
Gavlin berusaha menutupi kegugupannya di depan Gatot yang terus meliriknya dengan wajah penuh curiga padanya.
Gatot melamun, dia tengah mengingat ingat sosok Yanto, anak kecil yang memiliki tanda lahir yang sama dengan Gavlin.
"Oh ya Yah, katanya Ayah mau bicara sama aku?" Ujar Maya.
Dia mencoba untuk mengalihkan perhatian Ayahnya pada Gavlin.
Maya Tahu, Ayahnya tengah melirik Gavlin, memperhatikan Gavlin.
"Yah." Ujar Maya lagi.
"Oh, ya , apa katamu ?" Tanya Gatot.
Dia tersadar dari lamunannya.
"Ayah katanya mau ngomong sama aku." Ujar Maya.
"Oh iya. Kamu teman baiknya Linda kan May?" Tanya Gatot pada Maya.
"Iya, kenapa Yah?" Tanya Maya.
Ada rasa kaget dalam diri Maya, Dia melirik Gavlin yang juga tengah meliriknya.
Mereka berdua tahu, Ayahnya pasti mau membahas soal kematian Linda.
"Kamu tau, kalo temanmu Linda itu udah meninggal?" Tanya Gatot.
"Maya tau Yah, Linda meninggal karena kecelakaan." Ujar Maya dengan wajah sedihnya.
"Bukan kecelakaan biasa." Ujar Gatot menatap tajam wajah Maya.
"maksud Ayah?" Tanya Maya.
Gatot diam, dia melirik Gavlin, Gavlin tahu, Gatot tak ingin dia mendengarkan pembicaraan Gatot sama Maya.
"May, aku pulang dulu ya." Ujar Gavlin.
"Eh, jangan Vlin, kamu disini aja." Ujar Maya.
Dia menahan Gavlin yang hendak berdiri, Gavlin pun terpaksa duduk kembali di sofa.
"Kamu gak apa apa di sini, kan kamu pacarnya Linda, jadi harus tau juga, apa yang terjadi sama Linda sebenarnya." Ujar Maya pada Gavlin.
Gavlin melirik Gatot, lalu menatap wajah Maya, Gavlin memberi isyarat soal Ayahnya.
Maya paham, dia pun kasih kode agar Gavlin tetap tenang, duduk dan diam mendengarkan.
"Gak apa kan Yah, Gavlin di sini? Sebagai pacar Linda, Gavlin pasti mau tau soal kematian Linda." Ujar Maya.
Gatot diam, dia masih ragu, karena dia masih ada rasa curiga sama Gavlin.
Maya terus menatap lekat wajah Ayahnya yang diam berfikir, Maya berharap, Ayahnya bolehkan Gavlin mendengar pembahasan mereka berdua.
"Boleh ya Yah?" Ujar Maya tersenyum manja pada Ayahnya.
Gatot menarik nafasnya dalam dalam, dia tak bisa menolak permintaan anak tersayangnya itu.
"Iya, gak apa." Ucap Gatot.
Akhirnya, dia mengizinkan Gavlin tetap tinggal dan mendengarkan pembicaraan dia dan Maya.
"Maksih Yah." Ujar Maya tersenyum senang.
Gatot mengangguk, mengiyakan, Maya melirik Gavlin, dia tersenyum pada Gavlin yang menggerakkan mulutnya, mengatakan terima kasih pada Maya.
"Lanjutin ceritanya soal kecelakaan Linda tadi Yah." Ujar Maya pada Gatot.
"Iya, Kecelakaan yang dialami Linda bukan kecelakaan biasa, Pihak Kepolisian menemukan kejanggalan di lokasi, dan ditetapkan sebagai pembunuhan berencana." Ujar Gatot.
Maya dan Gavlin sama sama terhenyak kaget.
"Pembunuhan ?!" Ujar Maya dan Gavlin hampir bersamaan.
"Iya, setelah ditetapkan kecelakaan itu akibat pembunuhan terencana, Ayah segera ke lokasi kejadian, menyelidiki, dan Ayah menemukan bukti bukti di lokasi, yang menguatkan dugaan pembunuhan tersebut." Ujar Gatot pada Maya.
Gavlin terdiam, di hatinya dia berfikir, bahwa benar firasatnya, bahwa kematian Linda bukan kecelakaan biasa, tapi dia mati, karena di bunuh.
Gavlin diam, dia tetap mendengarkan penjelasan Ayahnya.
"Dari cctv juga ditemukan, wajah jelas si pelaku." Ujar Gatot.
"Ohya ?" Ujar Maya kaget.
"Ayah tau, siapa pelakunya itu?" Tanya Maya ingin tahu.
"Nggak, Ayah belum tau, Pelaku yang terekam di cctv masih diselidiki siapa sosoknya." Ujar Gatot.
"Kasihan Linda." Ujar Maya.
Maya menunjukkan wajah sedih, dia sangat sedih mengetahui, bahwa kematian Linda karena kesengajaan.
"Cuma yang buat Ayah bertanya tanya saat melihat rekaman cctv itu, di baju pelaku ada logo." Ujar Gatot mengingat ingat.
"Logo ?" Tanya Maya heran.
Gavlin tersenyum sinis, dia langsung paham, logo apa yang dimaksud Ayah Maya.
Gavlin pun bisa mengambil kesimpulan mengapa Linda mati dibunuh, Dia tahu, semua ini ada hubungannya dengan Mike.
"Logo bergambar serigala di sebelah kanan atas baju?" Ujar Gavlin dengan suara datar tanpa ekspresi diwajahnya.
"Kok kamu tau?" Tanya Gatot.
Gatot menatap tajam wajah Gavlin, dia semakin curiga pada Gavlin, dia menyangka, Gavlin ada hubungannya dengan kematian Linda.
"Saya tau Om, karena , orang yang keroyok saya waktu itu, saya liat juga ada logo di bajunya." Ujar Gavlin.
"Iya Yah, Gavlin di keroyok sekelompok preman, Maya yang datang mau nolongin, malah di dorong keras sampe jatuh." Ujar Maya mengadu pada Ayahnya.
"Kamu gak luka?" Tanya Gatot khawatir pada Maya.
"Nggak kok Yah, Maya gak terluka." Ujar Maya tersenyum.
Gatot pun lega mendengarnya. lalu Gatot menatap wajah Gavlin.
"Kamu tau arti logo serigala di baju pelaku itu?" Tanya Gatot pads Gavlin.
"Wolf gank, mereka kelompok preman, Mafia jaringan obat obatan terlarang." Ujar Gavlin.
"Wolf gank?" Ujar Gatot heran.
"Iya Om. Angguk Gavlin.
__ADS_1
"Dari mana kamu tau ? Apa kamu sebelumnya anggota mereka, terus keluar dari genk mereka, makanya kamu dipukuli, di keroyok, karena bos mereka khawatir kamu bocorin rahasia mereka?" Tanya Gatot dengan rasa penasarannya pada Gavlin.
"Saya bukan anggota mereka Om. Saya tau mereka bernama Wolf Genk dari mantas majikan saya." Ujar Gavlin.
"Itu loh Yah, Bram, Bramantio, tokoh Masyarakat yang terkenal dan sangat disegani." Ujar Maya pada Gatot.
Maya langsung menyambar ucapan Gavlin.
"Bramantio?!" Gatot terhenyak kaget.
Dia menatap tajam wajah Maya dan Gavlin secara bergantian.
"Gavlin dulu pernah kerja jadi supir pribadinya pak Bramantio itu Yah." Ujar Maya.
Gatot terdiam, dia pusing, karena semua yang diselidikinya berhubungan dengan satu nama, yakni Bramantio.
Gavlin diam, dia tahu, bukan Bramantio pelaku pembunuhan Linda, namun Mike, anaknya Bramantio.
Dan dia tak ingin memberitahukannya pada Gatot, sebab, Gavlin punya rencana dan niat, dia sendiri yang akan menghabisi Mike, membalaskan dendam Linda yang telah di bunuh Mike.
Gavlin tertunduk, dia menyembunyikan amarahnya pada Mike.
"Ayah kenapa diam ?" Tanya Maya heran.
"Ah nggak, Ayah cuma sedikit bingung, kenapa semua ada hubungannya dengan Bramantio?" Ujar Gatot.
"Apa mungkin, Bramantio yang nyuruh orang buat bunuh Linda, merencanakan tabrakan, dengan tujuan, agar kematian Linda di tetapkan sebagai kecelakaan biasa." Ucap Gatot.
Dia berfikir keras, mencari keterkaitan antara Linda dan Bramantio.
"Iya juga sih , apa salah Linda sama Bram ,kalo benar Bram yang nyuruh orang bunuh Linda." Ujar Maya.
Dia setuju dengan pendapat dan pikiran Ayahnya, sementara Gavlin berbeda dengan mereka berdua.
Gavlin berfikir, bisa saja terjadi, karena Bramantio sakit hati pada Linda, lalu dendam dan membunuhnya, karena dia lihat langsung bagaimana Linda menghina Bramantio.
Namun Gavlin tak mau memberitahu kebenarannya pada Gatot dan Maya.
Dia membiarkan Gatot dan Maya tidak tahu, kalau sebelumnya terjadi keributan hebat antara Linda dan Bramantio juga Wijaya, Bapaknya Linda. Dan dia saksi saat itu terjadi.
Gavlin terlihat menahan geramnya. Dia sangat marah pada Mike karena sudah membunuh Linda.
Namun, dia berusaha menyembunyikan kemarahannya di depan Gatot dan Maya.
Gavlin berusaha bersikap wajar dan biasa, seolah olah dia tak tahu kejadian yang sebenarnya.
"Ayah harus selidiki lagi, mencari bukti bukti buat memperkuat bukti yang sudah ditemukan." Ucap Gatot bertekad.
"Iya Yah, kasihan Linda, mudah mudahan, Pelakunya cepat tertangkap." Ucap Maya.
Gavlin yang tertunduk, tersenyum sinis, "Tertangkap?Gak May, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri", Bathin Gavlin.
Maya dan Gatot tidak tahu, kalau saat ini, Gavlin sedang menahan gejolak amarahnya.
"Vlin, dugaan kamu benar, Linda ternyata bukan korban kecelakaan biasa, tapi Linda, korban pembunuhan terencana." Ucap Maya dengan wajah sedihnya.
"Ya May." Jawab Gavlin.
"Ya udah, Ayah mau ke kantor lagi ya." Ujar Gatot pada Maya.
"Iya Yah." Angguk Maya.
"Vlin, Om tinggal dulu, kapan kapan, Om mau ngobrol sama kamu soal tanda lahirmu itu." Ujar Gatot pada Gavlin.
"Iya Om." Angguk Gavlin.
Gatot lantas pergi meninggalkan Gavlin dan Maya.
"Di minum kopinya Vlin." Ujar Maya tersenyum.
"Iya May." Angguk Gavlin.
Gavlin pun menenggak habis kopinya, dia lantas meletakkan gelas kopi di atas meja.
"Aku pulang dulu ya May." Ujar Gavlin sambil berdiri.
"Iya Vlin." Ujar Maya.
Gavlin pun hendak pergi, namun Maya teringat sesuatu.
"Tunggu Vlin, bentar !" Ujar Maya.
Maya berlari masuk ke dalam ruangan belakang rumahnya, Gavlin berdiri menunggu Maya.
Beberapa saat kemudian, Maya datang sambil membawa kemeja Gavlin yang terkena tumpahan air kopi.
"Bajumu Vlin, udah agak kering." Ujar Maya tersenyum.
"Makasih May." Ujar Gavlin.
Gavlin lantas mau membuka baju yang diberikan Ayah Maya, Maya mencegahnya.
"Gak usah dilepas Vlin, pake aja, besok besok aja kalo mau kamu balikin baju Ayahku." Ujar Maya tersenyum.
"Oh, Baiklah." Jawab Gavlin.
Dia pun tak jadi mengganti bajunya.
"Aku pulang ya May." Ujar Gavlin.
"Iya, hati hati dijalan ya Vlin, sampe ketemu lagi." Ujar Maya tersenyum.
"Oke." Jawab Gavlin.
Gavlin lantas pergi, keluar dari dalam rumah Maya.
Maya lalu mengambil dua gelas bekas kopi Ayahnya dan Gavlin dari meja, dia membawanya ke dapur untuk di cuci.
Di Jalanan, Gavlin sudah tak bisa menahan amarahnya, dengan langkah cepat dia berjalan.
Matanya memerah, mulutnya geram, dikepalkannya tangannya sambil tetap memegang kemejanya yang habis di bersihkan Maya.
Dia sangat marah pada Mike, Gavlin ingin segera menghabisi Mike dan orang suruhannya.
---
Di rumahnya, di ruang tamu rumahnya, Wijaya duduk di sofa dengan lesu.
Wijaya tampak masih memendam kesedihan dan rasa bersalahnya atas kematian anaknya.
Dia sangat menyesali kematian anaknya. Wajahnya sangat sedih mengenang Linda.
"Mengapa kamu pergi meninggalkan Papah Lin, kenapa kamu benar benar pergi selamanya dari Papah, kenapa ?!" Ujar Wijaya.
__ADS_1
Dia menangis dalam penyesalannya.
---
Malam harinya, Gavlin langsung bergerak, dia ingin membalas perbuatan Mike.
Tujuannya saat ini hanya satu saja dia akan menghabisi semua anggota Wolf Genk.
Gavlin ingin menghabisi semua anggota genk tersebut, sebab, dia tak tahu siapa orang yang menjadi suruhan Mike membunuh Linda.
Gavlin mudah menemukan persembunyian Kelompok "Wolf Genk,".
Sebab, dulu, Dia pernah mengantarkan Bramantio ke markas Wolf Genk, untuk bertemu dengan pimpinan genk mafia tersebut.
Gavlin dengan diam diam menyelinap masuk ke dalam markas Wolf Genk.
Di dalam ruangan, 6 anggota wolf genk tertidur karena mabuk, habis memakai narkoba.
Dengan langkah cepat, Gavlin menyelinap masuk, lalu dia mendekati salah satu anggota wolf genk yang tertidur karena mabuk berat.
Tanpa ampun, Gavlin langsung menggorok leher orang tersebut dengan pisau tajam ditangannya.
Dengan wajah sadis, tanpa ampun, Gavlin pun membantai 6 anggota Wolf genk.
Seketika, 6 anggota wolf genk meregang nyawa, mati dengan cara sadis ditangan Gavlin.
Lalu Gavlin bergerak, dia masuk keruangan lain, mencari anggota anggota lainnya.
Saat Gavlin berjalan menyusuri lorong markas wolf genk, dia bertemu salah seorang anggota mafia.
"Hei, mau apa kamu !" Teriak orang tersebut.
Gavlin tak menjawab, dia berlari ke arah orang tersebut, dengan wajah penuh amarah, Gavlin menerjang orang tersebut hingga jatuh terpelanting di lantai.
Gavlin tak memberi kesempatan orang itu untuk berdiri, dengan cepat Gavlin menendang, menginjak dan memukuli orang tersebut.
Lalu, dengan kejam, Gavlin menghujamkan pisau ditanganya. Seketika, orang itu pun mati bersimbah darah dengan 17 luka tusukan di perutnya.
Tiba tiba dari arah lain datang 4 anggota genk dan lari kearahnya. Mereka bisa tahu keberadaan Gavlin, sebab mendengar teriakan orang yang baru saja di bunuh Gavlin.
Dengan tatapan mata sadis, Gavlin pun mendatangi ke empat orang tersebut.
Tanpa berlama lama, Gavlin langsung menyerang ke empat anggota Wolf Genk.
Dengan beringas Gavlin menghajar ke empat anggota Wolf Genk.
Dia tak perduli, mereka mengeroyoknya. Gavlin mengamuk, membabi buta.
Dengan kemampuan ilmu bela dirinya yang tinggi, Gavlin dengan mudah mengalahkan ke empat anggota Wolf genk.
Gavlin di serang, dia memberikan perlawanan, dia menghindar dari pukulan dan hantaman kayu.
Begitu ada kesempatan, Gavlin membalikkan badannya, menghindari serangan salah seorang anggota genk, lalu dengan cepat dia berbalik ke arah anggota genk yang menyerangnya.
Dengan gerakan cepat, Gavlin menggorok leher orang itu. Satu persatu, anggota genk terkapar, mati dengan luka leher yang sama.
Ke empatnya mengalami hal yang mengenaskan, mati meregang nyawa dengan luka leher yang menganga lebar, karena Gavlin menggorok leher mereka.
Dengan wajah penuh amarah, Gavlin lantad pergi meninggalkan mayat mayat anggota wolf genk.
Dia keluar dari dalam markas wolf genk. Saat dia berada di halaman depan markas genk. Dia bertemu dengan Zulfan dan dua anggota wolf genk lainnya.
Zulfan kaget saat melihat Gavlin berdiri tidak jauh darinya. Zulfan syock, kenapa Gavlin bisa ada di markas mereka.
Zulfan pun takut pada Gavlin, dia tahu, kedatangan Gavlin ke markas mereka, karena ada hubungannya dengan kematian Linda.
"Hajaaar dia !" Perintah Zulfan pada kedua anggota Wolf genk.
Dengan cepat 2 anggota genk menyerang Gavlin, tapi, Gavlin bukan lawan mereka.
Dengan mudah Gavlin merobohkan kedua anggota genk, Gavlin lalu menggorok leher ke dua anggota genk di depan Zulfan.
Zulfan bergidik ngeri melihat Gavlin dengan sadis menggorok leher 2 temannya.
Zulfan menelan ludah dan memegang lehernya, dia takut, Gavlin membunuhnya.
Dengan wajah pucat ketakutan dia pun memohon pada Gavlin agar dilepaskan dan tidak di bunuh.
"Tolong, jangan bunuh aku, tolong." rengek Zulfan ketakutan.
Ternyata Zulfan anggota genk bernyali kecil, dia hanya aksi aksian sok jago dan sok berani selama ini.
Gavlin berjalan mendekati Zulfan yang ketakutan, tatapan mata Gavlin tajam, dia menyeringai geram.
"Pasti kamu orang suruhannya Mike !" Ujar Gavlin.
Zulfan terhenyak kaget, karena Gavlin menyebut nama Mike, Zulfan heran, mengapa Gavlin tahu, jika dia suruhannya Mike.
"Tolong, maafkan aku, aku cuma jalani perintah bosku !" Ujar Zulfan memelas dan memohon pengampunan Gavlin.
Gavlin terus mendekati Zulfan, dia menyeringai geram.
"Siapa bosmu !!" Bentak Gavlin melampiaskan amarahnya pada Zulfan.
Zulfan tak berani mengatakan siapa bosnya, sebab, jika dia mengatakannya, pastilah dia tetap dibunuh.
Saat Gavlin semakin mendekatinya, Zulfan pun langsung lari, melihat Zulfan melarikan diri, Gavlin pun mengejarnya.
Zulfan berlari terus dengan wajah ketakutan, dia berlari menyusuri malam yang pekat dan sepi.
Gavlin di belakangnya terus lari mengejarnya.
Setelah beberapa saat Gavlin mengejar Zulfan, akhirnya Gavlin berhasil mengejar Zulfan.
Saat dia sudah dekat di belakang Zulfan, dengan cepat, Gavlin melompat menerkam Zulfan dari belakang.
Zulfan pun jatuh dan berguling guling di atas tanah. Gavlin cepat bangun dan berdiri dari tanah, dia sempat terjatuh saat menerkam Zulfan.
Tanpa ampun, Gavlin pun langsung menghajar Zulfan, Gavlin memukuli Zulfan .
Lalu, dengan wajah bengisnya, Gavlin menghujamkan pisau ditangannya ke perut dan dadanya berkali kali.
Darah memuncrat keluar dari dada dan perut Zulfan, belum puas menghujam pisau di dada dan perut Zulfan, Gavlin pun menggorok leher Zulfan.
Dengan bengis, mata melotot dan wajah memerah karena marah yang sudah meluap luap, Gavlin menggorok leher Zulfan.
Seketika, Zulfanpun mati meregang nyawa di tangan Gavlin.
Gavlin melap darah Zulfan yang ada ditangannya. Dia menyeringai sadis menatap mayat Zulfan.
"Rasakan pembalasanku !" Ujar Gavlin penuh kemarahan.
Dia lantas segera pergi, meninggalkan Zulfan yang terkapar di tanah, sudah menjadi mayat, dengan kondisi yang sangat mengenaskan, mati dengan luka luka tusukan di dada dan perut serta lehernya.
__ADS_1
Gavlin berjalan di tengah kegelapan malam, wajahnya masih menyimpan amarah, masih ada tujuan lainnya yang akan dia datangi selanjutnya.
Ya, Gavlin akan segera menemui Mike, memberi pelajaran pada Mike, dan menghabisi Mike yang telah membayar orang untuk membunuh Linda.