ujar Gavlin tersenyum sinis dan cuek.
"Aku gak mau, orang orang yang kamu buru akan menjadikan Maya sandera untuk mengalahkanmu!!" Ujar Gatot.
Ada ketakutan pada diri Gatot, dia takut, Maya terbawa bawa dalam masalah Gavlin atau Yanto yang mau membalas dendam.
"Om gak usah khawatir, aku pasti melindungi Maya, gak kan ada satu orang pun yang bisa melukai dan mencelakai Maya ! Itu Janjiku!!" Ujar Gavlin dengan tenangnya.
"Aku tau, kamu yang membunuh Mike dan membantai anggota wolf genk." Ungkap Gatot.
__ADS_1
"Apa buktinya Om?" Ujar Gavlin.
Dia menatap tajam wajah Gatot yang masih memendam emosi marahnya, tatapan mata Gavlin tajam dan dingin.
"Aku melihat rekaman cctv saat kamu menyewa crane. Dan aku menduga, itu kamu !" Ujar Gatot.
"Hanya dugaan ? Dan Om bisa langsung menuduhku? Apa urusanku membunuh Mike lalu menyewa crane?" Ucap Gavlin dengan cueknya.
Mendengar omongan Gavlin, Gatot kesal, dia geram, ingin rasanya dia memukul Gavlin saat ini juga.
Namun dia sadar, sebagai Aparat Penegak Hukum dia tidak bisa berbuat sesuka hatinya memukul dan menyerang Gavlin tanpa ada sebab yang jelas.
"Aku memang belum mendapatkan bukti kuat, tapi hatiku yakin, bahwa kamulah yang membunuh Mike, untuk membalaskan dendammu atas kematian Linda. Sebab Linda pacarmu !" Ujar Gatot.
"Linda bukan siapa siapa bagiku Om, satu satunya wanita yang ku cintai sejak kecil hingga sekarang hanya Maya, hanya Maya yang ada di hatiku !" Ujar Gavlin dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
Gatot pun terdiam.
"Sebaiknya Om mencari bukti yang benar, agar gak salah tuduh, jangan sampe Om malu sendiri karena salah menuduh." Ujar Gavlin tersenyum sinis.
"Lupakan balas dendammu Yanto, jangan sakiti hatimu dengan berusaha untuk membalas dendam." Ujar Gatot.
Gatot meminta agar Gavlin tidak meneruskan niatnya untuk membalas dendam.
Wajah Gavlin berubah marah, dia tersinggung karena Gatot menyuruhnya melupakan semuanya dan tidak membalas dendam.
"Jangan coba coba melarang dan mengatur hidupku !! Sampai kapanpun, aku akan tetap memburu bajingan bajingan yang membunuh Ibu dan menjebak Bapakku serta membakar rumahku !!" Bentak Gavlin.
"Gak kan ada yang hidup satu pun dari bedebah bedebah itu !! Aku akan membantai dan membunuh mereka !!" Bentak Gavlin marah.
"Dan aku akan menangkapmu !" Ujar Gatot menegaskan.
"Silahkan, silahkan kejar dan tangkap aku !" Ujar Gavlin tersenyum sinis.
Gavlin lantas berbalik dan pergi meninggalkan Gatot.
Gatot terdiam di tempatnya, sebenarnya, Gatot prihatin pada Gavlin, dia tahu, hati Gavlin terluka, dia tahu, Gavlin atau yang dia kenal bernama Yanto itu memendam dendam bertahun tahun lamanya.
Namun, Gatot tak ingin Gavlin atau Yanto menjadi seorang pembunuh.
Gatot menarik nafasnya dalam dalam, Gavlin sudah menghilang dari pandangan matanya.
Maya keluar dari dalam kamarnya, Maya sudah berganti baju, dan dia bersiap siap untuk berangkat kerja.
"Aku berangkat kerja." Ujar Maya.
Maya tak salim pada Ayahnya, sebab dia masih kesal pada Ayahnya karena memarahinya tadi.
"May, tunggu dulu, Ayah mau bicara." Ujar Gatot.
Maya tak menghiraukan omongan Ayahnya, dia tak perduli, Maya keluar dari dalam rumahnya.
Gatot pun menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada diruang tamu rumahnya.
Wajah Gatot tampak bersedih, dia sedih, sebab Maya sudah berani melawannya.
Ada rasa bersalah juga di hati Gatot, sebab dia memarahi Maya tadi. Selama ini, dia tidak pernah memarahi Maya, apalagi bicara dengan suara keras seperti membentak pada Maya.
Gatot sadar, Maya kesal karena merasa, dia sudah membentak Maya tadi.
Gatot mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Ponselnya berdering, dia lantas mengambil ponsel dari kantong celananya.
"Ya Hallo? Ada bukti baru? Baik, saya segera ke kantor !" Ujar Gatot di telepon.
Gatot menutup telepon dan memasukkan ponselnya kembali kedalam kantong celananya.
Gatot lantas bergegas keluar dari dalam rumahnya, tidak lupa dia mengunci pintu rumah dan mencabut kuncinya lalu menyimpan kunci dalam kantong celananya.
Gatot bergegas ke kantornya, sebab dia baru mendapatkan info dari Teguh, bahwa pihak Forensik yang memeriksa mayat Mike menemukan bukti baru.
Gatot ingin mendengar langsung dari Dokter Ahli bedah mayat dari tim Forensik di kantornya.
---
__ADS_1
Di Gudang tempat yang biasa dia bekerja membuat patung lilin dengan sosok Yanto, Gavlin tampak menyiapkan sesuatu, ada botol berisi racun obat bius dan ada juga senjata bius tergeletak di atas meja.
Semua peralatan yang dia gunakan untuk membunuh dan membalas dendam di belinya di Jerman.
Dengan kekayaan dan uang yang dia miliki, Gavlin bisa membeli semua kebutuhan dan yang dia perlukan untuk membalas dendam.
Gavlin tengah merencanakan aksi berikutnya membalas dendam, dia sudah menentukan target selanjutnya yang akan dia buru dan bunuh.
Tatapan mata Gavlin dingin, amarahnya meluap, dia menyeringai geram.
---
Gatot tiba di kantornya, dia segera menemui Dokter ahli mayat dari tim Forensik yang memeriksa mayat Mike.
Gatot di temani Teguh saat ini.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Gatot ingin tahu.
"Ya, setelah saya meneliti zat yang ditemukan di dalam hidung dan rongga mulut serta tenggorokan korban, bisa di pastikan, racun yang membunuh korban adalah sianida!" Ujar Dokter ahli bedah mayat Forensik.
"Sianida?" Ujar Gatot kaget.
"Iya, sepertinya pelaku sengaja ingin menyakiti korban terlebih dulu sebelum membunuhnya dengan menenggelamkan korban di kubangan semen." Ungkap Dokter Ahli bedah mayat Forensik.
Gatot mengangguk angguk mengerti dan paham.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya." Ujar Gatot.
"Sama sama, jika ada bukti baru yang ditemukan lagi, saya akan kabari." Ujar Dokter ahli bedah mayat Forensik.
"Ya." Angguk Gatot.
Gatot lantas pergi dan keluar dari ruang mayat, Teguh mengikuti Gatot.
"Tugaskan anggota untuk mengikuti dan mengawasi gerak gerik Gavlin !" Ujar Gatot pada Teguh.
"Gavlin ?!" Tanya Teguh heran.
"Iya." Jawab Gatot.
"Apa Gavlin itu tersangka pelaku pembunuhan Mike ?" Tanya Teguh.
"Ya, Saya mencurigainya, memang saat ini belum ditemukan bukti kuat untuk membuktikan Gavlin pelakunya, tapi saya yakin, secepatnya akan menemukan bukti bukti yang bisa menjerat Gavlin !" Ujar Gatot.
Gatot tampak bertekat untuk mengungkap pembunuhan Mike, dia sangat yakin, bahwa pembunuh Mike adalah Gavlin, walau dia tak punya bukti untuk menguatkan tuduhannya saat ini.
Gatot lantas masuk ke ruang kerjanya di ikuti Teguh.
---
Di halaman parkir hotel, tampak Samsul, pemimpin Wolf genk sedang menelpon.
Samsul berjalan sambil menelpon menuju mobilnya yang terparkir di parkiran hotel.
Samsul habis berkencan di hotel tersebut bersama wanita panggilan.
Dia tak menyadari, jika di belakang mobilnya, di bawah bagasi, terpasang alat pelacak.
Alat pelacak itu di pasang Gavlin saat dia datang dengan diam diam ke markas Samsul saat tengah malam.
"Mengurus begitu saja gak becus !! Saya sudah berkali kali bilang !! Jangan lengah, jangan sampe Polisi tau kalian mengedarkan narkoba ke sekolah sekolah !!" Bentak Samsul ditelepon.
Tiba tiba melesat jarum kecil dan menancap di leher Samsul.
Samsul merasakan sesuatu menusuk kulit lehernya, dia memegang lehernya.
"Saya gak mau tau, pokoknya urus semuanya !! Awasi, jangan sampe Mereka buka mulut sama polisi !" Bentak Samsul.
Samsul menutup teleponnya, tiba tiba pandangannya buram, matanya berkunang kunang, lalu, ponselnya terlepas dari tangannya.
Tangannya terasa kaku, Samsul membungkuk, berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai halaman parkir hotel.
Saat Samsul membungkuk dan mau mengambil ponselnya, tiba tiba melesat sosok berpakaian hitam.
Samsul kaget dengan samar samar dia melihat sosok berpakaian hitam.
__ADS_1
Belum jelas pandangan matanya, sebuah kayu menghantam kepalanya.
Seketika, Samsul jatuh terjerembab dilantai dan, Samsul pun lantas tak sadarkan diri.