
Gunadi hendak beranjak dari atas ranjang, tanpa sengaja dia menyentuh badan istrinya yang terbaring disampingnya dengan tak bernyawa. Gunadi melihat istrinya, mata istrinya terbelalak lebar melotot, dan mulutnya terbuka, menganga lebar. Gunadi pun kaget.
"Maaaa...!! Kamu kenapaa?!! Maaa...!!" teriak Gunadi panik.
Gunadi mengguncang guncang kuat tubuh istrinya, agar terbangun, namun, istrinya tidak bergerak sama sekali, tubuhnya diam dan kaku.
Gunadi semakin panik, dia pun menyadari, jika istrinya telah mati dibunuh Gavlin, dengan wajah penuh amarah, Gunadi menoleh pada Gavlin yang berdiri di samping ranjang, di dekatnya.
"Biaaadaaaaabbbb !!" teriak Gunadi marah.
Dengan kalap dan marah karena istrinya mati, Gunadi mengamuk, dengan cepat dia melompat dan menerjang Gavlin.
Dengan sigap, Gavlin menghindar, lalu, dengan sikap dingin, Gavlin langsung secepat kilat menghujamkan pisau belati yang ada ditangannya keperut Gunadi.
Gunadi pun terbelalak kaget, Gavlin menghujamkan kembali pisau belati keperut Gunadi hingga tiga kali.
Gunadi diam tak bergerak, lalu, tangannya memegang perutnya yang terluka parah dan mengeluarkan darah segar.
Gunadi geram, menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri dihadapannya dengan sikap dinginnya dan tenang.
"Kee...paaa...raaatt!!" teriak Gunadi, sambil meringis menahan perih dan sakit diperutnya.
Lalu, Gunadi pun terkapar di atas kasur, bersimbah darah, Gavlin menatap dingin tubuh Gunadi yang sudah mati, terkapar diatas kasur dengan berlumuran darah.
Gavlin tersenyum puas, dia lantas menyeringai jahat, wajahnya tampak sangat menyeramkan.
Lalu, dengan sikap dinginnya, Gavlin menyeret tubuh Gunadi yang sudah tak bernyawa dari atas kasurnya.
Tubuh Gunadi terjatuh, terjerembab di lantai kamar, Gavlin lalu menyeret tubuh Gunadi yang telah menjadi mayat, dia membawanya pergi keluar dari dalam kamar.
Darah terlihat berlumuran di lantai, membentuk garis, darah itu berceceran dilantai kamar, saat Gavlin menyeret tubuh Gunadi keluar kamar.
Saat di luar rumah Gunadi yang gelap, Gavlin meletakkan mayat Gunadi di tanah, lalu, dia beranjak pergi meninggalkan mayat Gunadi.
Gavlin mengambil tombak besi dari dalam garasi mobilnya, lalu, dia segera kembali menghampiri mayat Gunadi.
Dengan tatapan mata yang dingin dan wajah geram dan sadis, Gavlin berjongkok di hadapan mayat Gunadi, lalu, dengan cepat, Gavlin menghujamkan batang tombak besi runcing ke leher Gunadi yang sudah mati.
Lalu, tombak besi yang tajam pun menembus leher Gunadi, dari kanan ke kiri lehernya. Gavlin lantas berdiri, dia kemudian menyeret mayat Gunadi kembali, lalu membawanya pergi ke mobilnya.
---
Di pagi hari, suasana kantor Polsek kepolisian geger, para petugas kepolisian yang baru datang ke kantor untuk bekerja tampak kaget histeris, dan ada juga yang panik.
Mereka melihat, di atas tiang bendera, di tengah halaman kantor Polsek, tergantung tubuh Gunadi dengan posisi tersalib.
Para petugas polisi ramai berdiri di tengah halaman kantor Polsek, mereka melihat ke atas tiang. Dimana, leher Gunadi tertancap tombak logam, lalu posisinya dengan posisi orang di salib di atas tiang bendera.
Kedua tangan Gunadi terentang lebar kiri dan kanan, terpaku dengan balok kayu yang mengikat kuat di tiang bendera tersebut, dengan posisi kedua kaki menyilang, seperti orang tersalib.
Tubuh Gunadi di salib dan diletakkan diatas tiang bendera, dengan cara mengikat tubuh dan balok kayu di tubuh Gunadi dengan rantai. Lalu, Layaknya seperti memasang bendera.
Gavlin mengerek mayat Gunadi yang sudah dia ikatkan dengan rantai ketiang bendera tersebut, lalu menariknya keatas dan mengikatnya.
__ADS_1
Para tim kepolisian tampak berbondong bondong datang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka sama sekali tak menyangka, jika mereka menemukan mayat Gunadi tergantung di tiang bendera.
Gavlin benar benar nekat, saat tengah malam buta, tanpa diketahui para polisi di kantor Polsek yang memang tidak seramai dan sebanyak kantor kepolisian pusat yang hancur, Gavlin menggantung mayat Gunadi di tengah tengah halaman kantor Polsek.
Gavlin sengaja melakukan hal itu, sebagai peringatan untuk Sutoyo, yang sudah membunuh orang tuanya beserta Teguh, dan melenyapkan semua barang bukti.
Tiba tiba, seorang Polisi Wanita berteriak histeris, karena dia menemukan mayat istri Gunadi tergeletak di sudut teras halaman kantor Polsek.
Para Petugas kepolisian pun mendatangi Polisi wanita yang berteriak, mereka lantas kaget, melihat mayat istri Gunadi yang sudah kaku, tergeletak disudut teras halaman kantor Polsek.
Mobil Sutoyo datang dan masuk ke halaman kantor Polsek, Sutoyo yang duduk di jok belakang, karena mobilnya di stir oleh supir pribadinya heran melihat para petugas kepolisian ramai berdiri di halaman kantor Polsek.
"Berhenti, biar saya turun di sini." Perintah Sutoyo pada supirnya.
Supir pribadi Sutoyo lantas menghentikan mobilnya, Sutoyo pun bergegas keluar dari dalam mobilnya. Supir diam menunggu di dalam mobil.
Dengan langkah kaki yang cepat, Sutoyo menghampiri para petugas kepolisian yang berkerumun di tengah halaman kantor Polsek, di dekat tiang bendera.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?!" tanya Sutoyo heran.
Sutoyo bertanya kepada salah satu petugas polisi yang berdiri di dekatnya. Melihat kedatangan Sutoyo, petugas polisi memberi hormat.
"Penemuan Mayat, Pak. Mayat tersalib diatas tiang bendera." jelas Petugas Kepolisian.
Sutoyo terhenyak kaget, dia segera melihat pada tiang bendera yang di tunjuk petugas polisi, kepalanya tengadah, terangkat ke atas.
Wajah Sutoyo berubah pucat dan kaget, matanya terbelalak lebar, saat melihat, di atas tiang bendera, tubuh Gunadi tersalib dan tergantung dengan berlumuran darah, sudah tak bernyawa.
"Gunaaadiii!!" teriak Sutoyo syock.
"Bedeeeebaaaah !! Bangkkkeee buuusssuuukkk !! Aku akan melenyapkanmuuuu Yantooo!!" teriak Sutoyo mengamuk marah.
Para Petugas Polisi yang ada di sekitar halaman kantor Polsek terperanjat kaget mendengar teriakan marah Sutoyo, mereka semua pun terdiam.
"Cepat turunkan mayat Gunadi !! Dan kalian semuaaa !! Aku perintahkan !! Cari pelakunya !! Tangkap, dan bunuh di tempat bila dia melawaan !!" Bentak Sutoyo berteriak marah.
Lalu, Sutoyo beranjak dari tempatnya, dengan wajah yang sangat marah, dia melangkah ke arah kantor Polsek.
Saat Sutoyo sampai di teras halaman kantor Polsek, kembali dia terperanjat kaget, karena melihat mayat seorang wanita ada di sudut teras.
"Mayat siapa lagi itu?!" bentak Sutoyo marah.
"Kami belum tau, Pak." jawab Polisi Wanita.
Sutoyo lalu mendekati mayat tersebut, dan dia berdiri diantara para petugas polisi yang tengah berkerumun di dekat mayat wanita itu.
"Biiiadaaaab !! Ini istri Gunaadii!! Dia juga di bunuh keparaaat itu!!" Teriak Sutoyo marah.
Sutoyo kenal dengan istri Gunadi, sebab, beberapa kali, dia bertemu istri Gunadi, di berbagai acara, dan juga saat Gunadi membawa istrinya datang kerumahnya.
"cepat amankan mayatnya, selidiki, siapa yang meletakkan mayatnya disini!! Cari sampai dapat pelakunya, saya gak mau ada alasan apapun juga!!" Bentak Sutoyo, penuh amarah, memberi perintah.
"Baik, Pak." Angguk Polisi Wanita.
__ADS_1
Lalu, dengan wajah penuh amarah membara, Sutoyo masuk ke dalam kantor Polsek, Petugas Polisi Wanita pun menghubungi tim para medis dan tim Forensik untuk datang ke lokasi penemuan mayat.
Beberapa menit kemudian, datang tim Forensik menghampiri tiang bendera.
Tampak beberapa petugas kepolisian, bersama sama menurunkan mayat Gunadi dari atas tiang bendera.
Setelah berhasil di turunkan, mayat Gunadi lantas di letakkan di atas tanah, Tim Forensik bergerak cepat, mereka pun menangani mayat Gunadi, mulai mencari bukti bukti kematian Gunadi.
Sementara, Tim Forensik lainnya sedang meneliti mayat istri Gunadi yang tergeletak di sudut teras halaman kantor Polsek.
Beberapa saat kemudian, datang mobil ambulance, dengan gerak cepat dan sigap, petugas Medis keluar dari dalam mobil, dan mereka mengambil brankar dorong dari belakang mobil ambulance.
Lalu, dengan cepat, petugas Medis menghampiri mayat Gunadi yang tergeletak di tanah, dan tengah di periksa oleh tim ahli Forensik.
Di dalam ruang kerjanya, Sutoyo tampak mengamuk marah, dia membuang semua barang barang yang ada di atas meja kerjanya.
"Kepaaaraaaatttt !!! Siiiiaaaalllaaaan!!" teriaknya, mengamuk kalap.
"Bodoooh, booooddoooh!!" Aku udah ingatkan, agar berhati hati!! Kamu masih juga lengah Gunadiii!!" teriaknya, melampiaskan amarahnya.
Dia tak menyangka sama sekali, dua orang kepercayaannya selama ini, Gunadi dan Rasid, telah mati terbunuh. Dan dia tahu, mereka berdua mati dibunuh Yanto, anaknya Sanusi.
"Kamu harus mati Yantooo !! Haruuuss matiiii!!" teriak Sutoyo, mengamuk kesetanan.
Di luar kantor Polsek, di halaman kantor, tampak mayat Istri Gunadi dibawa oleh petugas medis dengan menggunakan tandu.
Petugas Medis segera membawa masuk mayat istri Gunadi ke dalam ambulance, lalu, petugas medis cepat masuk ke dalam mobil, kemudian, mobil ambulance pun pergi dari tempat itu.
Sementara, tim Forensik baru saja selesai meneliti kematian Gunadi, mereka lantas berdiri, dan meminta petugas medis untuk membawa mayat Gunadi.
Petugas Medis pun lantas menggotong mayat Gunadi, dan meletakkannya di atas brankar dorong, lalu, mereka membawa mayat Gunadi, dan di masukkan kedalam mobil ambulance.
Beberapa saat kemudian, setelah tim medis masuk ke dalam mobil, mobil ambulance pun segera pergi meninggalkan kantor Polsek.
Lalu, para petugas kepolisian membubarkan diri masing masing, begitu juga tim Forensik, mereka kembali keruangan kerja, untuk segera menyelidiki kematian Gunadi.
Ponsel Sutoyo berbunyi, Sutoyo yang duduk di kursi kerjanya dengan wajah yang masih marah kaget mendengar bunyi telepon.
Dengan cepat, Sutoyo mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Dia melihat nama Rasid sebagai si penelpon. Dia tahu, kalau yang menelponnya Yanto, anak Sanusi, dan bukan Rasid.
Dengan wajah penuh amarah membara, Sutoyo langsung menerima panggilan telepon tersebut.
"Mau apa kamu keparaaat !!" bentak Sutoyo marah, ditelepon.
"Bagaimana Sutoyo, suka dengan hadiahku di halaman kantormu?!" tanya Gavlin, dengan dingin, di seberang telepon.
"Aku akan membuunuuuhmu Yantooo!!! Jangan coba melawanku!! Kamu pasti mati ditanganku!! Kamu akan mati dan bertemu dengan bapakmu di nerakaaa!!" teriak Sutoyo mengamuk marah, ditelepon.
Sutoyo lantas mematikan ponselnya, diletakkannya ponselnya ke atas meja kerjanya, dia tampak geram dan marah.
Sementara, di pinggir jalan, Gavlin yang duduk di dalam mobil sportnya tampak tersenyum sinis, dia lantas melepaskan simcard milik Rasid.
__ADS_1
Gavlin mematahkan simcard tersebut, lalu, dibuangnya simcard tersebut. Dengan sikap dingin dan menyeringai jahat, Gavlin lantas menjalankan mobilnya. Dia pergi meninggalkan tempat itu.