VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Ya, Aku yang Membantai


__ADS_3

Gavlin tampak bersiap siap, hari ini, dia telah di izinkan untuk keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya.


Sebenarnya, Dokter ingin Gavlin di rawat inap sebelum pulang, untuk melihat perkembangan kondisi Gavlin. Namun, Gavlin tak mau, dia memaksa, agar Dokter mengizinkannya pulang.


Dokter mengizinkan Gavlin pulang kerumahnya, dengan banyak catatan, Gavlin harus benar benar istirahat di dalam rumah, dan tidak melakukan pekerjaan berat selama proses penyembuhan lukanya.


Dokter tak ingin, jahitan luka Gavlin terlepas, karena Gavlin memaksakan diri bekerja keras. Dan Gavlin pun menyanggupi persyaratan Dokter.


Dia berjanji, tidak akan melakukan kegiatan apapun, dia akan beristirahat di rumahnya, dan Gavlin juga berjanji pada Dokter, bahwa dia tak akan kembali kerumah sakit tersebut.


Saat Gavlin berbenah dibantu sang Informan, Abang tirinya yang datang menemuinya. tiba tiba saja pintu terbuka, Maya masuk ke dalam ruang ICU.


"Maya ?" Ujar Gavlin kaget.


Mendengar nama Maya disebut Gavlin, Sang Informan gugup, dia syock, karena tak menyangka, Maya akan datang sepagi ini menemui Gavlin.


Maya cuek berjalan mendekati Gavlin yang juga kaget melihat kedatangan Maya yang mendadak itu.


"Kamu mau pulang, Vlin?" Ujar Maya jengkel.


"Kok, gak bilang aku, kalo hari ini kamu pulang?" Ujar Maya kesal.


Dia kesal pada Gavlin, saat melihat Gavlin sudah rapi dan bersiap siap pulang. Wajah Maya cemberut.


"Aku bermaksud ngabari kamu nanti, kalo udah dirumah, biar kamu datang kerumahku." Ujar Gavlin tersenyum.


"Ya, tapi kan aku gak tau, bagusnya aku datang pagi ini, kalo gak, aku kan gak ketemu kamu." Ujar Maya cemberut.


"Maaf, jangan marah dong, jangan salah paham, aku niat kasih tau kamu kok. Tapi kamu udah keburu datang duluan." ujar Gavlin tersenyum.


"Ya, udah, aku temani kamu pulang." Ujar Maya.


"Ok." Angguk Gavlin tersenyum senang berdiri dihadapan Maya.


"Ini siapa, Vlin?" Tanya Maya pada Gavlin.


Sang Informan gugup karena Maya bertanya tentang dirinya, dia terus memalingkan wajahnya, agar Maya tak melihat jelas dirinya.


Maya heran melihat Sang Informan tampak gugup dan resah, apalagi dia melihat, sang Informan berusaha menundukkan wajahnya agar tak terlihat.


"Dia saudaraku." Ujar Gavlin tersenyum.


"Saudara? Saudara dari mana? Kamu kan katanya gak punya siapa siapa?!" Ujar Maya heran.


Maya penasaran, dengan cepat Maya mendekati Sang Informan, dia berdiri di depan sang Informan, Maya berusaha melihat wajahnya, Sang Informan berkali kali menghindar.


Maya jadi curiga dengan sikap sang Infroman yang seperti menghindar darinya, dan tak ingin wajahnya di lihat.


Dengan cepat, Maya menarik badan sang Informan, Sang Informan pun berbalik dan berdiri menghadap Maya. Maya terkejut.


"Mas Teguh?!" Ujar Maya kaget.


"Hai, May." Sapa Teguh.


Teguh berusaha tersenyum walau gugup, dia pun pasrah, karena akhirnya, Maya mengenali dirinya. Gavlin terdiam.


Akhirnya, terbukalah kedok Teguh. Ternyata selama ini, yang membantu Gavlin, yang memberikan serta membocorkan rahasia kepolisian adalah Teguh.


Teguhlah selama ini yang menjadi Informan Gavlin, Tak ada yang tahu selama ini, begitu juga Gatot. Teguh benar benar lihai menyembunyikan identitas dirinya.


"Kalian saling kenal?!" Tanya Maya heran.


"Iya, May." Ujar Gavlin tersenyum.


"Jadi, selama ini, Mas Teguh berteman baik dengan Gavlin?" Tanya Maya pada Teguh.


"Iya." Angguk Teguh.

__ADS_1


"Ayah juga tau, kalo Mas Teguh kenal baik sama Gavlin?!" Tanya Maya lagi penasaran.


"Ayahmu gak pernah tau hubunganku dengan bang Teguh." Ujar Gavlin tersenyum.


"Abang?" Ujar Maya heran.


"Iya, May. Beliau ini abang tiriku, kami sama sama di adopsi oleh keluarga yang sama dulu." ujar Gavlin menjelaskan.


Maya terhenyak kaget, dia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan Gavlin.


"Jadi, selama ini, ternyata, kamu punya abang tiri? Dan, itu Mas Teguh? Anggota kepolisian, anak buah Ayahku?!" Ujar Maya.


"Iya, May." Ujar Gavlin tersenyum.


"Aku bingung, Vlin. Terlalu banyak rahasia yang kamu simpan dariku." Ujar Maya.


"Gak usah bingung, May. Aku akan menjelaskan semuanya nanti." Ujar Gavlin tersenyum.


"May, tolong jangan bilang Ayahmu, ya. Biarkan Ayahmu gak tau hubungan aku dan Gavlin, aku mohon." Ujar Teguh serius.


"Kenapa?" Tanya Maya heran.


"Karena, kalo Ayahmu tau, dia pasti menghalangi aku untuk membantu Gavlin." Ujar Teguh.


"Membantu Gavlin dalam hal apa?" Tanya Maya heran.


"Balas dendam." Tegas Teguh.


"Balas dendam?! Kamu mau balas dendam sama siapa, Vlin?!" Tanya Maya heran dan kaget.


Maya semakin berada dalam kebingungan, Gavlin tersenyum menatap wajah Maya yang tampak bingung. Teguh hanya bisa terdiam.


"Sebaiknya, kita pergi dulu dari ruangan ini, nanti dirumahku, akan kujelaskan semuanya padamu." Ujar Gavlin tersenyum.


Maya diam, untuk sesaat dia berfikir, Maya lantas melirik wajah Teguh yang tertunduk diam dan risau. Maya menghela nafasnya dengan berat.


"Baiklah, tapi kamu janji, kamu harus cerita semuanya padaku! Jangan ada yang kamu sembunyikan lagi dariku!!" Tegas Maya.


"Yuk, Bang Bro. Kita pulang." Ujar Gavlin.


"Iya, Vlin." Ujar Teguh.


Lalu, mereka bertiga pun segera keluar dari kamar ruang ICU.


Sebelumnya, Teguh sudah melunasi semua biaya perawatan Gavlin selama di rumah sakit.


---


Ronald dengan langkah cepat masuk ke dalam ruang kerja Bramantio.


"Ada apa Nald?" Tanya Bramantio heran.


"Apa abang tau, rumah si Gavlin? Aku mau menemuinya ! Aku mau tau, apa hubungan dia dan Yanto!" Ujar Ronald dengan geram.


"Aku gak tau rumahnya." Ujar Bramantio.


"Gila !! Dia kan pernah kerja jadi supirmu , masa kamu gak pernah tau rumahnya?!" Ujar Ronald kesal.


"Karena aku gak mau tau dimana rumahnya ! Yang penting bagiku, dia kerja ! Bodo amat dia mau tinggal dimana !" ujar Bramantio sebal.


"Goblok ! Pantesan aja, dengan mudahnya kamu di pecundangi, Bang !! Kalo kamu terus begitu, siapa saja, dengan mudah menyelinap dan mendekatimu, mereka akan mudah membunuhmu!!" Hardik Ronald marah.


Bramantio terdiam, dia baru sadar, bahwa yang dikatakan Ronald ada benarnya. Seharusnya, saat mempekerjakan Gavlin, dia juga tahu alamat pasti rumah Gavlin.


Itu menjaga dari hal hal buruk yang bisa saja terjadi, jika orang yang bekerja dengannya membuat masalah, dengan mudah dia akan menemukan tempat tinggalnya.


Namun, jika dia tak tahu rumah Gavlin, bagaimana dia bisa mendatanginya, dan menangkap serta menanyakan Gavlin.

__ADS_1


"Ya, sudah ! Biar aku sendiri yang mencari tau dimana rumah bedebah itu!" Tegas Ronald.


"Akan aku datangi dia ! Aku yakin, dia dan Yanto sekongkol untuk menyerang dan membunuhku!" Ujar Ronald geram dan marah.


"Iya, Nald." Ujar Bramantio.


"Kalo Mike atau Samsul, bahkan Zulfan masih hidup, mereka pasti tau rumah Gavlin." Ujar Bramantio.


"Aaah, buat apa abang ngomongin orang yang udah mati !! Gak penting banget !!" Bentak Ronald marah.


Dengan wajah kesal dan membawa amarahnya, Ronald pun pergi keluar dari ruang kerjanya.


Bramantio terhenyak duduk di kursi kerjanya, dia semakin bingung, apa hubungan Gavlin dan Yanto, dia berfikir, apakah memang selama ini, Yanto dan Gavlin sudah merencanakan semuanya.


Bramantio berfikir, apakah Gavlin sengaja berpura pura kerja jadi supirnya agar tahu semua kegiatan dia.


Dan apakah Yanto sengaja memancing rasa ingin tahunya, sehingga dia meminta Yanto untuk membuatkan patung Dewi Hera.


Bramantio benar benar pusing di buat Gavlin dan Yanto, dia tak habis pikir, mengapa dengan mudahnya, dia di pecundangi anak ingusan seperti Gavlin dan Yanto.


Bramantio pun geram, wajahnya memerah, terlihat amarah mulai merasuki jiwanya saat ini.


---


Di teras rumahnya, Gavlin sedang bicara dengan Maya, tak ada Teguh bersama mereka. Teguh sudah pergi, karena dia harus bertugas kembali sebagai Polisi.


"May, kamu ingatkan, apa yang terjadi dengan keluargaku dulu?" Ujar Gavlin serius.


"Soal kebakaran rumahmu?" Ujar Maya.


"Bukan, soal Bapakku yang di fitnah, dituduh sebagai pelaku pembunuhan dan pemerkosaan, karena gak sanggup menahan malunya, Bapak bunuh diri dalam penjara." Ujar Gavlin dengan wajah sedih.


"Dan Ibuku, dia mati tragis, di bunuh oleh manusia biadab !" Ungkap Gavlin dengan geram.


Maya terdiam, dia mendengarkan semua perkataan Gavlin. Maya menangkap, ada kemarahan dalam diri Gavlin.


"Bapak dan Ibuku mati, rumahku habis terbakar, orang orang menindasku, mengusirku dengan paksa, mereka menyuruhku pergi dari kampung Rawas." Ujar Gavlin geram.


"Itu sebabnya aku dendam, May. Aku datang ke negara ini sengaja, agar aku bisa menuntut balas sama orang orang yang udah membuat hidupku melarat !" Ujar Gavlin geram menahan marahnya.


Maya terdiam, dia ingat semua tentang kejadian di kampung rawas dan juga tentang kematian kedua orang tua Yanto, atau Gavlin, dia tahu dari Ayahnya dulu.


Dengan wajah prihatin, Maya menatap lekat wajah Gavlin yang tampak menahan amarahnya.


"Vlin, apa kamu yang telah membunuh dan membantai seluruh warga kampung Rawas?!" Ujar Maya.


Dengan hati hati, Maya bertanya, dia ingin tahu, apakah Gavlin pelaku pembantaian dan pembakaran seluruh rumah warga kampung Rawas dulu.


Gavlin menatap tajam wajah Maya yang tampak penasaran dan ingin tahu itu.


"Mengapa kamu bertanya hal itu?" Ujar Gavlin dengan tatapan dingin.


"Ya, aku mau tau aja, kamu kan bilang, kamu mau balas dendam, dan kamu juga ada hubungannya dengan kampung Rawas." Ujar Maya menjelaskan.


Gavlin diam, dia tak menjawab perkataan Maya, Maya menatap tajam wajah Gavlin yang diam itu.


"Kamu mau kan, jujur padaku, Vlin?" Ujar Maya bertanya pada Gavlin.


Maya terus memperhatikan wajah Gavlin yang masih diam dan tak bereaksi. Maya berharap, Gavlin mau jujur padanya.


Maya ingin tahu dan dengar langsung dari Gavlin, apakah memang benar, Gavlin, atau yang dia kenal sebagai Yanto, teman masa kecilnya pelaku pembantaian dulu.


Maya diam, wajahnya tampak serius, dia menunggu Gavlin untuk mau dengan jujur menjelaskan pada dirinya.


Gavlin menarik nafasnya dalam dalam, lalu, dihembuskan nafasnya keluar, dia menenangkan dirinya, Gavlin lantas menatap lekat wajah Maya yang tampak serius.


"Ya, aku yang membantai dan membumi hanguskan kampung Rawas." Ujar Gavlin.

__ADS_1


Gavlin bersikap tenang, tatapan matanya dingin, Maya terhenyak kaget. Dia terdiam, Maya tak menyangka, jika ternyata benar adanya.


Gavlin, atau Yanto adalah pelaku sebenarnya pembantaian dan pembakaran warga warga kampung Rawas.


__ADS_2