
Mobil Ambulance pergi dari jalanan dekat rumah Gavlin, dengan membawa jenazah kedua petugas polisi yang mati di bunuh Gavlin. Lalu, Gatot pun mengendarai mobilnya, dan dia pergi juga mengikuti mobil ambulance.
Di dalam kamar khususnya, dalam ruang bawah tanah yang berlantai dua kebawah, Gavlin masih tetap diam duduk di kursi mejanya. Matanya terus mengamati layar monitor cctv.
15 menit berselang, setelah kepergian Gatot dan petugas medis yang membawa jenazah dua petugas polisi, terlihat dari layar monitor cctv, datang 10 unit mobil kepolisian, dan satu mobil khusus anti teror.
Mobil mobil itu berhenti di depan rumah Gavlin, para petugas kepolisan segera keluar dari dalam mobil masing masing.
Dari layar monitor cctv nya, Gavlin melihat, para tim anti teror keluar dari dalam mobil khusus yang besar, mereka bergegas masuk ke pekarangan halaman rumah Gavlin.
Gavlin tersenyum sinis, melihat kedatangan para gabungan kepolisian yang saat ini menyergap dan mengepung rumahnya.
Gavlin bersikap dingin dan tenang, dia tetap duduk santai di kursinya, kakinya di angkatnya di atas meja. Dari layar monitor cctv, terlihat jelas, dari cctv lainnya, Sutoyo keluar dari dalam mobilnya, yang terparkir di depan rumah Gavlin, di pinggir jalan.
Dari kamera cctv yang di lihat Gavlin, tampak Sutoyo berdiri di jalan depan rumah Gavlin, dia tengah memandangi rumah Gavlin.
Melihat kehadiran Sutoyo, Gavlin pun tersenyum menyeringai jahat. Dia senang, Sutoyo berani datang kerumahnya, walau dengan membawa pasukan banyak.
Dari layar monitor satunya, Gavlin melihat, para petugas polisi gabungan bersama tim anti teror mendobrak pintu rumah, lalu, mereka segera masuk ke dalam rumah Gavlin.
Sutoyo berjalan santai, menuju ke arah rumah Gavlin, Gavlin, tersenyum sinis di dalam kamarnya, lalu, dia beranjak dari kursi, dia berjalan ke sebuah rak yang ada di sudut kamar.
Gavlin menggeser rak tersebut, rak bergeser, dan sebuah pintu rahasia terbuka, Gavlin dengan tenang masuk ke dalam ruangan, pintu tertutup secara otomatis.
Para Petugas kepolisian dan tim anti teror sudah berada di dalam rumah Gavlin, mereka segera menggeledah seluruh ruangan yang ada di dalam rumah Gavlin.
Sutoyo berdiri di depan teras rumah Gavlin, dia tak masuk, dan memilih menunggu diluar rumah, karena dia merasa, anggotanya sudah banyak yang masuk ke dalam rumah. Sutoyo menunggu hasil dari anggotanya.
Gavlin dengan mengendarai mobilnya, keluar dari ruang bawah tanahnya, mobil meluncur ke jalanan di sebelah rumah Gavlin. Tak ada yang tahu, jika Gavlin sudah pergi dari rumahnya.
Lalu, setelah di rasanya sudah cukup jaraknya, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu, dia mengambil ponselnya dari kantong celananya.
Di dalam mobil, Gavlin membuka layar ponsel, dan melihat monitor cctv yang tersambung pada ponselnya.
Gavlin mengamati, semua petugas polisi dan tim anti teror saat ini berada di dalam rumahnya, sedang menggeledah tiap ruang.
Dari ponselnya, dia melihat, Sutoyo berdiri di depan teras rumahnya, bersama beberapa petugas polisi yang berjaga jaga di sekitar luar rumah Gavlin, tepatnya, dihalaman dan teras rumah.
Gavlin tersenyum sinis, dia lantas mengambil sebuah remote mini yang sudah di siapkannya dalam dashboard mobilnya.
Kemudian, dengan menyeringai jahat, Gavlin menekan tombol on, dari remot control mini ditangannya. Lalu, dia meletakkan remote mini di jok sampingnya.
Gavlin menyalakan mobilnya, lalu, dia menjalankan mobilnya, bertepatan dengan dia menjalankan mobilnya, rumah Gavlin pun meledak hebat.
Para petugas polisi dan tim anti teror yang berada di dalam rumah seketika terpental karena terkena ledakan bom. Korban pun berjatuhan.
Tidak hanya itu, Sutoyo bersama petugas polisi yang berada di luar rumahpun terpental karena ledakan bom dari rumah Gavlin.
Ternyata, Gavlin sudah mempersiapkan semuanya, dia tahu, setelah dia membantai polisi dan menghancurkan gedung kantor kepolisian pusat, cepat atau lambat, polisi akan menemukan rumahnya.
Untuk itu, Gavlin memasang bom dan meletakkannya di tiap tiap sudut rumahnya, di seluruh ruangan, tak ada ruangan yang tidak di pasanginya bom.
__ADS_1
Bom terus meledak, para petugas polisi dan tim anti teror, mati terkapar di dalam rumah Gavlin. Di atas tanah, Sutoyo yang terluka sedikit tampak kaget dan geram.
Sutoyo tak menyangka, jika Gavlin nekat menghancurkan rumahnya sendiri, demi bisa melarikan diri. Sutoyo pun segera berdiri.
"Setaaaannnn Laaaakkkknnnnaaaattt kamu Yaaantoooo !!" teriak Sutoyo penuh amarah membara.
Tiba tiba ledakan terjadi lagi, Sutoyo pun kaget, dia segera melompat menghindar agar tak terkena pecahan batu batuan yang terbang mental akibat meledaknya bom dengan dahsyat.
Dengan wajah geram penuh amarah, Sutoyo menatap rumah Gavlin sudah hancur dan terbakar, para petugas kepolisian yang ada di luar rumah dan tidak terluka, segera membantu rekan rekannya yang terluka karena terkena ledakan bom.
Bangunan rumah mewah Gavlin pun roboh, akibat meledak, hanya ruang bawah tanahnya saja yang tidak rusak dan hancur, ruang bawah tanah tersebut masih berdiri kokoh.
Di dalam mobilnya, sambil menyetir mobilnya dengan sikap tenang dan santai, Gavlin tersenyum senang, dia tak perduli rumahnya hancur.
Sebab, Gavlin sudah mempersiapkan rumah lain untuk persembunyiannya, ya, dengan penghasilannya yang sangat banyak sebagai seniman pembuat patung lilin yang sukses dan terkenal, dia berlimpah harta kekayaan, belum lagi, dia mendapatkan hibah harta dari orang tua yang mengadopsi dia.
Jadi, uang bukanlah masalah buat Gavlin, atau Yanto, dengan mudah dan cepat, dia bisa mengganti dan membeli rumah lagi.
Gavlin menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia lantas menyalakan tape mobilnya, musik klasik pun terdengar, Gavlin menikmati musik tersebut.
Sepanjang jalan, Gavlin mengendarai mobilnya dengan di iringi musik klasik dari tape mobilnya.
Di rumah Gavlin, datang 3 unit mobil pemadam kebakaran dan 6 unit mobil ambulance. Petugas Pemadam kebakaran sibuk memadamkan api yang membakar rumah Gavlin.
Petugas Paramedis bergegas memberi pertolongan pada para petugas polisi yang terluka. Sutoyo berdiri di depan mobilnya, dia tampak sangat marah sekali pada Gavlin, atau Yanto.
"Biaaadaaab !! Dia udah tau, kalo bakalan di sergap di rumahnya, dia membuat jebakan, keparaaat!!" teriak Sutoyo, mengamuk marah.
Dia tidak bisa menerima kegagalannya menangkap Gavlin, dia sangat marah, karena sekali lagi, dia berhasil di pecundangi Gavlin, malah, dia dengan mudahnya, masuk dalam perangkapnya.
"Bedebaah!! Ternyata, sulit juga menangkap anak Sanusi !!" ujar Sutoyo.
Sutoyo geram dan marah, dia tampak berfikir sesaat, dia tengah memikirkan sesuatu hal, bagaimana cara, agar dia bisa menangkap Gavlin.
---
Pagi hari, di hari lainnya, tampak Gatot bersiap siap hendak berangkat kerja, Maya juga sudah rapi dan hendak berangkat kerja.
"Ayah duluan ya, May." ujar Gatot.
"Bareng, Yah. Maya juga mau berangkat." ujar Maya, mendekati Ayahnya.
"Kok bareng? Kamu kan naik mobilmu sendiri?" ujar Gatot.
"Ya, bareng sampai ke mobil, Yah. Emang kenapa sih." ujar Maya tersenyum.
"Oh." Angguk Gatot mengerti dan tersenyum.
Lalu, mereka berdua pun keluar dari dalam rumahnya, Maya mengunci pintu rumah, lalu, dia menyimpan kunci dalam tasnya.
Saat Gatot dan Maya hendak berjalan ke garasi mobil, datang dua mobil, satu mobil patroli kepolisian, satu mobil sedan biasa.
__ADS_1
"Ada apa, Yah?" tanya Maya heran.
Dia heran, karena tak biasanya, rumahnya di datangi mobil patroli polisi.
"Ayah juga gak tau, tapi, firasat Ayah jelek nih." ujar Gatot.
Dia sudah menyadari, jika para polisi datang kerumahnya, untuk menemui dirinya, dan bertanya padanya tentang Gavlin.
Gatot tahu, jika rumah Gavlin meledak saat para polisi datang menyergap Gavlin dirumahnya. Itu sebabnya, Gatot berfikir, para polisi datang untuk menginterogasi dirinya.
Dua petugas polisi keluar dari dalam mobil patroli kepolisian, mereka mendekati Gatot, yang berdiri di samping Maya.
"Pak Gatot, anda kami tahan !" Ujar salah satu petugas kepolisian.
"Apa apaan ini? Apa salah Ayahku?!" ujar Maya panik dan kaget.
"Anda terbukti, telah bekerja sama dengan buronan utama kepolisian, Gavlin!" tegas Petugas Polisi.
"Cepat borgol dia!" Perintah Petugas Polisi yang bicara pada Maya.
"Tunggu, dulu, apa kalian ada bukti?!" tanya Maya.
Maya terlihat panik dan cemas, sebab, Ayahnya di tangkap polisi karena tuduhan bekerjasama dengan Gavlin. Dia tahu, semuanya benar.
Namun, Maya berusaha menolong Ayahnya, dia tak ingin Ayahnya di penjara, Gatot tampak diam, dia tak memberi perlawanan.
"Ini bukti keterlibatanmu, Gatot!" teriak Sutoyo.
Gatot dan Maya kaget, mereka melihat, Sutoyo keluar dari dalam mobilnya, dan berjalan mendekati mereka berdua.
Sutoyo berdiri tepat didepan Gatot, wajah Sutoyo tersenyum sinis, Sutoyo menunjukkan selembar photo pada Gatot. Gatot melihat, ada dia tengah bicara dengan Gavlin di photo itu.
Gatot tahu, photo itu di ambil saat dia bertemu Gavlin, sebelum Gavlin membunuh dua petugas polisi yang mengintai dia dan Gavlin, dirumah Gavlin.
Maya syock melihat photo Ayahnya bersama Gavlin, dia pun terdiam, tak bisa berkata kata, Sutoyo tersenyum sinis.
"Kamu gak bisa berkelit lagi, Gatot. Selain bukti photo ini, kamu pasti bekerja sama dengan buronan itu, membunuh dua anggotaku yang mengawasimu!" tegas Sutoyo marah.
"Peluru dari pistolmu, membuktikan, bahwa kamu yang menembak mati anggotaku, karena, peluru itu, dari pistol khusus milik polisi." ujar Sutoyo tersenyum sinis.
Sutoyo dengan sinis lalu menepuk nepuk bahu Gatot yang hanya diam tak bergeming, Sutoyo mendekatkan mulutnya ke telinga Gatot.
"Sudah ku bilang, Gatot. Aku akan menjebloskanmu ke penjara ! Kamu akan membusuk di dalam penjara!" ujar Sutoyo, berbisik di telinga Gatot.
Gatot tampak geram dan menahan amarahnya, andai saja tangannya tidak di borgol, dia pasti sudah menghajar Sutoyo, Gatot tampak jijik pada Sutoyo.
"Bawa dia ! Cepat!!" Perintah Sutoyo pada anggota polisi.
"Siap !" Ujar Petugas Polisi.
Lalu, mereka pun membawa Gatot, dan memasukkannya ke dalam mobil, Sutoyo, dengan tersenyum sinis, berjalan angkuh, masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Maya berdiri terdiam, dia pun menangis sedih, melihat, Ayahnya dengan di borgol, di bawa Polisi. Maya tak menyangka, jika Ayahnya, ditangkap Polisi.
Maya pun menangis sejadi jadinya, dia meratapi kepergian Ayahnya, yang di bawa Polisi dan Sutoyo.