
"### Apa yang mau kamu bicarakan padaku?" Tanya Yanto membuka pembicaraan.
Yanto menatap wajah Maya yang malah asyik memandangi cafe korea, dia mengagumi ornamen dan hiasan yang ada didalam cafe.
"Eh, maaf, kamu bilang apa?" Ujar Maya balik bertanya pada Yanto.
"Kamu mau nanya apa ke aku?" Tanya Yanto.
"Oh, itu.Sebentar." Ujar Maya, dia lalu membuka tasnya, mengambil 2 lembar photo yang sengaja dibawanya.
Maya meletakkan ke dua photo diatas meja.
Yanto melirik ke dua photo yang ada diatas meja.
Yanto mengernyitkan dahinya, dia melirik Maya yang sibuk meletakkan tasnya di atas kursi disampingnya.
"Jadi gini, aku penasaran aja sama patung lilin yang ada dipameran kamu waktu itu." Ujar Maya.
"Maksudnya?" Tanya Yanto.
"Ya, kok bisa gitu kamu buat patung yang wajahnya mirip kayak orang asli." Ujar Maya.
"Dan yang buat aku penasaran, ternyata orang yang mirip patung lilin benar benar ada, walau sekarang udah almarhum." Ujar Maya lagi.
Yanto kaget mendengar perkataan Maya, dia terdiam, berfikir, Ternyata Maya teliti juga.
Yanto berusaha bersikap tenang, menutupi rasa kagetnya.
Yanto mengambil kedua photo, dia melihat photo patung lilin yang dia buat, lalu melihat photo Guntur.
Yanto tersenyum menatap wajah Maya.
"Mirip pak Guntur maksud kamu?" Ujar Yanto tersenyum, dia meletakkan photo photo diatas meja.
"Kamu kenal orangnya?" Tanya Maya kaget.
"Iya, beliau ini sempat datang ke aku, minta dibuatkan patung lilin dirinya sendiri, aku buat sesuai pesanannya." Ujar Yanto.
"Terus?" Tanya Maya.
"Ya tapi aku tunggu tunggu dia gak datang ke tempat workshopku, ya udah, sekalian aja aku bawa ikut pameran waktu itu." Ujar Yanto dengan santai membohongi Maya.
"Oh, begitu ceritanya, pantesan aja mirip banget, kayak orang hidup patung yang kamu buat." Ujar Maya.Yanto tersenyum.
"Jadi karena ini kamu maksa biar aku mau janjian ketemu sama kamu? bohongi aku bilang mau ngomongin soal artikel seputar karyaku?" Ujar Yanto.
Yanto menatap lekat wajah Maya.
"Hehe...Iya sih. Habis aku penasaran mikirinnya." Ujar Maya nyengir melirik Yanto yang tersenyum memandangnya.
"Terus, masih penasaran sekarang." Tanya Yanto.
"Ya udah nggak, kan udah tau langsung dari kamu, kalo patung lilin itu ya memang wajahnya pak Guntur asli, dan kamu kenal." Ujar Maya.
"Memangnya pak Guntur udah meninggal?" Tanya Yanto menatap wajah Maya.
"Iya, serem deh, matinya tragis, mayatnya jatuh dari atap gedung nimpa patung hotel dengan tubuh penuh luka luka. ngeri liatnya." Ujar Maya bergidik ngeri.
"Pantesan gak datang ngambil patung pesanannya, aku malah baru tau kalo pak Guntur meninggal." Ujar Yanto.
"Kayaknya dia mati di bunuh, kalo liat dari luka lukanya sih." Ujar Maya, Yanto diam.
"Aku juga sempat ngerekam kejadian penemuan mayatnya, terus aku upload ke situs tabloidku, tayang secara online dan banyak ditonton orang." Ujar Maya.
Yanto mengangguk angguk mendengar cerita Maya.
Dia berpura pura tidak tahu kejadian itu.
"Karena udah selesai, sebaiknya aku pulang ya." Ujar Yanto.
"Tunggu, bukannya kamu mau nyobain makanan korea di cafe ini?" Ujar Maya menahan Yanto yang sudah berdiri dari duduknya.
"Aku udah order sebelum kita datang kemari, lewat telpon, tinggal ambil terus bawa dan makan dirumah." Ujar Yanto tersenyum. Maya mencibir.
"Curang banget, bayar buat diri sendiri." Ujar Maya, Yanto tersenyum.
"Buat kamu juga udah aku pesanin sekalian kok." Ujar Yanto.
"Memang tau aku suka makanan yang mana?" Tanya Maya berdiri.
"Ya nggak, ngasal aja, pokoknya makanan korea." Ujar Yanto.
Yanto tersenyum lalu pergi berjalan meninggalkan Maya yang mencibir lagi.
Maya berbalik melihat Yanto yang berjalan mengambil pesanan makanannya.
Dia perhatikan dari belakang saat Yanto berjalan.
"Sikap dan gayanya kayak Gavlin." Gumamnya tercenung diam berdiri.
Dia lalu menggelengkan kepalanya.
"Aah, kenapa aku jadi ingat si Gavlin sih. Pacar orang malah aku ingat, Dasar gelo kamu Maya." Ujarnya pada dirinya sendiri.
Maya memukul kepalanya dengan telapak tangannya, dia lantas mendekati Yanto, mengambil makanan buatnya yang sudah dipesan Yanto.
Seorang Penjaga Proyek yang bertugas berjaga malam menutup dan mengunci pagar proyek pembangunan milik Wijaya.
Tampak di lokasi itu, bangunan bangunan baru dibuat lagi setelah sebelumnya rusak dan hancur.
Dari dalam mobil, 5 orang dengan berpakaian hitam hitam dan penutup wajah mengintai penjaga proyek.
Dari tempat persembunyian mereka yang tak jauh dari lokasi, ke 5 orang itu melihat penjaga proyek berjalan menuju pos jaga.
Setelah di lihat situasi aman dan sepi, seorang Pria yang duduk di jok depan samping supir menoleh ke jok belakang mobil, dimana 3 orang lainnya duduk.
"Kita beraksi sekarang." Perintahnya.
Lalu mereka bergegas keluar dari mobil, melangkah mengendap endap ke arah lokasi proyek.
Pria yang memberi perintah memisahkan diri dari empat pria bertopeng lainnya.
Pria itu melangkah mengendap endap mendekati penjaga yang duduk santai di pos jaga.
Dari arah belakang, Pria bertopeng dengan cepat menyergap penjaga yang tidak menyadari kehadirannya.
Dengan cepat Pria itu menggorok leher penjaga, darah segar keluar dari luka menganga dileher,
Penjaga Proyek mati terbunuh.
__ADS_1
Pria pergi meninggalkan penjaga yang sudah menjadi mayat di pos jaga.
Dia segera bergabung dengan ke empat orang lainnya yang sudah berada didalam lokasi proyek.
"Makan apa kamu May?" Tanya Gatot sambil melangkah masuk kedalam rumahnya.
Maya yang melihat ayahnya sudah pulang kerja menawarkan makanan pada ayahnya.
"Enak yah, cobain deh, tuh masih ada satu kotak lagi belum Maya makan, buat ayah aja." Ujar Maya yang terus menikmati makanannya.
Gatot pun lantas mendekati Maya, mengambil makanan dari atas meja.
"Makanan korea ? Tumben kamu makan beginian May." Ujar Gatot membuka penutup kotak makanan.
"Maya dibeliin Yah." Ujar Maya sambil menyuap makanan ke mulutnya.
"Siapa yang mau beliin kamu makanan mahal kayak gini ?" Tanya Gatot menggoda anaknya.
"Orang hebat, top, terkenal ." Ujar Maya cuek sambil terus menyantap makanannya tanpa melihat ayahnya yang tersenyum tipis menatapnya.
"Gavlin ya ?" Goda Gatot.
"Diiih, emangnya cuma dia cowo yang Maya kenal." Ujarnya mencibir. Gatot tertawa.
"Terus siapa? Setau ayah memang kamu cuma dekat sama 1 cowok aja, ya si Gavlin." Ujar Gatot meledek anaknya.
"Aku ditraktir pematung lilin." Ujar Maya menjulurkan lidah mengejek ayahnya.
"Yanto sipematung lilin itu ?! Beneran?" Tanya Gatot dengan tatapan mata yang tidak percaya, Maya mengangguk.
"Beneran Yah, ngapain juga boongin Ayah malam malam begini." Ujar Maya mencibir.
Dia meletakkan kotak makanan yang sudah kosong karena habis dimakannya diatas meja.
"Ayah mau makannya gak? kalo gak, Maya makan ni." Ujar Maya mau mengambil kotak makanan yang tutupnya sudah di buka Gatot.
"Enak aja, Ayah maulah, makanan gratis." Ujar Gatot tertawa.
Maya nyengir, Gatot lalu memakan makanan korea yang dikasih Maya kepadanya.
"Enak Yah ?" Tanya Maya. Gatot mengangguk sambil terus menikmati makanannya.
"Jadi tadi itu Maya janjian sama Yanto di cafe korea yang baru buka, pulangnya Maya dibeliin makanan ini." Ujar Maya menjelaskan.
"Ngapain kamu ketemuan sama Seniman itu?" Tanya Gatot.
"Maya nanyain patung yang dibuatnya waktu pameran di taman kota." Ujar Maya.
"Terus?" Tanya Gatot menghentikan makannya. Dia ingin tahu kelanjutan cerita anaknya.
"Maya kan penasaran sama photo korban pembunuhan yang Ayah simpan di map, kok mirip banget sama patung lilin yang dibuat Yanto." Ujar Maya.
"Terus?" Tanya Gatot sambil tetap makan.
"Ya udah, Maya telpon aja dia, bohongi dia mau ngomongin soal karyanya buat tabloid aku, ketemuan deh kami." Ujar Maya.
"Terus...?" Tanya Gatot menunggu Maya melanjutkan ceritanya.
"Terus terus terus. Kok Ayah selalu aja penasaran ya kalo aku cerita soal ketemu sama cowok?" Tanya Maya mencibir, Ayahnya nyengir.
"Ya Ayah mau tau aja, kamu kan keliatan penasaran waktu nemu photo yang terjatuh kemaren kemaren itu. Jadi Ayah mau tau apa jawaban Yanto." Ujar Gatot.
"Ohya?" Ujar Gatot menghentikan makannya.
"Heeh, pas udah jadi, ditunggu tunggu Gunturnya gak datang juga buat ambil patungnya, ya udah dia jadikan pameran aja patungnya, Gitu katanya." Ujar Maya.
"Jadi Yanto kenal sebelumnya sama Guntur, korban pembunuhan di hotel Hera?" Tanya Gatot, Maya mengangguk.
"Berarti, Yanto tahu Guntur korban pembunuhan yang mayatnya ditemukan di hotel Hera." Ujar Gatot lagi.
"Ayah salah, Yanto malah baru tau dari aku kalo Guntur udah meninggal karena di bunuh." Ujar Maya menjelaskan.
Gatot mengangguk angguk berfikir.
"Udah ah, Maya ngantuk, mau tidur." Ujar Maya, dia berdiri dan segera meninggalkan Ayahnya.
"Habis makan malah langsung tidur, Maya...Maya..." Ujar Gatot geleng kepala melihat Maya yang masuk kedalam kamarnya, Gatot lalu melanjutkan makannya.
Lokasi Proyek terang benderang karena kobaran api yang melalap seluruh bangunan bangunan yang belum jadi.
Api menjalar membakar ke semua bangunan bangunan yang ada di lokasi proyek.
Ke 5 orang bertopeng berdiri menatap pada bangunan bangunan yang terbakar.
Mereka tertawa puas melihat hasil kerja mereka membakar bangunan proyek Wijaya.
Lalu ke lima pria bertopeng segera berlari meninggalkan lokasi proyek yang sudah terbakar.
Api begitu besar menjalar dan membakar seluruh bangunan bangunan yang ada di lokasi proyek.
Ke lima pria bertopeng pergi meninggalkan lokasi proyek dengan mengendarai mobil mereka.
---
"Biadaaab !!" Teriak Wijaya di dalam ruangan rumahnya yang besar dan mewah.
Linda keluar dari kamarnya dengan wajah kaget karena mendengar teriakan papahnya.
Linda melihat papahnya sedang menerima telepon dari seseorang, wajah papahnya memerah.
Wijaya saat ini terlihat begitu marahnya. tatapan matanya tajam menahan luapan emosi amarahnya.
"Minta mampus kamu Bram !!" Teriak Wijaya.
Linda mendekati papahnya yang ngamuk di dalam rumah itu.
"Ada apa Pah?!" Tanya Linda cemas melihat papahnya marah besar dengan wajah memerah.
"Proyek habis di bakar, ini pasti ulahnya Bramantio, dia sengaja terus terusan membuat papah hancur !" Ujarnya geram. Linda kaget.
"Di bakar? Kurang ajar banget sih itu orang berwujud setan." Ujar Linda marah.
"Papah harus buat perhitungan sekarang juga sama dia ! Papah gak akan biarin dia berbuat seenaknya pada papah !!" Ujar Wijaya dengan suara keras.
Wijaya meluapkan amarahnya, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Linda yang berdiri menahan marahnya, dia juga tidak terima proyeknya bersama papahnya di bakar habis Bramantio.
Walau belum tahu pasti pelaku pembakaran yang sebenarnya, tapi Linda tahu, semua pasti ulah Bramantio.
__ADS_1
Wijaya keluar dari kamarnya dengan memegang pistol ditangannya, Melihat papahnya membawa pistol, wajah Linda cemas, dia mendekati papahnya.
"Untuk apa pistol itu Papah bawa?" Tanya Linda.
"Buat bungkam mulut Bramantio !" Ujar Wijaya dengan nada keras dan tegas.
Dia lalu menyelipkan pistol di pinggangnya, lalu pergi keluar rumah meninggalkan Linda yang cemas melihat papahnya membawa pistol.
Linda khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada diri papahnya, tapi dia bingung, tidak tahu bagaimana cara menghentikan papahnya.
Papahnya terlihat begitu marahnya pada Bramantio yang dituduhnya telah membakar bangunan di proyek.
Linda menarik nafasnya, dia pasrah apapun yang akan terjadi pada papahnya.
Linda bergegas ke kamarnya, mengambil ponselnya, lalu menelpon Gavlin.
"Kamu dimana Vlin ? Bisa nemani aku pagi ini? Kalo bisa aku jemput kamu, tolongin aku Vlin." Ujar Linda, wajahnya terlihat cemas.
"Iya, aku segera kerumahmu sekarang." Ujar Linda lagi di telepon.
Linda lalu menutup teleponnya segera berlari ke kamarnya, mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja rias dikamarnya.
Linda lalu berlari cepat keluar rumah, menutup dan mengunci pintu rumah lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat dia nyalakan mesin mobil, lalu menyetir mobilnya pergi meninggalkan rumahnya.
Sementara, di rumahnya, Gavlin tercenung setelah menerima telepon dari Linda, Gavlin mendengar suara kecemasan dari diri Linda saat menelponnya tadi.
"Kenapa si Linda?!" Gumamnya berfikir, dia menghela nafasnya, lalu masuk ke dalam kamar untuk bersiap siap pergi.
"Baguuss...baguuusss... Kalian udah jalani semuanya sesuai dengan perintah saya." Ujar Bramantio senang.
"Baik, tunggu, nanti Surya yang mengantarkan sisa uang upah buat kalian, Iya, ketemu ditempat biasa kalian." Ujar Bramantio di telepon.
Wajahnya terlihat terseny senang, dia tertawa tawa karena sudah berhasil menjalankan rencananya membakar proyek Wijaya.
Bramantio menutup teleponnya, meletakkan ponselnya di atas meja, bertepatan dengan itu, Wijaya mendobrak pintu ruang kerja Bramantio.
Wijaya memaksa masuk ke dalam ruangan, Sekretaris yang mencoba menahannya tidak berani melarang Wijaya karena dia di todong pistol yang di bawa Wijaya.
Wijaya masuk kedalam ruang kerja Bramantio, berjalan mendekati Bramantio yang duduk santai di kursi kerjanya.
"Biadab kamu Bram !! Apa mau kamu dariku !!" Teriak Wijaya mendekati Bramantio.
Surya, Asisten Manager yang berdiri disamping meja kerja Bramantio hendak mencegah Wijaya agar tidak mendekati Bramantio.
"Biarkan dia." Ujar Bramantio melarang Asisten Manager yang mau menghalangi Wijaya.
Wijaya mendekat, berdiri tepat di depan Bramantio yang duduk di kursinya.
Sikapnya tenang, sementara Wijaya terlihat mengatur nafasnya karena menahan luapan emosi amarahnya yang menggebu gebu dalam dirinya.
Wijaya menatap tajam wajah Bramantio yang tersenyum sinis menatap wajah Wijaya.
"Belum puas kamu hancurkan bangunan bangunan proyekku, lalu kamu bakar semuanya Braaam !!" Teriak Wijaya meluapkan emosinya pada Bramantio yang tertawa sinis.
"Itu belum seberapa, masih banyak lagi kehancuran kehancuran yang akan kamu rasakan Wijaya !" Ujar Bramantio sinis.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu benar benar hancur dan lenyap semua milikmu !" Ujar Bramantio menatap sinis Wijaya yang geram.
"Iblis berwujud manusia kamu Braam !!" Bentak Wijaya.
"Aku Iblis, tapi kamu yang menjadikanku Iblis." Jawab Bramantio sinis.
"Sebelum kamu menghancurkan aku, kamua akan merasakan duluan kehancuranmu !" Teriak Wijaya.
Bramantio tertawa mendengar perkataan Wijaya, dia tidak sedikitpun takut dengan ancaman Wijaya.
"Matilah kamu sekarang juga Braam !!" Bentak Wijaya.
Wijaya lalu menodongkan pistol yang diambilnya dari pinggangnya, Bramantio tersentak kaget melihat Wijaya memegang pistol yang ujungnya diarahkan pada dirinya.
Surya, Asisten Manager mundur selangkah, dia takut melihat Wijaya yang menodongkan pistol pada Bramantio.
Bramantio mencoba bersikap tenang, diam diam, tangan kanannya yang berada dibawah meja pelan pelan membuka laci meja kerjanya.
Asisten Manager melirik Bramantio, dia tahu gerakan tangan Bramantio hendak mengambil sesuatu dari bawah meja kerjanya.
Asisten Manager lalu menatap Wijaya yang berdiri didepan Bramantio dengan menodongkan pistolnya pada Bramantio.
"Tenang pak Wijaya, mari bicara baik baik, jangan berbuat nekat pak." Ujar Surya sengaja memancing, agar Wijaya lengah.
"Ingat, jika pak Wijaya menembak pak Bram, pak Wijaya akan dipenjara seumur hidup karena membunuh." Ujar Surya lagi.
Wijaya diam menatapnya dengan marah. Pistol di tangannya diarahakannya ke kepala Surya.
"Kalo Bapak bunuh pak Bram, pak Wijaya akan benar benar hancur, bisnis bapak hancur, karena status bapak menjadi seorang terpidana pembunuhan." Ujar Surya.
"Diaam kamu !! Jangan ikut campur, atau kamu mau mati duluan !!" Bentak Wijaya.
Dia terus mengarahkan pistol ditangannya ke wajah Asisten Manager yang berdiri di sampingnya, Surya terlihat ketakutan.
"Jangan tembak saya pak.Jangan." Ujar Asisten Manager dengan wajah ketakutan.
Saat Wijaya menodongkan pistol pada Asisten Managernya, Bramantio merasa aman.
Lalu dia dengan cepat mengambil pistol miliknya dari dalam laci meja kerjanya.
Bramantio berdiri dan dengan gerak cepat, dia menodongkan pistol pada Wijaya.
Wijaya berbalik cepat dan mengarahkan pistol yang ditangannya ke arah kepala Bramantio.
Saat itu, Bramantio dan Wijaya sama sama memegang pistol ditangan masing masing.
Bagi mereka yang pejabat dan pengusaha sukses dan kenal banyak petinggi negara, memiliki surat izin punya pistol adalah hal yang mudah.
Mereka bisa setiap saat mendapatkan surat izin memiliki pistol mengingat posisi dan jabatan mereka.
Dengan alasan untuk melindungi diri karena urusan bisnis, mereka bisa mendapatkan izin menyimpan serta menggunakannya sewaktu waktu saat diperlukan.
Asisten Manager terdiam ditempatnya melihat Bramantio dan Wijaya saling menodongkan pistol ke kepala masing masing.
Mata Wijaya memerah menatap tajam wajah Bramantio, dia begitu marahnya pada Bramantio.
Wijaya menggenggam erat pistol ditangannya, terus mengarahkan pistol ke kepala Bramantio.
Sementara Bramantio lebih tenang menghadapi Wijaya, Bramantio berdiri mengarahkan pistol ditangannya ke wajah Wijaya.
"Sekarang, kita liat, siapa yang duluan mati, aku atau kamu ." Ujar Bramantio dengan tenang.
__ADS_1
Dia menyeringai menatap tajam Wijaya yang amarahnya meluap luap, Wijaya terus menatap tajam wajah Bramantio yang tersenyum sinis padanya.