
Di dalam gedung aula kantor kepolisian, saat ini Herman sudah mulai memberikan pernyataan atas pengakuannya telah berbuat kejahatan, berkorupsi, terlibat jual beli jabatan, bisnis ilegal dan fiktif, pemalsuan bukti bukti perkara dipersidangan.
Dan yang membuat geger para wartawan serta wartawati dan reporter, saat Herman memberikan pernyataan, bahwa dia juga terlibat dalam kasus pembunuhan Sanusi belasan tahun lalu, dan dari pernyataannya tersebut, Herman menyatakan bahwa Sanusi tidak bunuh diri, namun, dia di bunuh dengan di racun.
Gavlin yang ada diantara kerumunan para wartawan terhenyak kaget mendengar pengakuan Herman yang menjelaskan dengan gamblang tentang kematian Bapaknya dulu. Gavlin terlihat geram dan menahan amarahnya. Namun, dia berusaha menenangkan dirinya.
Gavlin tetap mendengarkan penjelasan Herman, Herman membuat pernyataan, bahwa dia terlibat dalam konspirasi besar untuk menguasai negara, dan Sanusi, serta Syamsul Bahri menjadi korban organisasi mereka karena mencoba menghalangi rencana kejahatan terselubung organisasi mereka, dan Herman mengungkap nama organisasi tersebut dengan nama 'Inside'.
Gavlin memperhatikan Herman yang bicara diatas podium dengan didampingi petugas kepolisian serta Andre, Edo dan juga Masto dan Samuel, Jaksa Penuntut umum.
Gavlin terlihat penasaran, dia ingin tahu lebih jauh lagi tentang Inside, dan untuk mendapatkan informasi itu, dia harus menanyakannya pada Herman.
Gavlin diam diam berfikir, bagaimana caranya agar dia bisa menculik Herman yang di kawal ketat itu, agar dia bisa bertanya siapa otak dari organisasi Inside yang sudah menjebak bapaknya dan membunuhnya.
"Dengan ini, saya nyatakan, bahwa saat ini juga, saya mengundurkan diri dari jabatan mentri kehakiman, dan saya menyerahkan diri saya kepada pihak kepolisian untuk menjalani penyelidikan pada kasus kejahatan yang telah saya ungkapkan. Terima kasih atas perhatiannya, maafkan atas segala perbuatan jahat saya selama ini yang telah merugikan masyarakat luas." ujar Herman , memberi pernyataan penutupnya.
Lalu, Herman pun meninggalkan podium, para wartawan dan wartawati serta reporter televisi dan media cetak menyerbu Herman, mereka saling berebutan mendekati Herman untuk menanyakan lebih jauh lagi dengan pengakuan Herman dan organisasi Inside.
Edo dan Masto segera menghalangi para wartawan yang hendak mendekati Herman, dua petugas polisi yang mengawal Herman segera mengamankan Herman, dengan cepat mereka membawa Herman keluar dari dalam aula tersebut.
Gavlin yang melihat Herman di bawa pergi lalu bergegas pergi meninggalkan ruang aula, Chandra melihat kepergian Gavlin.
Chandra semakin curiga dengan gerak gerik Gavlin, lalu, dia pun bergegas mengejar dan mengikuti Gavlin yang keluar melalui pintu lainnya yang ada di dalam aula tersebut.
"Mohon maaf, kita akhiri sampai di sini dulu, jika ada perkembangan dari pernyataan pak Herman, kami akan memberitahukannya pada kalian semua, sekarang, saya mohon, bubarkan diri kalian." ujar Andre, berdiri diatas podium bersama Samuel, Jaksa Penuntut.
Lalu, Andre dan Samuel bergegas keluar dari dalam ruang aula, ruang aula menjadi riuh, karena kekecewaan para wartawan yang tidak mendapatkan berita lebih banyak dari Herman.
Mereka semua akhirnya membubarkan diri masing masing, karena Herman sudah pergi di bawa oleh petugas kepolisian untuk diamankan.
Gavlin menyelinap, dia bersembunyi dibalik tembok, Gavlin menunggu kedatangan Herman yang dibawa dua petugas kepolisian. Dia sudah melepaskan penyamarannya. Dia sudah kembali menjadi Gavlin lagi.
Gavlin melihat dirinya pada kaca yang ada di depan dia, di depan tempat Gavlin bersembunyi, ada ruangan yang berjendela kaca besar. Sehingga, dari kaca ruang tersebut, Gavlin yang sembunyi dibalik tembok bisa terlihat jelas.
Gavlin mengintip, dia melihat di kejauhan, Herman berjalan bersama dua petugas kepolisian ke arah dia yang bersembunyi.
Gavlin pun bersiap siap, dia mengambil pistolnya yang disembunyikannya didalam bajunya, pada pinggangnya. Gavlin memegang pistol, dia terus mengintip.
Herman dan kedua petugas kepolisian berjalan semakin mendekat ke arah Gavlin yang bersembunyi.
Saat Herman sudah dekat dengannya, Gavlin pun hendak keluar dari persembunyiannya untuk menyergap Herman dan kedua petugas kepolisian.
Namun, saat Gavlin hendak bergerak, tiba tiba saja, ada sesuatu yang menyentuh dan menekan tengkuk lehernya.
"Jangan bergerak, dan serahkan pistolmu." ujar Chandra.
"Jangan coba coba membunuh dia." tegas Chandra.
Ternyata, Chandra lah yang ada di belakang Gavlin. Gavlin terdiam, dia melihat dari kaca ruangan yang ada didepannya, tampak jelas dibelakangnya Chandra sedang menodongkan sesuatu di tengkuk lehernya.
Dari kaca ruangan itu juga Gavlin melihat jelas, bahwa yang menempel di tengkuk lehernya bukan pistol, melainkan sebuah besi bulat seperti mikropon.
Gavlin tersenyum sinis, lalu, dengan gerak cepat, dia berbalik badan dan menyerang Chandra, Chandra kaget, tak menyangka Gavlin menyerang dirinya.
Gavlin memelintir tangan Chandra, dia membuang besi bulat ditangan Chandra , Gavlin lantas keluar sambil memelintir tangan Chandra. Gavlin menodongkan pistolnya ke arah Herman dan dua petugas kepolisian.
"Berhenti kalian!!" bentak Gavlin, menodongkan pistolnya.
Melihat Gavlin menyandera Chandra dan menodongkan pistol, kedua polisi dan Herman kaget.
"Jangan macam macam, buang senjata kalian, atau akan aku tembak!!" bentak Gavlin, pada dua petugas kepolisian yang mengawal Herman.
Kedua petugas polisi menuruti perintah Gavlin, mereka meletakkan pistol di lantai.
Chandra meringis kesakitan, karena tangannya terus diplintir Gavlin, dia berusaha meronta, Gavlin mengancamnya.
__ADS_1
"Diam kamu!! Atau akan ku bunuh!!" bentak Gavlin pada Chandra.
"Apa kabar Herman?!" ujar Gavlin, tersenyum sinis pada Herman.
Herman pucat, tubuhnya gemetar ketakutan mengetahui Gavlin ada dihadapannya sambil mengarahkan pistolnya pada dirinya.
"Apa yang kamu katakan tadi semua itu benar Herman?!" tanya Gavlin, dengan wajah geramnya menatap tajam Herman.
"Ya, semua itu kebenaran yang aku sampaikan, tidak ada lagi yang aku tutup tutupi!" jelas Herman, dengan wajah pucat dan ketakutan.
"Siapa pimpinan Inside ?!!" bentak Gavlin.
Herman terdiam, dia tak menjawab pertanyaan Gavlin, Gavlin geram.
"Sekali lagi aku tanya padamu, siapa pimpinan Inside yang memerintahkan membunuh Bapakku Sanusi dulu!!" bentak Gavlin, penuh amarah.
Chandra terkesiap kaget saat mendengar perkataan Gavlin, dia baru menyadari, jika yang sedang menyandera dirinya adalah Yanto, anaknya Sanusi.
"Ayo jawab Herman!! Kalo kamu diam, akan ku bunuh kamu!!" bentak Gavlin marah.
Andre dan Samuel yang berjalan dan hendak menyusul Herman melihat Gavlin sedang mengarahkan pistol kepada Herman, mereka berdua kaget, tak menyangka Gavlin berani muncul dan menemui Herman.
"Hentikan Gavlin, jangan bunuh Herman!!" teriak Andre.
Gavlin kaget mendengar teriakan Andre, dia melihat ke arah Andre yang berjalan mendekati dirinya bersama Samuel.
"Berhenti Andre !! Jika kamu mendekat, Herman akan ku tembak! Dan orang ini juga akan ku bunuh!!" bentak Gavlin sambil menunjuk Chandra.
Andre dan Samuel menghentikan langkahnya, Edo dan Masto datang, mereka kaget melihat Gavlin memegang pistol, mereka berdua lalu hendak mencabut pistol dari pinggang masing masing, Andre melarangnya.
"Jangan, biarkan saja." perintah Andre pada Edo dan Masto.
Edo dan Masto diam, mereka tak jadi mengambil pistolnya. Mereka berdua lantas berdiri disamping Andre.
"Herman harus tetap hidup, jika kamu mau tau kebenaran tentang kematian Bapakmu!!" jelas Andre.
Gavlin terdiam mendengarkan perkataan Andre, Andre berusaha meyakinkan Gavlin, agar tak membunuh Herman.
"Dan yang kamu sandera itu, dialah yang selama ini memberikan informasi dan bukti bukti kejahatan Herman dan komplotannya serta organisasi Inside, kamu bisa bertanya padanya tentang Bapakmu!!" tegas Andre, berusaha meyakinkan Gavlin.
Gavlin semakin terdiam, dia berfikir, lantas, dilepaskannya tangannya yang memelintir tangan Chandra.
"Siapa kamu?!" ujar Gavlin, menatap tajam Chandra yang memegangi tangannya yang sakit.
"Aku Chandra, kita pernah ketemu dan pernah berkenalan dulu." ujar Chandra, berdiri dihadapan Gavlin.
"Apa maksudmu? Aku gak pernah bertemu dan mengenalmu,!!" bentak Gavlin marah pada Chandra.
Gavlin menatap tajam wajah Chandra, Chandra berusaha menenangkan dirinya, dia menatap lekat wajah Gavlin yang menahan amarahnya.
"Aku pernah datang kerumahmu bersama Papahku dulu, beberapa hari, sebelum Bapakmu ditangkap dan rumahmu dibakar warga." jelas Chandra.
Gavlin terdiam, dia menatap tajam wajah Chandra, Gavlin berusaha mengingat ingat masa lalu, dimana saat itu dia bertemu dengan Chandra.
"Waktu itu, kamu datang , habis menjaga adikmu, dan, kita pun saling berkenalan, apa kamu lupa?!" tanya Chandra, menatap serius wajah Gavlin.
Gavlin masih diam, dia mencoba mengingat ingat saat masa lalu itu, lalu, terlintas sekilas dalam benaknya, saat dia berkenalan dengan Chandra.
"Kamu anaknya Om Syamsul?!" ujar Gavlin, terpana melihat Chandra.
"Ya, Yanto." ujar Chandra, menyebut nama kecil Gavlin.
Gavlin terkejut, Chandra menyebut nama kecilnya, dia menatap tajam wajah Chandra.
"Kamu masih ingat nama kecilku. Dimana Bapakmu? Mengapa Bapakmu gak menolong Bapakku? Bukankah mereka bersahabat?!" ujar Gavlin, marah pada Chandra.
__ADS_1
"Papahku meninggal, Vlin, dua bulan setelah kematian Bapakmu." ucap Chandra.
"Meninggal?!" Gavlin kaget.
"Ya, katanya kena serangan jantung." ujar Chandra.
"Bukan, Pak Syamsul di beri racun, sengaja, agar seolah olah dia kena serangan jantung, dia di bunuh Samsudin, atas suruhan Binsar." ungkap Herman.
Chandra dan Gavlin sama sama kaget, begitu juga dengan Andre, Samuel, Edo dan Masto serta kedua petugas polisi, mereka tak menyangka, dari mulut Herman langsung keluar pernyataan yang menyatakan bahwa kematian bapaknya Chandra bukan karena serangan jantung, melainkan di bunuh.
"Sudah ku duga, aku tau, Papah di racun, sengaja di bunuh." ujar Chandra.
"Papahku bekerjasama dengan Bapakmu, Yanto. Mereka berdua ingin mengungkap kejahatan komplotan Herman yang berlindung pada organisasi Inside, Papahku tau, Bapakmu dijebak dan di fitnah lalu di bunuh, dia punya bukti, namun, belum sempat dia serahkan bukti kepada polisi, Papahku meninggal." ujar Chandra.
Gavlin terdiam, dia tak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar dari Herman dan Chandra. Dia baru tahu dan menyadari, ternyata, kematian Bapaknya disebabkan sebuah konspirasi besar, bukan hanya komplotan Bramantio saja.
Andre dan Samuel serta Edo dan Masto mendekati Herman, mereka berdiri disamping Herman.
"Serahkan Herman padaku Vlin, aku janji padamu, akan mengungkap dan menangkap pimpinan Inside." tegas Andre, dengan wajah seriusnya.
"Kamu tadi menyebut nama Samsudin dan Binsar, siapa mereka?!" tanya Gavlin pada Herman.
"Samsudin pejabat negara, dia baru saja di angkat sebagai menteri keuangan saat presiden merusuffle kabinetnya dua bulan lalu." jelas Herman.
"Lalu, Binsar, siapa dia?!" tanya Gavlin.
"Menteri kordinator pemberdayaan aparatur negara dan perekonomian. Dialah ketua Inside." jelas Herman.
Gavlin terdiam, dia tampak berfikir keras, Chandra menatap lekat wajah Gavlin yang terdiam dan sedang berfikir itu.
"Aku akan membantumu, jika kamu mau menghancurkan Binsar." jelas Chandra.
Gavlin diam, dia menatap tajam wajah Chandra yang terlihat serius. Lalu, dia menatap Herman yang dikawal Edo, Masto dan juga Andre serta Samuel.
"Herman, kali ini kamu lolos dariku, tapi ingat, aku akan tetap memburumu!!" ujar Gavlin pada Herman.
"Ya, gak apa apa. Aku siap , jika kamu membunuhku, untuk menebus dosa dosaku pada Bapakmu." ujar Herman.
"Pergilah Vlin. Kamu akan aku biarkan pergi sekarang." ujar Andre.
"Aku akan menemuimu nanti!" ujar Gavlin pada Chandra.
Chandra mengangguk, lalu, Gavlin bergegas lari dan pergi menjauh dari mereka semua, dia menghilang dalam lorong gedung aula kantor kepolisian.
"Bawa dia." ujar Andre , memberi perintah pada dua petugas polisi yang dari tadi diam saja.
"Baik, Pak." jawab petugas Polisi.
Mereka lantas mengambil pistol mereka yang diletakkan dilantai atas perintah Gavlin tadi, lalu, kedua petugas kepolisian membawa Herman, mereka pergi meninggalkan ruangan itu, Edo dan Masto mengikutinya.
"Mengapa kamu biarkan Gavlin pergi?" tanya Samuel pada Andre.
"Biar saja, Gavlin akan bermanfaat buat kita, dia pasti bisa meringkus Binsar dan Samsudin." jelas Andre.
"Kamu mau melibatkan Gavlin?" tanya Samuel.
"Tidak dilibatkan pun Gavlin pasti tetap memburu Binsar, setelah tadi dia tau, kalo yang memerintahkan membunuh bapaknya adalah Binsar, kita liat saja nanti, kita duluan yang menangkap Binsar, atau Gavlin lebih dulu menangkapnya." ujar Andre.
"Baiklah." jawab Samuel, menuruti perkataan Andre.
"Aku permisi dulu." ujar Chandra.
"Ya, kita tetap saling komunikasi." ujar Andre.
Chandra mengangguk, lalu, dia bergegas pergi meninggalkan Andre dan Samuel, lantas, Andre dan Samuel pun berjalan kembali, mereka berdua menyusul Herman yang sudah di bawa pergi oleh petugas kepolisian.
__ADS_1