
Di sebuah ruangan kantor Polsek, terlihat Sutoyo sedang memimpin rapat besar dengan tim inti kepolisian, diantara tim inti kepolisian yang punya jabatan dan posisi tinggi, hadir juga Gatot, yang berdiri di pojokan.
"Bodoh!! Bodoh !! Dua kali kantor Polisi di susupi penjahat!! Tapi pembunuh itu gak bisa juga ditangkap !! Sungguh bodoh!! Apa saja kerja kalian selama ini ?!!" Bentak Sutoyo, penuh amarah yang meledak ledak.
"Maaf, Pak. ternyata pelaku membungkam terlebih dahulu anggota kita yang bertugas di pos jaga." jelas salah satu Petugas Polisi berpangkat Sersan satu.
"Kami menemukan mayat anggota kita di pos jaga. Sepertinya, sebelum menggantung Gunadi, dia lebih dulu membunuh anggota kita, itu sebabnya, dia dengan mudahnya menggantung Gunadi di tiang bendera, dan meletakkan mayat istri Gunadi di teras kantor!" lanjut Petugas Polisi berpangkat Sersan, memberi penjelasan.
Mendengar penjelasan dari anak buahnya itu, Sutoyo pun semakin geram dan marah, wajahnya merah padam menahan amarahnya yang membara.
Dia merasa malu, dan merasa dua kali di pecundangi Yanto, anaknya Sanusi, karena, dengan mudahnya, Yanto mengacak acak dan membuat geger kepolisian.
Di pojokan ruangan, Gatot berdiri diam, namun, wajahnya tampak senang, dia pun tersenyum sinis. Gatot senang, karena Gavlin berhasil membantai Gunadi.
"Mulai saat ini! Saya perintahkan kalian semua, memburu Yanto beserta Gavlin !! Tangkap mereka berdua, dan jebloskan kepenjara, jika mereka melawan, tembak mati!!" Tegas Sutoyo marah, memberi perintah.
"Baik, Pak." Angguk para jajaran petugas kepolisian yang hadir.
"Ya, sudah, bubar kalian semua!!" ujar Sutoyo marah.
Para jajaran tim kepolisian dengan jabatan tertinggi di masing masing divisi kepolisian lalu membubarkan diri, mereka berjalan keluar dari dalam ruang rapat tersebut.
Gatot berjalan santai, dia menjadi orang terakhir yang berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut.
Saat Gatot berjalan melewati Sutoyo, dengan wajah geram dan marah, Sutoyo memanggilnya.
"Tunggu Gatot!" Hardik Sutoyo, geram, menahan amarahnya.
Gatot pun lantas menghentikan langkahnya, dia berdiri diam ditempatnya, Sutoyo menghampirinya.
Sutoyo berdiri sangat dekat dengan Gatot, wajahnya memerah menahan amarah, dengan geram, dia berbisik pada Gatot.
"Cepat katakan pada Saya, dimana Si Gavlin dan Yanto itu bersembunyi, Gatot." ujar Sutoyo geram, berbisik di telinga Gatot.
"Mana aku tau, kalo aku tau, pasti udah ku tangkap mereka." jelas Gatot, dengan cuek dan santai.
Gatot tersenyum sinis memandang wajah Sutoyo yang terlihat marah itu.
"Aku tau, kamu terlibat dengan semua ini. Kamu yang menyelamatkan anak Sanusi dulu, dan kamu yang selama ini pasti membantu si Yanto dengan diam diam!" ujar Sutoyo geram.
Gatot pun kembali tersenyum sinis menatap wajah marah Sutoyo.
"Apa buktinya, kalo aku membantu Yanto dan Gavlin?" ujar Gatot sinis.
"Gak lama lagi, aku akan menemukan bukti keterlibatanmu Gatot! Bersiaplah!" Ancam Sutoyo geram.
Gatot tersenyum sinis lagi, dia tak menjawab perkataan Sutoyo yang mengancam dirinya, Dengan santai dan cuek, Gatot berjalan keluar dari dalam ruangan, meninggalkan Sutoyo sendirian.
Sutoyo tampak semakin marah melihat sikap cuek Gatot, dia tersinggung, karena sangat terlihat, bahwa Gatot sama sekali tidak menghargainya sebagai pemimpin tertinggi di kepolisian yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian.
Gatot cuek pada Sutoyo, karena mereka sebenarnya satu divisi dulunya, dan Gatot serta Sutoyo sempat menjadi rekan, namun, hubungan mereka retak, saat Gatot mulai menyelidiki kasus kematian kedua orang tua Yanto dulu.
Karena tahu kelicikan dan kebusukan Sutoyo yang melindungi para penjahat yang tengah diburunya, lalu, Sutoyo juga melenyapkan semua bukti bukti yang dia temukan, serta, Sutoyo membayar para hakim dan jaksa yang tunduk dan berteman padanya untuk menjebloskan Sanusi kepenjara sebagai tersangka utama, hubungan baik mereka pun retak, dan mulai saat itu, Gatot bermusuhan dengan Sutoyo.
__ADS_1
Sutoyo tampak berdiri cemas, dia sangat geram dan marah sekali, karena, sampai saat ini, Yanto, masih bebas berkeliaran, bahkan membunuh dua orang kepercayaannya.
Sutoyo tak bisa menerima kenyataan, jika dia sudah di pecundangi Yanto, dia ingin membalas rasa sakit hatinya pada Yanto, anak Sanusi, yang sudah membuatnya marah.
---
Saat malam hari, di rumah Sutoyo yang besar, luas dan megah, tampak banyak petugas kepolisian yang berjaga jaga di tiap sudut rumah.
Bukan hanya itu, di jalanan, dekat rumah Sutoyo, ada juga banyak petugas kepolisian yang berjaga di jalanan.
Para Petugas Kepolisian di tugasi Sutoyo, untuk melindungi dirinya. Pengamanan ketatpun di lakukan para petugas kepolisian.
Setiap kendaraan yang lewat dijalanan dekat rumah Sutoyo, dari kedua arah jalan, para Petugas Polisi menghentikan kendaraan kendaraan.
Lalu, Para Petugas Polisi memaksa turun para pengendara, dari dalam mobil masing masing, atau dari motornya. Para Petugas Kepolisian menggeledah semua isi di dalam mobil dan motor.
Mereka mencari cari barang berbahaya, dan juga, para petugas kepolisian memeriksa para pengendara di jalan.
Mereka benar benar siaga dan waspada, mereka sedang menjalankan tugas untuk menangkap Yanto dan Gavlin.
Dari kejauhan, tampak Gavlin menghentikan motornya dengan mendadak, karena, dia melihat, jauh di depan, ada banyak Petugas kepolisian dengan memasang pagar penghalang di tengah jalan.
Gavlin membuka kaca helm yang menutupi wajahnya, dengan geram, Gavlin melihat, para petugas polisi memeriksa semua pengendara yang lewat di jalanan dekat rumah Sutoyo.
"Keparaat !! Sutoyo di jaga ketat, semua tempat ada penjaganya, aku gak bisa menyelinap dan menyergap si bedebah Sutoyo!!" ujar Gavlin, geram dan marah.
Lalu, Gavlin menutup kaca penutup wajahnya lagi, kemudian, Gavlin pun memutar balik motornya, dia kembali ke arah jalan sebelumnya yang dia lalui.
Dengan wajah menahan marah, Gavlin mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dia sangat geram, karena gagal menjalankan misinya membunuh Sutoyo. Motor Gavlin melaju dengan cepat, menyusuri jalanan.
Dari dalam rumahnya, tampak Sutoyo berdiri di depan jendela kaca rumahnya, dia melihat keluar, ke arah para petugas Polisi, yang berdiri dan berjaga jaga di tiap sudut rumahnya.
Sutoyo pun tersenyum senang, tak ada rasa takut dan khawatir dalam dirinya, sebab, dia merasa aman, karena rumah dan dirinya, di jaga ketat oleh anak buahnya.
---
Siang harinya, Gatot tampak keluar dari dalam mini market, seorang Pemuda dengan memakai topi hitam, dengan sengaja menyenggol Gatot, namun, tangan sang Pemuda memberikan secarik kertas ke tangan Gatot.
Lalu, Pemuda tersebut masuk ke dalam mini market, Gatot heran, untuk sesaat, dia menoleh pada pemuda yang memberinya secarik kertas dan masuk ke dalam mini market.
Gatot belum tahu, siapa pemuda tersebut, lalu, dia pun berjalan dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan halaman mini market, sambil menenteng plastik belanjaannya.
Di dalam mobilnya, Gatot lalu membuka secarik kertas yang ada ditangannya, Gatot pun membaca tulisan yang ada di dalam secarik kertas tersebut.
"Temui aku dirumahku, malam ini, dua jam dari sekarang, Om. Ini alamat rumahku. Dari Gavlin."
Begitu isi pesan yang tertulis dalam secarik lembar kertas yang di baca Gatot.
Gatot pun membaca alamat rumah Gavlin yang tertulis, di secarik kertas tersebut.
Gatot pun tersenyum senang, dia akhirnya tahu, jika pemuda yang sengaja menabraknya di depan pintu masuk mini market, dan memberinya secarik kertas adalah Gavlin.
Dari dalam mobilnya, Gatot menoleh ke arah dalam mini market, dari dalam mini market, di depan pintu masuk, terlihat Gavlin dengan memakai topi hitam dan jaket hitam berdiri tersenyum senang melihat Gatot di dalam mobil.
__ADS_1
Lalu, Gatot pun menyalakan mesin mobilnya, kemudian, dia pun menjalankan mobilnya, pergi meninggalkan Gavlin yang masih berdiri di depan pintu masuk mini market.
Mata Gavlin mengawasi sekitarnya, setelah dia rasa aman, tidak ada siapa siapa yang mengikuti Gatot, lalu, dia pun keluar dari dalam mini market.
Gavlin berjalan terus, kemudian berbelok ke sebuah gang, yang ada di samping ruko, Gavlin terus berjalan, dia pun menghampiri motornya, yang terparkir di halaman depan sebuah rumah makan.
Gavlin sengaja memarkir motornya sedikit jauh dari mini market, agar keberadaannya tidak di ketahui orang, dia juga berhati hati dengan polisi, yang saat ini sedang memburunya.
Gavlin menemui Gatot di mini market, karena selama ini, Gavlin tahu kebiasaan Gatot, tiap jam jam seperti ini, Gatot pasti menyempatkan dirinya untuk berbelanja kebutuhan rumahnya di mini market langganannya tersebut.
Gavlin memakai helmnya, lalu, dia naik ke atas motornya, sesaat kemudian, motornya pun berjalan, dan pergi meninggalkan rumah makan.
---
Di rumahnya, setelah kembali dari mini market dan membawa belanjaan yang dibelinya dari mini market, Gatot tengah bersiap siap pergi lagi.
Maya heran, karena Ayahnya baru saja pulang, sudah mau pergi lagi, dia pun lantas mendekati Ayahnya yang sedang bersiap untuk pergi.
"Ayah tugas lembur?" tanya Maya.
"Nggak, Ayah mau nemui Gavlin." ujar Gatot tersenyum senang.
"Gavlin? Dimana ? Aku ikut Yah!" ujar Maya senang.
"Jangan, sebaiknya kamu jangan ikut, May. Ini berbahaya buatmu, Gavlin minta Ayah ketemu dia, pasti karena ada yang mau di bahas Gavlin." Jelas Gatot serius.
"Dan itu pastinya sangat penting, dan berhubungan dengan balas dendamnya." lanjut Gatot, memberi penjelasan pada Maya.
"Ya, udah deh, gak apa. salam aja sama Gavlin, ya." ujar Maya tersenyum.
Maya pun akhirnya bisa mengerti penjelasan Ayahnya tersebut, dan dia membiarkan Ayahnya pergi menemui Gavlin.
"Ayah berangkat, ya." ujar Gatot ,tersenyum.
"Iya, hati hati, Yah." jawab Maya, tersenyum.
Gatot mengangguk, mengiyakan, lantas, dia pun segera berjalan keluar dari dalam rumahnya, Maya lantas menutup pintu rumahnya.
Gatot masuk ke dalam mobilnya, lalu, sesaat kemudian, mobil Gatot pun berjalan, melaju keluar dari halaman rumahnya, lalu meluncur cepat ke jalan raya.
Dari balik jendela rumahnya, Maya berdiri tersenyum senang melihat kepergian Ayahnya yang mau bertemu Gavlin.
Dia sangat senang dan bahagia, sebab, Ayahnya dan Gavlin sekarang menjadi akur, dan saling bantu membantu, dalam membalaskan dendam Gavlin.
Di jalan raya, Gatot menyetir mobilnya dengan tenang, di belakangnya, ada sebuah mobil sedan berwarna gelap mengikuti mobilnya.
Gatot tidak mengetahui dan menyadarinya, jika mobil di belakang mobilnya, sudah mengikuti sejak dia berangkat dari rumahnya.
Dari dalam mobil berwarna gelap yang mengikuti mobil Gatot, terlihat dua petugas polisi. Mereka berdua di tugaskan untuk mengintai, mengawasi, dan mengikuti kemana pun Gatot bergerak dan pergi.
Sutoyo memberi perintah mengawasi dan memata matai Gatot, sebab dia yakin, jika selama ini, Gatot tetap berhubungan dengan Yanto, anaknya Sanusi. Musuh besarnya.
Dan Gatot tidak pernah menyadari, jika Sutoyo mengerahkan anak buahnya untuk memata matai pergerakan dia.
__ADS_1