VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Luluh Lantaknya Markas Inside


__ADS_3

Pintu kamar hotel diketuk, Samsudin mengintip dari celah lubang yang ada di pintu kamar hotel, dia melihat, Mino berdiri di luar, depan pintu kamar.


Samsudin lantas cepat membuka pintu kamar hotelnya, dia melihat, ada dua penjaga keamanan yang berdiri di depan pintu masuk kamar yang berjaga jaga.


"Oh, kamu, masuklah." ujar Samsudin pada Mino.


"Ya, terima kasih, Pak." ujar Mino, mengangguk hormat pada Samsudin.


Mino pun lantas segera masuk ke dalam kamar hotel, Samsudin cepat menutup pintu kamar hotelnya lagi. Mino berdiri di ruang tamu kamar hotel, Samsudin mendekatinya.


"Ada apa kamu ke sini?" tanya Samsudin, menatap tajam wajah Mino yang berdiri dihadapannya.


"Maaf, Pak. Saya datang ke sini membawa pesan dari pak Binsar." ujar Mino, menjelaskan pada Samsudin.


"Pesan apa?" tanya Samsudin, dengan wajah heran.


"Kata pak Binsar, karena situasi genting dan semakin tak aman, Pak Binsar menyuruh saya untuk memberitahu ke Bapak, agar Bapak mengungsi ke luar negeri bersama keluarga." ujar Mino.


"Kenapa Saya harus lari ke luar negeri? Bagaimana dengan tugas saya sebagai Mentri jika saya kabur begitu saja?" ujar Samsudin.


Terlihat raut wajah Samsudin menunjukkan rasa tidak senangnya karena Binsar menyuruhnya pergi keluar negeri begitu saja.


"Maaf, Pak. Ini semua demi kebaikan Bapak dan anggota Inside, Pak Binsar sedang berusaha melindungi dan menyelamatkan Bapak, agar Bapak tidak ditangkap pihak kepolisian mau pun kejaksaan, atau Gavlin!" tegas Mino, mencoba menjelaskan pada Samsudin yang kesal itu.


"Buat apa saya harus ke luar negeri? Bukankah di sini saya aman, jika kalian menjaga saya?" ujar Samsudin ketus.


"Gak aman, Pak. Sekarang, Pihak kepolisian yang di pimpin Andre dan juga pihak kejaksaan yang di pimpin Samuel sedang berusaha menangkapi semua anggota Inside." jelas Mino dengan wajah seriusnya.


"Dan menurut informasi dari mata mata pak Binsar, yang menjadi target utama penangkapan mereka adalah Bapak ! Karena itu, pak Binsar ingin melindungi Bapak." tegas Mino.


Samsudin terdiam, untuk sesaat dia tampak berfikir, Mino yang berdiri dihadapannya menatapnya tajam, Mino berharap, Samsudin menuruti segala keinginan Binsar.


"Bagaimana Pak? Pak Binsar akan mengurus semuanya, Bapak keluar negeri nanti akan dibuat seolah sedang berkunjung ke negara tetangga dalam urusan tugas negara, bagaimana?" ujar Mino, bertanya dengan menatap serius wajah Samsudin yang masih diam berfikir itu.


Samsudin menarik nafasnya dalam dalam, dia berusaha untuk menenangkan dirinya yang tampak kesal dan marah itu, dia lantas menatap tajam wajah Mino yang berdiri dihadapannya.


"Jika saya menuruti perintah pak Binsar, lantas, kapan saya dan istri harus berangkat keluar negeri?" tanya Samsudin, dengan wajah seriusnya menatap Mino.


"Secepatnya akan diurus keberangkatan Bapak berdua dengan istri, mungkin lusa, Bapak dan Istri sudah bisa terbang dengan pesawat keluar negeri. Kami akan membuat penjagaan nantinya di sekitar bandara, mendampingi Bapak dan Istri selama berangkat." jelas Mino.


"Baiklah, Saya setuju, urus saja semuanya." ujar Samsudin.


Akhirnya, mau tak mau, Samsudin setuju untuk pergi keluar negeri mengungsi sementara waktu, tak ada pilihan lain buatnya, dan tak ada gunanya dia menentang perintah Binsar sebagai ketua umum dari organisasi Inside, dia berfikir, toh, apa yang di perintahkan Binsar padanya itu semua untuk kebaikan dirinya, agar dia tak ditangkap dan tak dibunuh Gavlin.


"Baiklah, Pak. Kalo begitu saya permisi dulu, saya akan melaporkan hal ini pada pak Binsar." ujar Mino.


"Ya. Nanti, kalo semuanya sudah beres, cepat kabari saya." ujar Samsudin.

__ADS_1


"Ya, Pak. Pasti akan saya kabari secepatnya. Saya permisi dulu." ujar Mino, sambil memberi hormat pamit pada Samsudin.


Samsudin mengangguk, mengiyakan, lalu, Mino pun segera keluar dari dalam kamar hotel, Samsudin lantas mengunci pintu kamar hotelnya.


Istri Samsudin yang mendengar percakapan suaminya bersama Mino tadi lantas berjalan mendekati suaminya yang masih berdiri diam berfikir.


"Kita mau tinggal dimana, Pah?" tanya Istri Samsudin.


"Aku gak tau, Mino tadi cuma bilang, kita harus segera mengungsi keluar negeri, dimana tempat negaranya, aku belum tau." jelas Samsudin.


"Oh, begitu, kenapa Papah tadi gak nanya sama Mino?" ujar Istri Samsudin, menatap lekat wajah Samsudin.


"Aku lupa, ah, biar saja, nanti juga kita tau, ke negara mana kita pergi." ujar Samsudin.


Istri Samsudin diam, dia menurut dengan perkataan Samsudin, lalu, dia pun berbalik badan dan pergi meninggalkan Samsudin sendirian, Samsudin menghempaskan tubuhnya di atas sofa, wajahnya terlihat tegang.


"Sial ! Gara gara anaknya si Sanusi, hidupku jadi kacau balau begini! Tau begini jadinya, dulu, aku habisi saja anaknya sekalian!" ujar Samsudin, dengan wajah geram dan marahnya.


---


Mobil baru Gavlin berhenti di pinggir jalan dekat dengan markas organisasi Inside, wajah Gavlin terlihat garang, terlihat jelas sekali, bahwa dia saat ini sangat memendam perasaan marah yang begitu besar.


Gavlin tidak mau gagal lagi, kali ini, dia sudah mempersiapkan segalanya untuk dapat membunuh Samsudin atau pun Binsar.


Seperti dugaan Samsudin sebelumnya, Gavlin memang ternyata datang ke markas organisasi Inside untuk mencari Samsudin dan membuat perhitungan pada Samsudin.


Gavlin keluar dari dalam mobilnya, seperti biasa, dia mengambil senjata bom roketnya dari dalam bagasi mobilnya, setelah dia menutup kembali bagasi mobilnya, dia lantas berjalan menuju ke arah markas organisasi Inside.


Wajah Gavlin terlihat memerah memendam amarah yang membara di dalam dirinya, dia lantas berdiri tepat di depan gerbang pintu masuk ke markas Inside, lalu, dengan cepat, Gavlin melepaskan tembakan senjata bom roketnya.


Bom roket dengan cepat melesat ke arah markas organisasi Inside, roket bom tersebut mengenai bangunan markas. Markas Inside meledak dan hancur seketika.


Orang orang yang ada disekitar markas dan sedang berjaga jaga kaget melihat markas meledak karena di bom.


Mino yang baru saja tiba dan keluar dari dalam mobilnya juga tersentak kaget melihat markas tiba tiba meledak. Belum hilang rasa kagetnya, satu bom roket kembali melesat dan menghancurkan bangunan markas Inside.


Gavlin benar benar tak menyia nyiakan waktu lagi, dia datang untuk menghancurkan markas organisasi Inside.


Karena ledakan dari bom roket yang di luncurkan Gavlin, banyak anggota anggota Inside yang tewas terkena ledakan, Mino bersembunyi di balik mobilnya, dia melihat ke arah datangnya bom roket.


"Hei !! Apa Pak Binsar ada di dalam markas?!!" teriak Mino, pada seorang penjaga keamanan.


"Belum datang, Bos !!" teriak Penjaga Keamanan, sambil bersembunyi di balik tiang bangunan markas.


"Oh, baguslah. Berarti pak Binsar aman, karena gak ada di markas." Gumam Mino.


Mino pun lantas melihat kembali ke arah datangnya roket bom, dia lantas perlahan lahan berjalan dan menyelinap berpindah tempat ke markas, namun, bom roket kembali meluncur, dan kali ini menghantam mobil Mino.

__ADS_1


Mobil Mino meledak, terpental tinggi dan hancur terbakar, Mino yang berada didekat mobil juga ikut terpental. Tubuhnya terlempar jauh dan terhempas di tanah, sekujur tubuhnya luka luka dan berdarah, Mino terkena ledakan dari bom roket yang di tembakkan Gavlin.


Mino meringis menahan rasa sakit yang begitu besar, dia memegangi tubuhnya yang terluka parah, Mino mengerang, berusaha bangkit, namun, dia tak kuasa bangun dan berdiri.


Bom roket terus di tembakkan Gavlin, sehingga seluruh bangunan markas Inside hancur berantakan dan tak bersisa, hanya tinggal puing puing saja, Semua orang yang ada di sekitar markas organisasi Inside, baik di dalam maupun di luar tewas terbakar dan terkena ledakan bom roket.


Gavlin lantas menyimpan senjata bom roketnya ke dalam bagasi mobilnya, dia tampak puas, karena markas Inside sudah hancur berkeping keping tak berwujud bangunan lagi.


Gavlin cepat mengambil senapan mesinnya, dia lantas memegang senapan mesin dan berjalan masuk ke area pekarangan halaman markas organisasi Inside.


Gavlin berjalan sambil menembaki orang orang yang masih hidup, peluru peluru dari senapan mesin yang ditembakkan Gavlin melesat cepat dan menghantam serta mengenai tubuh para anggota anggota Inside yang masih hidup.


Akhirnya, semua anggota inside yang berada di markas tewas terbunuh oleh Gavlin, dan yang masih tersisa saat ini Mino.


Mino terluka parah, sekujur tubuhnya berdarah akibat terkena ledakan bom roket.


Gavlin mendekatinya, dia lantas berdiri tepat di samping tubuh Mino yang terbaring lemah tak berdaya di atas tanah, Mino melihat wajah garang Gavlin.


"Dimana Samsudin dan Binsar?!" bentak Gavlin, sambil mengarahkan senapan mesinnya pada Mino.


"Mereka gak ada di sini!!" tegas Mino, sambil menahan rasa sakitnya.


Dengan geram Gavlin lantas menembakkan senapan mesinnya ke tubuh Mino, Mino pun seketika tewas terkapar, dihantam peluru peluru timah panas dari senapan mesin Gavlin.


Gavlin tampak geram dan sangat marah sekali, karena sekali lagi, dia gagal membunuh Samsudin dan Binsar.


"Siaaaalll !! Dimana kamu Samsudin, Binsaaarrr !!" teriak Gavlin, melepaskan amarahnya.


Dengan wajah penuh amarah Gavlin lantas berbalik badan, dia pergi meninggalkan markas organisasi Inside yang sudah hancur berantakan dan sudah tak berwujud bangunan lagi.


Gavlin masuk ke dalam mobilnya, dia meletakkan senapan mesinnya di jok depan, disamping dirinya yang menyetir mobil.


Lalu, Gavlin segera menjalankan mobilnya, dia pun lantas pergi meninggalkan lokasi markas organisasi Inside tersebut.


Di sepanjang jalan, tampak Gavlin masih menahan amarahnya, berkali kali dia memukuli tangannya pada stir mobilnya.


"Siaaal !! Siaaaal !! Aaaarggghhh!!" Gavlin mengamuk dan marah, melampiaskan segala kekesalannya sambil tetap menyetir mobilnya.


"Keparat kalian Binsar, Samsudin!! Aku pasti akan menemukan kalian nanti !!" teriak Gavlin di dalam mobilnya.


Mobil Gavlin meluncur di jalan raya dengan kecepatan tinggi, Gavlin menyetir mobilnya dengan wajahnya yang memerah menahan amarahnya yang sudah sangat meluap luap.


Gavlin kesal dan marah, karena dia datang ke markas organisasi Inside, namun, tak ada Samsudin atau pun Binsar di dalam markas.


Perhitungannya meleset, dia yang mengira akan mudah membantai Binsar dan Samsudin jika dia datang ke markas Inside ternyata salah, dia gagal melaksanakan misinya, dan Gavlin harus kembali memutar otaknya, untuk mencari, memburu dan mengejar Samsudin maupun Binsar. Dia bertekat untuk bisa mendapatkan dan segera membunuh Samsudin dan Binsar, dua tokoh otak dari semua kejahatan organisasi inside, dan juga yang menyebabkan kematian Bapaknya serta Bapaknya Chandra, yang telah di jebak dan di fitnah, sebagai tersangka pembunuhan, lalu di bantai, diracuni dan di bunuh dengan kejamnya dan sadis.


Gavlin tak dapat memaafkan segala perbuatan jahat yang sudah dilakukan Binsar dan juga Samsudin, walau dia tahu, bukan mereka berdua yang langsung membunuh Bapaknya, namun, semua itu di laksanakan atas perintah Binsar yang menugaskan pada Samsudin, lalu Samsudin menugaskan kelompok Herman dan Bramantio untuk menjebak serta menghancurkan dan membunuh Sanusi, Bapak dari Gavlin, dan juga membunuh Syamsul Bahri, orang tua dari Chandra, yang juga mengetahui kebusukan serta kejahatan yang dijalani organisasi Inside selama puluhan tahun.

__ADS_1


__ADS_2