VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Apa Dia Masih Hidup ?


__ADS_3

Para petugas penyidik kepolisian dan tim petugas paramedis tampak berada di sekitar pinggir sungai.


Penyelam dari kepolisian di tugaskan untuk mencari tubuh Gavlin yang terjatuh ke dalam sungai yang airnya mengalir deras itu.


Para penyelam masuk ke dalam air sungai untuk mencari tubuh Gavlin, mereka menyelam hingga ke dasar sungai, mencari cari tubuh Gavlin.


Sementara gatot terlihat berdiri dipinggir sungai, diantara para penyidik kepolisian yang berjaga jaga di sekitar pinggir sungai.


Tak berapa lama, para penyelam muncul ke dasar permukaan air, lalu, mereka keluar dari dalam sungai. Gatot segera menghampiri para penyelam.


"Bagaimana ?" tanya Gatot, dengan wajah cemasnya.


"Gak ketemu, mungkin tubuhnya sudah terseret arus air sungai yang deras ke tempat lain." ujar salah seorang penyelam dari kepolisian pada Gatot.


Mendengar perkataan Penyelam kepolisian , Gatot lantas menghela nafasnya dengan berat, wajahnya tampak semakin cemas, sebab, tubuh Gavlin tidak ditemukan di dalam sungai, padahal Gatot tahu, Gavlin terjatuh dan masuk ke dalam air sungai di bawah jembatan layang.


"Dimana kamu Gavlin? Kamu masih hidup atau sudah mati?!" Bathin Gatot bicara pada dirinya sendiri.


Wajah Gatot cemas dan sedih, ada rasa penyesalan dalam dirinya, karena dia membiarkan anak buahnya menembak Gavlin.


"Kita harus terus mencari tubuhnya, jika di sudah mati, temukan mayatnya !" ujar Gatot, memberi perintah.


"Baik, Pak. Kami akan mencoba menyusuri setiap aliran air sungai, kami akan terus mencarinya!" ujar salah seorang penyidik kepolisian.


"Ya. Kabari saya, jika kalian sudah menemukannya!" jelas Gatot dengan wajahnya yang serius.


"Baik, Pak." jawab Petugas Penyidik Kepolisian.


Gatot lantas berjalan pergi meninggalkan para petugas penyidik kepolisian yang berada di pinggir sungai.


Gatot masuk ke dalam mobilnya, lalu, dia pun segera pergi dari lokasi tempat terjatuhnya gavlin.Gatot mengendarai mobilnya dengan wajah yang sedih dan rasa menyesal.


"Maafkan aku Gavlin." Bathin Gatot bicara lirih.


Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia terus menyetir mobilnya, mobil melaju di jalanan, pergi menjauh dari lokasi sungai.


Sementara, para petugas penyidik kepolisian masih terus mencari keberadaan Gavlin.


---


Di dalam sel tahanan kepolisian, tampak Jafar terduduk di rusbang yang ada dalam tahanannya. Wajahnya terlihat bengkak bengkak dan lebam, akibat dihajar dan di pukuli Gavlin.


Dadanya yang terluka terkena pisau belati Gavlin sudah di balut perban, begitu juga dengan luka luka lecet di lengan tangannya.


Pihak kepolisian mengobati luka luka Jafar sebelum dia di jebloskan kedalam penjara. Jafar tampak duduk diam dan tercenung, dia tengah memikirkan nasibnya, yang sudah tertangkap Polisi.


Di satu sisi tampak Jafar senang, karena Gavlin di tembak polisi dan terjatuh ke sungai, Jafar berfikir, Gavlin pasti sudah mati, dan itu artinya, Gavlin tak akan membunuhnya, untuk membalaskan dendamnya.


Gatot masuk dan mendekati sel tahanan, Gatot berdiri di depan pintu sel tahanan, dia melihat Jafar yang duduk di rusbang/tempat tidur .


"Kamu akan segera berakhir di kursi listrik Jafar!" ujar Gatot dengan geram menatap Jafar.


Jafar diam dan tetap duduk ditempatnya, dia menatap wajah Gatot yang berdiri diluar, depan pintu sel tahanannya. Wajah Jafar tersenyum sinis pada Gatot.


"Jangan mimpi Gatot ! Aku gak akan lama di dalam sini, teman temanku akan segera membebaskanku, jika mereka tau, kamu menjebloskanku dalam penjara!" ujar Jafar dengan sinis.


Gatot geram dan menahan amarahnya pada Jafar, dia menatap tajam pada Jafar, Gatot tampak dendam pada Jafar, dia tahu, siapa teman yang dimaksud Jafar akan membebaskannya.

__ADS_1


Ya, Herman dan Komplotannya yang dimaksud Jafar akan membantunya keluar dari tahanan, dan Gatot pun berkeras, untuk menghalangi dan mencegah Herman dan komplotannya melepaskan Jafar.


"Aku akan meringkus teman temanmu ! Kamu sudah tertangkap, dan persidangan kasusmu dulu akan segera dimulai, bersiaplah menerima hukuman matimu !!" ujar Gatot dengan geram.


Gatot lantas pergi meninggalkan Jafar, Jafar yang duduk di tepi rusbang/tempat tidurnya terkesiap kaget, karena Gatot mengatakan, akan menggelar sidang kasus pembunuhan yang dia lakukan 18 tahun lebih yang lalu.


Jafar pun tampak geram dan marah, dia memukulkan tangannya ke tembok penjara, melampiaskan kekesalannya.


---


Mobil Gatot berhenti di halaman Villa, tempat persembunyian dia dan Maya. Setelah mesin mobil mati, Gatot lantas keluar dari dalam mobilnya.


Gatot berjalan lesu dan tak bersemangat, dia masuk ke dalam villa. Gatot lantas menghempaskan tubuhnya di sofa, wajahnya terlihat murung dan sedih serta cemas, dia masih memikirkan nasib Gavlin.


Maya yang mendengar Ayahnya pulang keluar dari dalam kamar dan menghampiri Ayahnya yang duduk di sofa ruang tengah villa.


Maya berdiri di depan Ayahnya, Maya heran, melihat Ayahnya tengah melamun dengan raut wajah yang sedih.


"Ada apa Yah?" tanya Maya, dengan wajahnya yang heran.


"Ah, kamu, May." ujar Gatot, tersadar dari lamunannya.


Gatot lantas menghela nafasnya dengan berat, Maya kemudian duduk di sofa, di samping Ayahnya, Dia menatap lekat wajah Ayahnya.


"Ayah kenapa? Kok kayak kebingungan, cemas dan sedih Maya perhatikan?" ujar Maya dengan heran dan bertanya tanya.


"Ah, gak, gak ada apa apa ,May." ujar Gatot, sedikit gugup.


Maya semakin heran, karena dia melihat, Ayahnya seperti gugup dan tengah menyimpan sebuah rahasia dari dirinya.


Gatot berusaha menutupi kecemasan dan kesedihannya, dia tak ingin Maya tahu, apa yang telah terjadi pada Gavlin, Gatot tak ingin membuat Maya syock lalu bersedih, karena merasa kehilangan Gavlin.


"Katakan, Yah. Ada apa? Gak biasanya Ayah bersikap seperti ini!" jelas Maya.


"Kalo Ayah sedang seperti ini, pasti ada beban berat yang tengah Ayah rasakan, dan Maya ingin tau!" tegas Maya.


Gatot lantas menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dihembuskannya nafasnya keluar secara perlahan lahan, Gatot lalu berusaha menenangkan dirinya di hadapan Maya, yang tampak penasaran pada dirinya.


"Apa Ayah dapat masalah atau ancaman ?!" tanya Maya, dengan wajahnya yang cemas.


"Nggak, May. Gak ada yang mengancam Ayah." ujar Gatot, berusaha menenangkan diri Maya yang mulai cemas padanya.


"Ya lantas kenapa Yah? Ayah keliatan bingung, cemas dan sedih gitu, gimana Maya gak cemas?!" ujar Maya, sedikit jengkel.


"Maya nanya, tapi Ayah gak mau bilang ke Maya !" tegas Maya jengkel.


"Maya gak mau terjadi apa apa sama Ayah, karena Ayah gak jujur sama Maya, Ayah nanti kenapa kenapa, dan Maya gak pernah tau, apa yang udah terjadi sama Ayah!!" tegas Maya, melampiaskan kekesalannya pada Gatot.


Gatot kembali menghela nafasnya dengan berat, lalu, dia menoleh dan menatap wajah Maya, tatapan mata Gatot terlihat sendu, ada kesedihan dan penyesalan terpancar di raut wajahnya.


"Maafkan Ayah, May." ujar Gatot, lirih dan getir.


"Kok Ayah tiba tiba minta maaf ke Maya? Kenapa?!" ujar Maya semakin heran.


"Ayah bersalah." ujar Gatot lirih.


"Ayah salah apa sama Maya?!" ujar Maya bingung.

__ADS_1


"Ayah kenapa sih, Yah? Tolong, kalo ngomong yang jelas, jangan buat Maya semakin bingung!" tegas Maya, dengan wajahnya yang heran dan cemas.


Gatot terlihat ragu dan sangat berat untuk berkata jujur pada Maya, Gatot berat untuk mengatakan pada Maya, apa yang dia rasa saat ini, dan apa yang telah terjadi.


"Tolong, Yah. Jangan buat Maya takut dan cemas, karena sikap Ayah yang aneh seperti ini!" tegas Maya.


Maya menatap lekat wajah Gatot yang tampak bimbang dan cemas itu, Maya semakin resah dan cemas, melihat sikap aneh Ayahnya.


"Gavlin, May." ujar Gatot pelan dan getir.


"Kenapa Gavlin?! Ayah bertemu Gavlin? Ayah di ancam Gavlin?! Gavlin mau bunuh Ayah, iya kah?!!" ujar Maya, bertanya dengan wajah cemasnya.


"Bukan, May. Bukan itu." ujar Gatot lirih.


"Lantas apa Yah? Kenapa sih Ayah gak langsung bilang, agar Maya paham!!" jelas Maya dengan kesal dan cemasnya.


"Saat Ayah mengejar Jafar, pelaku pembunuhan yang menjadi buronan, Ayah ketemu Gavlin." ujar Gatot, mulai cerita.


"Terus?" tanya Maya penasaran.


"Singkatnya, Gavlin menangkap Jafar, dia mengancam akan membunuh Jafar di depan Ayah dan pasukan Ayah!" jelas Gatot.


"Lalu, anak buah Ayah..." Gatot menghentikan perkataannya.


Gatot ragu untuk melanjutkan ceritanya pada Maya, dan itu membuat Maya semakin heran serta penasaran.


"Terus apa, Yah? Kok Ayah gak lanjut cerita?!" tanya Maya kesal dan penasaran.


"Gavlin di tembak, May. Anak buah Ayah menembak Gavlin yang mau membunuh Jafar !" ujar Gatot, dengan lirih dan getir.


"Apa ?!! Terus Gavlin gimana keadaannya, Yah?!" tanya Maya.


Maya tampak kaget dan cemas, saat mendengar dari Ayahnya, bahwa Gavlin di tembak polisi saat menangkap Jafar.


"Gavlin yang tertembak jatuh ke sungai, yang ada di bawah jembatan layang sekitar jalanan Adi Sucipto!" jelas Gatot, dengan wajah sedih dan rasa menyesalnya.


"Apaaa?!!" Maya terhenyak kaget.


"Kenapa Ayah biarkan anak buah Ayah nembak Gavlin?!! Seharusnya mereka kan menunggu perintah Ayah?!!" ujar Maya, dengan kesal dan cemasnya.


"Apa Ayah yang perintahkan untuk nembak Gavlin ?!!" bentak Maya marah.


"Nggak May. Ayah gak beri perintah, Ayah justru kaget, karena tiba tiba pasukan Ayah langsung nembak Gavlin !! Mungkin karena mereka melihat, Gavlin mau mematahkan leher Jafar!!" tegas Gatot, dengan wajah serius menjelaskan.


Maya pun terhenyak, dia lantas terduduk lemas di sofanya, wajahnya tampak menahan kesedihan, dia pun cemas pada Gavlin.


"Ayah dan tim berusaha mencari tubuh Gavlin yang jatuh ke sungai, tapi, kami gak menemukan Gavlin." jelas Gatot dengan lirih dan getir.


"Masa gak ketemu, Yah? Kalo Gavlin jatuh ke sungai itu, pasti tubuhnya masih ada di dasar sungai!" tegas Maya.


"Sudah dicari sampai ke dasar sungai, May. Tapi tetap gak ada, sepertinya, tubuh Gavlin terseret dan terbawa arus sungai yang mengalir deras." ujar Gatot, menjelaskan pada Maya.


"Kemana perginya Gavlin? Dia masih hidup atau sudah mati, Yah?" tanya Maya, dengan wajah sedihnya.


"Entahlah, May, Ayah juga gak tau, Gavlin masih hidup atau sudah mati." ujar Gatot getir.


"Pasukan Ayah menembak Gavlin berkali kali, dengan kondisi yang tertembak banyak, sedikit kemungkinan Gavlin bisa bertahan hidup, May." ujar Gatot lirih dan getir.

__ADS_1


Mendengar perkataan Ayahnya, Maya pun langsung menangis sejadi jadinya, dia menangis sedih, Maya tampak sangat takut kehilangan Gavlin, Maya tak bisa membayangkan, jika Gavlin benar benar sudah mati.


Dia terus menangis, mencurahkan kesedihannya yang begitu besar atas menghilangnya dan tertembaknya Gavlin oleh para petugas kepolisian saat menangkap Jafar di lokasi jembatan layang.


__ADS_2