
Herman dibawa dua petugas kepolisian dan Edo serta Masto ke dalam tahanan kepolisian, Herman bingung dan kaget.
"Mengapa aku dibawa ke sini?!" ujar Herman bingung dan panik.
Kedua petugas polisi beserta Edo dan Masto diam, mereka tak menjawab pertanyaan Herman, petugas penjaga tahanan membuka pintu tahanan, dua petugas hendak memasukkan Herman ke dalam penjara, namun, Herman berontak, dia melawan dan tak mau di masukkan ke dalam penjara, dia meronta ronta, kedua petugas polisi memegangi tubuh Herman hingga Herman sulit bergerak.
Andre dan Samuel datang, melihat Andre, Herman tampak marah sekali pada Andre.
"Hei !! Bukankah kita sudah sepakat!! Jika aku membongkar rahasia Inside, aku akan diberikan perlindungan!! Mengapa aku malah dibawa ke sini dan dimasukkan ke dalam penjara?!!" bentak Herman, marah pada Andre.
"Tenang, Pak Herman, tempat ini lebih aman dari rumah perlindungan. Di sini, gak akan ada anggota Inside yang bisa masuk dan mendatangimu, karena, penjagaan akan diperketat untuk menjaga dan melindungimu!!" tegas Andre.
"Tapi kamu sudah janji, akan membawaku ke rumah aman! Bukan ke sini!! Jika tau bakal dimasukkan ke dalam penjara, aku gak bakal mengungkap organisasi Inside!" ujar Herman, marah dan kecewa.
Dia kecewa dan juga marah , karena merasa, telah di bohongi Andre, yang mengingkari janjinya untuk memberikan suaka, melindungi dirinya dari kejaran dan incaran organisasi Inside.
"Aku tetap menepati janji Pak Herman, bukankah sebelum dan sesudah kamu memberi pernyataan pengakuan kejahatan, kamu kami lindungi hingga detik ini?" ujar Andre, bersikap tenang.
"Jika kami gak melindungimu, pastinya kamu sudah mati di bunuh Gavlin tadi, tapi, karena ada kami, Gavlin tidak membunuhmu bukan?!" lanjut Andre, menjelaskan dengan santai dan tenangnya.
"Dan satu hal lagi pak Herman, kami gak pernah memaksa bapak untuk membongkar borok organisasi Inside ! Bukankah bapak sendiri yang menyebut Inside, dan membeberkan semua rahasia kejahatan mereka pada kami dan publik?!" tegas Andre.
Herman terdiam, dia menyadari, bahwa, memang dirinya sendirilah yang memberi pernyataan tanpa adanya unsur paksaan dari pihak kepolisian dan kejaksaan.
"Ya, tapi, tolong, jangan masukkan aku dalam tahanan ini, aku gak mau di sini, tolong, bawa aku ke rumah aman kalian. Aku gak akan melarikan diri! Percayalah!" ujar Herman, dengan wajah memelas memohon pada Andre.
"Maaf pak Herman, karena Bapak sudah menberi pernyataan dengan mengadakan siaran langsung dan juga mengaku pada kami, maka, saat ini status Bapak menjadi tersangka, bukan lagi sebagai saksi!" tegas Samuel.
"Jadi, bapak tidak mendapatkan perlindungan lagi dari kepolisian maupun kejaksaan, mengingat status bapak yang berubah menjadi tersangka sekarang!" lanjut Samuel, menjelaskan pada Herman.
"Siaaallaan !! Kalian sama saja dengan Binsar !!" bentak Herman marah.
Dia kecewa, karena merasa di bohongi dan di pecundangi oleh Andre, untuk kedua kalinya dia merasa dirinya di lecehkan dan disepelekan serta dibuang begitu saja, yang pertama dia dapatkan dari organisasi Inside yang tidak mau menolongnya, dan sekarang, oleh pihak kepolisian yang malah menjadikan dia sebagai tersangka setelah dia memberi kesaksian atas kejahatan inside, serta di jebloskan ke dalam penjara.
"Masukkan dia ke sel tahanan." ujar Andre, memberi perintah pada dua petugas polisi.
Kedua petugas polisi mengangguk mengiyakan perintah Andre, lantas, mereka memasukkan Herman dengan paksa ke dalam tahanan, Herman meronta, menahan dirinya, melawan kedua petugas polisi agar dia tidak dibawa masuk ke dalam sel tahanan, Edo dan Masto membantu ke dua polisi, mereka berempat memegang dan mendorong tubuh Herman , Herman tak berdaya, dia pun akhirnya terdorong masuk ke dalam sel tahanan.
Petugas penjaga tahanan segera menutup pintu sel dan menguncinya dengan gembok.
"Kamu akan tetap disini selama persidangan berjalan nantinya untuk mengadili kejahatanmu." ungkap Samuel.
Herman diam, dia tampak geram dan menahan amarahnya, Andre dan Samuel lantas berbalik badan, mereka pergi meninggalkan Herman, Edo dan Masto beserta dua petugas kepolisian dan penjaga tahanan juga pergi, meninggalkan Herman sendirian didalam sel tahanan.
"Siaaal !! Siaaaalll !!" ujar Herman, marah pada dirinya sendiri di dalam sel tahanan.
Herman duduk di tepi ranjang sel tahanan, tampak wajahnya menunjukkan kekesalan yang mendalam, dia kecewa, karena dirinya di jebloskan ke dalam penjara.
Harapannya untuk tetap bebas dan dijaga kepolisian sirna, dia malah meringkuk dalam sel tahanan yang pengap dan sempit.
---
Binsar datang menemui Bapak Presiden, dia di panggil oleh Presiden, setelah presiden mendengar pengakuan Herman secara terbuka dengan mengadakan siaran langsung.
Bapak Presiden, yang bernama Adiwinata, menatap tajam Binsar yang duduk di sofa.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa beberapa mentri di kabinet saya di tangkap polisi, dan begitu banyaknya anggota parlemen serta ketua dan anggota partai yang pro kita ditangkap? Ada apa ini? Tolong jelaskan pada saya?!" ujar Adiwinata, sang Presiden.
"Kamu gak usah khawatir, biar aku yang urus, ini semua ulah Herman, dia yang menjebak dan memfintah, sehingga banyak yang ditangkap." ujar Binsar, berbohong pada Adiwinata, sang Presiden.
__ADS_1
"Aku akan mengurusnya, kamu gak perlu risau, tetap saja jalani fungsimu sebagai presiden, jalani semua aturan yang sudah ditetapkan organisasi Inside padamu dalam menjalani roda pemerintahan ini!" tegas Binsar.
"Tapi, jika ini berlarut larut, dan semua mentri di kabinetku di tangkap, saya khawatir, pemerintahan saya akan runtuh!" tegas Adiwinata.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa yang sudah dilakukan organisasi Inside? Mengapa saya tidak pernah diberi tahu, apa saja yang diperbuat organisasi Inside?" tanya Adiwinata.
"Apakah mereka yang ditangkapi itu anggota anggota Inside? Dan , apakah organisasi memang terlibat kejahatan konspirasi besar selama ini, seperti yang di katakan Herman? Tolong jelaskan pada saya." tegas Adiwinata.
"Kamu gak perlu tau , apa yang sudah di perbuat organisasi Inside untuk negara ini! Ingat Adiwinata! Kamu ini jadi presiden karena kebaikan Inside, bukan karena prestasi atau pun pilihan masyarakat luas! Kamu terpilih karena Inside memanipulasi data hitungan suara!" tegas Binsar, menjelaskan pada Adiwinata.
"Kamu ku jadikan presiden, agar mempermudah dan membantu langkah langkah yang ditempuh dan dijalani organisasi Insdie!" tegas Binsar.
Adiwinata terdiam, sebagai presiden, dia merasa, dirinya tak punya kuasa apa apa, setelah mendengar pernyataan Binsar, dia pun sadar, bahwa ternyata selama ini, dia bagai seperti kacung, dan dirinya di kendalikan oleh Binsar dan organisasi Inside.
"Saya harap, bang Binsar segera menyelesaikan masalah ini, saya gak ingin, rakyat ricuh, dan negara jadi kisruh karena masalah ini." ujar Adiwinata,sang Presiden.
"Ya, jangan menyuruhku, aku tau, apa yang harus aku lakukan!" tegas Binsar.
Binsar lantas pergi meninggalkan Adiwinata, adiwinata terdiam di sofanya, Binsar pergi begitu saja, tanpa ada rasa hormat sedikitpun pada Adiwinata sebaga presiden, Binsar bersikap demikian, karena dia menganggap Adiwinata hanyalah sebagai bonekanya saja, robot presiden yang dikendalikan dirinya.
Adiwinata diam, dia terlihat sedang berfikir keras, Chandra mengetuk pintu ruang kantor yang terbuka, karena Binsar saat pergi tidak menutup pintunya.
"Ya, masuklah." ujar Adiwinata.
"Maaf, Pak. tadi Bapak memanggil saya, ada apa ya?" tanya Chandra.
Chandra berpura pura, dia tahu, Binsar baru saja pergi dari ruangan Adiwinata, dan mereka mengadakan pertemuan empat mata tadi.
"Apa kamu lihat berita tentang pernyataan Herman ditelevisi?" tanya Adiwinata.
"Ya, Pak, saya lihat." jawab Chandra, berdiri dihadapan Adiwinata.
"Kamu tau, nama Kapten polisi dan jaksa penuntut yang juga memberi pernyataan bersama Herman itu?" tanya Adiwinata.
"Saya tau, Pak. Nama nya Andre, dan Jaksa penuntut bernama Samuel." ujar Chandra.
"Maaf, Pak. Sebenarnya ada apa? Mengapa Bapak bertanya tentang mereka berdua?" tanya Chandra.
"Bisa kamu hubungi mereka, tolong atur pertemuan saya dengan mereka berdua, sampaikan, saya mau bertemu, ada yang mau saya bicarakan dan tanyakan." jelas Adiwinata, dengan wajahnya yang serius.
"Oh, baik Pak. Saya akan mencoba menghubunginya." ujar Chandra.
"Ya, kabari saya, kapan nanti waktu pertemuannya." ujar Adiwinata.
"Baik, Pak. Saya permisi." ujar Chandra, memberi hormat.
"Ya." jawab Adiwinata.
Chandra lantas berbalik badan, dengan tersenyum senang, dia berjalan keluar dari dalam ruang kantor presiden, tidak lupa Chandra menutup pintu ruangan.
Adiwinata berjalan , dihempaskannya tubuhnya di kursi kerjanya.
Dia memegangi kepalanya dan mengurut urut keningnya, Adiwinata tampak pusing, memikirkan masalah , sebab para mentri yang baru saja diangkatnya dan mantan mentrinya ditangkap karena terlibat skandal kejahatan.
"Apa tanpa ku sadari, aku juga sudah terlibat dalam kejahatan Inside?" Gumam Adiwinata berfikir.
"Jika memang akh terlibat, alangkah jahat dan bodohnya aku, aku sepertinya gak pantas menjadi presiden, memimpin negara ini." lanjutnya, bicara dengan dirinya sendiri.
Adiwinata tampak resah, dia cemas, memikirkan dirinya dan kondisi negaranya yang banyak terjadi kasus kejahatan dan korupsi besar besaran.
__ADS_1
---
Malam harinya, terlihat Herman duduk diatas ranjang, dia melamun didalam sel tahanan. Datang seorang petugas tahanan, ria berdiri di depan pintu sel tahanan.
Herman yang melihat petugas itu segera berdiri dan turun dari ranjangnya, dia pun lalu mendekati petugas tahanan itu.
"Apa kamu mau melepaskan aku?!" ujar Herman, dengan wajah senangnya.
Petugas tahanan tersenyum kecil, dia lantas melepaskan jenggot dan kumisnya, lantas, dia menatap tajam wajah Herman.
"Gavliiin?!! Mengapa kamu bisa masuk ke sini?! Siapa yang memberimu izin?!" bentak Herman, dengan wajah takut.
Herman kaget melihat, bahwa petugas tahanan ternyata Gavlin yang menyamar, dia pun takut, Gavlin datang untuk membunuhnya.
"Aku mau bertanya padamu Herman, dimana lokasi organisasi Inside itu? Jika kamu memberitahukan alamat lengkapnya, aku gak akan membunuhmu." tegas Gavlin.
"Tidak ! Aku gak akan memberitahukannya!! Kamu pasti akan tetap membunuhku, setelah aku beritahu alamat Inside!" tegas Herman menolak.
"Aku akan menepati janjiku Herman! Apa kamu tau? Aku lah yang telah menyelamatkan nyawamu saat kamu memberi pernyataan di aula!" tegas Gavlin.
"Apa maksudmu?!" tanya Herman.
"Kamu gak tau dan gak sadar? Kalo Inside mengerahkan penembak jitu untuk membunuhmu di aula itu? Kalo aku gak membunuh para penembak jitu, kamu pasti sudah menjadi mayat!" ujar Gavlin, menjelaskan dengan serius.
"Benarkah?" tanya Herman, terhenyak kaget tak percaya dengan apa yang dikatakan Gavlin.
"Kamu bisa tanyakan pada Andre, karena aku yakin, mereka pasti sudah menemukan mayat para penembak jitu itu." tegas Gavlin.
Herman diam, dia tampak berfikir sesaat, lalu, dia menghela nafasnya, kemudian, dia menatap lekat wajah Gavlin.
"Alamat Inside, jalan hangtuah 7 blok E no.39, rumah pagar kuning." jelas Herman.
"Baik, akan aku datangi alamat itu!" ujar Gavlin.
"Tunggu, Vlin!" ujar Herman.
Herman memanggil Gavlin yang hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Tolong, lepaskan dan bawa aku keluar dari sel tahanan ini, aku akan membantumu menangkapi anggota Inside!" ujar Herman, dengan wajah melas dan memohon.
"Aku gak butuh bantuanmu, Herman, aku bisa melakukannya sendiri!" tegas Gavlin.
"Ohya, satu hal yang perlu kamu renungkan, jika kamu merasa malu dan merasa bersalah karena perbuatan jahatmu, ada baiknya kamu menghilang dari dunia ini, kamu gak akan mendapatkan kehormatan lagi dari masyarakat, di luar, orang akan sinis padamu." ujar Gavlin.
"Apa maksudmu?!" tanya Herman heran dan tak mengerti dengan perkataan Gavlin.
"Daripada kamu menanggung rasa malu dan hidup gak tenang, lebih baik kamu menghilang, dan melenyapkan dirimu, sebagai penebusan dosa besarmu." tegas Gavlin.
"Aku gak membunuhmu, karena kamu sudah memberi informasi padaku." ujar Gavlin.
Gavlin tersenyum sinis, dia lantas memberikan botol kecil pada Herman, Herman melihat botol tersebut, dia heran.
"Apa ini?" tanya Herman, heran.
"Ambil dan minumlah, ini obat penenang dan penghilang depresimu." ujar Gavlin tersenyum.
Herman ragu, dia menatap wajah Gavlin, Gavlin terlihat serius, lalu, Herman pun akhirnya mengambil botol kecil dari tangan Gavlin, dia memperhatikan botol tersebut.
Gavlin lalu bergegas pergi meninggalkan Herman, Herman masih berdiri di depan pintu sel tahanan, dia terlihat sedang memikirkan perkataan Gavlin tadi sambil mengamati botol yang ada ditangannya.
__ADS_1