
Pagi itu, di dalam sebuah gudang tempat Yanto membuat patung Lilin, terlihat Yanto sedang mengerjakan patung lilin yang dipesan Bramantio.
Patung lilin berbentuk Dewi Hera sudah hampir selesai, Yanto tinggal mengerjakan proses finishing pada hasil karyanya itu.
Lalu setelah selesai nantinya, Yanto akan membawanya ke Hotel Hera, milik Bramantio.
Yanto memandangi Patung Lilin berbentuk Dewi Hera, tatapannya tajam, wajahnya menyimpan dendam yang mendalam.
Yanto lalu melangkahkan kakinya, berjalan mendekati meja besar dan panjang.
Yanto mengambil Patung berbentuk wajah Bramantio yang ada di atas meja, dia memegang patung, mengamatinya.
Yanto menatap mata patung berbentuk wajah Bramantio, dia tersenyum sinis.
Yanto meletakkan patung kembali diatas meja. Patung berbentuk wajah Bramantio sengaja di buatnya.
Sebagai bonus hadiah darinya, yang nantinya akan diberikan pada Bramantio.
Yanto melangkah pergi keluar dari gudang, menutup pintu, mengunci pintunya dengan gembok.
Lalu, Yanto segera pergi meninggalkan tempat pembuatan patung lilinnya.
Maya bersiap siap hendak berangkat kerja, dia memegang bungkusan plastik, didalamnya ada jaket Gavlin.
Ayahnya yang baru saja keluar dari kamar melihat Maya menenteng plastik besar heran, dia mendekati Maya.
"Bawa apa kamu itu?" Tanya Gatot melirik bungkusan plastik besar ditangan Maya.
"Jaket Gavlin Yah, aku mau mengembalikannya." Ujar Maya tersenyum.
"Jaket Gavlin? Kok bisa sama kamu?" Tanya Gatot dengan wajah heran.
"Ah, Ayah kepo." Ledek Maya tertawa, Ayahnya bengong menatap Maya yang malah meledeknya.
"Udah Ah, bisa kesiangan ngomong sama Ayah, Maya berangkat Yah." Pamit Maya.
Dia langsung pergi keluar rumah, Gatot yang mau bertanya jadi bengong melihat Maya sudah pergi keluar rumah.
Gatot menggelengkan kepala lihat kelakuan Maya, dia menghela nafasnya, Lalu beranjak menuju kamar mandi rumahnya.
Sebuah mobil sedan mewah berhenti di area parkir yang ada didalam gedung perkantoran milik Bramantio.
Dari dalam mobil, keluar Mike, dia menutup pintu depan mobil dan mengunci pintunya.
Mike lalu Melangkahkan kakinya, berjalan menuju ke pintu masuk yang ada di area parkir.
Saat Mike berjalan, tiba tiba Gavlin yang sejak dari tadi sudah menunggu kedatangan Mike, langsung menyergap Mike.
Gavlin mencekik leher Mike dan mendorongnya sekuat tenaga, sehingga Mike terjajar mundur dan bersender di tembok gedung.
Gavlin menatap tajam wajah Mike, dengan tangannya tetap mencekik leher Mike, Mike kaget karena di sergap Gavlin secara mendadak.
"Kamu kira, bisa dengan mudahnya membunuhku?" Ujar Gavlin geram menatap tajam Mike.
Mike terdiam, dia terlihat susah bernafas, berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Gavlin yang mencekik lehernya.
Namun, karena cengkraman Gavlin sangat kuat, Mike tak bisa melepaskannya.
"Jangan jadi pengecut Mike, Jangan beraninya cuma menyuruh dan membayar sekelompok preman hanya untuk membunuhku!" Ujar Gavlin dengan suara keras.
"Kalo kamu benar benar laki laki, dan dendam padaku, jangan pakai tangan orang lain, lakukan sendiri!" Bentak Gavlin.
"Balaskan dendammu dengan cara membunuhku dengan tanganmu sendiri, bukan memakai tangan orang bayaranmu!!" Bentak Gavlin marah menatap tajam Mike.
"Kamu pikir, aku takut denganmu dan preman preman bayaranmu itu? Nggak Mike, aku gak pernah takut sama siapapun !" Bentak Gavlin.
"Jangan sekali kali kamu mengusik ketenanganku, kalo kamu gak mau mati!" Ancam Gavlin.
"Jangan coba coba usik dan mengganggu setan yang sedang tidur didalam diriku!" Bentak Gavlin.
"Sekali setan dalam diriku terbangun, kamu gak kan pernah lagi bisa melihat dunia ini!" Ujar Gavlin.
Gavlin menyeringai tajam, Mike terlihat terdiam, ada rasa takut dihatinya melihat wajah Gavlin yang dilihatnya saat ini begitu menyeramkan.
Mike melihat, saat ini, wajah Gavlin merah, karena menahan luapan emosinya.
"Sekarang kamu aku lepaskan, sekali lagi kamu menyuruh orang untuk membunuhku, akan ku datangi kamu dan ku bunuh !!" Bentak Gavlin.
Lalu Gavlin melepaskan cengkraman tangannya yang mencekik leher Mike.
Setelah terlepas dari cekikan tangan Gavlin, Mike memegangi lehernya.
Mike berusaha mengatur nafasnya. Gavlin segera pergi meninggalkan Mike.
Mike sambil mengatur nafas melihat sekitar area parkir, tapi dia sudah tidak melihat Gavlin.
Dia heran, Gavlin sudah menghilang begitu cepatnya dari pandangannya.
Mike menarik nafasnya, wajahnya menunjukkan kemarahan pada Gavlin yang mendatangi dan menyerangnya.
Dia lantas segera berjalan menuju pintu masuk yang ada di area parkir gedung.
Mike berjalan masuk dan menuju lift, menekan tombol naik lift, berdiri menunggu, sesaat kemudian pintu lift terbuka.
Mike lantas segera masuk ke dalam lift yang kemudian tertutup otomatis.
Siang itu, Maya sengaja datang ke cafe langganan Gavlin, dia duduk menunggu kedatangan Gavlin yang biasa ke cafe untuk makan siang.
Namun siang ini Gavlin tidak juga datang, Maya yang menunggu selama dua jam menjadi jenuh.
Makanan dan minuman sudah habis dia makan, Maya menghela nafasnya.
Dia lalu mencoba menghubungi Gavlin, tapi telepon Gavlin tak juga aktif.
Karena lelah menunggu, Maya akhirnya menyerah untuk tetap menunggu Gavlin.
Dia berdiri dari kursi yang di dudukinya, melangkahkan kakinya keluar dari dalam cafe dengan wajah kecewa karena tidak bertemu Gavlin.
Maya melangkah gontai menyusuri trotoar, melewati ruko ruko yang ada disekitar trotoar.
Tangannya terlihat masih menenteng tas plastik besar berisi jaket Gavlin.
Di sebuah lokasi bangunan perumahan yang terbengkalai karena pembangunannya terhenti dan tidak dilanjutkan.
Gatot, Teguh dan tim Ahli Forensik menyusuri Lokasi bangunan yang mangkrak.
Gatot membawa selembar kertas ditangannya, kertas yang berisi petunjuk tentang lokasi dimana Sumantri menyimpan pisau pisau yang dipakai Jafar membunuh.
Sumantri memberikan keterangan lokasi tempat dia menyimpan pisau yang digunakan Guntur membunuh.
Sumantri sebelum bunuh diri memberikan petunjuk letak pisau pisau itu disimpannya.
Dulu sumantri yang di minta Jafar melenyapkan mayat mayat serta pisau pisau agar tidak bisa ditemukan dan digunakan sebagai bukti.
Tapi Sumantri tidak membuang pisau pisau itu, melainkan, Sumantri menyembunyikannya di lokasi pembangunan perumahan yang terbengkalai bertahun tahun.
__ADS_1
Dia sengaja menyembunyikannya di lokasi itu karena tahu, bahwa lokasi itu tidak akan tersentuh orang orang selamanya.
Akibat ada permasalahan dengan pemerintah setempat mengenai perizinan membangunnya yang ternyata fiktif.
Gatot berhenti disebuah bangunan reruntuhan rumah yang terbengkalai.
Dia melihat bangunan didepannya, lalu melihat kertas catatan yang di tulis Sumantri.
Berdasarkan petunjuk yang ditulis Sumantri, bahwa benar bangunan reruntuhan rumah yang ada didepannya sesuai bentuk dan ciri ciri yang digambar Sumantri.
Gatot melangkahkan kakinya, masuk ke dalam bangunan reruntuhan rumah yang terbengkalai itu.
Dia berjalan mendekati sebuah dinding batu yang ada dipojokan, berdiri didepan dinding batu.
Gatot menatap dinding batu, dia lalu menoleh pada Teguh yang berdiri disamping mengikutinya.
"Hancurkan tembok ini, cari pisau pisau itu didalam tembok ini." Perintah Gatot pada Teguh.
"Siap, laksanakan !" Jawab Teguh pada Gatot, Teguh lalu memanggil dua petugas forensik untuk mencari pisau sebagai barang bukti.
Petugas Forensik pun mulai membongkar tembok dinding yang ada di pojokan bangunan reruntuhan rumah yang terbengkalai.
Gatot bersama Teguh menyaksikan, mereka berdua berdiri di dekat dua petugas forensik yang sedang melakukan penelitian dan pencarian bukti.
Maya ternyata mampir kerumah Gavlin, dia beberapa kali mengetuk pintu rumah Gavlin, namun, pintu tetap tertutup, tak ada Gavlin di rumahnya.
Maya pun tertidur di bangku panjang yang ada diteras rumah Gavlin.
Dia menunggu Gavlin pulang. Karena lelah kelamaan menunggu, Maya pun tertidur.
Gavlin yang baru pulang, kaget saat melihat Maya tertidur di bangku panjang.
Gavlin tersenyum memandangi wajah Maya, Maya terlihat cantik saat tidur.
Gavlin lalu melangkahkan kakinya, mendekati Maya, dia berjongkok tepat di depan wajah Maya, memandangi wajah Maya yang masih tertidur.
Gavlin tersenyum memandangi wajah Maya. Lalu beberapa saat kemudian, Gavlin menepuk nepuk bahu Maya perlahan, membangunkan Maya.
"May...Bangun May..." Ujar Gavlin dengan suara pelan membangunkan Maya.
Perlahan lahan mata Maya terbuka, dia kaget saat melihat Gavlin berjongkok tepat di dekat wajahnya.
Dengan cepat Maya bangun dan duduk dibangku panjang, mengusap wajahnya yang masih terlihat sedikit ngantuk.
Gavlin lantas tersenyum melihat Maya yang tampak masih sangat ngantuk.
"Ngapain kamu tidur di sini?" Tanya Gavlin tersenyum menatap wajah Maya.
"Nungguin kamu, kelamaan gak pulang pulang jadi ketiduran deh." Ujar Maya kesal.
"Ngapain nungguin aku pulang? Emang kita tinggal serumah?" Ujar Gavlin meledek Maya.
Maya langsung berpaling menoleh menatap wajah Gavlin, dia membuka matanya lebar lebar , kesal dengan Gavlin.
"Aku tuh nungguin kamu mau nganterin jaketmu yang aku pake waktu itu." Ujar Maya kesal.
Dia lalu memberikan bungkusan plastik besar berisi jaket pada Gavlin.
Gavlin mengambilnya dari tangan Maya, melihat kedalam bungkusan plastik.
Ada jaketnya didalam, jaket yang dipakaikannya ke Maya saat menutup pakaian Maya yang robek tempo hari.
"Ngapain juga buru buru balikin, nyantai aja kali May." Ujar Gavlin.
"kelamaan malah lupa kembaliin ke kamu." Ujar Maya.
"Ish...Ish...kepedean, ingat Linda, mau dikemanai Linda...! Udah ada Linda masih usaha aja." Ujar Maya mencibir. Gavlin tertawa memandang wajahnya.
"Ya terserah Linda mau kemana dia." Ujar Gavlin.
"Bukan itu maksudku !" Sambil matanya melotot menatap Gavlin, Maya kesal mendengar jawaban Gavlin yang bercandai dirinya.
"Aku tuh tadi nungguin kamu di cafe, kirain kamu makan siang disana, dua jam loh aku nungguin." Ujar Maya.
"Aku bete, terus, aku pergi aja, terus mikir, kenapa aku gak kerumah kamu aja, kali aja lagi dirumah." Ujar Maya lagi.
"Terus?" Tanya Gavlin.
"Eh gak taunya rumahmu kosong , kamu gak ada, capek, akhirnya tidur deh sambil nungguin." Ujar Maya nyerocos.
Maya memberitahukan Gavlin tentang bagaimana dia penuh perjuangan hanya untuk mengembalikan jaket Gavlin yang sudah di cuci bersihnya.
"Kenapa gak telpon aku May? kalo telponkan aku bisa langsung nemui kamu." Ujar Gavlin.
"Omonganmu itu Vliiin...Aku udah telpon, tapi yang jawab operator, bilang telponmu gak aktif, diluar jangkauan, tau jangkauan siapa, si operator kali ya." Ujar Maya.
Dengan wajah sebal Maya melirik Gavlin, Gavlin tersenyum menahan tawanya melihat wajah lucu Maya yang lagi kesal itu.
"Ya udah, untuk membalas perjuanganmu yang udah susah payah nganterin jaketku, aku traktir kamu makan sekarang." Ujar Gavlin tersenyum.
"Beneran?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
"Iya, terus aku temani kamu pulang, gimana, mau gak?" Ujar Gavlin menatap wajah Maya.
"Beneran traktir ? Awas kalo boong." Ujar Maya mengancam.
"Beneran, ngapain boongin kamu, gak penting." Ujar Gavlin meledek, Maya nyengir.
"Yuk ah." Ajak Maya yang langsung berdiri dari bangku.
Maya pun lalu segera beranjak, berjalan keluar dari rumah di ikuti Gavlin.
Gavlin mengambil jaket dari bungkusan plastik besar, lalu memakai jaket kebadannya.
Dia melemparkan bungkusan plastik besar ke bangku panjang, untuk kemudian segera berlari menyusul Maya yang sudah jalan duluan.
Di lokasi pembangunan perumahan yang terbengkalai, mangkrak, di sebuah bangunan reruntuhan rumah.
Secara hati hati dua Petugas Forensik mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tembok yang mereka hancurkan.
"Ternyata benar apa yang di bilang Sumantri, terima kasih Tri, berkatmu, aku menemukan bukti baru." Ujar Gatot tersenyum senang.
Petugas Forensik lalu meletakkan bungkusan yang sudah terlihat usang itu ke tanah.
Gatot dan Teguh berjongkok didekat Petugas Forensik, memandangi bungkusan usang yang tergeletak ditanah.
Petugas Forensik lalu membuka bungkusan usang , setelah terbuka, didalamnya terlihat ada dua bilah pisau.
Petugas Forensik yang memakai sarung tangan mengambil satu pisau.
Dia mengamati pisau, ada bekas noda darah yang sudah mengering dan menghitam di pisau.
Lalu Petugas Forensik memasukkan pisau yang dia pegang kedalam plastik.
Kemudian Petugas Forensik mengambil satu pisau yang ada di kain bungkusan usang.
__ADS_1
Dia mengangkat dan memegang pisau, dia mengamati pisau ditangannya.
Seperti pisau sebelumnya, dari pisau yang dia pegang saat ini juga ada bekas noda darah yang sudah mengering dan menghitam di ujung pisau serta gagangnya.
Petugas Forensik langsung memasukkan pisau ditangannya kedalam wadah plastik khusus menyimpan barang bukti.
Sementara itu, Gatot dan Teguh berdiri dihadapan Petugas Forensik terus mengamati.
"Segera bawa ke lab." Perintah Gatot pada kedua Petugas Forensik, dia ingin segera menemukan sidik jari pelaku yang ada di pisau tersebut.
Wajah Gatot terlihat senang, dia tersenyum puas dengan hasil penemuan barang bukti kasus pembunuhan 18 tahun yang lalu.
"Kita balik ke kantor sekarang." Ujar Gatot pada Teguh yang mengangguk mengiyakan.
Teguh mengikuti Gatot yang berjalan meninggalkan lokasi penemuan barang bukti.
Diikuti dua Petugas Forensik. Mereka semua pergi meninggalkan lokasi bangunan perumahan yang terbengkalai itu.
Gavlin memandangi wajah Maya yang sedang asyik menikmati makanannya.
Maya tak sadar kalau saat ini dia sedang dipandangi Gavlin. Gavlin tersenyum memandangi wajah Maya yang terlihat lahap makan, seakan sedang kelaparan.
Saat Maya hendak minum, dia tersadar bahwa dia sedang di pandangi Gavlin.
"Ngapain kamu senyum senyum liatin aku? Belum pernah liat orang makan ?" Ujar Maya menatap lekat wajah Gavlin.
"Senang aja liatin kamu." Ujar Gavlin tersenyum.
"Awas loh, ntar suka lagi sama aku." Ujar Maya cuek.
"Kalo aku suka, kenapa?" Tanya Gavlin tersenyum menatap wajah Maya.
Maya terdiam mendengar ucapan Gavlin, dia baru sadar kalau dia salah omong tadi.
Maya tersipu malu, dia grogi jadinya. Maya berusaha menutupi groginya, dia meminum jus yang dipesannya sampai habis.
"Kok gak jawab pertanyaanku?" Ujar Gavlin tersenyum.
"Emang nanya apa?" Tanya Maya pura pura tidak tahu yang ditanyakan Gavlin.
"Yang tadi, kalo emang benar aku suka kamu kenapa?" Ujar Gavlin menegaskan kembali ucapannya, Maya menelan ludahnya, berusaha menenangkan dirinya.
"Gila kamu ya, kamu kan pacarnya Linda, teman baikku, masa godain aku gitu?" Ujar Maya mencibir.
"Ya gak apa apa kan?" Ujar Gavlin, Mata Maya terbelalak lebar mendengar perkataan Gavlin yang cuek itu.
"Kok gak apa apa? Kamu gak jaga perasaan Linda ya ?! Gak boleh gitu Vlin, Linda itu sayang banget sama kamu loh." Ujar Maya memberitahu Gavlin.
"Kalo kamu, sayang gak sama aku, suka gak? Jujur ." Ujar Gavlin tersenyum menatap wajah Maya yang salah tingkah, dia gugup mendapatkan pertanyaan itu.
"Udahan yuk, aku mau pulang." Ujar Maya mengalihkan pembicaraan, Gavlin tersenyum memandangi wajahnya.
"Yuk, aku antar kamu pulang, sesuai janjiku." Ujar Gavlin.
Maya lalu berdiri di ikuti Gavlin, mereka lalu pergi keluar dari dalam cafe.
Sepanjang jalan menyusuri trotoar , Gavlin dan Maya saling diam.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Maya dan Gavlin, Gavlin berjalan santai dan cuek disamping Maya.
Maya berjalan , diraut wajahnya masih terlihat bahwa dia masih grogi karena Gavlin menanyakan perasaannya.
Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, Maya menyadari, kalau dia menyukai Gavlin, ada rasa sayang yang begitu mendalam pada Gavlin yang dia rasa.
Rasa sayang dan cinta itu semakin tumbuh subur saat melihat Gavlin terluka karena dikeroyok preman.
Ada kecemasan, ketakutan dalam diri Maya melihat Gavlin yang terluka.
Dia tak tega melihat Gavlin orang dia suka dan sayangi terluka.
Namun semua perasaan itu hanya bisa di nikmati Maya sendiri di dalam dirinya.
Tak bisa dia wujudkan dalam kenyataan, karena dia tak ingin membuat hati Linda, sahabatnya terluka, karena dia mengambil Gavlin darinya.
Maya menghela nafas sambil terus melangkahkan kakinya di sepanjang trotoar.
"Papah Linda gak suka denganku, dia bilang aku gak selevel dengan keluarga mereka." Ujar Gavlin.
" Papahnya nyuruh Linda menjauhiku, menyuruhnya untuk mencari pria yang selevel dengan dia dan keluarganya." Ujar Gavlin sambil terus berjalan.
Gavlin sengaja mengatakan itu untuk memulai pembicaraan dengan Maya, karena jenuh berjalan saling diam seperti sedang marahan.
Mendengar perkataan Gavlin membuat Maya kaget, dia menoleh pada Gavlin.
"Masa gitu sih papah Linda?" Ujar Maya kaget, dia tak menyangka papah Linda merendahkan derajat Gavlin.
"Aku dengar sendiri saat itu." Ujar Gavlin.
"Terus, reaksi Linda gimana ?" Ujar Maya.
Dia berhenti berjalan, memegang tangan Gavlin agar berhenti, Maya menatap wajah Gavlin, dia mau tahu bagaimana Linda menyikapi larangan papahnya.
"Ya dia kesal, marah sama papahnya karena merasa urusan dia dicampuri, dia kesal papahnya ngelarang dia dekat denganku." Ujar Gavlin tersenyum.
Maya kemudian melepaskan pegangan tangannya dari tangan Gavlin.
"Aku bilang ke Linda, agar menghentikan hubungan kami, aku gak mau, gara gara aku, hubungan dia dan papahnya rusak." Ujar Gavlin.
"Terus, apa jawab Linda?" Tanya Maya menatap wajah Gavlin.
"Dia marah sama aku, minta aku gak bahasnya." Ujar Gavlin.
"Jujur, mendengar semua omongan papahnya aku berfikir dan sadar diri, memang Linda gak pantas denganku." Ujar Gavlin.
"Dia lebih pantas bersama pria yang sama dengannya, yang benar benar bisa memenuhi semua kebutuhannya, dan itu bukan aku." Ujar Gavlin menatap wajah Maya.
Maya hanya bisa terdiam mendengarkan semua perkataan Gavlin.
"Jujur, setelah hari itu, aku mulai menghindar dari Linda, berusaha menjauh, berusaha untuk meninggalkannya, agar Linda membenciku." Ujar Gavlin.
Maya masih terdiam berdiri di tempatnya, dia tak tahu harus berkata apa.
"Sebenarnya aku sama sekali gak ada rasa cinta sedikitpun sama Linda." Ujar gavlin.
"Aku mau bersamanya, menuruti semua keinginannya, itu hanya untuk menjaga perasaannya aja. Bukan Cinta." Ujar Gavlin.
"Selama aku hidup, dari kecil, hanya ada satu wanita yang sangat aku cintai, yang sangat aku inginkan hidup bersamanya." Ujar Gavlin.
"Tak ada wanita lain, hanya wanita yang ku kenal sejak kecil, yang selalu menemani hari hariku saat kami kecil." Ujar Gavlin.
Maya menatap wajah Gavlin, di hati kecilnya dia sedih, karena artinya tidak ada harapan untuk dirinya bisa mengisi kekosongan hati Gavlin.
"Terus, kamu ketemu sama wanita yang kamu cintai itu?" Tanya Maya pada Gavlin yang menghela nafasnya.
"Aku rasa, aku sudah bertemu dengannya, bahkan merasa sangat dekat dengannya, tapi, dia belum tahu dan menyadari keberadaan aku di dekatnya." Ujar Gavlin.
__ADS_1
Gavlin tersenyum memandangi wajah Maya. Maya terdiam, dia menatap wajah Gavlin.
Mereka saling tatapan mata, Maya diam karena tak tahu harus bicara apa pada Gavlin saat ini.