VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Pertemuan


__ADS_3

   Linda yang tadinya mengejar papahnya tiba tiba berbalik dan berjalan cepat memasuki ruangan tempat digelarnya acara ulang tahun Wijaya.


Linda mendekati Gavlin yang masih berdiri di tempatnya, para tamu undangan melihat kedatangan Linda.


"Maaf Vlin, kamu ikut aku ." Ujar Linda.


Linda menarik tangan Gavlin yang lantas mengikutinya, Gavlin diam tanpa berusaha melepaskan pegangan tangan Linda yang menarik tangannya.


Para tamu undangan heran melihat Linda yang pergi dan balik lalu pergi lagi bersama Gavlin.


Mereka semakin bertanya tanya heran, ada apa? Apa sebenarnya yang sedang terjadi pada keluarga Wijaya?


Para tamu undangan heran melihat Wijaya pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.


Linda dan Gavlin mendekati mobil Linda yang terparkir di area parkir gedung perhotelan.


Linda cepat membuka pintu depan mobil lalu masuk kedalam mobilnya.


Gavlin melangkah lalu membuka pintu depan satunya, dia masuk dan duduk di jok depan samping Linda duduk memegang stir.


"Kita mau kemana ?" Tanya Gavlin melihat pada Linda yang menyalakan mesin mobil.


"Ngikuti papahku ke proyek." Ujar Linda bersiap siap menjalankan mobilnya, Gavlin menghela nafasnya.


"Sebaiknya aku gak ikut, aku gak mau mencampuri urusan keluargamu." Ujar Gavlin pada Linda.


"Apaan sih, kamu harus ikut, titik. Kamu bisa jagain papah kalau kalau ada orang yang mau mencelakainya nanti di proyek." Ujar Linda.


Gavlin lantas diam tak menjawab.


Linda lalu menjalankan mobilnya, mobil melaju cepat keluar dari area parkir gedung perhotelan.


Linda menyetir dengan kecepatan diatas normal, agar dia bisa mengejar papahnya yang sudah lebih dulu pergi dengan terburu buru tadi.


   Surya, Asisten Manager memberikan laporan pada Bramantio yang duduk di kursi dalam ruang kerjanya.


"Semua udah beres pak." Ujar Surya.


Surya memberikan laporan hasil kerja Samsul pada Bramantio yang terlihat senang.


"Bagus, aku tinggal nunggu bagaimana reaksi manusia tak tau diri itu, dia pasti menghubungiku begitu tau proyeknya hancur !" Ujar Bramantio.


Wajah Bramantio terlihat geram, Surya, Asisten Manager Bramantio, hanya mengangguk diam.


"Satu hal lagi, kamu kasih sisa uang upah, bilang Samsul, agar dia menutup rapat rapat mulutnya!" Ujar Bramantio menatap tajam Surya.


"Baik Pak." Ujar Surya mengangguk hormat pada bramantio.


   Di lokasi proyek pembangunannya, Wijaya yang tiba dan dengan wajah marah terburu buru memasuki lokasi proyek.


Pimpinan Proyek yang melihat kedatangan Wijaya segera menghampirinya.


Melihat kerangka bangunan bangunannya hancur, pondasi pondasinya berantakan, wajah Wijaya menahan emosi amarahnya.


"Biadab kamu Braaam !!" Teriak Wijaya melampiaskan amarahnya, Pimpinan proyek tertunduk dihadapannya.


"Bagaimana dengan para pekerja?" Tanya Wijaya pada Pimpinan proyek.


"Mereka yang terluka sudah dibawa kerumah sakit tadi di jemput ambulance pak." Ujar Pimpinan proyek pada Wijaya.


"Saya juga sudah melaporkan kejadian ini pada polisi." Ujar Pimpinan proyek lagi.


Wijaya melirik wajahnya, dia lalu memandangi bangunannya yang sudah hancur dan rusak parah.


Terlihat wajah kekecewaan dan amarah yang membara dalam diri Wijaya saat ini.


Linda datang bersama Gavlin dengan langkah cepat mendekati Wijaya.


Begitu melihat bangunan bangunan yang rusak parah, hancur berantakan, Linda kaget.


"Apa maksudnya menghancurkan proyek papah ?!" Ujar Linda geram.


Gavlin hanya berdiri diam memandangi reruntuhan bangunan yang dihancurkan anak buah Samsul.


"Apa lagi kalo bukan tujuannya untuk menghancurkan papah ! Menggagalkan pembangunan proyek papah !" Ujar Wijaya menahan geramnya.


"Manusia picik ! Tidak bisa bersaing secara sehat, memakai cara licik, biadab !" Ujar Linda.


Linda juga marah besar, karena dengan kehancuran bangunan yang belum jadi.


Dengan hancurnya bangunan proyek, maka dirinya dan papahnya akan mengalami kerugian yang cukup besar.


Karena mau tidak mau akan mengeluarkan biaya lagi diluar dari biaya yang mereka dapatkan dari hasil memenangkan tender proyek.


Dan biaya itu pasti akan bernilai besar, Linda tidak bisa menerima semua itu, dia sangat marah atas perbuatan Bramantio.


"Ini perbuatan Bramantio kan pah?" Ujar Linda bertanya pada papahnya.


"Siapa lagi kalo bukan dia ! Hanya dia yang dendam pada papah karena merasa dikalahkan papah!" Ujar Wijaya pada Linda.


"Ini gak bisa di biarkan pah, aku akan lapor polisi, akan ku beritahu polisi, bahwa pelakunya Bramantio!" Ujar Linda geram.


"Kamu tidak bisa melakukan itu." Ujar Wijaya.


"Kenapa?!" Tanya Linda menatap lekat wajah papahnya.


"Kamu tidak bisa melaporkan pelakunya Bramantio tanpa adanya bukti, nanti akan jadi bumerang buat dirimu !" Ujar Wijaya mengingatkan Linda.


"Bram akan menyerang balik dan menuduh kamu sudah mencemarkan nama baiknya karena memfitnah dia sebagai pelaku." Ujar Wijaya.


Wijaya mencegah Linda agar tak melaporkan Bramantio sebagai pelakunya, Linda lantas tercenung diam berfikir.


"Terus, kita hanya diam aja tanpa bertindak apapun atas perbuatan Bram?!!" Tanya Linda kesal atas ucapan dan sikap papahnya.


"Papah tidak diam, biar papah yang urus semuanya, kamu tenang saja. Biar ini menjadi urusan papah dengan Bramantio!" Ujar Wijaya geram.


Linda pun mengangguk, dia menatap kembali bangunan yang hancur di sekitar lokasi proyek.


Linda menarik nafasnya berat, Gavlin yang berdiri ditempatnya melirik diam pada Linda.


   Ditempat lain, Mike menemui Samsul, dia ingin memberikan tugas pada Samsul yang sudah menunggunya.


"Waah...waahh...makin gagah aja kamu Mike, lama kita gak bertemu." Ujar Samsul menyapa Mike, begitu dia melihat kedatangan Mike.

__ADS_1


"Gak usah banyak basa basi. Aku mau, kamu dan anak buahmu mengerjakan tugas dariku." Ujar Mike pada Samsul yang tersenyum menatapnya.


"Bukan main anak sama bapak , Mimpi apa aku semalam, mendapatkan dua job sekaligus dari bapak dan anak." Ujar Samsul tertawa.


"Apa maksudmu?!" Tanya Mike , dia tidak mengerti apa yang dikatakan Samsul.


"Ah, sudahlah, tidak perlu di bahas lanjut. Nanti juga kamu tau sendiri dari papahmu." Ujar Samsul tersenyum licik padanya.


"Apa yang harus aku kerjakan?" Ujar Samsul bertanya pada Mike.


"Singkirkan orang ini, terserah kamu mau apakan dia, aku ingin dia menjauh dari Linda." Ujar Mike.


Mike lalu memberikan selembar photo Gavlin pada Samsul.


Samsul mengambil photo dari tangan Mike, melihat photo Gavlin, dia lalu melirik Mike.


"Kerjaan mudah, urusan ini akan aku serahkan pada tangan kananku Zulfan seperti biasa." Ujar Samsul menatap wajah Mike.


"Terserah siapa yang kerjakan, aku mau secepatnya orang ini di lenyapkan." Ujar Mike menatap tajam wajah Samsul.


"Tenang aja, aku pasti secepatnya beresin orang ini." Ujar Samsul menunjuk photo Gavlin ditangannya.


"Aku akan mentransfer uang 150 juta ke rekeningmu, sisanya aku transfer begitu semuanya beres." Ujar Mike dengan tatapan tajam.


Mike memendam emosi marah dan rasa cemburunya pada Gavlin, Samsul tersenyum pada Mike.


"Berees." Ujar Samsul. 


Mike lantas berbalik dan pergi meninggalkan Samsul yang menatap kepergiannya.


Setelah Mike menghilang dari pandangannya, Samsul segera berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju mobilnya.


   Gatot bersama Teguh datang kelokasi proyek pembangunan Wijaya.


Mereka datang ke lokasi atas laporan dari Pimpinan Proyek yang mengadukan kejadian di proyek. 


Wijaya yang masih berada di lokasi bertemu dengan Gatot, saat Gatot berjalan mendekati Wijaya,Linda dan Pimpinan Proyek.


Gatot juga berpapasan dengan Gavlin yang berusaha menutupi kegugupannya karena tak menduga akan bertemu Gatot di lokasi itu.


Gatot melirik Gavlin saat dia berjalan lewat disamping Gavlin yang mengangguk memberi hormat padanya.


Gatot yang mendekati Wijaya terdiam sejenak saat dia melihat wajah Wijaya.


"Pak Wijaya ?!" Ujar Gatot mencoba mengingat ingat diri Wijaya.


"Iya, saya sendiri." Ujar Wijaya mencoba bersikap santai dihadapan Gatot, dia tidak mengenali Gatot.


"Saya Gatot, komandan kepolisian, dan ini rekan saya Teguh." Gatot perkenalkan dirinya.


"Kami datang karena ada laporan tentang pengeroyokan dan perusakan bangunan proyek oleh sekelompok orang." Ujar Gatot pada Wijaya.


"Iya, benar pak Gatot, saya pemilik proyeknya, dan ini pimpinan proyek yang melapor pada polisi, dia tau kejadian semuanya." Ujar Wijaya.


Wijaya memperkenalkan Pimpinan Proyek pada Gatot yang menatap wajah Pimpinan Proyek yang mengangguk memberi hormat padanya.


"Saya menyaksikan semua perbuatan mereka dari awal sampai akhir pak." Ujar Pimpinan Proyek pada Gatot.


"Kamu cek semua lokasi, cari dan temui apapun yang bisa menjadikan bukti." Ujar Gatot memberikan tugas pada Teguh yang berdiri di sampingnya.


"Siap komandan !" Ujar Teguh memberi hormat.


Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot, Wijaya, pimpinan proyek dan Linda beserta Gavlin yang hanya diam saja.


"Bisa saya bertanya sekarang pada bapak ?" Tanya Gatot pada pimpinan proyek.


"Silahkan pak." Ujar Pimpinan proyek pada Gatot.


"Saat itu, kami sedang bekerja seperti biasa, tidak ada yang tahu kedatangan orang orang itu." Kepala Proyek menjelaskan awal kejadian.


"Tiba tiba datang dengan jumlah banyak menyerang kami yang sedang bekerja." Ujar Pimpinan Proyek mulai memberikan kesaksiannya.


"Melihat kerumunan orang yang begitu banyak menyerang dengan membawa senjata masing masing ditangan, saya lari sembunyi."


"Saya menyelamatkan diri agar tidak terkena amukan massa yang membabi buta mulai menyerang Pak." Ujar Pimpinan Proyek.


"Mereka melukai para pekerja serta menghancurkan semua bangunan bangunan." Ujar Pimpinan Proyek.


Gatot mencatat semua keterangan darinya, Wijaya mendengarkan bersama Linda yang berdiri disamping Wijaya.


Sementara Gavlin melangkah mundur satu langkah, agar menjauh dari Linda dan berada di belakang Gatot.


"Apa ada yang bapak kenal dari massa yang menyerang itu ?" Tanya Gatot lagi pada pimpinan proyek.


"Tidak pak, saya tidak mengenali satupun dari mereka." Ujar kepala Proyek.


"Tapi saya melihat, mereka memakai baju hitam seperti seragam khusus, di bajunya saya melihat logo." Ujar Pimpinan Proyek pada Gatot.


"Logo apa itu ?" Tanya Gatot.


Pimpinan Proyek diam, dia mencoba mengingat ingat logo apa yang dia lihat di baju salah satu orang yang menyerang proyek.


Gavlin yang diam ditempatnya melirik pimpinan proyek, diam diam dia juga ingin tahu siapa orang suruhan yang melakukan penyerangan.


"Bapak ingatkan yang bapak liat ?" Ujar Linda pada pimpinan proyek.


Linda bertanya karena melihat wajah Pimpinan Proyek yang terlihat seperti berusaha mengingat.


"Iya bu, saya ingat, saya hanya ingin memastikan, agar apa yang saya lihat tidak salah." Ujar Pimpinan Proyek pada Linda.


"Apa bapak tidak bisa mengingat logo itu saat ini ?!" Tanya Gatot lagi menatap wajah Pimpinan Proyek yang sedikit bingung itu.


"Kalo saya tidak salah lihat, seingat saya logo di bajunya berlambang serigala." Ujar Pimpinan Proyek mengingat ingat.


"Logo Serigala ?!" Tanya Gatot ingin memastikan kebenaran dari ingatan Pimpinan Proyek.


Linda menatap tajam wajah pimpinan proyek, sementara Wijaya yang mendengar terlihat menahan geramnya, dia tahu yang dimaksud logo itu.


"Wolf gank.itu nama kelompok mereka." Ujar Wijaya dengan sikap tenang.


Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang menyimpan amarah.


Gavlin menatap Wijaya ketika mendegar nama "Wolf Gank", Gavlin diam berfikir, Linda kaget menatap wajah papahnya, begitu juga Gatot.

__ADS_1


"Papah tau mereka ?!" Tanya Linda pada papahnya.


"Iya." Ujar Wijaya mengangguk.


"Wolf gank yang bapak maksud, apakah kelompok preman yang tindakannya buas dan ganas seperti mafia ?" Tanya Gatot pada Wijaya.


"Iya, benar. Mereka gank penjahat yang biasa di bayar orang untuk melakukan tindak kejahatan apapun." Ujar Wijaya.


"Mereka bertindak cukup cepat, rapi dan kejam pada korban korbannya, biasanya mereka tidak akan meninggalkan jejak sekecil apapun di lokasi." Ujar Wijaya.


Wijaya memberikan keterangan pada Gatot yang menatapnya tajam, dia heran kenapa Wijaya mengetahui dengan detil tentang Wolf Gank tersebut.


"Darimana bapak tau mereka?!" Tanya Gatot ingin menyelidiki lebih jauh lagi.


"Dari rekan bisnis saya Bramantio, dia pernah menggunakan jasa Wolf Gank." Ujar Wijaya.


Mau tak mau karena terlanjur cerita, Wijaya pun memberitahu dengan menyebut nama Bramantio.


Gavlin mendengar nama Bramantio disebut melirik Wijaya, ada sesuatu yang sedang di fikirkannya saat itu.


Linda menahan amarahnya, dia bisa menyimpulkan bahwa Bramantio pelakunya.


Bramantio lah yang menyuruh dan membayar Wolf Gank menghancurkan proyeknya dan papahnya. 


Sementara, Gatot diam sejenak, Gatot terlihat raut wajahnya sedang berfikir keras.


"Bramantio...Bramantio...! Apakah Bramantio yang bapak maksud pejabat pimpinan daerah pusat dan pengusaha besar itu ?!" Tanya Gatot ingin memastikan pada Wijaya.


"Iya." Ujar Wijaya pada Gatot yang mengangguk angguk mulai memahami apa yang terjadi.


"Maaf pak, apa sebelumnya ada permusuhan antara bapak dan pak Bramantio ?" Tanya Gatot lagi mulai mengusut.


Gatot ingin semua tuntas saat ini juga, agar dia bisa segera bergerak untuk memproses dan menindak lanjut para pelakunya.


"Awalnya papah dan Bram itu sahabat baik pak, karena saya menolak lamaran Bram menikah dengan anaknya, mereka jadi bermusuhan." Ujar Linda.


"Sebelumnya Bram sempat datang menyerang papah di lokasi proyek ini." Ujar Linda lagi.


Linda membeberkan semuanya pada Gatot, dia menceritakan hal itu karena sangat marah pada Bramantio, dia ingin polisi menyelidiki Bramantio.


"Oh jadi begitu." Ujar Gatot mengangguk angguk mengerti dan paham.


"Baiklah, terima kasih atas kesaksian dan keterangan dari bapak dan pak Wijaya." Ujar Gatot tersenyum menyalami Wijaya dan Pimpinan proyek.


"Saya juga terima kasih pada...ah, maaf, dengan mbak siapa ?" Tanya Gatot pada Linda.


"Saya Linda, CEO perusahaan yang mengerjakan proyek di lokasi ini, saya anak tunggal beliau." Ujar Linda.


Linda tersenyum memperkenalkan diri dengan menyebut dirinya anak tunggal Wijaya, Gatot mengangguk dan tersenyum.


"Lalu, siapa pemuda ini ? Saya perhatikan dia dari tadi diam saja?" Tanya Gatot pada Linda.


Gatot melirik Gavlin yang terlihat menyembunyikan kegugupannya dihadapan Gatot.


"Oh, ini Gavlin, pacar saya pak." Ujar Linda tersenyum.


Linda lalu merangkul Gavlin, memperkenalkannya sebagai pacar pada Gatot, Gavlin terlihat canggung karena di rangkul linda depan Gatot.


Sementara Gatot sedikit kaget, dia berusaha bersikap santai, agar tidak ada yang tahu bahwa dia kaget mendengar Gavlin pacar Linda.


Gatot kaget, karena dia tahu kedekatan Gavlin dengan Maya anaknya.


Gatot yang mengira Gavlin pacaran dengan Maya jadi sedikit kaget mendengar pengakuan Linda.


Gatot melirik Gavlin, fikirannya bermain main, apa Gavlin sedang mempermainkan dua wanita yang sengaja didekatinya? 


Gatot segera membuang segala fikiran yang muncul sesaat dalam dirinya.


"Pacar mbak Linda ?" Tanya Gatot lagi.


Linda mengangguk tersenyum, Gavlin yang salah tingkah mengangguk hormat dan tersenyum pada Gatot.


"Baiklah pak Wijaya, saya akan memproses kasus ini, nanti saya akan melaporkan hasil dari investigasi saya pada bapak." Ujar Gatot pada Wijaya.


"Baik Pak, terima kasih atas waktunya." Ujar Wijaya tersenyum pada Gatot.


"Sama sama Pak." Ujar Gatot tersenyum pada Wijaya.


"Oh iya Pak, satu lagi, sepertinya kita pernah bertemu dulu." Ujar Gatot tersenyum menatap Wijaya.


"Ohya? Maaf, saya tidak ingat, boleh saya tau dimana dan kapan persisnya ?" Tanya Wijaya ramah pada Gatot.


"18 Tahun yang lalu, saat saya mengusut kasus pembunuhan wanita pemandu lagu karaoke." Ujar Gatot.


"Saat itu bapak datang bersama pak Bramantio memberi kesaksian pada saya di kantor. Ujar gatot.


"Setelahnya kita juga bertemu beberapa kali, kasus pembakaran rumah warga bernama Sanusi." Ujar Gatot tersenyum.


Gatot menatap wajah Wijaya memberikan penjelasan , mendengar itu semua Wijaya terkesiap kaget.


Namun Wijaya berusaha menutupi kecemasannya yang muncul saat ini.


Saat Gatot mengingatkan dirinya tentang kasus 18 tahun lalu, dia kaget, sedikit syock.


Wijaya berusaha bersikap tenang, agar tidak ada yang tahu keresahan dirinya saat Gatot menyebut nama Sanusi.


Gatot diam diam menatap tajam wajah Wijaya, dia tahu ada yang disembunyikan Wijaya darinya.


Dulu pun Gatot tahu ada rahasia pada diri Wijaya tentang kasus pembunuhan 18 tahun lalu, hanya dia tidak bisa mendapatkan bukti.


Sehingga Gatot tidak bisa melanjutkan penyelidikan lebih lanjut terhadap Wijaya dan Bramantio.


Gavlin yang mendengar Gatot menyebut nama Bapaknya "Sanusi" Kaget.


Diam diam Gavlin melirik Gatot, lalu menatapnya, dia akhirnya tahu bahwa Gatot selama ini tahu tentang semua kejadian masa lalu itu.


Kemudian Gavlin melirik tajam wajah Wijaya yang diam, karena masih syock.


Gavlin menyimpan amarahnya saat melihat perubahan sikap Wijaya saat Gatot memberitahukan tentang kasus 18 tahun lalu.


Pimpinan Proyek hanya diam tak mengerti yang di bicarakan, Linda pun hanya diam melirik wajah papahnya yang diam tercenung mendengar perkataan Gatot.


Dia tak menyangka Gatot akan mengungkit kejadian 18 tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2