VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kamu Iblisnya !


__ADS_3

Dengan langkah cepat sambil memegang senapan mesin dtangannya, Gavlin mendekati Wijaya, yang duduk terhenyak kaget dan syock di sofa, sebab melihat, rekan rekan bisnis dan investor perusahaannya mati terbunuh.


"Praaaakkk!!"


Gavlin menghantam wajah Wijaya dengan tangannya, 3 pukulan keras mendarat di wajah Wijaya. Wijaya pun tersungkur jatuh dari sofa, dia terjungkal ke lantai ruang rapat.


"Biaaaadddaaab !!" teriak Gavlin penuh amarah membara.


"Ternyata selama ini, kamu Iblisnya, Wijaya !! Kamu meracuni Bapaaaakkkkuuu!!" Teriak Gavlin, melampiaskan amarahnya.


Mendengar perkataan Gavlin yang penuh amarah itu, mengertilah Wijaya, bahwa, Gavlin mengamuk dan membabi buta membunuh di kantornya, karena dia marah tentang bapaknya, yang dulu mati di racun Wijaya.


Gavlin menarik kerah baju Wijaya yang tersungkur di lantai, dia mengangkat tubuh Wijaya, lalu, Gavlin melemparkan tubuh Wijaya ke sofa. Wijaya pun terhempas duduk di sofa.


Wajah Wijaya tampak ketakutan, keringat dingin mulai deras keluar membasahi tubuh dan pakaiannya, dia benar benar sangat ketakutan pada Gavlin, yang wajahnya tampak menyeramkan.


"Apa alasanmu meracuni Bapakku, Wijaaaayaaa!! Apa salah bapaaakkkuuu!!!" teriak Gavlin histeris.


Gavlin teriak histeris marah, dengan mengarahkan moncong senapan mesinnya ke dada Wijaya. Wijaya diam, tak bergerak. Karena dia takut, jika sedikit saja dia bergerak, Gavlin pasti akan langsung menembak dirinya, dan dia tidak mau, itu terjadi.


"Dimana kamu buang barang bukti rekaman cctv yang merekam perbuatanmu meracuni bapakku di sel tahanan !!" Bentak Gavlin marah.


Wijaya terhenyak kaget, dia heran, karena Gavlin mengetahui tentang rekaman cctv yang merekam adegan saat dia meracuni, Sanusi, Bapaknya Gavlin, atau Yanto.


"Rekaman itu gak ada padaku, bukan aku yang menyimpannya!" Ungkap Wijaya, dengan mimik wajah yang sangat ketakutan.


"Lantas siaaapaaa?!!!" Teriak Gavlin membentak Wijaya, emosi amarah Gavlin memuncak.


"Sutoyo!! Sutoyo yang menyimpannya ! Aku gak tau, dimana dia menyimpannya!! Tapi, terakhir kali, rekaman itu ada padanya!! Dia mengambilnya dari tangan Gatot, anak buahnya di kepolisian!!" Jelas Wijaya, penuh ketakutan.


Karena tak ingin mati konyol sendirian, Wijaya pun membongkar semuanya, dia mengatakan pada Gavlin tentang Sutoyo, Kepala Kepolisian yang menyembunyikan dan melenyapkan barang bukti rekaman cctv.


Wajah Gavlin semakin geram, dia bertambah marah, setelah mendengar perkataan Wijaya. Gavlin sangat marah dan dendam pada Sutoyo. Wajahnya sangat geram, dia pun menyeringai buas, menatap wajah Wijaya yang ketakutan.


"Kenapa kalian harus membunuh Bapakku? Apa gak puas, kalian udah memfitnah Bapakku, menjadikannya seorang penjahat seperti kalian!!" Bentak Gavlin, marah.


"Karena Bapakmu akan membongkar rahasia bisnisku dan Bram!!" Teriak Wijaya, ketakutan.


Gavlin kaget, dia tak menyangka, Wijaya membuat satu pengakuan yang tak terduga saat ini kepadanya, tentang Bapaknya.


"Apa maksudmu?!! Jelaskan padaku!! Jangan berbelit belit!!" Teriak Gavlin, penuh amarah.


Gavlin mengarahkan moncong senapan mesin ke mulut Wijaya, Wijaya semakin ketakutan, saat melihat moncong senapan ditangan Gavlin sangat dekat dengan mulutnya.


"Aku akan cerita, akan ku ungkap semuanya." Jelas Wijaya, penuh ketakutan.


"Bapakmu dulu, bekerja sebagai suvervisi keuangan perusahaan Bramantio." Jelas Wijaya, mulai bercerita.


"Bapakmu dulu orang kepercayaan Bramantio, karena dia sangat cekatan, dan profesional dalam bekerja, semua urusan masalah keuangan berjalan lancar ditangannya." Jelas Wijaya.

__ADS_1


"Hingga suatu saat, konflik terjadi, karena Sanusi, menemukan kejanggalan tentang keuangan perusahaan." Lanjut Wijaya, menjelaskan.


"Sanusi mendatangi Bram, dia mengancam Bram, akan membongkar permainan kotor Bram, yang menggelapkan dana, dengan cara pencucian uang, money laundry." Tegas wijaya.


"Bram mencoba merayu Sanusi, agar mau menuruti aturan mainnya, tapi, Sanusi benar benar bersih dan jujur, dia menolak! Karena gak mau terlibat dengan kejahatan kami!" Ungkap Wijaya.


"Semua bisnis yang aku dan Bram lakukan fiktif, dan Sanusi tau semuanya, dia terus mengancam, akan membongkar permainan kami." tandasnya.


"Bram marah, dia lantas memecat bapakmu!" tegas Wijaya.


"Aku pun marah, aku bilang ke Bram, jika Sanusi masih hidup, dia tetap berbahaya, walaupun sudah di pecat, karena dia sewaktu waktu bisa ngoceh, buka mulut dan membongkar kejahatan bisnis kami!" Tegas Wijaya.


"Satu satunya cara, harus melenyapkan Sanusi, agar dia tutup mulut selamanya." tukas Wijaya, dengan wajah serius.


Gavlin diam, dia terus mendengarkan semua penjelasan Wijaya tentang Bapaknya, wajah Gavlin semakin marah mendengar penjelasan Wijaya.


"Setelah di pecat, Bapakmu kerja serabutan, apa saja dilakukan dan dikerjakan, agar dia bisa bertahan hidup." ungkap Wijaya.


"Aku tau, Sanusi gak malu kerja sebagai penyapu jalanan, karena, beberapa kali aku melihatnya sedang bekerja menyapu jalanan." Jelas Wijaya.


"Aku saat itu berfikir, bagaimana caranya melenyapkan Sanusi, tanpa di curigai sebagai kasus pembunuhan berencana." Lanjutnya menjelaskan.


"Hingga saat itu tiba, waktu Jafar membunuh gadis pemandu lagu di tempat karaoke, aku pun punya ide, lalu, aku suruh Jafar dan juga Bram, untuk memfitnah Bapakmu sebagai pelakunya." tegas Wijaya.


"Bram setuju, dia mengatur semuanya, agar berjalan lancar, Bram melibatkan Guntur, dan juga Sutoyo untuk menjalani rencana ide gilaku menjebak Bapakmu!" ungkap Wijaya.


"Bram pun akhirnya menugaskan Jauhari, untuk menghasut warga, agar membakar rumah Sanusi." Jelas Wijaya, penuh penyesalan.


"Biiiiaaaadaaaaabbb!!" Teriak Gavlin penuh amarah.


Gavlin menghantamkan laras senapan mesin ke wajah Wijaya, Wijaya pun tersungkur jatuh ke lantai ruang rapat kantornya.


"Lantas, kenapa kamu harus membunuh Bapakku?!!!" teriak Gavlin penuh amarah.


"Karena Sanusi tetap mengancam, biar dia di penjara, dia mengancam, akan membongkar rahasia kejahatan kami pada Gatot, Polisi yang menyelidiki kasus dia!!" Teriak Wijaya, sambil menghapus darah dari sela bibirnya.


"Aku gak mau Sanusi buka mulut, maka, aku datangi Joko, kepala sipir penjara, dia teman baikku!! Lalu, ku racuni Bapakmu!! Setelahnya, kami buat , kematian Bapakmu sebagai mati bunuh diri!!" Ungkap Wijaya.


"Bedeeeeebbbaaaaahhh!!!!! Ibbbbliiiisssss kamu Wijaaaayyaaaa!!" Teriak Gavlin, penuh amarah yang berapi api.


"Maafkan aku, tolong, jangan bunuh aku, aku akan mengakui semua kejahatanku pada polisi, tapi, jangan bunuh aku, aku mohon!!" Ujar Wijaya memelas.


Wijaya tampak memohon, dia sangat ketakutan, dia meminta pengampunan dari Gavlin, Gavlin tak menggubrisnya, Gavlin semakin marah.


Darahnya menggelegak, mendidih di dalam jiwanya, amarahnya sudah ke ubun ubun, dia sudah tak dapat menahan dan membendung segala macam amarahnya yang tengah meluap luap.


Amarahnya bergejolak didalam dirinya, bagaikan sebuah lava yang akan meledak dari dalam gunung berapi, memuntahkan api kemarahan yang bergejolak panas, di dalam jiwanya saat ini.


Mata Gavlin menatap tajam wajah Wijaya yang meringis kesakitan memegangi wajahnya yang dihantam laras senapan mesin, dia terus menghapus darah yang keluar dari celah bibir dan pipinya, akibat hantaman laras senapan mesin.

__ADS_1


"Mintalah pengampunan pada setan di neraka jahanam, Wijaaayaaa!!" Teriak Gavlin, mengamuk kesetanan.


Dengan penuh amarah, Gavlin pun menembaki tubuh Wijaya dengan membabi buta.


Gavlin memberondong peluru ke tubuh Wijaya yang ada di lantai, seketika, Wijaya pun terkapar mati, darah banyak mengalir di seluruh tubuhnya.


Bukan hanya puluhan peluru yang menghantam dan menembus tubuh Wijaya, namun, ratusan peluru di tembakkan Gavlin dari senapan mesin yang ada di tangannya.


Gavlin sudah dirasuki setan dalam dirinya, dia terus mengamuk, tak berhenti menembaki Wijaya. Walaupun Wijaya sudah mati berdarah, terkapar di lantai, dia terus menembak Wijaya.


Gavlin benar benar sangat marah, dia tampak sangat bengis dan kejam, Gavlin tak perduli lagi, Iblis dalam diri Gavlin bangun dan bangkit, lalu mengamuk.


Wijaya pun mati dengan cara yang sangat sadis, di hujani ratusan peluru, dari senapan mesin milik Gavlin.


Peluru habis, Gavlin tak bisa lagi menembak, akhirnya, Gavlin pun berhenti menembak, dia menatap tubuh Wijaya yang sudah mati terkapar di lantai penuh darah dan luka.


Tatapan matanya dingin memandang tubuh Wijaya, lalu, dengan sikap santainya, Gavlin pun menyelempangkan senapan mesin ke bahunya.


Gavlin kemudian berbalik badan, lalu, dia berjalan keluar dari dalam ruang rapat kantor Wijaya, meninggalkan mayat Wijaya bersama mayat rekan rekan bisnis dan mayat para investor perusahaan Wijaya.


Gavlin benar benar telah menghabisi Wijaya, orang yang telah meracuni dan membunuh Bapaknya. Wajah Gavlin tampak menyeramkan.


Gavlin terus berjalan santai, menyusuri koridor kantor, ruang demi ruang dalam kantor sepi, karena, seluruh karyawan sudah kabur, pergi keluar kantor, untuk menyelamatkan diri mereka masing masing.


Di lantai koridor, ada beberapa mayat para petugas keamanan terbaring, dan ada juga beberapa mayat karyawan karyawan terkapar di lantai, karena terkena tembakan dari senapan mesin Gavlin, saat dia pertama kali tadi masuk ke dalam kantor.


Gavlin keluar kantor Wijaya, lalu, dia berdiri di depan pintu masuk kantor perusahaan Wijaya, sikapnya tampak kaku dan dingin.


Dari dalam tas pinggang yang terselip di pinggangnya, Gavlin mengambil 3 butir granat. Dia lantas memegang granat tersebut.


Gavlin mencabut pemicu ledakan granat, lalu, dia pun melemparkan 3 granat di tangannya kedalam kantor Wijaya.


Lalu, dengan sikap dingin dan santainya, Gavlin berjalan cuek ke arah motornya, yang diparkirnya di halaman kantor perusahaan Wijaya.


Kantor Wijaya meledak, akibat granat granat yang dilemparkan Gavlin, Gavlin cuek, dia naik ke atas motornya, lalu, memakai helmnya.


Kemudian, dengan santainya, Gavlin pun mengendarai motornya, dia pergi meninggalkan kantor perusahaan Wijaya.


Kantor itu terus meledak, hancur terbakar, bukan saja membunuh Wijaya, tapi Gavlin juga meledakkan dan menghancurkan kantor perusahaan Wijaya.


Gavlin ingin, Wijaya mati terpanggang di dalam kantornya sendiri. Motor Gavlin sudah pergi menjauh dari kantor Wijaya.


Di kejauhan, tampak beberapa mobil patroli kepolisian datang ke kantor perusahaan Wijaya, Para Patroli Polisi datang ke kantor Wijaya, sebab, sang Sekretaris Wijaya memberi laporan.


Dengan diam diam, saat melarikan diri, Sekretaris melapor pada Polisi, bahwa, di kantor Wijaya, sedang terjadi pembunuhan besar besaran, karena itu, patroli polisi segera datang ke kantor Wijaya.


Mobil Patroli kepolisian tiba di halaman kantor perusahaan Wijaya. Mereka terhenyak kaget, saat melihat, kantor wijaya meledak.


Mereka tak bertemu dengan Gavlin, sebab, mereka datang, setelah Gavlin sudah pergi dan menghilang dari kantor perusahaan Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2