VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Kematian Moses


__ADS_3

Maya tampak sedang asyik makan di kantin rumah sakit tempat Ayahnya di rawat.


Saat asyik makan, ponselnya berdering, Maya pun lantas menghentikan makannya.


Lalu, diambilnya ponselnya dari dalam tasnya, dia melihat di layar ponsel, Gavlin yang menelponnya.


Dengan cepat, Maya pun langsung menerima panggilan telepon Gavlin tersebut.


"Iya, Vlin, aku lagi makan di kantin rumah sakit, kenapa?!" tanya Maya, bicara di telepon.


"Aku udah nangkap Moses, sekarang, kamu datang ke sini, ya. Nanti ku kirim lokasinya." ujar Gavlin, dari seberang telepon.


"Oke, Vlin." Jawab Maya ditelepon.


Maya kemudian menutup teleponnya, dengan wajah penuh amarahnya pada Moses, dia menyimpan ponselnya di dalam tasnya.


Maya lalu beranjak pergi, dia tidak melanjutkan makannya, Maya ingin segera menemui Gavlin dan melihat Moses. Maya ingin membuat perhitungan pada Moses.


Maya mengira, Moses pelaku penikaman Ayahnya, maka dari itu, Maya menjadi dendam, dan ingin membalas rasa sakit hatinya pada Moses.


Dengan langkah yang cepat, Maya berjalan keluar dari rumah sakit, dia berjalan menuju ke halaman parkir rumah sakit.


Sesampainya di halaman parkir, Maya langsung membuka pintu mobil sedan mungil berwarna pink miliknya.


Mobil sedan tersebut baru, Gavlin yang membelikannya buat Maya, Maya pun lantas masuk ke dalam mobilnya.


Maya memakai sabuk pengaman, lalu, dinyalakannya mesin mobil, kemudian, mobil pun berjalan cepat, pergi meninggalkan halaman parkir rumah sakit.


---


Di gudang besar, tempat biasa Gavlin, atau Yanto membuat patung lilinnya, tampak Moses duduk di sebuah kursi, dengan posisi seluruh tubuh, tangan dan kakinya terikat oleh rantai berkarat.


Di dada Moses masih ada pisau belati milik Gavlin tertancap, pisau belati itu tidak mengenai jantung Moses, hanya menembus tulang dada dan paru parunya. Hingga Moses masih bisa bernafas, dan hidup.


Moses tampak sangat lemah dengan posisi terikat, wajahnya pucat pasi, Gavlin berdiri dihadapannya dengan sikap dingin dan wajah yang bengis.


"Sebentar lagi, orang yang mau kamu culik akan datang ke sini, dia mau membuat perhitungan denganmu." ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


"Siapa?" tanya Moses dengan suara yang lemah.


"Maya. Anaknya Gatot, bukankah kamu mau menculiknya?!" Hardik Gavlin marah.


"A...aku...hanya di suruh." ujar Moses dengan gugup dan wajah takut pada Gavlin.


"Alasan !! Omong kosong!! Sudah jelas jelas, ketiga anak buahmu mengaku, kalo mereka ikuti perintahmu menangkap Maya!!" Bentak Gavlin penuh amarah.


"Ronald yang menyuruhku, dia tau, Maya pacarmu, dia ingin menjebakmu !" Ujar Moses dengan tersengal sengal lemah.


"Apa maksudmu?!" hardik Gavlin.


"Ronald tersinggung dan marah padamu, karena kamu waktu itu menyerang dia, dan temanmu katanya menembak dia!" ujar Moses mencoba menjelaskan.


"Dia tau, Maya pacarmu, makanya, dia mau jadikan Maya sandera, agar kamu datang menyelamatkan Maya, lalu, Ronald akan membunuhmu!" tegas Moses.


Moses menguatkan dirinya yang melemah, untuk memberikan penjelasan pada Gavlin. Gavlin tampak geram dan marah.


"Ronald lagi, Ronald lagi !! Selalu aja kamu melempar kesalahan sama Ronald!! Kamu mau adu domba aku dengan Ronald?!!" Bentak Gavlin penuh amarah.


"Aku serius, ini semua ulah Ronald!" Tegas Moses bersungguh sungguh.


Gavlin pun akhirnya diam, dia tampak geram, menahan amarahnya. Dia menatap tajam wajah Moses yang meringis kesakitan, akibat pisau yang menancap didadanya, dan tidak di cabut Gavlin.


"Tolong, ampuni aku, lepaskan aku!" ujar Moses dengan wajah memelas dan memohon.


"Nyawamu ada ditangan Maya, Aku serahkan semuanya sama Maya, biar dia nanti yang memutuskan, kamu dilepaskan, atau dibunuh !" Bentak Gavlin marah.


Mendengar hal itu, Moses sangat ketakutan, dia pun terus memohon pada Gavlin, agar dibebaskan.


"Jangan bunuh aku, aku mohon, aku cuma ikut ikutan, aku terpaksa melakukannya, karena Ronald mengancamku!!" Ujar Moses dengan wajah ketakutan.


Dengan wajah yang memelas, Moses memohon pengampunan dari Gavlin, Gavlin tersenyum sinis padanya.


"Mau alasan apapun, kamu tetap salah! Karena udah melakukan perbuatan menculik Maya, dan atas perbuatanmu itu, harus ada balasannya!" Bentak Gavlin penuh amarah.


Moses pun terdiam, dia tertunduk, wajahnya tampak pasrah, dia pasrah, karena dia berfikir, bahwa, dia sudah tak punya harapan untuk hidup.


Nasibnya ada ditangan Maya yang akan datang menemuinya, dan hanya menunggu waktu saja, dia hidup atau mati nantinya.


Di luar halaman gudang besar milik Gavlin tersebut, mobil sedan mungil pink Maya pun berhenti. Lalu, dengan cepat, Maya pun keluar dari dalam mobilnya.


Dengan membawa tas kecilnya, dengan langkah cepat, Maya pun masuk ke dalam gudang tersebut.

__ADS_1


Pintu terbuka, cahaya sinar matahari masuk ke dalam gudang yang tampak gelap karena tak ada sinar cahaya apapun yang masuk kedalamnya.


Gavlin melihat kedatangan Maya, dia tersenyum senang, Gavlin pun lantas menyambut Maya. Moses menjadi semakin takut, begitu melihat Maya datang, berjalan dan mendekatinya.


Maya berdiri dihadapan Moses, Gavlin pun lantas berdiri di samping Maya. Dengan wajah benci dan dendamnya, Maya menatap jijik wajah Moses yang tak berdaya itu.


Tiba tiba, Maya meludahi wajah Moses, Maya benar benar sangat jijik, marah dan benci pada Moses.


"Kamu berani beraninya melukai Ayahku!!" Bentak Maya marah.


"Bukan aku pelakunya, sungguh, tapi Ronald, aku udah bilang sama Gavlin!" Ujar Moses dengan wajah serius.


"Tolong, Vlin, bilang padanya, kalo Ronald pelakunya, bukan aku!" ujar Moses memohon bantuan Gavlin.


Maya menoleh pada Gavlin, dia pun bertanya pada Gavlin.


"Apa benar yang dia bilang, Vlin?" ujar Maya bertanya.


"Ya, May. Dia mengaku, kalo dia yang menculikmu! Dia mau bunuh kamu!!" Ujar Gavlin dengan sinis.


Mendengar perkataan Gavlin, Moses pun terhenyak kaget, dia tak menyangka, Gavlin berbohong.


"Bukan, bukan itu yang aku bilang, aku gak pernah mengaku, aku gak menculikmu, aku gak mau membunuhmu! Semua atas perintah Ronald, aku cuma menuruti perintah Ronald!!" Ujar Moses bersungguh sungguh.


Dia memaksakan dirinya untuk menjelaskan kebenarannya semua pada Maya, Maya meludahi lagi wajah Moses.


Maya tak percaya dengan semua yang dikatakan Moses, Maya lebih percaya dengan apa yang dikatakan gavlin kepadanya.


"Kamu kira, kamu bisa membunuhku?!" ujar Maya dengan geram dan marah.


Maya mendekati Moses, lalu, tangan Maya memegang pisau yang menancap didada Moses, dengan geram dan penuh amarah, Maya menekan kuat pisau tersebut ke dalam dada Moses.


Moses meringis kesakitan, Moses pun lalu berteriak, karena tak tahan dengan rasa sakitnya. Maya tak perduli, dia terus menekankan pisau yang dipegangnya kedalam dada Moses.


Nafas Moses terengah engah, dia tampak semakin melemah, dia tak kuat menahan rasa sakit dari pisau yang terus menembus kedalam dadanya.


"Apa yang mau kamu lakukan padanya, May?" Tanya Gavlin dengan sikapnya yang dingin.


Maya lantas melepaskan tangannya dari pisau, Moses tersengal sengal mengatur nafasnya, dia meringis kesakitan, darah keluar dari celah celah pisau yang menancap di dadanya.


"Karena akibat ulahmu, Ayahku sampai sekarang koma, gak sadarkan diri, dan kamu harus mendapatkan balasan atas perbuatanmu pada Ayahku!!" bentak Maya penuh amarah pada Moses.


Maya tak perduli, dia tak mau lagi mendengarkan semua penjelasan Moses, Maya benar benar sakit hati, benci, jijik, marah dan dendam pada Moses.


Maya lantas berbalik badan, lalu, dia pun berjalan santai meninggalkan Moses, wajah Maya tampak geram dan marah.


"Bunuh dia, Vlin!" Tegas Maya pada Gavlin.


"Ya." Jawab Gavlin dengan sikap dingin.


Maya terus berjalan, dia pun kemudian keluar dari dalam gudang besar milik Gavlin, Maya tak tahu, jika gudang tersebut milik Gavlin, atau Yanto. Karena Gavlin memang tidak memberitahunya, saat memberikan alamat lokasi gudang tersebut pada Maya.


Gavlin mendekati meja besar, di atas meja besar, tergeletak sebuah gergaji mesin pemotong kayu. Gavlin pun mengambil gergaji mesin tersebut.


Gavlin berjalan mendekati Moses, wajah Moses ketakutan, karena melihat, Gavlin memegang gergaji mesin ditangannya.


"Kamu mau apa?!" Hardik Moses ketakutan.


"Sayang sekali, Moses. Keputusan udah diambil Maya. Maya memutuskan, untuk membunuhmu." ujar Gavlin dengan sikap dingin dan tersenyum sinis.


Moses semakin ketakutan mendengar perkataan Gavlin, Dengan sikap dingin, Gavlin tersenyum menyeringai jahat.


Gavlin mengangkat gergaji mesin yang di pegangnya, lalu, dia pun menyalakan mesin gergaji tersebut, mesin pun kemudian menyala.


Moses semakin ketakutan, wajahnya pucat pasi, dia pun tampak memohon pada Gavlin untuk diampuni.


"Tolong, jangan bunuh aku, aku gak mau mati, ampuni aku, lepaskan aku, Vlin. Aku gak bersalah, ini semua perbuatan Ronald." ujar Moses memelas dan memohon ketakutan.


"Tapi, kamu kan anak buahnya, kamu udah menuruti maunya, artinya, kamu juga bersalah, Moses!" tegas Gavlin geram.


"Aku terpaksa, aku terpaksa melakukannya." ujar Moses dengan wajah memelas dan ketakutan.


Gavlin diam, dia tak menjawab perkataan Moses, dengan sikap dinginnya, dia melihat pada gergaji mesin yang sudah menyala di tangannya.


Sementara di luar halaman gudang, di samping mobil sedannya, Maya berdiri dan bersandar di body mobil, dia menunggu Gavlin selesai membunuh Moses di dalam gudang besar tersebut.


Kembali pada Moses dan Gavlin, Gavlin tampak wajahnya sangat menyeramkan, sikapnya dingin, dia menyeringai bengis, menatap tajam wajah Moses yang sangat ketakutan itu.


Lalu, Gavlin mencabut pisau belati yang menancap di dada Moses, Moses pun teriak kesakitan, karena pisau yang sudah menembus dalam dadanya, dicabut paksa Gavlin.


"Aaaarrrrghhhhh!!" teriak Moses kesakitan.

__ADS_1


Gavlin tak perduli, dia buang pisau lipat ke lantai, lalu, dia pun kemudian mengarahkan gergaji mesin ke tubuh Moses, melihat gergaji mesin begitu dekat dengan tubuhnya, mata Moses pun terbelalak lebar, dia semakin ketakutan.


Moses keringat dingin, tanpa disadarinya, dia pun terkencing di celananya, Moses benar benar sangat ketakutan, Gavlin akan membunuhnya.


"Bye bye, Moses." ujar Gavlin dengan sikap dingin dan kejamnya.


Gergaji mesin lantas mendekat dan semakin dekat ketubuh Moses, lalu, gergaji mesin itu pun melukai kulit tubuh Moses.


"Aaaaaaarrrrrgggghhhh!!" teriak Moses menahan rasa sakitnya, akibat tubuhnya terkena gergaji mesin.


Dengan sikap dinginnya, Gavlin tak perduli Moses meronta ronta kesakitan, dengan sadis dan kejam, Gavlin terus menggergaji tubuh Moses.


Di luar halaman gudang, Maya tersenyum sinis mendengar suara teriakan histeris Moses, dia pun senang, karena Gavlin sedang melakukan tugasnya membunuh Moses di dalam gudang besar tersebut.


Darah segar keluar dan muncrat dari dalam tubuh Moses. Tak lama kemudian, Moses pun meregang nyawa. Moses mati mengenaskan di tangan Gavlin.


Tubuh Moses terbelah dua, karena di potong Gavlin menggunakan gergaji mesin, darah segar Moses mengenai seluruh pakaian dan wajah Gavlin, hingga wajahnya penuh dengan darah Moses.


Setengah tubuh Moses yang sudah terbelah dua, jatuh ke lantai gudang besar, dan setengah tubuhnya lagi, masih ada di atas kursi karena terikat rantai berkarat.


Gavlin tersenyum menyeringai jahat, dia tampak belum puas dengan apa yang dia sudah lakukan terhadap tubuh Moses.


Gavlin pun terus melakukan pekerjaannya, dengan menggunakan gergaji mesin ditangannya, Gavlin memotong motong tubuh Moses.


Ada kebencian dan marah yang begitu besar dalam diri Gavlin saat memotong bagian bagian tubuh Moses. Dia membayangkan, bahwa dia sedang memotong motong tubuh Bramantio, orang yang paling dia incar selama ini.


Maya tak mendengar lagi suara teriakan Moses dari dalam gudang besar tersebut, lalu, dengan sikap santai dan tenang, Maya pun berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


Dia duduk di jok mobil depan, belakang stir mobil, wajahnya tampak puas, dia lega, karena telah berhasil membunuh Moses, membalaskan rasa sakit hati dan dendamnya, karena telah melukai Ayahnya, dan membuat Ayahnya koma lama, tak sadarkan diri.


Di dalam gudang besar, Gavlin mematikan mesin gergaji, dia baru saja selesai melakukan tugasnya, memotong motong bagian bagian tubuh Moses.


Dengan sikap dinginnya, Gavlin berjalan mendekati meja besar, lalu, dia meletakkan gergaji mesin di atas meja besar.


Dia berjalan ke arah kamar mandi yang ada di dalam gudang tersebut, lalu, dia mengambil ember yang ada di dalam kamar mandi.


Gavlin membawa ember tersebut, kemudian, dia lantas memasukkan potongan potongan tubuh Moses ke dalam ember.


Setelah selesai semua, Gavlin tersenyum puas, dia pun kemudian berjalan santai, keluar dari dalam gudang miliknya itu.


Darah Moses mengalir banyak di lantai gudang. Dan Gavlin membiarkannya, dia tak membersihkan darah tersebut.


Gavlin keluar dari dalam gudang miliknya, dia berjalan mendekati mobil Maya. Maya melihat, Gavlin berjalan ke arahnya.


Maya pun dengan cepat segera keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia mendekati Gavlin. Gavlin dan Maya pun lantas berdiri, saling berhadapan.


Maya melihat, seluruh pakaian dan wajah Gavlin penuh dengan darah Moses, Gavlin tampak tenang.


"Aku udah membunuh Moses, aku memotong motong tubuhnya." ujar Gavlin dengan sikap dingin.


"Ya, Vlin." Jawab Maya.


Maya sama sekali tak kaget dengan apa yang dikatakan Gavlin, sebab, dia sudah menyerahkan semua nya pada Gavlin, dia tak mau tahu, kalau Gavlin memutilasi Moses.


Bagi Maya, membunuh Moses saja sudah cukup buatnya, jika pun di mutilasi, itu hak Gavlin sepenuhnya, dan dia tak mau mencegah atau melarang Gavlin.


"Mau kamu buang kemana potongan tubuhnya, Vlin?" tanya Maya penasaran.


"Sebagian akan kuberikan pada anjing anjing liar, sebagian lagi, akan kuberikan pada buaya buaya yang ada di rawa rawa, belakang gudang ini." ujar Gavlin menjelaskan.


"Ya, Vlin. Terserah kamu aja." ujar Maya.


Maya melihat, Gavlin tengah memegangi gelang emas tebal ditangannya.


"Punya siapa itu, Vlin?" tanya Maya heran.


"Punya Moses, akan kuberikan pada Ronald dan Bramantio, sebagai cendera mata dari Moses. ujar Gavlin dengan sikap dinginnya.


Maya pun terdiam, dia tak membantah dengan apa yang dikatakan Gavlin, dia tahu, jika Gavlin sangat dendam pada Bramantio dan juga Ronald.


Dan Maya juga sangat tahu, jika Gavlin ingin membunuh Bramantio, dia pun tidak akan menghalangi Gavlin, karena dia sudah berjanji pada Gavlin.


Dia akan mendukung setiap apapun yang diputuskan dan dijalankan Gavlin, Maya akan tetap mendampingi Gavlin, dia akan terus mendukung Gavlin.


Maya pun berharap, Gavlin bisa menuntaskan dendamnya, dia berharap, Gavlin berhasil membunuh semua musuh musuhnya, agar Gavlin bisa tersenyum lepas kembali.


Maya ingin melihat, Gavlin tersenyum bahagia, dan dia yakin, jika Gavlin sudah membunuh semua musuhnya, maka, Gavlin pun akan bahagia selamanya.


Karena dia akan menjalani hidupnya dengan tenang, damai, serta nyaman, dan dia tidak akan membawa duka, serta dendam kesumat didalam dirinya lagi nantinya.


Maya sangat menanti hal itu terjadi.

__ADS_1


__ADS_2