
Maya tampak keluar dari dalam kamar ruang ICU dengan memakai baju steril, dia kemudian segera membuka baju steril yang dipakainya di dalam ruang ICU saat menemui Ayahnya tadi.
Maya pun kemudian mendekati Gavlin yang duduk di bangku tunggu ruang ICU, Maya meletakkan baju steril di atas bangku tunggu kosong di sebelahnya.
Gavlin menoleh pada Maya yang duduk di sampingnya, Gavlin tersenyum lembut, penuh kasih sayang pada Maya.
"Ayah belum sadar juga, Vlin." ujar Maya getir.
Gavlin diam, dia hanya mengangguk lemah, wajahnya pun terlihat sedih bercampur marah, Gavlin juga tak tega melihat kondisi lemah Gatot di dalam kamar ICU.
"Apa Ayahku akan sadar? Atau dia akan selamanya koma, Vlin?!" Tanya Maya menangis lirih.
Maya menatap wajah Gavlin, Gavlin melihat, tatapan mata Maya nanar, penuh kesedihan. Gavlin pun merangkul tubuh Maya, dia mendekap dan memeluk erat Maya, kepala Maya rebah di dada Gavlin.
"Ayahmu pasti sadar, May. Bersabarlah." ujar Gavlin lembut, penuh kasih sayang.
Maya lantas menghapus air matanya, dia lalu melepaskan pelukan Gavlin padanya. Maya menatap tajam wajah Gavlin.
"Bunuh orang itu, Vlin!" Ujar Maya marah.
Gavlin kaget mendengar perkataan Maya, dia menatap tajam wajah Maya, Gavlin ingin melihat, apakah Maya bersungguh sungguh dan serius dengan perkataannya.
"Aku mau, kamu membunuh orang yang udah melukai Ayahku ! Aku mau, orang itu mati, Vlin !" Tegas Maya dengan serius dan wajah yang marah.
"Seriuskah kamu, May?" tanya Gavlin, ingin memastikan.
"Aku serius, Vlin! Aku gak terima, Ayahku gak sadarkan diri, koma berhari hari ! Aku mau ! Kamu membalaskan dendam dan sakit hatiku!!" Tegas Maya marah.
"Aku mau! Mata di bayar mata, nyawa di bayar nyawa! Jangan biarkan orang itu hidup dengan senang di luar sana!! Bunuh dia! Bila perlu!! Bakar sekalian, aku gak perduli!!" ungkap Maya penuh amarah di hatinya.
Wajahnya terlihat marah, emosinya meluap luap, Gavlin tersenyum tipis mendengar perkataan Maya yang serius itu.
"Aku akan membunuh orang itu, May. Untukmu, dan untuk Om Gatot, Ayahmu! Ya. Aku pasti membunuh orang itu." ujar Gavlin dengan geramnya.
"Vlin. Jika kamu berhasil menangkap orang itu, sebelum kamu membunuhnya, kabari aku, biar aku datang, aku mau liat langsung, bagaimana kamu membunuh orang yang udah melukai Ayahku!" Tegas Maya dengan marahnya.
"Iya, May. Aku janji, aku akan kabari kamu nanti. Bersabarlah, gak lama lagi, orang itu akan ku habisi!" Ungkap Gavlin geram dan menahan marahnya.
Maya kembali merebahkan kepalanya di dada Gavlin, Gavlin pun merangkul tubuh Maya, dia menepuk nepuk badan Maya.
Gavlin menatap ke depan, tatapan matanya tajam, jauh ke depan, bola matanya bersinar penuh amarah yang terpendam di jiwanya.
---
Enam mobil patroli kepolisian beserta mobil Teguh tiba di lokasi Markas besar Moses. Dengan gerak sigap, tanggap dan cepat, para Petugas Polisi tersebut keluar dari dalam mobilnya.
Mereka semua bersiap siap dengan pistol di tangan masing masing, berdiri diam sambil mengacungkan pistol ke depan, menunggu komando Teguh sebagai pemimpin mereka saat ini.
Teguh keluar dari dalam mobilnya, dia juga memegang pistol di tangannya, wajahnya tampak marah.
"Gerebek tempat ini! Jangan biarkan satu orang pun lolos!! Jika ada yang melawan, tembak di tempat!!" Ujar Teguh memberi komando.
__ADS_1
"Siap, laksanakan!!" Jawab para petugas Kepolisian serentak.
Lalu, sekitar 25 Petugas Polisi masuk ke dalam markas Moses, 5 orang berjaga jaga di sekitar luar halaman Markas. Teguh pun lalu masuk juga ke dalam markas.
Di dalam markas, Teguh dan timnya tak menemukan apapun juga. Tak ada satu orang pun di dalam markas itu.
"Geledah semua ruangan !" Perintah teguh dengan kesal dan marah.
Teguh marah, karena dia tak menemukan seorang pun di dalam markas, Beberapa petugas polisi masuk ke dalam ruangan ruangan yang ada di markas tersebut.
Teguh berjalan ke arah ruang kantor Moses, dia menendang pintu kantor, lalu, Teguh pun masuk ke dalam kantor Moses.
Di dalam kantor, dia pun tak melihat siapa siapa, hanya ada beberapa botol botol kosong yang pecah dan tergeletak di lantai serta di meja, sofa sofa terbalik. Ruang kantor tersebut sangat berantakan.
Ronald yang berantakin ruang kantor Moses, sebelum dia pergi, dia mengamuk ke setanan membabi buta, menghancurkan botol botol minuman kerasnya, dan melemparkan semua barang barang yang ada di dalam kantor tersebut.
"Bedebah!! Moses berhasil kabur!! Aku terlambat ke sini!!" ujar Teguh dengan geram dan marah.
Teguh lantas segera keluar dari dalam ruang kantor Moses. Beberapa petugas polisi yang mengikutinya, juga ikut keluar menyusul Teguh.
Di halaman markas besar Moses, Teguh tampak berdiri dengan bertolak pinggang, wajahnya marah, matanya tajam menyusuri area sekitar markas. dia tengah melihat lihat sekitarnya, dengan harapan, dia melihat seseorang.
Namun, Teguh tak melihat siapa siapa, dia pun semakin geram, salah seorang petugas polisi menghampirinya.
"Semua lokasi kosong, Pak!" Ujar Petugas Polisi, memberi laporan.
"Ya. Kita balik ke kantor! Tunggu komando dari saya lagi." ujar Teguh.
Teguh lantas masuk ke dalam mobilnya, para petugas Polisi pun bergegas masuk ke dalam mobil mereka masing masing, tak lama kemudian, Teguh dan tim buru sergap kepolisian pergi dari tempat Markas besar Moses.
---
Bramantio tampak kesal duduk di kursi meja kerjanya, sementara Ronald berdiri di depan meja kerjanya.
"Moses pengecut! Dia kabur, melarikan diri!!" ujar Ronald geram.
"Ya, jelas ! Kamu menikam Komandan Polisi!! Jelas aja Moses kabur, karena dia gak mau kebawa bawa dengan masalahmu !!" Tegas Bramantio kesal.
"Lagian, kenapa kamu harus menikam si Gatot itu?!" Hardik Bramantio marah.
"Aku kesal, dia datang petantang petenteng, mengancamku dan Moses, dari pada banyak omong, ku tikam dia dengan pisau lipatku ini!!" Ujar Ronald tersenyum menyeringai jahat.
"Tapi karena ulahmu, Bukan saja kamu! Moses, dan aku, pasti akan kebawa bawa!" Tegas Bramantio.
"Kenapa sih, kalian semua khawatir?!" Tenang aja!! Gatot udah mati!! Dia gak bakalan hidup!! Aku menikam perutnya berkali kali, ususnya terburai keluar, dan Moses membuangnya!!" Bentak Ronald marah.
"Tetap pihak Polisi akan mencari tau, mereka akan mengusut kasus ini, jika mereka menemukan mayat Gatot, mereka akan mengusut sampe tuntas, mencari dalang pembunuh Komandan mereka!!" hardik Bramantio marah.
"Mereka gak bakalan nemui mayat Gatot!!" Bentak Ronald marah.
"Kamu yakin? Moses membuang Gatot di tempat aman, yang gak bakalan orang tau, dan gak kan bisa mayatnya ditemukan? Apa Moses bilang ke kamu? Di buang kemana Gatot?!" Bentak Bramantio tak kalah marahnya.
__ADS_1
Ronald terdiam untuk sesaat, Bramantio benar, dia tak bertanya hal itu pada Moses.
"Ya, aku gak nanya, di mana dia membuang Gatot." ujar Ronald geram.
"Nah !! Ini yang aku khawatirkan! Karena panik ! Moses gak bisa berpikir sehat!! Dia membuang begitu aja Gatot !" tegas Bramantio marah.
"Kalo sampe ada yang menemukan Gatot ! Habis kamu Ronald ! Kamu gak akan bisa kemana mana, kamu akan menjadi buronan, orang nomor satu yang paling di buru Polisi!!" Hardik Bramantio.
"Saranku, jika itu terjadi, sebaiknya kamu sembunyi, jangan dulu menemuiku!! Agar Polisi gak mencium keterlibatanku denganmu!!" tegas Bramantio.
"Aku gak mau!! Aku gak akan bersembunyi dimana pun!! Pantang bagiku lari!! Aku bukan pecundang kayak Moses !!" bentak Ronald marah.
Bramantio pun terdiam, dia menghela nafasnya dengan berat, dia tak mau lagi bicara dengan Ronald, sebab, baginya, sia sia saja dia bicara panjang lebar, karena Ronald tidak akan mendengar, apalagi menuruti semua perkataannya.
Bramantio benar benar di buat pusing oleh perbuatan Ronald, dia berharap, dengan membantu Ronald keluar lebih cepat dari penjara, Ronald akan bisa membantunya membalas dendam sama orang yang telah membunuh Mike, anaknya, tapi malah Ronald membuat masalah, dan menambah beban masalah buat Bramantio.
Apalagi, karena tindakan Ronald yang tak memikirkan akibatnya, dia pun mengalami kerugian yang sangat besar, di mana Hotel mewah yang sangat dia banggakan, hotel yang belum lama berdiri, hancur dan musnah dengan cepat, hanya dalam hitungan waktu.
Bramantio benar benar pusing, bagaimana cara, agar Ronald mematuhi perintah dirinya.
---
Di suatu tempat, tampak Teguh bertemu dengan Gavlin, Wajah Teguh tampak menunjukkan rasa kecewa dan bersalah, sementara Gavlin, diam bersikap dingin, wajahnya memendam amarah.
"Markas Moses kosong, sebelum aku dan timku datang, Moses dan anak buahnya udah kabur, Yan!" Ujar Teguh.
"Aku tau, bang ! Pasti Moses langsung kabur, setelah dia membuang Om Gatot di depan halaman rumah sakit!" Ujar Gavlin geram.
"Dia tau, Polisi akan mengejarnya! Karena itu dia kabur, bersembunyi di tempat lain!" tegas Gavlin geram dan marah.
"Ya, sepertinya begitu, Yan." ujar Teguh.
"Maaf, Yan. Aku belum bisa menangkap Moses, dan menyeretnya ke hadapanmu!" ungkap Teguh merasa bersalah pada Gavlin.
"Santai aja bang, Bro. Ini bukan salahmu." ujar Gavlin tersenyum tipis.
Teguh diam, dia tertunduk, masih ada rasa bersalah di hatinya, sebab, dia merasa gagal memenuhi janjinya pada Gavlin, untuk menangkap Moses di markasnya.
"Saatnya aku yang berburu bang, Bro!" tegas Gavlin geram.
Teguh diam, dia menatap tajam wajah Gavlin yang geram dan menahan marahnya.
"Aku akan memburu Moses dan anak buahnya yang membuang om Gatot ! Aku akan menghabisi mereka berdua!! Dengan tanganku, Moses akan meregang nyawa!!" Tegas Gavlin penuh amarah.
"Ya, Yan. Aku gak akan menghalangimu. Lakukanlah sesuka hatimu, karena aku juga, menginginkan kematian Moses, karena dia udah melukai pimpinanku!" Tegas Teguh dengan wajah penuh amarah.
"Ya, bang Bro. Aku pergi dulu." ujar Gavlin pamit.
Teguh mengangguk, mengiyakan, Gavlin pun pergi meninggalkan Teguh. Setelah kepergian Gavlin, Teguh pun lalu segera pergi dari tempat pertemuan dia dan Gavlin.
Teguh masuk ke dalam mobilnya, dinyalakannya mesin mobil, lalu, tak lama kemudian, mobil Teguhpun berjalan, mobil melaju cepat, pergi dari lokasi pertemuan Teguh dan Gavlin.
__ADS_1