VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Sakit Hati


__ADS_3

   Diruang kerja yang  luas dan mewah, di kantor perusahaan milik Bramantio, terlihat Bramantio sedang membaca majalah bisnis.


Didalamnya ada artikel yang memuat tentang tragedi pada saat acara peresmian hotel Hera miliknya.


Terlihat raut wajahnya menunjukkan bahwa saat ini dia sedang berfikir keras, mengapa bisa terjadi pembunuhan ditengah tengah acara itu.


Dalam artikel di majalah tersebut ada photo mayat Guntur yang mati mengenaskan.


Tubuhnya jatuh dan menghancurkan patung Hera yang menjadi simbol kekayaan Bramantio sebagai pejabat dan pengusaha sukses.


Seorang pria mengetuk pintu ruang kerja Bramantio.


"Masuk." Ujar Bramantio cuek.


Dia masih serius membaca isi artikel yang menulis tentang semua yang terjadi di hotelnya.


Bramantio membaca artikel itu lagi, walaupun beberapa hari yang lalu dia sudah membacanya, karena dirinya masih penasaran dengan kejadian dihotelnya.


Seorang pria masuk lalu berjalan mendekati Bramantio yang duduk di kursinya. Bramantio menatap wajah orang yang berdiri disamping meja kerjanya.


"Bagaimana ? Ada hasilnya ?" Tanya Bramantio.


"Maaf Pak, dari cctv yang sudah kami cek, tidak ada satupun ditemukan orang yang mencurigakan." Lapor Surya.


"Dan juga tidak ditemui jejak pelaku didalam hotel." Ujar Surya, Asisten Manager Bramantio.


"Hanya saja, pada jam sepuluh malam sampai jam dua belas malam cctv dalam keadaan mati semua." Ujar Surya.


"Itu artinya, orang yang membunuh Guntur sengaja melakukannya, dia sudah membaca dan mempelajari situasi sebelumnya." Ujar Bramantio berfikir.


"Tapi apa tujuannya membunuh dan membuang mayat Guntur di hotelku, tepat saat persemian berlangsung?!" Ujarnya lagi dengan wajah geram.


Surya, Asisten Manager Bramantio hanya diam berdiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Pokoknya saya tidak mau tahu ! Kamu cari sampai ketemu, siapa pelakunya, kerahkan semua orang untuk mencari!" Perintah Bramantio.


"Tugaskan Samsul dan anak buahnya untuk mencari pelaku itu!" Ujar Bramantio menatap wajah Surya, terlihat dia menahan amarahnya.


"Baik Pak, akan saya kerjakan. Permisi." Ujar Surya.


Surya, Asisten Manager Bramantio lalu pamit keluar dari ruang kerja meninggalkan Bramantio yang lantas melanjutkan membaca artikel dimajalah bisnis.


Bramantio membaca nama penulis artikel, ada nama Maya tertulis di situ sebagai penulis artikel yang berisi tentang kejadian di hotel miliknya.


Dengan kesal Bramantio lalu membalik lembar halaman majalah.


Lalu matanya tertuju pada sebuah artikel yang memuat tentang acara pameran terbuka patung lilin yang di gelar di taman kota.


Bramantio mengamati photo photo kegiatan pameran, dia melihat dan memperhatikan patung patung lilin yang ada pada artikel tersebut.


Bramantio membaca judul artikel yang menulis nama Yanto, si pembuat patung lilin yang menggelar pameran tersebut.


Bramantio terlihat wajahnya kagum dengan photo patung lilin dalam artikel, dia lantas membaca artikel tersebut.


Tertulis dalam artikel, bahwa si penulis bernama Maya, penulis yang sama dengan yang menulis artikel tentang peresmian hotelnya.


Bramantio diam berfikir, lalu kemudian, dia mengangkat telepon yang tergeletak di meja kerjanya.


"Tolong keruangan saya segera." Ujarnya bicara di telepon, lalu dia menutup teleponnya kembali.


Tak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu lalu masuk seorang gadis kedalam ruang kerja dan berjalan mendekati Bramantio.


"Ada yang bisa saya kerjakan pak? Tanya Sekretaris pada Bramantio.


"Tolong hubungi redaksi majalah bisnis ini." Perintah Bramantio.


"Kamu tanyakan, mana karyawati yang bernama Maya, setelah itu, kamu tanyakan pada Maya tentang orang yang membuat patung lilin." Ujar Bramantio.


"Seniman pematung yang baru baru ini menggelar pameran patung lilin di taman kota dan diliputnya." Ujar Bramantio.


Bramantio menunjuk majalah bisnis yang ada diatas mejanya, sekretaris melihat nama majalah bisnis tersebut dan mengangguk.


"Baik Pak." Ujar Sekretaris.


"Tanyakan pada Maya itu, info tentang pematung , dapatkan nomor teleponnya." Perintah Bramantio.


"Lalu segera kamu hubungi dia, dan suruh datang menemui saya." Ujar Bramantio lagi.


"Baik Pak." Ujar Sekretaris mengangguk, lalu pamit pergi keluar dari ruang kerja Bramantio.


Bramantio diam berfikir di kursinya, matanya memandang patung lilin dalam artikel dengan tatapan yang penuh kekaguman.


Di hari lainnya, terlihat Yanto didalam ruangan rumahnya sedang menerima telepon.


"Iya benar, saya sendiri, bagaimana mbak?" Ujar Yanto bicara di telepon, dia mendengarkan seorang wanita yang menelponnya.


"Pimpinan saya, Pak Bramantio ingin bertemu anda, Bapak bisa datang ke hotel Hera siang ini ? Nanti saya kasih alamatnya." Ujar Sekretaris dari seberang telepon.


"Baik, saya datang jam satu siang nanti." Jawab Yanto di telepon.


Yanto lalu mendengarkan suara sekretaris bicara memberikan alamat dari telepon kepada Yanto.


Setelah itu Yanto menutup teleponnya, dia diam berdiri dan tercenung ditempatnya.


   Ditempat lain, siang itu, terlihat Gavlin berdiri di balik tiang listrik yang ada dipinggir trotoar jalan, matanya menatap jauh ke depan, pada sebuah rumah.


Saat dia melihat sosok Pria separuh baya yang sebelumnya dia ikuti keluar dari dalam rumah, mata Gavlin terbuka lebar menatap tajam.


Lalu dia hendak melangkah kearah Pria separuh baya, namun langkahnya terhenti saat dia baru melangkah 2 langkah ke depan.


Gavlin melihat seorang wanita berusia 40 tahun turun dari atas motor ojek bersama seorang anak gadis berusia 6 tahun.

__ADS_1


Gavlin kembali ketempat persembunyiannya, dia mengamati dari tempat persembunyiannya.


Setelah membayar ongkos ojek dan motor pergi, wanita itu melangkah ke arah rumah.


Anak gadis kecil berlari ke arah Pria separuh baya yang berjalan keluar, ke arah mereka yang baru saja pulang.


"Bapaaakkk..." Ucap anak gadis kecil berusia 6 tahun pada Pria separuh baya sambil berlari dan menubruk tubuh pria separuh baya yang ternyata bapaknya.


"Anak kesayangan bapak udah pulaang." Ujar Pria separuh baya menggendong anak gadis kecil itu.


Pria separuh baya itu mengecup pipi anaknya dengan penuh kasih sayang, wanita yang bersama anak gadis kecil mendekatinya.


"Kok lama belanjanya bu ?" Tanya Pria separuh baya pada istrinya.


"Tadi mampir dulu ke apotik, beli obat asma buat shasy." Ujar Lastri, nama wanita, istri pria separuh baya.


Pria separuh baya melihat kantong plastik belanjaan Lastri, lalu dia menatap wajah anaknya yang berada dalam gendongannya.


"Maafin Bapak belum ada duit buat bawa Shasy berobat kerumah sakit bu." Ujar Pria separuh baya.


"Tidak apa Pak, Sakitnya gak kambuh kok kalo dia rutin minum obatnya." Ujar Lastri tersenyum. Pria separuh baya mengangguk.


"Shasy dibeliin ibu apa dipasar tadi?" Tanya Pria separuh baya pada anak gadis kecil yang digendongnya.


"Es krim pak, maem soto sama ibu, enak." Ujar Shasy, nama anak gadis kecil itu.


Pria separuh baya tersenyum dan mengecup pipi anaknya mesra, Lastri tersenyum.


"Shasy turun ya, Bapak mau kerja." Ujar Lastri pada anaknya, Shasy mengangguk.


Pria separuh baya menurunkan Shasy dari gendongannya. dia berdiri disamping ibunya.


"Bapak berangkat dulu ya Shasy, bu." Ujar pria separuh baya pada istri dan anaknya.


"Iya, Hati hati Pak." Ujar istrinya.


Pria separuh baya mengangguk dan tersenyum, dia mengelus kepala anaknya, lalu melangkah pergi meninggalkan Lastri dan Shasy.


Setelah Pria separuh baya menghilang dari pandangannya, Lastri segera mengajak anaknya masuk ke dalam rumah.


Gavlin masih terus mengamati dari tempat persembunyian, dia melihat Pria separuh baya melangkah berjalan menjauh dari rumahnya, menyusuri trotoar jalanan.


Gavlin mengikutinya, dari seberang jalan, Gavlin berjalan di trotoar jalanan mengikuti pria separuh baya yang berjalan di trotoar sebrang jalan di sisi lainnya.


Gavlin terus berjalan mengikuti , dia ingin tahu kemana pria separuh baya itu pergi.


Pria separuh baya berbelok ke kanan jalan, melihat itu Gavlin segera menyebrang jalan.


Kemudian, dia berlari lari kecil untuk mengejar Pria separuh baya yang berjalan menjauh darinya.


Saat Gavlin hendak berjalan belok ke kanan jalan tempat Pria separuh baya berbelok, ponselnya berbunyi, langkahnya terhenti.


Gavlin lalu cepat mengambil ponselnya dan menerima panggilan di ponselnya.


Terdengar suara Bramantio kesal dan tegas pada Gavlin yang menerima teleponnya.


"Baik Pak, saya segera ke kantor." Ujar Gavlin, dia lalu mematikan ponsel dan memasukkannya ke kantong celana.


Gavlin melihat ke arah jalanan, sudah tidak terlihat keberadaan Pria separuh baya, karena menerima panggilan telepon dari Bramantio.


Gavlin kehilangan Pria separuh baya, dia tidak tahu kemana selanjutnya pria separuh baya pergi.


Gavlin menarik nafas, lalu dia segera berbalik, berlari kecil menyebrang jalan menyusuri trotoar.


Dia kembali ke tempat dimana dia memarkirkan mobilnya saat sedang mengintai pria separuh baya.


Gavlin tiba di tempat parkir mobilnya yang berada dihalaman depan Mini Market.


Gavlin segera membuka pintu mobil, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin lalu cepat dia menjalankan mobilnya, pergi dari tempat parkir mini market. 


Gavlin menyetir mobilnya menyusuri jalan raya dengan kecepatan tinggi, wajahnya sedikit kesal karena dia gagal mengikuti pria separuh baya.


Dia sengaja mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati mobil mobil dan motor motor yang ada dijalan raya.


Dia ingin cepat tiba di kantor agar Bramantio tidak lama menunggu kedatangannya.


   Di halaman kantor perusahaan milik Bramantio, terlihat Bramantio berdiri menunggu, dia di temani Surya, Asisten Managernya.


Wajah Bramantio terlihat kesal karena harus berdiri menunggu lama.


Tak berapa lama datang mobil Gavlin, dan berhenti tepat di depan Bramantio, Gavlin cepat turun dari mobilnya, membuka pintu belakang mobil.


"Kemana saja kamu, masih jam kerja udah kelayapan gak jelas !" Tegur Bramantio membentak Gavlin.


"Maaf Pak, saya tadi ke dokter, cek kondisi saya, karena lambung saya sakit." Ujar Gavlin berbohong pada Bramantio yang menatapnya kesal.


"Ya sudah cepat , lain kali kamu jangan buat saya menunggu seperti ini ! Sekali lagi kamu lakukan, pergi tanpa izin, saya pecat kamu !" Bentak Bramantio.


Bramantio menatap tajam wajah Gavlin dengan marah, Gavlin hanya mengangguk , Bramantio lalu cepat masuk ke dalam mobil.


Surya segera menutup pintu mobil setelah Bramantio duduk di jok belakang mobil.


Gavlin mengangguk memberi hormat pada Asisten Manager yang berdiri dihalaman depan kantor dekat mobil.


Surya mengangguk pada Gavlin, lalu Gavlin cepat masuk ke dalam mobil, kemudian cepat menyetir mobil, pergi meninggalkan Surya yang berdiri.


Setelah kepergian Bramantio, Surya segera berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam kantor.


"Maaf Pak, kita mau kemana ?" Tanya Gavlin sambil menyetir mobil.


Matanya melirik ke arah Bramantio yang duduk di jok belakang, dia melihat dari kaca spion depan mobil.

__ADS_1


"Ke hotel saya." Jawab Bramantio singkat, dia masih kesal dengan Gavlin karena membuatnya menunggu lama.


"Baik pak." Jawab Gavlin lalu menginjak gas mobil, menambah kecepatan mobil agar bisa sampai ke hotel milik Bramantio secepatnya.


Dari air mukanya terlihat, Gavlin saat itu menunjukkan kekesalannya pada Bramantio karena telah membentak dan menegurnya di depan Surya.


Di dalam dirinya dia tak bisa menerima perlakuan Bramantio yang menegurnya di depan umum.


Gavlin menyetir dengan kecepatan tinggi, menyalip mobil mobil yang ada dijalanan itu.


"Hati hati bawa mobilnya." Tegur Bramantio.


Gavlin hanya mengangguk, dia terus menyetir tanpa mengurangi kecepatan laju mobil.


Saat di perempatan jalan, Gavlin melihat lampu lalu lintas masih berwarna hijau.


Gavlin menginjak gas, menambah kecepatan, dia ingin mendahului sebelum lampu lalu lintas berganti merah.


Tiba tiba melintas sebuah mobil dari arah lain dijalanan itu dengan ngebut.


Cepat Gavlin membanting stir mobilnya, menghindari mobil yang muncul dari arah lain.


Dia kaget tak menyangka lampu lalu lintas berubah merah dan dia telah menerobos lampu merah.


Sehingga hampir saja tabrakan dengan mobil yang melaju karena dari arahnya sudah lampu hijau.


Gavlin dengan cepat membanting stir, dia berhasil menghindar dari tabrakan.


Di jok belakang, dalam mobil Bramantio terpental kaget, dia memegang pintu mobil.


"Kalo mau mati jangan bawa saya ! Otakmu gak kamu pake ya !!" Bentak Bramantio marah karena hampir saja dirinya celaka karena tabrakan mobil.


"Maaf Pak, saya kira lampunya masih hijau, saya cuma ingin agar bapak gak telat sampe ke hotel." Ujar Gavlin sambil menyetir melirik dari kaca spion depan mobilnya.


"Gila kamu ! Kalo bawa mobil dengan cara begini terus, kamu akan mengantarkan saya ke kuburan !!" Bentak Bramantio marah. 


"Maaf Pak." Ujar Gavlin lagi sambil masih menyetir mobilnya.


   Di ruang kerja Gatot, di kantor kepolisian Bareskrim, terlihat Teguh sedang menghadap Gatot memberi laporan.


"Dari keterangan Kepala Desa saat saya mintai keterangan, beliau mengatakan, sebelum terjadinya pembunuhan, ada laporan dari warga warga." Lapor Teguh.


"Tentang apa?" Tanya Gatot.


"Laporan yang mengatakan, bahwa kampung Rawas di teror bermacam macam hantu yang muncul Komandan." Ujar Teguh.


"Teror hantu ?" Ujar Gatot, dia berfikir.


"Mana mungkin, saya tidak percaya." Ujar Gatot.


"Iya Komandan, menurut Kepala Desa, sering muncul hantu seperti kuntilanak yang melayang di sekitar kampung, bola api yang terbang berputar." Ujar Teguh.


"Selain itu, juga ada hantu kepala buntung." Ujar Teguh.


"Kemunculan hantu hantu itu yang membuat seluruh warga takut keluar rumah dan memilih bersembunyi didalam rumah masing masing." Ujar Teguh.


Teguh memberi penjelasan pada Gatot. Gatot diam mendengarkan sambil berfikir.


"Saya gak percaya, saya gak yakin itu hantu beneran." Ujar Gatot.


"Ini pasti ada orang yang sengaja membuat seolah ada hantu gentayangan." Ujarnya.


"Maksud Bapak?" Tanya Teguh.


"Iya semua itu sengaja dibuat untuk meneror dan menebar ketakutan pada warga warga kampung Rawas." Ujar Gatot.


"Kemunculan hantu hantu itu pasti ada hubungannya dengan pelaku pembantaian massal kampung Rawas." Ujar Gatot.


"Cepat kamu cari tahu semua tentang hantu hantu itu, dapatkan bukti bukti di sekitar kampung Rawas." Ujar Gatot memberikan perintah pada Teguh.


"Siap, Laksanakan Komandan !" Ujar Teguh memberi hormat pada Gatot.


Teguh lantas pergi meninggalkan Gatot yang melihat lembaran berkas laporan kasus pembantaian massal.


Wajahnya terlihat sedang berfikir keras, dia ingin segera bisa mengungkap misteri pembunuhan yang terjadi di kampung Rawas baru baru ini.


   Mobil Gavlin tiba di hotel Hera, hotel milik Bramantio, setelah mobil berhenti, Gavlin cepat keluar dari dalam mobil.


Dia membuka pintu belakang mobil, Bramantio turun dan keluar dari dalam mobil.


Wajah Bramantio terlihat marah, saat diluar mobil, dia berdiri tepat didepan Gavlin yang tertunduk diam. Bramantio menatap tajam Gavlin.


"Gajimu saya potong bulan ini karena sudah membuat syock saya tadi !" Ujar Bramantio dengan mata melotot, dia geram menatap wajah Gavlin.


"Saya minta maaf Pak." Ujar Gavlin dengan tertunduk, Bramantio dengan kesal segera berjalan meninggalkan Gavlin.


Gavlin lantas menutup pintu belakang mobil, lalu Gavlin berbalik dan memandang pada Bramantio yang berjalan masuk ke dalam hotel megah miliknya.


Para Petugas Keamanan yang berdiri berjaga di pintu masuk Hotel memberi hormat, menyambut kedatangan Bramantio ke hotelnya.


Gavlin terus memandang Bramantio hingga pandangannya tidak lagi melihat Bramantio yang sudah masuk ke dalam hotelnya.


Dari raut wajahnya terlihat, Gavlin menahan amarahnya pada Bramantio.


Dia menatap tajam ke arah hotel, dimana Bramantio tadi masuk, bibirnya menyeringai, dia geram karena dibentak dan dimarahi sepanjang jalan oleh Bramantio.


Dirinya tidak bisa diperlakukan seperti itu. Ada sesuatu hal yang jauh tersimpan didalam dirinya, tatapan mata yang tajam penuh amarah terlihat saat ini.


Gavlin lantas berbalik dan masuk kembali kedalam mobilnya, menyalakan mesin mobil yang tadi di matikannya saat menurunkan Bramantio.


Lalu dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mobil melaju masuk ke area parkiran hotel yang berada di bagian samping hotel.

__ADS_1


Gavlin menyetir dalam keadaan menahan marah, membawa masuk mobil ke lokasi parkiran hotel Hera milik Bramantio yang megah dan mewah.


__ADS_2