VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Tanda Tanya


__ADS_3

   Di pagi hari, Gavlin terbangun dari tidurnya, dia melihat Linda yang masih tertidur disampingnya dengan tangannya memeluk tubuh Gavlin.


Gavlin menatap wajah Linda yang berselimut dan tertidur, wajah lelah terlihat dari raut muka Linda.


Gavlin perlahan mengangkat tangan lindah yang memeluk tubuhnya.


Gavlin menggeser badannya, duduk ke pinggir ranjang, lantas beranjak dari ranjang.


Dia telanjang dada dan hanya memakai celana pendek, Gavlin lantas mengambil baju dan celana panjangnya yang tergeletak dilantai, bersama pakaian Linda.


Gavlin cepat memakai baju dan celananya, Linda membuka matanya, dia terbangun.


Dalam keadaan sedikit ngantuk dan lelah dia melihat Gavlin yang sedang berpakaian, Linda masih rebahan dikasur.


"Kamu mau kemana Vlin?" Ujar Linda bertanya dengan suara lemah.


"Kerja, ini udah pagi, aku harus cepat menjemput pak Bramantio." Ujar Gavlin.


Dia merapikan dirinya di cermin yang ada pada meja rias kamar. Linda lalu bangun dan duduk di kasur.


Linda memegang selimut yang menutupi tubuhnya yang tak memakai pakaian. 


"Masih terlalu pagi, aku masih kangen kamu, temani aku sebentar aja, ya." Ujar Linda memohon dengan memelas menatap lembut Gavlin.


"Gak bisa Lin, sorri, aku gak mau bosku ngamuk lagi karena aku telat menjemputnya kerja." Ujar Gavlin menatap Linda.


Linda lalu beranjak dari atas kasur, dia berdiri dan melangkah mendekati Gavlin.


Tangannya memegang selimut yang menutupi tubuhnya, Linda lantas memeluk tubuh Gavlin dari belakang, memeluknya erat.


Gavlin melepaskan tangan Linda yang melingkar dipinggangnya memeluknya.


Setelah tangan Linda terlepas dari pinggangnya, dia berbalik menatap wajah Linda dengan senyumannya.


"Masih ada waktu lain Lin, aku harus pergi sekarang." Ujar Gavlin.


Linda sekali lagi memeluk erat Gavlin, mendekap kuat, dia tak ingin melepaskan pelukannya, dia ingin melepaskan semua kerinduannya pada Gavlin.


"Aku masih kangen kamu, aku masih ingin kamu memberiku kenikmatan Vlin." Linda manja.


"Aku terbuai dengan kelembutanmu saat menyentuhku, aku ingin kamu terus menyetubuhiku." Ujar Linda manja.


Linda masih memeluk erat Gavlin yang menarik nafasnya.


Gavlin melepaskan tangan Linda yang memeluknya, lalu memegang kedua bahu Linda, menatap wajahnya.


"Kalo kamu sayang aku, pasti kamu gak mau aku dimarahi bosku kan?" Ujar Gavlin pada Linda yang mengangguk manja padanya.


"Jadi, biarkan aku pergi sekarang, agar aku gak telat." Ujar Gavlin.


Mau tidak mau, akhirnya Linda menyerah dan mengizinkan Gavlin pergi.


"Tapi janji, kamu kabari aku ya." Ujar Linda menatap lekat penuh cinta pada Gavlin.


Gavlin tersenyum mengangguk. 


"Aku pergi ya." Ujar Gavlin sambil mengecup kening Linda lembut, Linda membalas dengan mengecup pipi Gavlin.


Lalu Gavlin segera berjalan keluar dari kamar, setelah kepergian Gavlin, Linda memandangi dirinya di depan cermin.


Tangannya membelai lembut wajahnya, tersenyum senang, wajah pucatnya karena lelah menyiratkan kebahagiaan dalam dirinya.


   Di sebuah lokasi lapangan tanah kosong yang sangat luas, Wijaya terlihat sedang bersama Pimpinan Proyek dan Arsitek.


Wijaya menugaskan mereka untuk membuat bangunan seperti yang dia inginkan.


Setelah memenangkan tender dan mendapatkan proyek besar, Wijaya segera bergerak cepat untuk survei kelapangan, agar bisa melaksanakan pembangunannya.


Dia ingin pembangunan itu selesai sesuai dengan target yang sudah ditentukannya dan dia janjikan saat mendapatkan proyek tersebut.


Di lokasi itu terpajang sebuah plang yang besar berdiri kokoh. " Di sini akan dibangun Apartemen beserta Mall dan Taman Hiburan". Ujar Arsitek.


Arsitek menunjukkan gambar perencanaan konstruksi bangunan yang akan dibuat nantinya.


Wijaya melihat dan mengamati gambar tersebut bersama Pimpinan Proyek .


Arsitek menunjuk nunjuk ke satu titik lokasi, memberitahukan letak dan posisi masing masing bangunan.


Semuanya sesuai dengan gambar konstruksi bangunan yang dirancangnya.


Wijaya pun mengangguk angguk mengerti dan paham, dia tersenyum senang.


"Mudah mudahan proyek ini berjalan lancar, dan selesai pada waktunya." Ujar Wijaya tersenyum.


"Siap Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Ujar Pimpinan Proyek pada Wijaya. 


Wijaya lalu berjalan menyusuri tanah kosong bagian lainnya, Arsitek dan Pimpinan Proyek berjalan dibelakangnya mengikuti.


   Mobil Gavlin tiba di depan halaman rumah Bramantio, bertepatan dengan Bramantio yang berjalan keluar dari dalam rumahnya.


Gavlin segera keluar dari dalam mobilnya, berdiri di samping mobil, menunggu Bramantio.


Dia lega karena tidak telat datang menjemput, Bramantio berjalan mendekatinya.


Gavlin cepat membuka pintu belakang mobil, Bramantio segera masuk ke dalam mobil, duduk di jok belakang mobil.


Gavlin menutup pintu belakang mobil lalu segera jalan ke depan dan membuka pintu depan mobil.


Dia cepat masuk kedalam mobil, menyalakan mesin mobil lalu segera menjalankan mobil, pergi meninggalkan rumah Bramantio.


   Siang itu, Gatot terlihat sedang membaca sebuah berkas di meja kerjanya.


Di atas meja kerja tertulis namanya "Gatot Nur Sebastiansyah", begitu namanya tertulis.


Namun dia biasa di panggil dengan sebutan Gatot oleh teman teman kerjanya di kepolisian.


Karena dirinya di nilai teman temannya seperti Gatot Kaca, Hanya orang tertentu saja yang memanggil namanya dengan nama Bastian.


Hanya orang yang mengenal masa mudanya, teman sekolah dan kuliahnya.

__ADS_1


Sementara, setelah dia menjadi polisi, nama panggilan "Gatot" melekat pada dirinya.


Apalagi dia sukses dan berhasil memecahkan kasus pembunuhan pertama dia, membuat dirinya terkenal dan di segani di kepolisian.


Kinerjanya yang baik membuat dirinya naik pangkat dan mendapatkan jabatan tinggi di kepolisian.


Gatot menjabat sebagai Komandan Polisi bagian kriminal dan pembunuhan.


Dan julukan Gatot Kaca pun melekat pada dirinya.


Teguh, anak buahnya mendekati Gatot yang terlihat serius melihat berkas laporan yang dipegangnya.


"Kasus apa itu Komandan ?" Tanya Teguh pada Gatot.


Dia bertanya, karena dirinya merasa photo pemuda yang ada ditangan Gatot tidak ada hubungannya dengan kasus yang sedang mereka tangani.


"Ah tidak, saya cuma penasaran saja, ingin tahu lebih jauh lagi siapa dia." Ujar Gatot.


Gatot terus membaca keterangan dalam berkas, berisi tentang riwayat hidup Gavlin, pemuda yang ada di photo pada lembaran berkas ditangan Gatot.


"Komandan kenal dengan dia?" Tanya Teguh.


"Baru kenal, dia teman anakku, cuma kok saya kayak merasa kenal, wajahnya kayak gak asing." Ujar Gatot.


"Saya penasaran dan mencari tahu tentang si Gavlin ini." Ujar Gatot.


"Namanya Gavlin ?" Tanya Teguh pada Gatot yang mengangguk.


"Boleh saya bantu selidiki dia ?" Tanya Teguh.


"Tidak perlu, biar saya saja, kamu focus saja dengan kasus kita sekarang." Ujar Gatot menatap wajah Teguh yang mengangguk.


Teguh lalu pergi meninggalkan Gatot, dia tidak mau mengganggu Gatot yang terlihat serius sedang mempelajari berkas tentang sosok orang yang bernama Gavlin.


   Di ruang kerjanya, Maya sedang menerima telepon, wajahnya terlihat senang.


"Serius kamu Lin ?" Ujar Maya dengan suara keras, Karyawan Karyawati yang ada diruangan itu melirik Maya dari meja mereka masing masing.


Maya tak sadar suaranya keras dan mengganggu karyawan karyawati yang sedang bekerja.


Maya tersadar, dia mengangguk, memberi isyarat meminta maaf pada karyawan karyawati karena berisik.


"Terus, kalian melakukan apa aja?" Ujar Maya berbisik bicara diteleponnya.


"Kita ketemuan aja yuk, nanti aku ceritakan semuanya ke kamu." Ujar Linda didalam mobilnya.


Linda sedang berbicara dengan Maya di ponselnya, dalam keadaan menyetir.


"Oke, jam 6 sore kita ketemu di cafe Seruni, kayak biasanya ya." Ujar Maya masih berbisik diteleponnya.


"Oke, aku tunggu yaa." Ujar Linda tersenyum dan menutup teleponnya.


Linda lalu kembali menyetir mobilnya yang lantas melaju menyusuri jalanan menuju kantornya. Wajahnya terlihat bahagia sekali.


Maya tersenyum senang, dia ikut bahagia mendengar kabar dari Linda itu.


Namun tiba tiba raut wajahnya berubah, dia terdiam dan tercenung.


Jantungnya berdegup, seakan dia merasa kesedihan, seperti orang yang tidak merelakan sesuatu yang sangat disenanginya diambil orang lain.


Maya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, menghela nafasnya.


"Sadar Maya, sadar. Singkirkan fikiran fikiran itu." Ujar Maya berbisik pada dirinya sendiri.


Maya lalu menepuk nepuk pipinya pelan, seperti sedang menyadari dirinya dari hayalan dan lamunan.


"Aku ikut bahagia melihatmu bahagia Lin." Ujar Maya bergumam dan tersenyum.


Dia lalu melanjutkan pekerjaannya, mengetik di laptopnya, menulis sebuah artikel, menyelesaikan tugas yang mendekati deadline.


Dia harus bisa menyelesaikannya tepat waktu, agar dirinya tidak lembur.


Apalagi sampai ditegur pimpinan redaksinya karena gagal menulis artikel yang sudah ditugaskan padanya.


   Mobil berhenti di halaman depan kantor perusahan Bramantio yang berdiri dengan megah.


Gedung perkantoran itu terlihat menjulang tinggi, tak kalah megahnya seperti Hotel Hera miliknya.


Bramantio segera keluar dari dalam mobil begitu Gavlin membuka pintu belakang mobil.


Setelah Bramantio keluar dari dalam mobil, Gavlin cepat menutup kembali pintu belakang mobil.


"Kamu jangan kelayapan kemana mana, tetap diam di kantor ini, nanti saya hubungi." Ujar Bramantio menatap tajam wajah Gavlin.


"Baik Pak." Ujar Gavlin mengangguk hormat pada Bramantio yang berdiri di depannya.


Bramantio lalu berjalan pergi meninggalkan Gavlin yang berdiri menatap kepergiannya.


Setelah Bramantio masuk ke dalam gedung perkantorannya, Gavlin segera masuk kedalam mobil, lalu menjalankan mobilnya.


Mobil Gavlin masuk ke area parkiran di dalam gedung perkantoran milik Bramantio.


Dia menyusuri area parkir, mencari tempat yang kosong di sekitar area parkir itu.


Setelah dia mencari cari, akhirnya Gavlin mendapatkan tempat parkir yang kosong di lantai 3 area parkiran.


Dia segera memarkirkan mobilnya, mematikan mesin mobil, lalu keluar dari dalam mobil.


Gavlin memencet tombol kunci otomatis, mengunci pintu mobil, dia lalu berjalan meninggalkan mobil, keluar dari area parkiran itu.


   Sementara itu, Gatot masih berada di ruang kerjanya, duduk didepan meja kerjanya.


Gatot masih serius mempelajari dan membaca berkas berkas yang berserakan diatas meja kerjanya.


Saat itu, Gatot membaca selembar berkas berisi tentang riwayat hidup, yang menyatakan tentang Gavlin saat kecil.


Di situ tertulis, saat kecil, ada seorang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan tubuh luka.


Lalu dimasukkan ke panti asuhan, dan di adopsi oleh sepasang suami istri yang membawanya tinggal bersama mereka diluar negri.

__ADS_1


Gatot membaca dengan teliti semua keterangan itu, melihat tanggal tanggal dan tahun yang tertulis, menjelaskan tentang siapa anak kecil itu.


Kemudian Gatot mengernyitkan dahinya, dia heran, di lembar berkas itu tertulis bahwa nama anak itu Yanto.


Sebab, orang yang dikenal dan ditemui dia dirumahnya bernama Gavlin.


Gatot melihat kedua lembar berkas yang memuat tentang riwayat hidup Gavlin.


Lalu mencocokkannya dengan riwayat hidup Yanto semasa kecil hingga diadopsi.


"Mereka orang yang sama, tapi kenapa namanya berbeda?" Ujar Gatot pada dirinya sendiri, dia berfikir keras.


"Apa karena dia di adopsi dan tinggal di luar negri bersama orang tua angkatnya, jadi namanya berganti, dari Yanto menjadi Gavlin?" Ujarnya.


Gatot bicara sendiri sambil menatap pada berkas yang berisi tentang riwayat hidup Gavlin dan Yanto kecil.


Gatot tercenung menatap wajah Gavlin yang terpajang dilembar berkas diatas meja kerjanya.


Lalu pandangannya tertuju pada photo Yanto kecil yang terpajang diberkas riwayat hidupnya juga.


Lembar berkas laporan tentang Yanto kecil dipegang Gatot, dia mengamati wajah Yanto kecil di photo itu.


Gatot diam berfikir, tiba tiba, sesaat kemudian dia tersadar, seperti orang yang mengingat sesuatu yang dia lupakan selama ini.


"Kalau benar mereka orang yang sama, itu artinya, Gavlin pernah tinggal di kampung Rawas saat kecil dulu." Ujarnya tersadar.


"Artinya, dia anak yang dulu aku selamati dan membawanya kerumah sakit bersama adiknya." Ujar Gatot berfikir.


"Waktu kecil, Gavlin atau Yanto masih warga kampung Rawas, apa mungkin dia sekarang kembali kesini dan melakukan hal keji pada warga kampung Rawas ?" Ujarnya.


Dia mencoba mencari cari hubungan antara Gavlin, Yanto kecil dan seluruh warga kampung Rawas yang sudah musnah dilalap api.


"Kalau benar dia, kenapa baru sekarang dia muncul berbuat hal itu, setelah 17 tahun menghilang selama ini ?" Ujar Gatot berfikir.


Dia mencoba mencari kesimpulan dari semua hal yang baru saja ditemukannya tentang Gavlin.


"Aku harus menyelidikinya, aku harus mencari tau kebenarannya secara diam diam." Ujarnya.


"Maya tidak boleh tahu dan mencampuri atau menghalangi semua yang akan aku lakukan." Ujar Gatot bergumam.


Dia menarik nafasnya, kemudian segera dia membereskan semua lembar berkas berkas yang berserakan diatas meja kerjanya, merapikannya.


Lalu dia meletakkan berkas berkas tersebut kedalam sebuah map yang juga ada diatas meja.


Kemudian, menyimpannya disudut meja kerja, diatas map berisi berkas laporan kasus lainnya dimeja kerjanya itu.


Setelah dia merapikan semuanya, Gatot bergegas pergi keluar dari ruangannya.


Dia ingin segera mengusut keberadaan Gavlin dan kasus pembunuhan massal yang terjadi di kampung Rawas.


Nalurinya sebagai Polisi yang ahli dalam memecahkan kasus menyatakan bahwa ada rahasia pada diri Gavlin.


Dan itu harus dapat dia pecahkan, agar tidak terus menjadi teka teki dalam fikirannya.


   Saat itu, sudah masuk jam makan siang, Maya berada di kantin tempatnya bekerja.


Saat dia hendak menyuap makanan ke mulutnya, ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja berbunyi.


Maya melirik pada ponselnya, membaca nama si penelpon yang tertera dilayar ponsel.


Di layar ponsel tertera nama "Ayahku" , segera Maya mengambil ponselnya dari atas meja, lalu menerima panggilan telepon dari Ayahnya.


"Ada apa Yah ? Ganggu aku deh." Ujar Maya bicara diteleponnya.


"Kamu dimana sekarang?" Tanya Gatot, bicara diteleponnya.


Gatot sedang berada di dalam mobilnya, mobilnya berhenti di pinggir jalan raya.


"Aku di kantin kantor, baru mau makan siang, Ayah telpon." Ujar Maya memberitahu dimana posisinya saat ini.


"Oh, kirain Ayah lagi diluar." Ujar Gatot diteleponnya.


"Kamu gak ketemuan sama Gavlin?" Tanya Gatot ditelepon.


Maya yang menerima telepon dari Ayahnya kaget begitu Ayahnya menanyakan soal Gavlin.


"Ya nggaklah, gak ada urusan, ngapain juga aku ketemu Gavlin." Jawab Maya santai.


Namun air mukanya menunjukkan perubahan, ada getaran rasa ingin bertemu Gavlin sebenarnya dihatinya, namun cepat ditepisnya agar segera hilang dalam benaknya.


"Kapan kamu ketemu, janjian lagi sama Gavlin?" Tanya Gatot lagi pada Maya.


Maya semakin heran karena Ayahnya terdengar kayak ingin agar dia ketemuan sama Gavlin.


"Ayah kenapa sih, tiba tiba nanyain Gavlin? tiba tiba nanya dan nyuruh aku ketemuan dengan dia?" Ujar Maya heran.


Maya jadi ingin tahu alasan Ayahnya bertanya begitu pada dirinya.


"Ayah cuma pengen lebih tau aja tentang Gavlin, Ayah penasaran sama anak itu." Ujar Gatot diteleponnya.


"Iih aneh, kenapa Ayah yang jadi kayak kangen ngebet pengen liat Gavlin ya, sadar Yah, sadaaar." Ujar Maya diteleponnya.


Maya langsung meledek ayahnya yang terus saja nanyain tentang Gavlin.


Gatot didalam mobilnya tertawa mendengar perkataan Maya yang meledeknya itu.


"Ya udah, kalo kamu kapan ketemu Gavlin, ajak dia ketemuan dirumah ya, jangan diluar." Ujar Gatot lalu menutup teleponnya.


Gatot meletakkan ponselnya dikantong jaketnya, berfikir sejenak, kemudian menyalakan mesin mobil, lalu melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu, Maya sambil meletakkan ponselnya di atas meja terdiam, dia merasa aneh dengan sikap ayahnya ditelepon.


"Kenapa Ayah jadi tiba tiba bersikap aneh? Kok bisa bisanya dia nanyain Gavlin, pengen ketemu Gavlin, kenapa ?" Maya berfikir.


"Ada apa ? Apa yang disembunyikan Ayah? Apa yang dia ingin cari tahu dari Gavlin?" Gumam Maya , dia berfikir tentang sikap ayahnya, Maya menghela nafasnya.


"Aneh, ada sesuatu pasti yang dirahasiakan ayah." Ujarnya.


Lalu dia mengambil makanannya dari piring, menyendokkan makanan kedalam mulutnya.

__ADS_1


Maya pun makan, mencoba melupakan keanehan tentang sikap ayahnya yang tidak seperti biasanya.


Raut wajahnya masih menunjukkan bahwa dia masih merasa penasaran dan ada yang ganjil dengan sikap ayahnya.


__ADS_2